SANGATTA – Upaya menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus digencarkan. Kali ini, langkah strategis ditempuh oleh Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kutim yang menggerakkan para kadernya hingga ke tingkat desa untuk aktif mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya memasukkan ikan ke dalam menu harian keluarga.
Seruan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua TP PKK Kutim, Siti Robiah Ardiansyah, di sela-sela acara Lomba Masak Serba Ikan yang dihelat oleh Dinas Perikanan bekerja sama dengan TP PKK Kutim di Gedung Wanita Bukit Pelangi, Minggu (11/10/2026). Ajang yang diikuti oleh perwakilan TP PKK dari 18 kecamatan ini tidak sekadar menampilkan adu kreasi tata boga, melainkan menjadi wadah strategis sosialisasi gizi berbasis potensi pangan lokal.
Siti Robiah menyoroti kekayaan sumber daya perikanan di Kutim yang sangat melimpah, mencakup hasil tangkapan dari perairan laut maupun darat. Menurutnya, potensi besar ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sebagai pilar utama pemenuhan gizi rumah tangga. Padahal, ikan menyimpan kandungan protein tinggi serta asam lemak esensial yang sangat krusial untuk mengoptimalkan pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak sejak usia dini.
“Ikan adalah sumber protein bermutu tinggi yang sangat baik bagi tubuh, khususnya dalam mendukung tumbuh kembang dan kecerdasan otak anak. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk membiasakan diri menjadikan ikan sebagai menu harian di rumah,” ujar Siti Robiah dalam kesempatan itu.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pencegahan stunting harus dimulai jauh sebelum anak lahir, yakni sejak masa kehamilan hingga sang buah hati menginjak usia dua tahun. Periode emas ini menuntut perhatian khusus terhadap asupan nutrisi ibu dan anak.
“Peran kader PKK di tingkat akar rumput dinilai sangat vital untuk menjembatani edukasi ini agar pesan kesehatan dapat diterima dan diterapkan langsung oleh setiap keluarga,” tegasnya.
Ia berharap para kader yang hadir tidak hanya berhenti pada partisipasi di ajang perlombaan semata. Pengetahuan dan resep olahan pangan yang dipelajari harus dibawa pulang, disosialisasikan, serta dipraktikkan langsung di lingkungan kecamatan dan desa masing-masing. Dengan variasi olahan yang menarik dan ramah anak, kebosanan dalam mengonsumsi ikan dapat dihindari sehingga minat anak-anak terhadap pangan lokal ini kian meningkat.
“Inovasi menu yang ditampilkan dalam perlombaan hari ini harus ditularkan ke masyarakat luas. Jangan sampai berhenti di sini saja, tetapi jadikan inspirasi untuk menciptakan variasi makanan sehat yang terjangkau dan disukai anak-anak,” imbuhnya.
Melalui sinergi yang erat antara pemerintah daerah, kader PKK, dan segenap lapisan masyarakat, TP PKK Kutim optimistis potensi perikanan daerah dapat dikelola secara maksimal. Langkah nyata ini diyakini tidak hanya mendongkrak tingkat konsumsi ikan regional, tetapi juga menjadi benteng utama dalam mewujudkan generasi Kutim yang sehat, cerdas, dan bebas dari stunting.(Adv)
![]()

