Dihilangkannya Orang-orang Sekaroh
Oct 17, 2017
Membajak Reforma Agraria
Oct 26, 2017

Surat untuk Oppung

Ilustrasi Oleh : Moch Dzikri Hendika

Untuk Ompung Fernando Doli,

Republik Duka

Pung. Hari ini ku sapa kau lewat mentari yang hampir tenggelam bak ditelan Danau Toba. Gerimis hujan menemani langkahku mulai dari rumah sampai ke makam sucimu ini. Sejak siang aku berdiri termangu, di depan sebuah kompleks kuburan yang berisikan tujuh makam di dalamnya. Terkhusus di depanku ini ada sebuah kayu bentuk salib yang bertuliskan “DISON MARADIAN OP. FERNANDO DOLI[1]. Ya. Kayu ini adalah pertanda tanggal engkau meninggal dunia, dan  hari ini adalah hari ke-1120 sejak kita berpisah alam. Pisah alam? Ya, kita hanya beda alam namun masih saling melihat. Buatku tidak ada arti akan sebuah kematian. Selama engkau masih hidup di dalam pikiranku, maka buatku kau tidak pernah mati. Mati hanya persoalan fisik saja kan pung?

Pung. Hari ini seperti biasa, aku lagi-lagi tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata di hadapan makam suci mu. Entah kenapa, setiap kali aku berusaha mengajakmu bicara via alam, mataku seolah cemburu pada mulutku. Dia seolah tak terima bila hanya suara yang keluar dari mulutku, maka dia juga ikut mengeluarkan airnya.

Beberapa hari lalu tepat di hari ke 1097 perpisahan kita, republik ini berulang tahun yang ke-72. Kau tahu pung? Mereka sangat antusias merayakannya. Menari, menyanyi, berpakaian rapi, bahkan acara-acara tahunan itu hampir tidak ada yang berubah. Malah bertambah macamnya. Tapi yang aneh pung, ulang tahun ini rasanya tidak ada bedanya dengan ulang tahun si Nina anak paling bungsu Amang Uda[2] Koko di sebelah rumahmu di Siboro.

Kau tahu sendiri kan pung, kalau si Nina itu ulang tahun, pasti dia akan menjadi ratu sejagat sehari. Tidak akan pergi ke ladang, tidak ikut mencari kayu bakar ke hutan, dan yang pasti dia akan tampak lebih ceria dan bernyanyi setiap saat. Tapi kan banyak orang tidak tahu pung. Kalau keceriaan si Nina selama satu hari itu hanyalah penghiburan semu dari kepahitan yang harus dirasakan selama 364 hari yang lain. Pada saat dia makan Manuk Na Pinadar[3] masakan ibunya yang hanya 5 potong itu, saat makan Dekke Siudur-Udur[4]ikan Mas Arsik ukuran kecil sebagai lambang syukur pertambahan umur, dan air putih sebagai Aek Sitio-Tio[5], alam beserta isinya ikut berbahagia merayakan pertambahan umur si Nina itu pung.

Tapi alam republik ini berpura-pura tidak tahu pung, bahwa 364 hari yang lain bagi Nina tidak ada bedanya dengan mencari jarum di atas jerami yang tertumpuk di Bara-bara[6]rumahmu. Kau masih ingat saat dia demam karena kakinya terpijak paku berkarat lantas infeksi? Kau ingatkan kalau mamaknya tak mampu membeli obat sampai kau pinjami dia uang? Belum lagi saat si Koko abang sulungnya baru sembuh dari demam berdarah, kau ingat betul kalau kau membelikan ibunya ikan mas untuk di Arsik[7], karena kau bilang “Asa mulak tondi tu badan[8].

Demikian Pung. Kehidupan Nina selama 365 hari tetap saja dilewati dengan situasi serba kekurangan dan keterbatasan. Hal yang sama juga masih terjadi pada banyak keluarga Pung di republik yang kau banggakan semasa hidupmu ini.

Pung, di ulang tahun yang ke 72 republik ini,  mimpi yang pernah kau ceritakan kepadaku seolah  tidak pernah menjadi kenyataan. Kau tahu Pung, banyak masyarakat adat yang dulu kau sebut dengan Pamukka Ni Huta[9] kehilangan lahan leluhur mereka yang direbut oleh pemerintah maupun swasta. Mereka memiliki tujuan yang sama Pung, bahwa kalau sudah menjadi milik mereka, mereka memiliki hak mau melakukan apapun atas lahan tersebut. Lahan mereka ada yang akan dirubah menjadi Pabrik Semen Pung, ada yang mau dibangun perumahan dan Mall, dan bermacam tujuan lainnya.

