SANGATTA – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperingati Hari Jadi ke-27 pada Senin (12/10/2026) lewat upacara peringatan yang dipusatkan di Lapangan Kantor Bupati Kutim. Perjalanan daerah yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999 ini menjadi catatan panjang pembangunan, mulai dari perintisan pemerintahan, pengembangan agribisnis dan agroindustri, hingga transformasi menuju daerah yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing.

Dalam pemaparan sejarah Kabupaten Kutim, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Sekdakab Kutim Trisno menjelaskan, pembentukan Kutim diresmikan pada 12 Oktober 1999 melalui penandatanganan prasasti sekaligus pelantikan Awang Faroek Ishak sebagai Penjabat Bupati oleh Menteri Dalam Negeri Ad Interim Faisal Tanjung di Jakarta.

Pada awal berdirinya, roda pemerintahan dijalankan dari Kantor Desa Sangatta Utara, sementara DPRD yang beranggotakan 25 orang berkantor di Gedung Sahara. Kutim saat itu memiliki lima kecamatan dengan luas wilayah mencapai 35.747,5 kilometer persegi.

Seiring perkembangan daerah, jumlah kecamatan terus bertambah hingga kini mencapai 18 kecamatan, dengan 139 desa, dua kelurahan, serta 15 desa persiapan yang tengah berproses menjadi desa definitif.

Perjalanan pembangunan Kutim juga ditandai dengan perubahan arah kebijakan dari masa ke masa. Pada periode awal kepemimpinan Awang Faroek Ishak bersama Mahyuddin, pemerintah daerah meletakkan dasar pembangunan melalui Gerakan Daerah Pengembangan Agribisnis atau Gerbang Agribis.

“Program tersebut diarahkan untuk membangun sektor agribisnis dan agroindustri berbasis sumber daya alam terbarukan sebagai fondasi kemandirian ekonomi daerah,” sebutnya dalam pembacaan teks sejarah Kutim.

Selanjutnya, pembangunan kemudian berlanjut pada periode kepemimpinan Isran Noor bersama Ardiansyah Sulaiman. Pada masa ini, arah pembangunan jangka panjang daerah 2006–2025 ditetapkan dengan penekanan pada penguatan ekonomi lokal dan kemandirian daerah. Salah satu tonggak pentingnya adalah penetapan Kawasan Maloy sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK) pada 2014.

Selanjutnya, kepemimpinan Ismunandar bersama Kasmidi Bulang membawa program Gerakan Pembangunan Desa Mandiri Terpadu atau Gerbang Desa Madu, yang menempatkan desa sebagai titik tumpu pembangunan. Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan mulai beroperasi pada 2019.

Memasuki periode kepemimpinan Ardiansyah Sulaiman, pemerintah daerah melanjutkan pembangunan dengan visi menata Kutim sejahtera untuk semua.

“Data yang dipaparkan mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 7,71 persen pada 2023, kemudian meningkat menjadi 9,82 persen pada 2024. Pada 2024, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tercatat sebesar 75,90,” terangnya.

Kini, pada periode 2025–2030, Bupati Ardiansyah Sulaiman bersama Wakil Bupati Mahyunadi mengusung visi Kutim Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing. Visi tersebut diterjemahkan ke dalam 50 program unggulan yang diselaraskan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia.

Trinso juga menegaskan, perjalanan 27 tahun Kutim merupakan hasil pengabdian para pemimpin, aparatur pemerintah, dan masyarakat dari berbagai generasi. Berbagai capaian yang telah dirintis diharapkan menjadi pijakan untuk memperkuat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh wilayah.

“Peringatan Hari Jadi ke-27 menjadi momentum untuk melanjutkan pembangunan secara berkesinambungan, memperkuat kemandirian daerah, serta mewujudkan Kutai Timur yang semakin tangguh, mandiri, dan berdaya saing,” tutupnya.(Adv)

Loading