Satu Lagi Alternatif: Media Kooperasi
Jul 20, 2014
New Frontier: Perampasan Tanah Berjuluk Krisis Energi dan Pangan
Jul 21, 2014

taz: Menciptakan Ruang Publik Alternatif dengan Cara Kreatif

Kolom Media Kooperasi oleh: Anett Keller *

Pengantar Redaksi:

Tulisan ini bercerita tentang taz, media kooperasi yang didirikan di Jerman dan saat ini telah memiliki 13.120 orang anggota. Tulisan ini pernah didiskusikan dalam Serial Diskusi Media Kooperasi yang diselenggarakan oleh Gerakan Literasi Indonesia pada 10 Oktober 2013, di warung kopi Djendelo, Yogya. Mengingat panjangnya tulisan, maka redaksi memutuskan untuk memecahnya menjadi dua bagian dan akan dimuat secara berurutan. Tulisan ini adalah bagian kedua. Selamat menikmati.

***

Lanjutan dari Bagian 1

Salinan koran taz yang mengumumkan terbitnya taz secara harian (dalam buku Die taz). FOTO: EDITH KOESOEMAWIRIA.

Salinan koran taz yang mengumumkan terbitnya taz secara harian (dalam buku Die taz). FOTO: EDITH KOESOEMAWIRIA.

TAZ memang cukup berhasil memengaruhi media lain, misalnya dengan agenda anti-nuklir (yang dari awal merupakan elemen gerakan pendiri taz) ketika terjadi bencana di reaktor nuklir di Chernobyl, tahun 1986. Namun, taz juga sering mengalami kontorversi internal saat memperdebatkan ideologi: misalnya, dalam kontroversi antara kalangan pasifis dan para simpatisan gerakan bersenjata Sandinista di El Salvador. Orang-orang yang solider dengan Sandinista merupakan mayoritas di taz. Artikel-artikel di taz kemudian memobilisasi pembaca untuk mengumpulkan uang buat Sandinista. Sampai tahun 1992, taz berhasil mengumpulkan uang sebesar hampir 5 juta mark, tapi hal ini juga semakin membentuk citra taz sebagai koran radikal. Apakah taz merupakan pemantau atau aktor dalam konflik di El Salvador menjadi tanda tanya besar.

Besarnya hasil pengumpulan uang untuk Sandinista tidak seiring dengan hasil taz sebagai usaha media. Gaji tetap rendah, tekanan kerja tetap tinggi. Pada waktu tembok Berlin runtuh dan euforia begitu besar, awalnya taz berhasil menerbitkan koran untuk Jerman Timur. taz menjadi harian pertama yang melakukannya. Namun, lama kelamaan, banyak koran muncul dan edisi taz untuk Jerman Timur tidak berhasil lagi.

Situasi ekonomi juga memburuk karena setelah Jerman Timur dan Jerman Barat bersatu pada tahun 1990, bantuan finansial untuk institusi di Berlin Barat diberhentikan. Pada tahun 1991, keuangan taz minus per bulan sebesar 100.000 mark. taz hampir bangkrut dan harus menghadapi kenyataan bahwa kalau tidak mau ditutup, 30 persen stafnya harus di-PHK. Pada saat itu, banyak anggota redaksi taz begitu frustrasi.[1] Mereka malah senang kalau taz dijual kepada investor. Mereka mendapat gaji sebesar 1550 mark yang pada waktu itu tidak cukup untuk membayar sewa tempat dan memenuhi ongkos hidup karena Berlin semakin mahal.

Taz kemudian mengalami “brain drain”: banyak wartawan yang bagus lari ke media lain karena gaji di sana lebih tinggi. Banyak juga yang capek dengan “demokrasi akar rumput”. Mereka ingin berfokus pada tugas profesional dan tidak lagi “membuang waktu” dengan proses pengambilan keputusan di rapat pleno yang panjang dan rumit.

