Media Kooperasi la diaria Uruguay: “Mereka bertahan karena di sini mereka merdeka”
Jun 6, 2015
Ketika Wiji Thukul Baca Puisi di Malam Ramadan
Jun 24, 2015

 ‘Tiga Gerakan’ Nancy Fraser: Melampaui ‘Gerakan Ganda’ Karl Polanyi

Oleh Bosman Batubara*

Tulisan ini secara khusus melihat peran dari kritik yang disampaikan oleh Nancy Fraser terhadap penggunaan teori “gerakan ganda” (double movement) yang disampaikan oleh Karl Polanyi dalam buku The Great Transformation: The Political and Economic Origins of Our Time (1944). Tulisan ini akan menjelaskan poin-poin kritik yang disampaikan Nancy Fraser dan peran dari penggunaan kritik itu dalam melihat gerakan sosial kontemporer. Sumber utama pemikiran Fraser untuk tulisan ini adalah dua artikel bertajuk “Can Society be Commodities All the Way Down? Post-Polanyian Reflections on Capitalist Crisis” yang dimuat di jurnal Economy and Society pada 2014 dan “A Triple Movement? Parsing the Politics of Crisis after Polanyi” yang dimuat di New Left Review pada 2013.

Teori gerakan ganda Polanyi sudah digunakan di mana-mana, misalnya dalam buku Taking Southeast Asia to Market: Commodities, Nature, and People in the Neoliberal Age (2008) yang diedit oleh Joseph Nevins dan Nancy Lee Peluso. Dalam buku ini disebutkan, misalnya, gerakan buruh di Vietnam dengan korannya adalah bentuk dekomodifikasi terhadap komodifikasi buruh yang dilakukan oleh kaum kapitalis. Dalam konteks Indonesia, Noer Fauzi Rachman dalam tulisan pengantar Jurnal Wacana edisi “Gerakan Agraria dan Gerakan Lingkungan di Indonesia Awal Abad XXI” (2012) menggunakan teori gerakan ganda Polanyi untuk menjelaskan gerakan-gerakan sosial di Indonesia yang memperjuangkan keadilan agraria dan lingkungan dalam konteks neoliberal.

Buku The Great Transformation karya Karl Polanyi diterbitkan pada 1944 dan mengalami kebangkitan pada era 2000-an akibat krisis kapitalisme neoliberal yang mendalam, terutama pada penghancuran ruang hidup. Kesuksesan Polanyi yang paling besar adalah kemampuannya dalam melihat krisis di abad XIX dari sudut pandang ekologi, ekonomi, dan reproduksi sosial. Dia melihat bahwa para pendukung “pasar yang mengatur dirinya sendiri” (self-regulating market) meletakkan lingkungan, masyarakat, moral, etika, serta politik tersubordinasi dan dibentuk oleh pasar.

Ekspansi pasar ini mengomodifikasikan semua hal. Tetapi, Polanyi melihat bahwa entitas seperti tanah, buruh, dan uang tidak mungkin dikomodifikasikan. Hal ini menyangkut definisi Polanyi tentang “komoditas”, yaitu sesuatu yang diciptakan untuk dijual. Sementara entitas seperti tanah, buruh, dan uang tidak diciptakan untuk dijual. Polanyi kemudian menyebut entitas seperti tanah, buruh, dan uang sebagai komoditas yang dibayangkan (fictitious commodity).

Penutupan-penutupan tanah rakyat untuk kepentingan kapitalis telah menyebabkan tersingkirnya rakyat dari ruang hidup mereka. Gerakan perlawanan terhadap penutupan-penutupan semacam inilah yang melahirkan gerakan tandingan (countermovement).

Teori gerakan ganda Polanyi ini mengalami kebangkitan karena banyak dipakai untuk menjelaskan kondisi kapitalisme neoliberal sekarang. Untuk kasus Indonesia, misalnya, penghancuran ruang hidup dan tanah air rakyat terus terjadi akibat ekspansi yang sangat masif dari kapitalisme. Sebut saja, misalnya, kapitalisme ekstraktif di sektor tambang, migas, hutan, dan pembangunan-pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas.

Namun, menurut Fraser, ada beberapa masalah dalam teori gerakan ganda Polanyi. Pertama, masalah dalam komoditas yang dibayangkan itu sendiri, yang ia sebut sebagai “penafsiran ontologis” komoditas yang dibayangkan seperti tanah, tenaga kerja, dan uang. Ia melihat adanya cara pandang esensialis di sini. Karena tanah, tenaga kerja, dan uang tidak diciptakan untuk dijual dan dengan demikian bukan merupakan komoditas dalam definisi Polanyi, maka upaya mengomoditaskan mereka adalah sebuah tindakan yang menyalahi kodratnya. Tetapi, cara penafsiran ontologis seperti ini, menurut Fraser, membuat kita tidak mampu melihat kesejarahan komoditas yang dibayangkan itu. Sebab, pada dasarnya tidak ada satu pun di antara mereka yang ditemukan dalam kondisi murni. Semua sudah dalam kondisi yang dibentuk oleh aktivitas manusia dan relasi kuasa.

