Tidak ada tema khusus yang menjadi syarat agar tulisan Anda dimuat di Rubrik Kaji! Hanya saja, redaksi akan sangat senang apabila tulisan Anda memberikan perhatian pada kekuasaan dan ketaksetaraan. Kami memaknai kekuasaan sebagai hal yang relasional dan ada dimana-mana. Dia ada dalam percakapan, hubungan personal, manajemen, birokrasi, hukum, akumulasi kapital, dan sebagainya. Ketaksetaraan, sementara itu, kami pahami bukan hanya termanifestasikan dalam sistem ekonomi dan politik, ia hadir di ranah kultural, tradisi, dan psikologi. Ketaksetaraan hadir dimana-mana, dominasi manusia terhadap alam, laki-laki/perempuan, Barat/Timur, Utara/Selatan, global/lokal, antar etnis, (aparat) negara/rakyat, kota/desa, tua/muda, pusat/pinggiran, kapitalis/buruh, pikiran/tubuh, dan sebagainya. Hubungan-hubungan ketaksetaraan itu tidak bekerja sendiri-sendiri, acapkali saling bertaut. Kepada cara kerja atau mekanisme bagaimana kekuasaan dan ketaksetaraan beroperasilah kami mengharapkan Anda memberikan perhatian yang lebih dalam menulis.

Tidak ada diktat tentang gaya tulisan di Rubrik Kaji! Tidak ada pula batasan pendek dan panjang yang kami tetapkan. Satu-satunya persyaratan yang kami punya hanyalah: tulisan Anda bisa dipahami! Dan kalau bisa, membacanya memberikan kenikmatan. Kami tahu, kenikmatan ini standar yang abstrak dan berbeda bagi tiap orang. Karenanya, kami mencoba memberikan definisi “kenikmatan,” dari isi dan cara. Isi; di sini kami bisa mengatakan menikmati membaca sebuah tulisan kalau tema yang dibahas menarik. Menarik bisa berarti karena penting secara sosial, baru, atau sedang menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Cara; ini adalah bagaimana Anda menyampaikan tulisan. Tentu saja agar sebuah tulisan memberikan kenikmatan ketika dibaca, haruslah disampaikan dengan cara yang mudah dimengerti, idenya utuh, dan puitik namun pas. Kenikmatan penuh dalam membaca akan bisa dihadirkan tulisan Anda jika dan hanya jika isi dan cara sudah berpadu.

Editor : Bosman Batubara, Hendra Try Ardianto, Angga Paselwa

Aug 22, 2017

Menghadang Arus Ekstrimisme

Ekstremisme, istilah yang lebih senang saya pakai daripada radikalisme, kini telah menjadi problem nasional, bahkan internasional. Orang-orang mencemaskan banyak anak muda yang terpengaruh pemikiran ekstremisme dalam keagamaan. […]
Aug 14, 2017

Membongkar Objektivasi Subyek Politik: Praktik Normalisasi Ormas Anti-Pancasila

Pembentukan Perppu Ormas adalah salah satu contoh prose objektivasi yang dilakukan oleh kekuasaan terhadap subyek. Kenapa yang menjadi sasaran dalam hal ini adalah Ormas, bukan individu?
Aug 6, 2017

Krisis Ekonomi di Ambang Mata?

Apa arti berita tentang gedung-gedung di Jakarta yang kosong bagi Anda? Mungkin akan ada banyak jawaban. Misalnya dalam salah satu pemberitaan di media daring yang sempat […]
Aug 5, 2017

Simpang Jalan Nasionalisme Sekuler dalam Membendung Ekstrimisme Agama

Pandangan bernas Hairus Salim tentang arti penting institusi pendidikan sebagai media penanaman paham keagamaan yang menganjurkan relasi damai sesama atau antar umat beragama sekaligus kritis terhadap […]
Jul 15, 2017

“ANTI-PANCASILA”?: Apa dan Siapa Itu “anti-Pancasila”?

Neoliberalisme merupakan suatu kudeta terselubung atas Pancasila, yang aktor-aktornya adalah IMF, WTO, dan lain-lain, forum-forum global yang di dalamnya Pancasila menjadi tidak berarti di hadapan kepentingan para investor, mereka yang “merekayasa” Indonesia untuk 20-30 tahun ke depan.