Tidak ada tema khusus yang menjadi syarat agar tulisan Anda dimuat di Rubrik Kaji! Hanya saja, redaksi akan sangat senang apabila tulisan Anda memberikan perhatian pada kekuasaan dan ketaksetaraan. Kami memaknai kekuasaan sebagai hal yang relasional dan ada dimana-mana. Dia ada dalam percakapan, hubungan personal, manajemen, birokrasi, hukum, akumulasi kapital, dan sebagainya. Ketaksetaraan, sementara itu, kami pahami bukan hanya termanifestasikan dalam sistem ekonomi dan politik, ia hadir di ranah kultural, tradisi, dan psikologi. Ketaksetaraan hadir dimana-mana, dominasi manusia terhadap alam, laki-laki/perempuan, Barat/Timur, Utara/Selatan, global/lokal, antar etnis, (aparat) negara/rakyat, kota/desa, tua/muda, pusat/pinggiran, kapitalis/buruh, pikiran/tubuh, dan sebagainya. Hubungan-hubungan ketaksetaraan itu tidak bekerja sendiri-sendiri, acapkali saling bertaut. Kepada cara kerja atau mekanisme bagaimana kekuasaan dan ketaksetaraan beroperasilah kami mengharapkan Anda memberikan perhatian yang lebih dalam menulis.

Tidak ada diktat tentang gaya tulisan di Rubrik Kaji! Tidak ada pula batasan pendek dan panjang yang kami tetapkan. Satu-satunya persyaratan yang kami punya hanyalah: tulisan Anda bisa dipahami! Dan kalau bisa, membacanya memberikan kenikmatan. Kami tahu, kenikmatan ini standar yang abstrak dan berbeda bagi tiap orang. Karenanya, kami mencoba memberikan definisi “kenikmatan,” dari isi dan cara. Isi; di sini kami bisa mengatakan menikmati membaca sebuah tulisan kalau tema yang dibahas menarik. Menarik bisa berarti karena penting secara sosial, baru, atau sedang menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Cara; ini adalah bagaimana Anda menyampaikan tulisan. Tentu saja agar sebuah tulisan memberikan kenikmatan ketika dibaca, haruslah disampaikan dengan cara yang mudah dimengerti, idenya utuh, dan puitik namun pas. Kenikmatan penuh dalam membaca akan bisa dihadirkan tulisan Anda jika dan hanya jika isi dan cara sudah berpadu.

Editor : Bosman Batubara, Hendra Try Ardianto, Angga Paselwa

Sep 23, 2016

Tanah Adat di Sianjur Mulamula itu pun Diklaim sebagai Tanah Pemerintah (Negara)

“Tanah itu adalah golat (tanah adat milik bersama) dari Bius Nasiapulu dan Naopatpulu, dan berada di wilayah adat Limbong. Tapi oleh Camat melarang kami mengusahai tanah […]
Sep 13, 2016

Gusuran Bukit Duri dan Jakarta yang Kehilangan Kesempatan Menemukan/Menteorisasikan Penanganan Banjir di Kawasan Padat

Pada 30 Agustus 2016 yang lalu, Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Administratif Jakarta Selatan mengeluarkan Surat […]
Sep 9, 2016

Menolak Kongkalikong Kampus dan PLTU Cirebon

Pasca tumbangnya Orde Baru digantikan Orde Reformasi hingga sekarang, industrialiasi semakin masif berjalan di bumi Indonesia. Hal demikian itu semakin kentara setelah dikeluarkannya Peraturan Presiden tentang […]
Jul 12, 2016

Kacang Lupa Kulit; Sesat Juga Menyesatkan.

“Cuma manusia pengecut atau curang yang tiada ingin melakukan pekerjaan berat, tetapi bermanfaat buat masyarakat sekarang dan di hari kemudian itu” (Tan Malaka) Kita semua tentu […]
Jun 22, 2016

Memastikan Status Tanah Adat dan Hutan Adat di Tanah Batak

Sangat menarik mencermati seruan para perantau (orang Batak yang tinggal di luar Tanah Batak) yang mengajak (baca: mengingatkan) masyarakat Batak yang tinggal di bona pasogit (kampung […]