Sepertinya, juga terdapat semacam arogansi dari anggota redaksi yang menganggap diri lebih “penting” dibanding rekan-rekannya di bagian teknis. Menariknya, mayoritas yang tetap mencoba eksis dengan struktur anti-kapitalis, dalam arti tidak mencari keuntungan, berasal dari bagian teknis dan administrasi, bukan dari redaksi. Argumen mereka sederhana dan logis: taz didirikan sebagai media alternatif, di mana struktur alternatif yang tidak punya logika moneter bisa dicoba. Kalau dijual ke investor dan dijadikan bagian dari perusahaan media biasa, menurut mereka, taz sudah tidak layak diperjuangkan.

 

Menjadi kooperasi

Akhirnya ide kooperasi dihidupkan kembali. Dengan perubahan dalam bidang kooperasi setelah Jerman bersatu, masuk kooperasi jadi lebih mudah (karena banyak perusahaan Jerman Timur kemudian menjadi kooperasi). Jadi, taz akhirnya dijual—tapi pada diri sendiri, atau lebih tepatnya, kepada pembacanya. Sejak bulan Juni 1992, taz berjalan sebagai koran kooperasi. Sampai akhir tahun 1992, sudah tercapai jumlah 3.000 anggota dengan jumlah uang lima juta mark yang mereka investasikan. Sampai 2006, jumlah anggotanya 7.000 orang, yang membawa uang tujuh juta Euro. Saat ini (2013), jumlah anggota kooperasi sudah mencapai 13.120[2].

Mereka yang membeli saham di taz tidak mencari keuntungan finansial. Secara finansial, investasi di taz malah merugikan.[3] Yang didapat oleh investor adalah “bunga idealisme“. Mereka berinvestasi dalam taz dengan keyakinan bahwa mereka membantu menjamin pluralisme media di Jerman.

Saat ini, satu saham bisa dibeli seharga 500 euro (Rp6 juta). Ada batasan untuk menghindari orang memiliki saham mayoritas: Tidak ada orang yang boleh punya lebih dari 200 saham. Batasan lain adalah bahwa dalam sidang anggota (yang bertemu setahun sekali dan memilih komisaris kooperasi taz serta memutuskan tentang investasi uang kooperasi). Suara anggota tidak tergantung pada jumlah saham (sistem 1 anggota = 1 suara). Perkumpulan karyawan taz dijamin haknya dengan hak veto mereka kalau misalnya sidang anggota memutuskan taz mau dijual. Perkumpulan karyawan taz juga memilih tiga dari lima komisaris kooperasi. Dalam perjalanan waktu, beberapa investasi penting dilakukan dengan modal kooperasi taz, misalnya: sejak 1995, taz menerbitkan edisi Jerman koran bulanan Perancis Le Monde Diplomatique. Tahun 1999, sistem redaksi baru diterapkan di taz dengan modal kooperasi. Dan sejak tahun 2012, taz secara finansial mendukung lima koran kooperasi di Ceko, Hungaria, Swedia, Turki, dan Uruguay.

Selain struktur koperasi, taz di Jerman punya beberapa keunikan lain, yaitu koran nasional satu-satunya yang pemimpin redaksinya adalah perempuan. taz juga punya sistem langganan yang unik. Untuk pelanggan, ada tiga harga yang berbeda dan yang dipilih secara sukarela dari pelanggan, yaitu harga yang disubsidi (di bawah ongkos produksi), harga tengah (yang mencukupi ongkos produksi), dan harga solidaritas (yang memungkinkan subsidi untuk harga yang disubsidi). Jadi, komunitas taz diharapkan menilai kemampuan finansial secara realistis dan membayar apa yang mereka bisa bayar. Taz juga merupakan koran pertama di Jerman yang bisa diakses online (pada tahun 1995). Sampai sekarang, hampir semua artikel yang ada di edisi cetak juga bisa diakses online tanpa kewajiban bayar. Untuk mendanai edisi online juga ada sistem sukarela, di mana pembaca ditanya, dia mau bayar berapa untuk membaca artikel online.[4]

 

“Apa saja yang boleh dilakukan oleh satire? Semuanya

Taz jadi terkenal karena judul dan sampul yang unik dan nakal. Misalnya, pada waktu Presiden Amerika Serikat George Walker Bush berkunjung ke Berlin pada Mei 2002. Sementara semua media lain memberitakan tentang “sambutan historisnya”, taz menerbitkan sampul dengan halaman kosong. Di bawahnya ada karikatur Bush dengan gelembung dari mulutnya—yang juga kosong.

