Usman

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Tokoh tak terkenal kita kali ini bernama Usman. Barangkali di luar anggota keluarganya tak ada yang ingat atau mau mengenang lagi. Ia, sebagaimana kebanyakan orang desa, hanya memiliki arti penting tersendiri semasa hidup. Arti penting itu perlahan-lahan terganti atau bahkan lenyap seiring perjalanan waktu. Ada memang sosok tertentu bertahan dalam ingatan orang atau masyarakat dalam jangka waktu panjang. Namun sosok semacam itu hanya bisa bertahan apabila catatan hidupnya begitu membekas dalam benak banyak orang. Bagi kebanyakan orang, terutama yang hidup biasa-biasa saja, catatan mereka tak lebih dari lembaran kertas yang dibakar api waktu selepas mereka meninggal. Tanpa menyisakan jejak abu sama sekali! Apakah Mbah Usman termasuk jenis orang kebanyakan itu?

Sejarah hidup tokoh kita ini — Mbah Usman — hampir saja sama seperti orang-orang desa umumnya. Sosoknya yang pernah hidup di sebuah desa kecil di Pemalang hampir lenyap dari benak orang-orang di sekitarku. Di kalangan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya, ia hanya hadir sebagai seorang lelaki dengan rumah bambu persis di depan pintu air. Sehari-hari dia tak bisa dilepaskan dari sarung dan peci bulukan, pekerjaannya menyembelih hewan ternak, dan memiliki seorang istri yang harus bekerja keras jualan kacang rebus di pasar untuk menghidupi lima anak.

Barangkali salah satu keunikan yang paling diingat orang tentang sosok Mbah Usman selama hidup adalah pilihan untuk menutup diri di bilik bambu yang sempit dan menghabiskan waktu dengan sembahyang dan berdoa selama berjam-jam. Aktivitas beribadahnya hanya bisa diganggu oleh pekerjaan menyembelih kambing, kerbau, atau ayam. Di luar itu ia akan terus bermunajat kepada Pencipta tanpa kenal waktu. Jarinya tak pernah berhenti memutar tasbih, sementara mulutnya menggumamkan doa-doa yang tak begitu jelas di telinga istri dan anak-anaknya. Ia menjauhkan diri dari hal-hal duniawi yang masih disukai orang-orang umum.

Lalu, kenapa aku mau bersusah payah menelusuri jejak tokoh tak terkenal ini? Apa pentingnya bagi orang-orang di desaku atau pembaca tulisan ini? Bukankah masih banyak tokoh lain yang lebih menarik ditulis dan kemudian dibaca orang lain?

Sejak kecil aku menyukai tokoh kita ini karena sosoknya yang penuh teka-teki. Ia menjadi orang yang terus bertahan di benakku dalam waktu lama, di samping sosok bermata buta bernama Tulus, perempuan gila bernama Runtah, pensiunan serdadu yang menjadi momok paling menakutkan bagi anak kecil hingga orang dewasa di desaku, dan seorang dalang yang mempertahankan keyakinan bahwa jumlah istrinya harus tetap sembilan. Bagiku sosok-sosok seperti merekalah yang membuat hidup di sebuah desa kecil dan sederhana menjadi terasa lebih berwarna.

Pada masa kanak-kanak, aku tak habis mengerti kenapa padasan tempat mengambil air wudu ditaruh di sebuah pekarangan angker sekitar seratusan meter dari rumahnya. Orang-orang meyakini di sebelah padasan itu terdapat kedung (bagian terdalam sungai) tinggal sekumpulan buaya putih jadi-jadian. Begitu angker tempat itu, sehingga tak banyak orang tertarik bermain-main atau iseng di situ. Hanya orang-orang bernyali besar yang berani melewati tempat itu setelah magrib. Setiap tengah malam, bila hendak bersuci atau mengambil air wudu, sosok misterius itu berjalan bolak-balik ke padasan. Dari ingatan masa kanak-kanak aku mengais keyakinan orang-orang di sekitar sosok Mbah Usman bahwa dialah yang merawat para buaya putih yang tinggal di kedung sungai.

