SANGATTA – Perhelatan kebudayaan sakral Erau Adat Pelas Pelas Benua Kutim resmi dibuka oleh Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman di Lapangan Rumah Pore Adat Kutai, Jalan Ring Road, Minggu (11/10/2026). Upacara adat ini menjadi momentum krusial guna merefleksikan nilai-nilai historis serta merawat kelestarian tradisi leluhur di tengah derap pembangunan daerah yang bergerak dinamis. Acara pembukaan ini turut dihadiri oleh Sultan Kukar Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, Wakil Bupati Mahyunadi, Sekretaris Kabupaten Rizali Hadi, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta tamu undangan.
Dalam arahannya, Bupati Ardiansyah mengenang kembali bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Nusantara.
“Fakta sejarah tersebut selayaknya menjadi sumber kebanggaan kolektif sekaligus fondasi utama dalam memajukan Kabupaten Kutim dan kawasan sekitarnya,” tegasnya.
Ditambkan Bupati, pada perhelatan tahun ini, Erau Adat mengangkat tema “Adat Lestari, Tuah Benua, dan Etam Berjaya”. Bupati Ardiansyah menguraikan bahwa frasa “Adat Lestari” menekankan bahwa warisan budaya merupakan pilar kekuatan masyarakat yang tidak boleh tergerus arus modernisasi. Sementara itu, “Tuah Benua” merefleksikan limpahan kekayaan sumber daya alam Kutim mulai dari sektor pertambangan hingga perkebunan yang harus dikelola secara bijaksana demi kesejahteraan bersama. Adapun “Etam Berjaya” menyimbolkan tekad membawa Kutim kian maju dengan tetap memegang teguh identitas sejarah.
“Semangat kebudayaan tersebut sejalan dengan visi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kutai Timur, yakni “Kutai Timur Berdaya, Tumbuh Bersama”. Pemerintah daerah berkomitmen agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi semata, melainkan juga berfokus pada penguatan karakter serta kebersamaan masyarakat,” sebutnya.
Sebagai langkah nyata dalam menjaga akar kebudayaan lokal, Pemkab Kutim telah mengintegrasikan bahasa Kutai ke dalam kurikulum pendidikan formal sebagai muatan lokal bagi jenjang SD dan SMP. Menutup sambutannya, Bupati berpesan agar seluruh elemen masyarakat senantiasa menjaga keharmonisan, menghormati alam, serta merawat kearifan lokal berlandaskan pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.(Adv)
![]()