Cita rasa ironis para redaktur taz juga terlihat pada waktu Kardinal Ratzinger (yang asli Jerman) menjadi Paus dan taz terbit dengan cover-headline “Oh my God”. Lebih dari sekali taz dimarahi oleh tokoh-tokoh yang menjadi obyek satirenya. Pelatih Bayern München, Jürgen Klinsmann, sempat menuntut taz karena tidak senang dengan ilustrasi cover taz yang menampilkan dia seperti Yesus yang disalib. Tetapi, di pengadilan taz menang karena satire dianggap sebagai bagian dari kebebasan pers diutamakan oleh hakim.

Satire di taz dianggap begitu penting, sehingga setiap hari satu halaman dibaktikan untuk satire, yaitu halaman berjudul “Kebenaran”. Halaman tersebut sangat disukai pembaca taz karena sesuai dengan motto yang pernah diungkapkan oleh sastrawan Jerman terkenal, Kurt Tucholsky: “Apa saja yang boleh dilakukan oleh satire? Semuanya.”[5]

Pada 2006, halaman “Kebenaran“ sempat menimbulkan krisis diplomatik antara Jerman dan negara tetangga, Polandia. Krisis tersebut diingat sebagai “krisis kentang” karena dalam artikel satire yang terbit di halaman “Kebenaran“, Presiden Polandia Lech Kaczynski dibandingkan dengan kentang. Sebagai reaksi Kaczynski, kunjungan negara ke Jerman tiba-tiba dibatalkan dan Perdana Menteri Polandia, Jaroslaw Kaczynski, yang juga saudara kembar Sang Presiden, ingin membawa taz ke pengadilan. Pemerintah Polandia menuntut bahwa Pemerintah Jerman harus minta maaf pada Lech Kaczynski, tapi Pemerintah Jerman menolak dan menekankan, bahwa pemerintah tidak bisa campur tangan karena kebebasan pers dijamin oleh konstitusi.

Dengan perjalanan waktu, taz sebagai koran gerakan mengalami banyak tantangan, antara lain pada waktu Partai Hijau yang terdiri dari gerakan yang sama yang mengawali taz, ikut koalisi pemerintah pada tahun 1998. Posisi taz sebagai koran gerakan tetap terasa. Misalnya pada 2003, sewaktu Amerika Serikat memulai perang di Irak, taz tidak hanya menerbitkan edisi khusus dengan artikel-artikel yang memprotes perang, tapi juga mengorganisir malam “antiperang” di mana redaktur-redaktur taz membaca puisi yang melawan perang.

Setiap tahun sekali, saat ulang tahun taz, satu edisi taz dipersembahkan untuk topik tertentu dan diisi oleh “redaksi tamu”. Pada 2004 misalnya, sastrawan terkenal mengisi satu edisi untuk menekankan pentingnya media alternatif. Pada 2012, edisi khusus taz berisi dukungan untuk gerakan yang baru muncul di Jerman pada saat itu dan yang memperjuangkan kuota perempuan di seluruh media di Jerman. Pada tahun ini, anggota koperasi taz yang mengisi edisi ulang tahun.

Tidak mengherankan untuk koran gerakan yang didukung oleh banyak simpatisan dan dilawan oleh banyak antipatisan, taz sampai sekarang mengundang kontroversi. Yang satu menganggap taz terlalu radikal, sementara buat yang lain tidak cukup radikal. Ada yang mengkritik, bahwa taz sudah terlalu fokus menjadi media profesional dan terlalu hierarkis.[6] Yang lain mengkritik bahwa taz masih terlalu dipengaruhi oleh empati terhadap gerakan untuk dianggap media profesional. Ada yang berpendapat, taz punya terlalu banyak redaktur yang sudah puluhan tahun di situ dan yang ini membuat isi taz makin “kaku“. Ada yang berpendapat, di taz terlalu banyak anak muda, yang boleh menulis apa saja dan yang tidak lagi punya motivasi mengubah dunia, tapi menganggap taz sebagai koran yang “hip“ dan menjadi kesempatan emas untuk mengawali karier (untuk kemudian pindah ke media mainstream).