Aku hanya berkhayal mencoba membayangkan kalau semisal pemerintah republik ini juga akan merebut tanah Op. Partahi Bolak yang selalu kau banggakan itu Pung. Mungkin kalau itu terjadi dan kau masih hidup, Kelewang kesayanganmu mungkin sudah mengayun indah mencari kepala atau tubuh yang akan dia singgahi.

Aku menduga dan yakin kalau dari Banua Ginjang[10]kau masih melihat dengan jelas apa yang sudah dan sedang terjadi di republik ini. Republik ini sedang berduka Pung. Berduka hampir di semua aspek. Tidak pemerintahnya, masyarakatnya, tumbuhan, dan hewannya. Semua berduka Pung.

Hari ini banyak orang dengan bangga mengintimidasi dan menghina orang lain hanya karena agama. Mereka selalu bersikap menjadi paling benar atas nama agama dan menjadikannya sebagai sebuah tolak ukur Pung. Mungkin mereka sudah lupa kalau agama di republik ini adalah impor Pung. Yang paling terkini Pung, kau tahu? Isu agama menjadi laris manis sebagai ajang memainkan isu Pung. Mereka bahkan berani menjustifikasi sesamanya dengan sebutan Iblis, setan, atau bahkan dianggap tidak beragama. Seolah mereka pernah berdiskusi dengan Ompung Mula Jadi Na Bolon[11]Pung, membicarakan apa yang benar dan salah di mata agama. Padahal patokan mereka sama saja Pung, ayat kitab suci. Atau lagi, mereka juga belum pernah bertemu dengan orang yang pertama kali menuliskan kitab suci itu kan Pung? Sampai-sampai aku bingung Pung, apa yang membuat banyak orang begitu mudah menelan permainan isu agama untuk memecah-belah persatuan republik ini. Mungkin mereka kurang minum Tuak[12]atau bahkan kurang makan Manuk Pinadar sehingga otak mereka begitu dangkal dalam menanggapi permainan isu tersebut.

Aku masih ingat betul Pung. Tiap kali aku bertanya kenapa kau jarang pergi ke gereja pada hari Minggu. Kau selalu membuat mental ku jatuh dengan jawaban sederhana nan mematikan itu, “Aha do haroa na porlu? Na marminggu I do, manang pangalaho? Molo pe marminggu tiap minggu, ai molo Pamangus do pangalaho na, aha ma jambar na marminggu ganup ari?[13] jawabanmu yang sederhana itu sekaligus menyadarkanku bahwa agama tidak akan bernilai tanpa pemahaman dan pengamalan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Pung. Semakin hari preman atau yang sering kau sebut Centeng na pantang so bilak[14] itu semakin banyak, dan banyak jenisnya. Ada preman bertato, preman berseragam, bahkan yang paling terbaru adalah preman berjubah dan berdasi Pung. Mereka ini sangat lihai dalam memeras orang-orang kecil seperti keluarga si Nina dan banyak keluarga lainnya Pung.

Mereka yang bertato masih sama seperti dulu Pung. Memalak pedagang dan orang pinggiran, namun kali ini mereka sedikit naik kelas karena dipekerjakan oleh mereka yang kaya. Biasanya mereka ini menjadi tenaga keamanan sebuah proyek bangunan Pung, dan nilainya mahal. Tak jarang juga mereka digunakan jasanya sebagai barisan depan dalam penguasaan sebuah lahan untuk melawan rakyat miskin yang memperjuangkan hakatas tanah leluhurnya Pung.

Mereka yang berseragam tak berubah sama sekali Pung. Mereka masih suka memakan nasi dan lauk yang bukan pada piringnya. Mereka masih senang bahkan lebih giat lagi merampas hak rakyat melalui tindakan korupsi Pung. Tak jarang Pung, mereka menggunakan kedok Dana Sosial untuk korupsi, dan yang pasti mereka ini mampu merubah paradigma masyarakat melalui pemberitaan media Pung. Mereka sangat lihai dan ahli dalam mengutak-atik uang negara agar bisa berpindah dan mengalir ke kantong mereka sendiri.