Teka-teki hidup lain dari Mbah Usman yang masih terekam dari masa kanak-kanakku adalah pilihan hidup hanya untuk beribadah siang-malam. Ia tak mau bekerja sama sekali, kecuali menyembeli hewan ternak. Tugas menghidupi kelima anak diserahkan pada sang istri. Bisa dibayangkan betapa repot sang istri yang harus menghidupi lima anak dengan hanya jualan kacang rebus. Alih-alih membantu sang istri, penghasilan sebagai penyembelih hewan ternak di sebuah desa kecil yang menganggap lauk hewan ternak seperti ayam, kambing, atau kerbau sebagai hidangan mewah ia simpan sendiri. Anehnya, sekalipun bekerja sebagai penyembelih hewan ternak, ia tak mau menyentuh makanan yang berasal dari hewan. Menurut penuturan Mak Dini, sang istri, setiap hari ia hanya makan sepotong besar singkong atau ketela rebus dan air putih. Karena itu tubuhnya kurus-kering, meski wajahnya memancarkan cahaya kemerahan laksana orang terbakar amarah.

Aku masih ingat pada waktu-waktu tertentu, biasanya selepas salat jumat, ia akan mengeluarkan sepeda tua dan berangkat ke arah timur. Tak ada yang tahu ke mana ia menuju. Mak Dini hanya bercerita suaminya mengunjungi orang yang ia hormati. Percakapan dan keperluan apa yang ia kerjakan dalam hubungan dengan orang yang ia kunjungi, tak ada yang tahu. “Mungkin ada hubungan dengan kebiasaan ibadahnya itu,” ujar ibuku mengenang jawaban Mak Dini.

Dalam ingatan Mak Dini, sebelum menjalani kehidupan tak lumrah itu, suaminya adalah juragan buah-buahan yang cukup berhasil. Pekerjaannya berkeliling dari satu kebun ke kebun lain, mencari buah-buah siap panen, menawar harga buah siap panen tersebut. Bila tercapai kesepakatan ia dan pekerjanya memetik buah-buah itu dan menjual ke tengkulak besar di pasar.

Sayang, keberhasilan usaha itu tak berlangsung lama. Karena satu dan lain hal usahanya terus merugi. Utangnya bertumpuk. Dalam kebingungan melunasi utang dan memeroleh jawaban kenapa keluarganya mengalami hidup begitu susah dan berat, pada suatu tengah malam ia berpamit pergi meninggalkan rumah. Ia berjanji pada diri sendiri akan terus berjalan mengikuti ayunan kaki sampai menemukan jawaban dari permasalahan hidupnya. Ia berjalan siang dan malam tanpa menyadari langkah kakinya mengarah ke selatan, naik-turun bukit, sampai mendaki Gunung Slamet.

Saat mendekati puncak gunung itulah, sepasang suami-istri tua yang sedang turun dari puncak menyapa dan meminta dia berhenti sejenak. Mereka bertanya apa keperluan yang membuatnya berlelah-lelah jalan kaki ke puncak gunung. Ia yang telah memendam persoalan itu selama perjalanan segera menumpahkan seluruh derita hidupnya pada suami-istri tua itu. Selesai ia bercerita, mereka mengajaknya ke sebuah gubuk kecil, lalu menyuruhnya tidur sampai tubuhnya segar kembali.

Lelaki malang itu tak tahu berapa lama tertidur. Yang jelas, sesudah bangun, suami-istri itu menyuruhnya mandi dan menyuguhkan sepotong besar singkong rebus dan segelas air putih. Sembari mengunyah singkong, ia diberi tahu perjalanannya sudah cukup. Ia tak perlu lagi berjalan lebih jauh.

“Begitu makanan dan minumanmu habis, lekas pulang. Jangan menengok lagi ke belakang,” ujar lelaki tua di hadapannya.

Ia menuruti nasihat mereka. Sesudah keratan singkong terakhir masuk perut bersama sisa air putih di gelas, ia berpamit pulang. Betapa kaget ia karena tubuhnya seperti bergerak terbawa angin puyuh, berjalan begitu cepat sampai di rumah.

Sejak saat itulah ia bekerja keras membayar utang-utangnya sampai lunas, lalu menghentikan semua pekerjaan sebagai juragan buah-buahan atau mengerjakan pekerjaan lain selain menyembelih hewan ternak. Seperti nasihat dua orang yang ditemuinya di dekat puncak Gunung Slamet, hiruk-pikuk kehidupan duniawi ia jauhi. Dan sungguh mengherankan: dengan penuh kesadaran sang istri mau mengambil alih tugas untuk membesarkan dan menghidupi kelima anak mereka.

