Ada Apa dengan ULID: Orang-orang Lerok dan Dilema Modernitas
Jun 2, 2016
Kepada Seniman-seniman Art Jog
Jun 10, 2016

Tangga Kemenangan

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Aku berjalan dari timur yang kelam
seabad setelah matahari menyingsing
dari kelopak matamu yang mampu melahirkan puluhan ribu pulau,
nyiur melambai, dan intan manikam
dari rimbun bulu mata yang menyimpan belati tajam
perobek jantung mimpi dan kenyataan manusia yang tegak di atasnya

Engkaukah tujuan perjalananku?

Menyaksikan mayang rambutmu, betapa ingin kudongengkan
orang-orang yang menjahit kain mimpi dari ujung ke ujung
sepanjang puluhan ribu mil
lalu darah-darah persembahan diguyurkan di atasnya
bersama airmata, erangan jiwa sekarat,
dan senyum culas di bibir seorang lelaki
yang tangannya tak henti merobek kain mimpi

Tahukah engkau, aku datang dari negeri di seberang asal-mula
tempat nama-nama dan sejarah dituliskan dalam kitab agung
tempat pemenang dan pecundang menyerukan pujian penciptanya
tempat pertama kusaksikan dua tulang pipimu terus memanggilku
dari kegelapan takdir yang paling menggetarkan

Setelah dentuman besar berkumandang
tubuh dan jiwaku mengembarai ribuan musim
mencatat jatuh-bangun peradaban
sembari mencari jejak suaramu
di antara gelak tawa dan rintihan pedih
para perempuan jelita dan buruk rupa

Aku biarkan telapak kakiku melepuh
bajuku usang dan sobek silih berganti
aku biarkan kemiskinan menjadi mahkotaku
agar jantungku mampu berdenyut dan mengingat namamu

demi menyaksikan pinggangmu yang selancip pinggang lebah
aku tak mengambil segala yang bukan milikku
aku tak membacakan nama-nama dan peristiwa
dari kisah yang tak harus kudaraskan
aku tak mengambil perempuan-perempuan jelita
dari lelaki yang didera nestapa cinta di gelap malam
aku tak menuliskan hukum-hukum kehidupan
dari orang-orang pandir dan gila di tiap zaman

Telah lama aku berjalan terhuyung bersama badai sejarah
demi menyingkap jutaan mayat di bawah bunga-bunga layu
telah letih kusimak dusta-dusta hidup
atas nama sejarah dan kekuasaan
telah putus asa aku saksikan ketamakan
yang melahirkan pengkhianatan demi pengkhianatan

Maka, demi sepasang tanganmu yang melenting bak penjalin
hentikanlah perjalananku hanya sampai padamu
demi jemari meruncing eri, jahitkan kain mimpiku
dari ingatan tentang nama dan peristiwa
yang hanya muncul dalam igauan dan mimpi buruk
dan demi jenjang gading di lehermu
ijinkanlah sepasang kakiku menapaki tangga kemenanganku!

Pilahan, Juni 2016

Dwi Cipta
Dwi Cipta
Penulis cerita dan esai. Belajar menulis dan menerjemah secara otodidak. Kini sedang belajar di dunia penerbitan dengan ikut mendirikan dan menakhodai Literasi Press.

Comments are closed.