Tidak ada tema khusus yang menjadi syarat agar tulisan Anda dimuat di Rubrik Kaji! Hanya saja, redaksi akan sangat senang apabila tulisan Anda memberikan perhatian pada kekuasaan dan ketaksetaraan. Kami memaknai kekuasaan sebagai hal yang relasional dan ada dimana-mana. Dia ada dalam percakapan, hubungan personal, manajemen, birokrasi, hukum, akumulasi kapital, dan sebagainya. Ketaksetaraan, sementara itu, kami pahami bukan hanya termanifestasikan dalam sistem ekonomi dan politik, ia hadir di ranah kultural, tradisi, dan psikologi. Ketaksetaraan hadir dimana-mana, dominasi manusia terhadap alam, laki-laki/perempuan, Barat/Timur, Utara/Selatan, global/lokal, antar etnis, (aparat) negara/rakyat, kota/desa, tua/muda, pusat/pinggiran, kapitalis/buruh, pikiran/tubuh, dan sebagainya. Hubungan-hubungan ketaksetaraan itu tidak bekerja sendiri-sendiri, acapkali saling bertaut. Kepada cara kerja atau mekanisme bagaimana kekuasaan dan ketaksetaraan beroperasilah kami mengharapkan Anda memberikan perhatian yang lebih dalam menulis.
Tidak ada diktat tentang gaya tulisan di Rubrik Kaji! Tidak ada pula batasan pendek dan panjang yang kami tetapkan. Satu-satunya persyaratan yang kami punya hanyalah: tulisan Anda bisa dipahami! Dan kalau bisa, membacanya memberikan kenikmatan. Kami tahu, kenikmatan ini standar yang abstrak dan berbeda bagi tiap orang. Karenanya, kami mencoba memberikan definisi “kenikmatan,” dari isi dan cara. Isi; di sini kami bisa mengatakan menikmati membaca sebuah tulisan kalau tema yang dibahas menarik. Menarik bisa berarti karena penting secara sosial, baru, atau sedang menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Cara; ini adalah bagaimana Anda menyampaikan tulisan. Tentu saja agar sebuah tulisan memberikan kenikmatan ketika dibaca, haruslah disampaikan dengan cara yang mudah dimengerti, idenya utuh, dan puitik namun pas. Kenikmatan penuh dalam membaca akan bisa dihadirkan tulisan Anda jika dan hanya jika isi dan cara sudah berpadu.

Editor : Bosman Batubara, Hendra Try Ardianto

May 26, 2017

Seni Ekstraktif —Seni, Seniman, dan Krisis Ekologi

Seorang seniman dapat tanpa malu-malu menyatakan dukungannya terhadap pabrik semen atau proyek perampas tanah rakyat, tetapi karya seni tak pernah dapat melakukannya seeksplisit itu, kecuali ia menjelma iklan mentah.
May 23, 2017

Kutukan Kolonial: Landreform Setengah Hati

Dalam kolonialisme, bangsa terjajah tidak memiliki hak untuk bicara dan menentukan sikap karena bangsa-bangsa penjajah merampas semua itu untuk dirinya sendiri.
May 14, 2017

Peralihan Tanah Adat dengan Dalih Penanaman Pohon

“Bagaimana mungkin tanah adat kami ini disebut kawasan hutan, padahal kami sudah hidup di sini dari generasi ke generasi, sudah beratus-ratus tahun lamanya. Bukti-bukti sejarah lengkap. Ada makam-makam tua dari nenek moyang kami di tempat ini,” kata seorang Bapak yang juga sebagai Raja Adat di kampung ini.
Mar 24, 2017

Respon Sudut Pandang Teologi Kristen Terhadap Krisis Ekologi : Menuju Upaya Bersama Multi-iman Menanggapi Krisis Ekologi

Thomas Berry, seorang imam Katolik dari Kongregasi Pasionis (CP), dalam bukunya The Dream of the Earth (1988), mengatakan bahwa masa depan agama akan sangat bergantung pada […]
Mar 18, 2017

Negara, Adat dan Pendisiplinan Ulayat Nagari Sumatera Barat

Pengantar Tanah ulayat merupakan unsur dasar kepemilikan komunal dalam ber-adat. Ulayat tidak bisa dinilai hanya dari aspek bagaimana ia menunjang ekonomi masyarakat, melainkan sebagai simbol sosial, […]