Kisah hidupnya tak tercatat secara istimewa dalam benakku seandainya nujuman-nujuman yang dulu ia katakan dan dianggap angin lalu oleh orang-orang terdekatnya tak terbukti benar. Pertama, nujumannya bahwa akar Gunung Slamet terakhir ada di sebelah selatan desaku. Kalau suatu hari nanti Gunung Slamet meletus dengan dahsyat, pengaruh letusannya paling jauh hanya sampai di bagian selatan desa. Ucapan itu semula hanya kukira isapan jempol sampai kemudian aku belajar tentang logika erupsi dan perkiraan dampak terjauh letusan. Nujuman itu, dalam konteks antisipasi bencana alam yang makin sering terjadi, bisa menjadi pengingat kami tentang apa yang harus dilakukan bila suatu hari nanti ada erupsi besar-besaran Gunung Slamet.

Kedua, nujumannya bahwa di sebelah utara desa akan ada jalan sangat besar dan dilewati banyak kendaraan dengan laju sangat cepat. Petani yang tanahnya terkena proyek pembangunan jalan itu akan kejatuhan rezeki besar karena menerima banyak uang ganti rugi. Dulu kukira pula sebagai isapan jempol dari seorang lelaki tua yang berwajah kuning kemerahan penuh hawa panas, meski setiap hari lebih banyak menghabiskan waktu di bilik bambu. Namun belakangan nujumannya terbukti. Pembangunan jalan tol dari ujung barat hingga ujung timur Pulau Jawa melewati persawahan di utara desaku!

Kedekatan kakek sepuh itu dan keluargaku membuat kami berkesempatan menyimak wejangan dan nujuman-nujuman di luar nalar itu. Kedua nujuman itu hanya contoh kecil dari beberapa ucapannya yang kini terbukti benar. Ada nujuman-nujuman lain yang sampai hari ini masih terekam kuat dalam kepalaku dan belum terbukti kebenarannya. Ada beberapa ucapannya yang bertaut dengan jalan hidupku, meski sampai hari ini masih terus menjadi teka-teki yang membingungkan. Butuh waktu panjang untuk mengurai satu demi satu. Mungkin karena keisengan mengingat dan menafsir nujuman Mbah Usman itulah, yang membuat sosoknya tampil sedemikian mengesankan bagiku.

Ada kisah unik sesudah ia meninggal. Dulu, rumah bambunya yang berada persis di tengah desa sering mejadi sasaran ejekan kepala dusun. Kebijakan pembangunan Soeharto berpengaruh hingga ke desa-desa. Para pamong desa merasa malu ada warga yang tinggal di tengah desa masih berumah bambu. Namun Mbah Usman tak memedulikan ejekan dari kepala dusun atau pamong desa. Ia juga tak memedulikan permintaan anak-anaknya yang ingin mengganti bangunan bambu menjadi bangunan bertembok. Ia hanya berujar selama ia masih hidup rumahnya tak boleh ditembok. “Rumah ini akan bertembok sesudah aku meninggal,” katanya.

Tak lama sesudah meninggal, anak-anaknya bergotong-royong mengganti dinding bambu rumah itu dengan tembok. Sewaktu menghancurkan gedek bambu, anak-anaknya menjadi tahu di setiap lubang bambu rumah itu terselip uang dari recehan hingga uang kertas. Mereka mengumpulkan uang itu dan tercengang karena jumlahnya hampir cukup untuk mendirikan rumah tembok. Rupanya selama puluhan tahun Mbah Usman menyimpan uang jasa menyembelih ternak di antara lubang-lubang di dinding bambu. Itulah misteri kenapa ia tak pernah menyerahkan uang jasa sembelih ternak pada istri atau anaknya.

Sampai sekarang aku masih terpesona oleh caranya menjawab ejekan dari pamong desa atau orang-orang tentang rumah bambunya itu.[]

Pilahan, 3 Juni 2016

 

Dwi Cipta
Dwi Cipta
Penulis cerita dan esai. Belajar menulis dan menerjemah secara otodidak. Kini sedang belajar di dunia penerbitan dengan ikut mendirikan dan menakhodai Literasi Press.

Comments are closed.