SAMARINDA – Rangkaian peringatan September Hitam di Kota Tepian kembali diisi dengan ruang refleksi yang mendalam. Melalui agenda rutin Rabu Buku yang dihelat pada Rabu (23/9/2026) kemarin, para pegiat literasi, akademisi, dan masyarakat berhimpun di Taman Unmul Ujung, Simpang 3 FKIP, untuk membedah karya sastra monumental: novel Pulang karya Leila S Chudori.

Diskusi yang dimulai pukul 15.00 Wita tersebut menghadirkan akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman (FIB Unmul), Nella Putri, sebagai pembicara utama. Di bawah rindangnya pepohonan taman kampus, diskusi sore itu menjelma menjadi perenungan panjang tentang luka sejarah, identitas, dan makna sejati dari sebuah kata “pulang”.

Pegiat literasi Rabu Buku, Refinaya, mengungkapkan bahwa novel Pulang membawa pembaca menyelami lorong waktu yang getir. Karya tersebut menyoroti kehidupan para eksil politik Indonesia yang terpaksa hidup merantau jauh dari tanah kelahiran akibat badai pergolakan sejarah 1965. Leila S Chudori dengan piawai merajut kisah pengasingan yang berkelindan dengan persoalan identitas, kehilangan, keluarga, cinta, hingga kerinduan yang membuncah terhadap Indonesia.

Namun, bedah buku sore itu sepakat bahwa Pulang bukan sekadar kisah tentang hasrat fisik untuk kembali ke tanah air. Lebih dari itu, novel ini menggugat nurani pembaca untuk mempertanyakan makna hakiki dari “Tanah Air” ketika seseorang harus tercerabut paksa darinya oleh keputusan-keputusan politik masa lampau.

Dalam bingkai September Hitam sebuah momentum tahunan untuk mengenang berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi di bulan September, kehadiran novel ini memberikan napas kemanusiaan pada catatan sejarah. Membaca Pulang membuka ruang empati untuk melihat sejarah bukan sekadar deretan angka atau peristiwa makro, melainkan dari sisi manusia yang mengalami langsung hantaman badai politik.

Terlebih, novel ini juga dengan tajam menyoroti bagaimana stigma politik masa lalu kerap kali diwariskan secara turun-temurun kepada generasi berikutnya. Melalui medium literasi, Rabu Buku ingin menegaskan bahwa September Hitam harus bertransformasi menjadi ruang belajar yang hidup, bukan sekadar seremonial peringatan belaka.

Bedah buku ini mengajak generasi muda hari ini untuk merajut kembali hubungan erat antara sastra dan ingatan. Bagaimana sebuah novel mampu mengawetkan pengalaman sejarah, dan bagaimana hari ini kita membacanya kembali menggunakan kacamata kemanusiaan.

Sebab, kerinduan yang digambarkan dalam Pulang pada akhirnya bukan sekadar perjalanan geografis menuju suatu tempat di peta. Ia adalah sebuah perjalanan batin untuk merangkai kembali serpihan identitas, keluarga, dan relasi manusia dengan tanah ibu pertiwi.

Diskusi sore itu ditutup dengan harapan agar ruang-ruang percakapan terbuka semacam ini terus hidup di tengah masyarakat. Sastra telah membuktikan diri mampu memberi panggung bagi pengalaman personal untuk berdiri berdampingan dengan narasi besar sejarah mengingatkan kita bahwa di balik setiap peristiwa politik yang tercatat, selalu ada wajah manusia yang harus dirawat ingatannya.(Ltr1)

Loading