Kedua, karena sangat menekankan guncangan akibat komodifikasi terhadap komunitas, maka Polanyi mengabaikan ketidakadilan yang justru terjadi dalam komunitas, misalnya ketidakadilan berbasis ras, perbudakan, dan hubungan-hubungan patriarkat. Contoh ketidaksensitifan terhadap dominasi adalah kegagalannya menangkap dimensi “merawat” dalam konteks pembentukan tenaga kerja sebagai komoditas yang dibayangkan. Yang dimaksud dimensi “merawat” di sini adalah para pekerja domestik yang tidak digaji dalam reproduksi sosial, yang menunjang pembentukan kondisi yang memungkinkan terbentuknya tenaga kerja untuk disamak kapitalis. Misalnya, buruh laki-laki tidak mungkin bekerja di pabrik tanpa ada istrinya di rumah yang merawat anak-anak, mengerjakan pekerjaan rumah, menjaga ikatan sosial, dan menjadi teman berkeluh kesah. Ini adalah bentuk relasi kuasa yang muncul dalam konteks gender. Penghisapan antartetangga (intimate exclusion), sebagaimana diceritakan Derek Hall, Philip Hirsch, dan Tania Murray Li dalam Powers of Exclusion: Land Dilemmas in Southeast Asia (2011), juga sering kali gagal ditangkap.

Padahal, dalam pandangan Fraser, gerakan pembebasan seperti gender atau antirasialis belum tentu kemudian masuk ke salah satu kubu politik yang dibayangkan Polanyi (apakah pendukung pasar yang mengatur dirinya sendiri atau menjadi pendukung perlindungan hak-hak oleh negara). Para partisipan gerakan emansipasi ini bisa jadi cuma ingin membebaskan diri mereka sendiri dari dominasi.

Dampak lebih jauh akibat hal-hal yang tidak diantisipasi oleh Polanyi, sebagaimana disebutkan di atas, bisa mengarah pada ketidaksensitifan terhadap kondisi buruh yang, misalnya, diimpor dari negara miskin ke negara kaya; atau, satu hal lain yang sangat khas, para perempuan dari keluarga miskin yang melakukan pekerjaan-pekerjaan rumahtangga di rumah-rumah para perempuan kaya.

Hal lain adalah kondisi pascakolonial di mana sesudah Perang Dunia II, justru negara-negara yang tadinya menjajah mengalami kemakmuran, sementara negara-negara bekas jajahan masih berkubang dalam kemiskinan. Sesudah era kolonialisasi, demikian Fraser, imperialisme muncul dalam bentuk yang baru, yakni berupa hubungan-hubungan yang disamarkan dan dibuat menjadi seolah-olah tidak politis antara negara bekas jajahan dan tuannya.

Termasuk dalam hal yang disebutkan oleh Fraser ini dapat kita sebutkan, misalnya, Program Penyesuaian Struktural (Structural Adjustment Programme) masa International Monetary Fund (IMF). Dalam konteks Afrika Sub-Sahara, elaborasinya sudah ditunjukkan dengan sangat baik oleh Rita Abrahamsen yang, lewat studinya bertajuk Disciplining Democracy: Development Discourse and Good Governance in Africa (2000), menyatakan bahwa good governance pada dasarnya adalah bagian dari teknologi kekuasaan untuk mengatur; dalam konteks “pembangunan” sebagaimana ditunjukkan dengan sangat baik oleh Arturo Escobar melalui studi yang bertajuk Encountering Development: The Making and Unmaking of the Third World (1995); atau dalam konteks bencana sebagaimana ditunjukkan oleh Greg Bankoff yang, lewat artikelnya bertajuk “Rendering the World Unsafe: ‘Vulnerability’ as Western Discourse” (2011), menyatakan bahwa pada dasarnya “kerentanan” adalah diskursus Barat.

Lantas, kerangka seperti apa yang bisa kita gunakan untuk memahami kondisi yang sedang berlangsung sekarang ini? Fraser menawarkan empat titik masuk. Pertama, teori kritis di abad XXI haruslah lebih utuh, dalam artian mampu menangkap krisis yang sedang terjadi sekarang secara lebih menyeluruh. Kedua, teori kritis sekarang harus menautkan kritik Polanyi terhadap komodifikasi dengan kritik terhadap dominasi. Ketiga, teori kritis sekarang harus membangun konsep yang melampaui perjuangan gerakan ganda sebagaimana disampaikan Polanyi dengan juga mempertimbangkan emansipasi. Keempat, teori kritis dalam krisis yang sedang kita alami sekarang ini haruslah benar-benar menyerap nilai-nilai dari setiap kutub yang ada dalam apa yang oleh Fraser disebut sebagai “tiga gerakan”, di mana emansipasi dari dominasi ditambahkan terhadap gerakan ganda versi Polanyi.

*Penulis adalah mahasiswa Ph.D. UNESCO-IHE, Institute for Water Education, Delft, Belanda

4 Comments

  1. seks izle says:

    299613 763675Thank you for the auspicious writeup. It in truth used to be a amusement account it. Glance complex to far more added agreeable from you! Even so, how could we be in contact? 253520

  2. |there is a ticket granted inside the ARC Zone. |there released
    is a ticket within to get

    Have a look at my web-site; Car Accidents Lawyer Tips2008

  3. Sand Gnats says:

    Wow that was odd. I just wrote an incredibly long comment
    but after I clicked submit my comment didn’t appear.
    Grrrr… well I’m not writing all that over again.
    Regardless, just wanted to say wonderful blog!

    Also visit my site Sand Gnats

  4. Sandra says:

    Hi my name is Sandra and I just wanted to drop you a quick note here instead of calling you. I discovered your ‘Tiga Gerakan’ Nancy Fraser: Melampaui ‘Gerakan Ganda’ Karl Polanyi — Literasi.co page and noticed you could have a lot more traffic. I have found that the key to running a successful website is making sure the visitors you are getting are interested in your subject matter. There is a company that you can get targeted visitors from and they let you try their service for free for 7 days. I managed to get over 300 targeted visitors to day to my site. Check it out here: http://jdivert.com/2anlh