Menurut Jörg Magenau, penulis “biografi“ taz, taz justru begitu bisa menyebarluaskan agendanya karena terus mengalami perubahan.[7] Wartawan yang akhirnya meninggalkan taz untuk bekerja di media mainstream (terutama demi kepentingan gaji yang lebih tinggi) membawa semangat taz ke tempat barunya. Sering taz dengan nada ironis disebut sebagai “sekolah wartawan terbesar” di Jerman. Namun, juga ada posisi sebaliknya, bahwa taz hanya bisa eksis sampai sekarang karena dia mengalami “mainstreamisasi”.

Pada saat ini, menurut saya, taz bukan lagi media dari dan untuk satu gerakan. Dia juga bukan media yang paling Kiri di Jerman. Taz lebih tepat dilihat sebagai laboratorium untuk mendiskusikan ide-ide gerakan sosial. Kadang susah memang menetapkan arah taz atau melihat konsistensinya. Namun, taz tetap merupakan platform di mana fokus pada gerakan sosial (di seluruh dunia) diutamakan. Dan bentuknya sebagai koran kooperasi yang isinya independen dari kepentingan pemilik dan pemasang iklan[8] tetap merupakan contoh unik yang diikuti media lain.[9] Dan salah satu slogan yang sejak awal sering terdengar di ruang redaksi taz sampai sekarang tetap berlaku: “Dalam kontradiksi antara teori dan praksis, sudah ada yang menang, yaitu kontradiksi.”[10] (tamat)

 

* Anett Keller adalah mantan redaktur taz. Anett mendapat gelar S-2 dalam bidang jurnalistik dan ilmu politik dari Universitas Leipzig dengan tesis tentang kebebasan pers dan otonomi redaksi media di Indonesia. Hasil penelitiannya diterbitkan di Indonesia dengan judul: “Tantangan dari dalam: Otonomi redaksi di 4 media cetak nasional; Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika” dan dapat diunduh di sini: http://library.fes.de/pdf-files/bueros/indonesien/09806.pdf.

 

[1] Magenau, hal. 202.

[2] Informasi dari situs web taz: www.taz.de, diunduh pada 4 Oktober 2013.

[3] Kalau anggota kooperasi menginginkan sahamnya dikembalikan, pada saat ini kerugian finansialnya kira-kira 18 sampai 28 persen. Misalnya, saham yang dibeli seharga 500 euro pada 2012, hari ini akan dikembalikan sebanyak 413,35 euro. Sumber: Brosur Koperasi taz, hal. 21 (terjemahan oleh Anett Keller).

[4] Pada saat ini kira-kira terdapat 10.000 euro per bulan dengan sistem sukarela tersebut. http://blogs.taz.de/hausblog/2013/08/27/taz-zahl-ich-die-einnahmen-im-juli/

[5] Kurt Tucholsky: Was darf Satire, Berliner Tagblatt, 27 Januari 1919, http://gutenberg.spiegel.de/buch/1185/2 (terjemahan oleh Anett Keller).

[6] Beberapa minggu yang lalu, media-media Jerman lain sangat mengkritik taz karena (beda dengan dulu) pemimpin redaksi punya hak veto dan mengunakannya untuk menghindari artikel di taz yang sangat kritis terhadap Partai Hijau. Secara internal kejadian tersebut juga mengundang banyak kontroversi tentang berapa jauh hak veto pemimpin redaksi boleh digunakan.

[7] Magenau, hal. 205.

[8] Kurang dari 20 persen pendapatan taz didapat dari iklan (dibandingkan media cetak mainstream di Jerman yang kira-kira 50 persen pendapatannya dari iklan). Informasi dari taz, surel 25 April 2013.

[9] Di Jerman, koran Junge Welt (‘dunia baru’), yang dulu koran untuk anak muda dari Partai Sosialis (SED, partai yang berkuasa di Jerman Timur), setelah Jerman bersatu juga diubah strukturnya seperti kooperasi taz.

[10] Magenau, hal. 78 (terjemehan oleh Anett Keller).

 

 

 

Comments are closed.