SANGATTA – Upaya penanganan dan penurunan angka stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi saat masa kehamilan atau kelahiran bayi semata. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim menegaskan bahwa intervensi pencegahan stunting sejatinya harus dipersiapkan sejak masa remaja dan usia calon pengantin.

Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutim, Ani Saidah, menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak yang dipicu oleh ketidaksiapan orang tua, baik dari segi kesehatan fisik maupun mental, jauh sebelum proses kehamilan terjadi.

“Stunting itu sebenarnya kondisi gagal tumbuh pada bayi yang kehadirannya tidak dipersiapkan secara matang oleh orang tuanya, dimulai sejak masa remaja. Remaja dan pasangan usia subur harus mengedukasi diri mereka sendiri tentang kecukupan gizi, kesehatan reproduksi, hingga pola hidup sehat,” ujar Ani Saidah saat ditemui di ruang kerjanya.

Ani menyoroti berbagai faktor risiko yang timbul akibat pola hidup tidak sehat pada usia muda. Kebiasaan mengonsumsi junk food, penyalahgunaan narkoba, hingga pergaulan bebas dan seks pra-nikah berpotensi merusak kualitas reproduksi—baik kualitas sperma pada pria maupun kesehatan rahim pada wanita.

“Pola hidup yang buruk dan kehamilan yang tidak diinginkan berdampak besar pada tumbuh kembang janin kelak. Saat anak lahir, kurangnya pemberian ASI eksklusif serta pengabaian pemantauan tumbuh kembang di Posyandu semakin memperbesar risiko anak mengalami stunting,” tegasnya.

Selain faktor gizi dan kesehatan fisik, DPPKB Kutim juga memberi perhatian serius pada kesehatan mental ibu. Ketidaksiapan mental, rasa kecewa, serta minimnya pendampingan dari suami kerap memicu timbulnya baby blues pada ibu pascamelahirkan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, DPPKB Kutim menggalakkan program GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia) yang mengusung jargon “Ayah Hadir”, sejalan dengan momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas).

“Kehadiran suami sangat menentukan kesehatan mental ibu. Melalui program GATI, kita mendorong para ayah untuk hadir secara utuh memberikan pendampingan, mulai dari masa kehamilan hingga pengasuhan anak. Ibu yang mendapatkan dukungan emosional dari suaminya akan lebih siap dalam memberikan kasih sayang dan pola asuh yang optimal bagi tumbuh kembang anak,” papar Ani.

Terkait sebaran wilayah penanganan stunting di Kutim, DPPKB Kutim mencatat terdapat 26 desa yang menjadi perhatian. Beberapa wilayah dengan angka stunting yang relatif tinggi antara lain Desa Mandu Dalam di Kecamatan Sangkulirang, kawasan Kaubun, serta Desa Sepaso di Kecamatan Bengalon yang memerlukan intervensi terpadu lintas sektor.

Melalui sinergi edukasi remaja, keterlibatan aktif figur ayah melalui program GATI, serta penguatan layanan di Posyandu, DPPKB Kutim optimistis dapat menekan angka stunting secara berkelanjutan di seluruh wilayah Kabupaten Kutim.(Adv)

Loading