Menguak Fenomena Marjinalisasi Guru Sebuah Refleksi Kritis
Menguak Fenomena Marjinalisasi Guru: Sebuah Refleksi Kritis
Dec 2, 2017
Citra
Dec 6, 2017

Tulisan Sampah tentang Naik Gunung

Ilustrasi Oleh Moch Dzikri Hendika

Selain berusaha untuk menjadi “apolitis” meski pada saat yang bersamaan justru membuat ia sangat politis, tulisan bertajuk “Saat Politik Memecah Belah, Mari Naik Gunung Seperti Hok Gie” di Tirto.id menunjukkan si penulisnya tidak memahami bagaimana mesin politik dan cara berpikir Orde Baru beroperasi, bahkan di kepala si penulisnya sendiri.

Pertama, tulisan ini tampak jelas mengajak orang untuk melarikan diri dari persoalan-persoalan politik yang ada di sekitarnya (apakah aksi 212 yang tidak disepakatinya, korupsi pejabat negara yang merajalela, politik kampus yang dianggapnya tidak sehat, dan seturutnya) dengan melakukan kegiatan yang dianggapnya menyenangkan seperti naik gunung. Kegiatan naik gunung dan keberanian menghadapi persoalan politik yang melibatkan atau terjadi di sekeliling kita adalah dua hal berbeda. Orang bisa suka naik gunung sekaligus peduli dengan persoalan-persoalan politik mikro maupun makro yang ada di sekitarnya. Yang jelas, politik tidak bisa dihindari hanya dengan naik gunung atau mengunjungi kawah-kawah di planet Mars. Mau lari kemana pun, politik akan memasuki kehidupan privat manusia karena ia adalah bagian dari individu-individu yang akhirnya membentuk masyarakat. Pada dasarnya, manusia lahirpun secara ontologis sudah sangat politis.

Kedua, ia menggunakan contoh figur pendaki gunung yang justru menjadi pelopor dari depolitisasi para Mapala untuk tidak terlibat pada persoalan-persoalan masyarakatnya. Soe Hok Gie bagi saya adalah salah satu arsitek Orde Baru yang punya kontribusi besar dalam membuat Mapala atau kegiatan mendaki gunung hanya sebagai unit kegiatan mahasiswa atau kegiatan penyegaran. Ia melepaskan organisasi dan kegiatan ini dari usaha untuk terus menyatukan diri, ajur-ajer, dengan alam, manusia yang tinggal di dalamnya, relasi antara manusia dan alam itu sendiri. Ini adalah satu proses alienasi super kompleks. Alienasi dari permasalahan manusia di sekeliling gunung, juga alienasi dari permasalahan yang terjadi dengan gunung itu sendiri. Gunung, dan juga manusia di sekitarnya, dalam pandangan seperti ini menjelma menjadi “instrumen” belaka untuk “menyegarkan” si pendaki. Relasi instrumental inilah yang menjadi salah satu pangkal persoalan yang sangat mendalam dalam krisis multi-dimensi yang terjadi di jaman now, yaitu krisis sosioekologis. Alam hanya dijadikan sebagai objek untuk memuaskan dirinya. Dengan pola yang sama, manusia lain juga cuma akan dijadikan objek pemuas, atau lebih tepat eksploitasi, saja. Inilah akar tunggang dari krisis sosioekologis, percampuran antara krisis (apa yang kita anggap sebagai) “sosial” dengan kriris (apa yang kita anggap sebagai) “ekologi”.

Dampak dari cara pandang Soe Hok Gie ini sekarang tampak jelas dari absennya sebagian besar Mapala dan para pendaki gunung ketika proyek industrialisasi negara seperti pendirian pabrik semen dan pembangkit listrik tenaga panas bumi sedang dalam tahap menghancur-leburkan gunung yang mereka puja-puja dan mereka dewa-dewakan sebagai sumber keindahan. Pandangan keindahan gunung dan alam Soe Hok Gie adalah pandangan keindahan yang khas kaum Manikebuis, melepaskan subyek alam dari manusia dan persoalan yang ada di sekitarnya. Gunung Slamet, Gunung Ciremai, Gunung Lawu, Gunung Ijen, Gunung Sorik Marapi, Gunung Marapi, dan gunung-gunung berapi lainnya di Indonesia sedang dilirik oleh investor energi dengan resiko kehancuran alam yang mengerikan. Sementara si pembikin tulisan ini masih berpikir naik gunung adalah refreshing. Sungguh memalukan!

Karena Pembikin tulisan ini mencomot Soe Hok Gie sebagai eksemplar pendaki gunung ideal secara tidak kritis, akhirnya ia melakukan kekeliruan ketiga, yaitu menjadi operator dari mesin berpikir khas rezim “Orde Baru” dalam analisisnya. Pertama, ia menyebut era kekuasaan Sukarno dengan sebutan “Orde Lama”. Penyebutan ini adalah bikinan rezim Orde Baru yang ingin membedakan dirinya dengan era kekuasaan Sukarno. Apa dampaknya? Segala hal yang berasal dari masa-masa sebelum Orde Baru akan dianggap buruk, salah, dan tak usah diikuti. Sinyalemen ini tampak dari cara pandang pembikin tulisan yang mengatakan bahwa politik kampus di era Gie (tahun 1964) dikatakannya tidak sehat. Tidak sehat menurut siapa kalau bukan oleh para arsitek Orde Baru macam Soe Hok Gie itu?! Bila alur berpikirnya demikian, maka ia juga akan bisa mengatakan politik kampus masa sekarang tidak sehat karena dipenuhi kaum pro khilafah dan anti-khilafah. Dalam kehidupan politik, bukankah biasa pro dan kontra, ada pihak yang sedang didukung dan ditindas penguasa? Politik adalah pertarungan merebut atau mengelola kekuasaan. Kata “sehat” di dalam tulisan ini tampak jelas mengandung muatan ideologi tertentu, yaitu ideologi borjuis penguasa Orde Baru yang ingin menindas semua yang di luar dirinya. Karena itu, stigmatisasi “tidak sehat” adalah langkah awal sebagai usaha untuk menjustifikasi penindasan terhadap apa yang berada di luar dirinya. Atau untuk membuatnya lebih pas, terhadap apa yang mengganggu jalannya pembentukan dan pemapanan kekuasaan Orde Baru.

Yang menyedihkan, Tirto.id, yang banyak diawaki oleh kalangan muda, mau memuat tulisan macam begini di saat orang-orang yang kini tinggal di sekitar kaki-kaki gunung (Slamet, Lawu, Ciremai, dan lain-lainnya) sedang terancam menghadapi bencana aneka rupa (longsor, banjir, air keruh, dan kurangnya debit air) akibat panas bumi di perut gunung itu akan dijarah pengusaha. Listrik yang dihasilkan akan dipakai oleh aktivitas industrial, sementara masyarakat sekitar gunung kebagian bencananya. Keindahan gunung yang diangan-angankan para pendaki seperti isi tulisan ini hanya menunggu waktu untuk lenyap. Dan tidak ada suara kritis pada pendaki gunung dalam tulisan ini. Yang ada adalah ajakan terselubung untuk menjauh dari politik. Benar-benar tercerabut dari persoalan masyarakat bawah!

Dwi Cipta
Dwi Cipta

Penulis cerita dan esai. Belajar menulis dan menerjemah secara otodidak. Kini sedang belajar di dunia penerbitan dengan ikut mendirikan dan menakhodai Literasi Press.

Comments are closed.