SANGATTA — Sore itu, Senin (14/9/2026) sekitar pukul 17.44 Wita, suasana Jalan Poros Rantau Pulung (Ranpul) – Sangatta mendadak riuh. Laju kendaraan dari arah perkebunan yang biasanya melaju konstan tampak melambat, lalu terhenti. Puluhan pasang mata terpaku pada satu titik di semak pinggir jalan.

Bukan karena kecelakaan atau pohon tumbang, melainkan sosok berbulu lebat berwarna jingga kemerahan yang sedang dengan tenang memetik dedaunan. Seekor orangutan liar, satwa yang dilindungi undang-undang, menampakkan diri di tengah hiruk-pikuk jalur trans-Kutai Timur (Kutim) yang ramai.

Kehadiran satwa arboreal ini kontan menjadi tontonan gratis. Sejumlah pengendara meminggirkan kendaraannya. Ponsel-ponsel pun diangkat tinggi-tinggi demi mengabadikan momen langka yang jarang bisa disaksikan warga kota secara langsung.

“Ini pemandangan yang unik, bisa melihat orangutan secara langsung,” aku Jufri, seorang pengendara yang sore itu tengah dalam perjalanan menuju Sangatta.

Namun, di balik decak kagum dan kilatan kamera ponsel, terselip rasa cemas yang mendalam di benak Jufri. Posisi orangutan yang berada hanya beberapa meter dari badan jalan raya membuatnya gelisah. Kendaraan berat dan truk-truk perusahaan tambang maupun sawit berlalu-lalang tanpa henti.

“Karena ini di jalan umum yang ramai, saya khawatir orangutan ini tertabrak kendaraan atau terjadi kontak langsung dengan manusia,” ungkapnya dengan nada prihatin.

Bagi Jufri dan barangkali banyak warga lainnya, kemunculan primata endemik ini tidak boleh sekadar dianggap sebagai tontonan unik atau kebetulan yang indah. Lebih dari itu, insiden ini adalah alarm darurat sebuah sinyal senyap bahwa rumah mereka di dalam belantara hutan kini tidak baik-baik saja, hingga memaksa sang penghuni purba turun ke aspal demi mencari sesuap makanan.

Kekhawatiran warga tentu beralasan. Hilangnya fungsi hutan akibat alih fungsi lahan membuat ruang gerak satwa kian terhimpit. Ketika rantai makanan dan sumber pakan di habitat asli terputus, orangutan terpaksa keluar dari zona nyaman mereka, mempertaruhkan nyawa di jalur-jalur perlintasan manusia.

Jufri berharap instansi terkait, khususnya balai konservasi, segera bergerak cepat mengambil langkah mitigasi. Evakuasi dinilai menjadi opsi paling krusial sebelum situasi berubah menjadi petaka bagi satwa maupun pengguna jalan.

“Harapannya instansi yang berwenang bisa segera melakukan evakuasi supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.

Fenomena ini sejatinya bukanlah kisah baru di Kutim. Catatan di lapangan menunjukkan, kemunculan orangutan di dekat akses publik sudah beberapa kali terjadi. Warga sempat merekam kejadian serupa di Jalan Poros Bengalon, bahkan tak jarang pula satwa malang ini terlihat kebingungan di kawasan jalan hauling perusahaan.

Kini, pertanyaannya, hingga kapan “raja hutan” ini harus terusir dari rumahnya sendiri dan menjadi peminta-minta di tepi jalan? (*/Ltr)

Loading