SANGATTA – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bersiap menyambut perhelatan literasi terbesar tahun ini. Mengusung tajuk Out of The Boox Gebyar Literasi Kutai Timur (Kutim) 2026, pesta buku berskala besar tersebut resmi dijadwalkan berlangsung selama sepuluh hari penuh, mulai 25 September hingga 4 Oktober 2026, di Gedung Serbaguna Ki Hajar Dewantara YPPSB Munthe, Sangatta Utara.

Ajang ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang diinisiasi oleh Yayasan Pendidikan Prima Swarga Bara (YPPSB) bersama Penerbit Mizan, serta didukung penuh oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC). Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan Gerakan Pembiasaan Minat Baca (GPMB), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kutim, Dinas Pendidikan, Kampung Dongeng Sangatta, serta berbagai komunitas pegiat literasi lokal.

Ketua Panitia Pelaksana, Deden Lukman, menjelaskan bahwa gagasan ini bermula dari kesuksesan kegiatan serupa di Samarinda. Melihat peluang tersebut, YPPSB langsung menyambutnya dengan antusias demi memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan berkualitas.

“Kami di YPPSB sangat antusias mengambil peran dalam penyelenggaraan kegiatan pameran ini untuk warga Kutai Timur,” ujar Deden, Rabu (23/9/2026) kemarin dalam siaran pers.

Untuk memenuhi kebutuhan pengunjung, panitia mendatangkan 550 kardus berisi ribuan eksemplar buku menggunakan truk kontainer langsung dari Pulau Jawa. Penerbit Mizan turut merangkul lebih dari 100 penerbit nasional terkemuka termasuk Gramedia guna menghadirkan beragam genre, mulai dari buku pelajaran, karya sastra, komik, hingga buku-buku best seller.

Masyarakat juga dimanjakan dengan berbagai penawaran menarik, seperti diskon hingga 70 persen, buku dengan harga mulai Rp 10.000, serta paket hemat khusus seharga Rp 100.000 untuk 14 buku. Pameran ini dibuka setiap hari pukul 09.00 hingga 21.00 Wita dan dapat dikunjungi secara gratis tanpa dipungut biaya tiket masuk.

Selain pameran buku, panitia telah menyiapkan sejumlah agenda pendukung yang edukatif dan menghibur, seperti lomba mewarnai untuk tingkat TK dan SD, pembacaan puisi, tari kreasi daerah, musik etnik, pelatihan menulis, hingga sesi membaca nyaring (read aloud).

Deden berharap gebyar literasi perdana ini mendapat sambutan hangat dari seluruh elemen masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga keluarga. Ke depannya, ajang ini diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang rutin diselenggarakan di Sangatta.

“Mudah-mudahan kegiatan positif ini dapat terus terlaksana secara rutin setiap tahunnya demi memajukan budaya membaca di daerah,” tutup Deden.(*/Ltr1)

Loading