Yang paling kompleks saat ini Pung, adalah mereka yang berjubah dan berdasi. Kenapa mereka kompleks, karena mereka biasanya memiliki pengikut yang jumlahnya banyak Pung. Ya, bisa dibilang lebih banyak daripada ayam-ayam peliharaanmu yang kau beri makan tiap pagi dan sore saat hari mulai Rambon[15]. Sekali mereka mengeluarkan perintah, loyalisnya tak segan-segan untuk berjuang habis-habisan membela Pung, bahkan katanya ada yang sampai berani mati. Mereka inilah yang paling sering mempermainkan isu agama Pung. Hebatnya Pung, mereka sering sekali bersembunyi di balik sifat ke-agamaan, ke-organisasian, dan ke-pejabatan mereka dan tak jarang menggunakan pembenaran agama untuk membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah. Namun apa daya Pung? Dalam menghadapi mereka ini haruslah sangat berhati-hati Pung. Salah bicara bisa-bisa Tuhan pun ikut memusuhi kita Pung. Mereka sangat dekat dengan Tuhan dan seolah bisa berdiskusi empat mata. Aku bingung, kalaupun Tuhan seperti yang pernah kau katakana Debata pe marnida do[16], apa kedekatan mereka melebihi kedekatan kau dan Tuhanmu Pung? Itu kata  mereka Pung. Aku sendiri bingung apa kesenangan mereka membuat sebuah kegaduhan melalui isu agama.

Oh ia Pung. Terkait agama tadi, baru-baru ini aku yakin kau pasti tahu masalah kemanusiaan yang menjadi sorotan dunia internasional saat ini. Mereka yang mendaku diri “mengerti” sangat gemar membicarakan ini, dan anehnya Pung, mereka ini sekarang seolah menjatuhkan persoalan ini menjadi tanggung jawab republik ini. Padahal kejadiannya juga terjadi di negara tetanggga sebelah Utara kita Pung. Aku, kau, dan semua orang pasti setuju kalau kekerasan terhadap sesame manusia tidak boleh terjadi. Tapi kau tahu apa yang aneh Pung? Banyak masyarakat di republik ini senang sekali membahas masalah di luar negeri Pung. Tapi anehnya, mereka diam Pung, saat teman sendiri di Papua hidup bertemankan suara desing peluru, mereka diam saat mereka melihat hutan di Kalimantan dibakar dan warga asli Kalimantan hanya dapat asapnya saja. Belum lagi warga yang kehilangan tanah leluhurnya yang dirampas perusahaan, mereka diam saja Pung tidak bersuara. Seperti yang kau bilang, “Lak tumagon do baro niba ni paias baru ni paias billok di mata ni halak[17]. Tapi mereka lebih senang membersihkan noda jerawat di wajah orang daripada membersihkan kudis di tubuh sendiri.

Tentang kampung kita Samosir, kau pasti lebih tahu daripada aku. Hari ini semua orang gemar berpariwisata atau minimal berbicara tentang Pariwisata Pung. Aku di satu sisi melalui pariwisata ikut senang saat Partopi Tao[18]ikut berkembang melalui usaha kecil-kecilan menikmati pariwisata Samosir semakin mendunia. Tapi aku juga tak lupa untuk bersedih Pung. Mereka yang tinggal di perbukitan tetap terancam gagal panen kalau musim kemarau Pung. Mereka bahkan tidak mampu menjadikan hasil ladangnya menjadi komoditas jual ke daerah pinggiran danau Toba yang memiiki usaha kuliner, supaya isu pariwisata ini tidak hanya dinikmati mereka yang ada di pesisir danau Pung!

Warga pulau ini belum banyak yang menyadari kalau makan nasi di kampung sendiri lebih baik daripada makan keju di negeri orang. Mereka semakin hebat Pung, “nga hasea be[19] seperti yang kau bilang. Mereka semakin memukau dongan sahuta na[20]dengan pulang mengendarai Fortuner dan Pajero Sport Pung. Nah Si Nina dan kawan-kawannya? Mereka semakin senang mengejar-ngejar mobil yang datang ke kampung Pung, mencium uap hitam mesin Diesel itu dan mengingat uapnya untuk memamerkan kalau keluarganya sudah punya mobil di perantauan. Hebatnya lagi Pung, mereka yang menjadi perantau di kampung orang dan jadi sukses, tiba-tiba datang ke kampung pada momen Pemilukada untuk berebut kursi kekuasaan. Padahal mereka tidak pernah tahu, atau hanya tahu sedikit saja tentang kampung yang mereka ingin pimpin. Mereka meninggalkan kampung yang penyakitan dan pergi ke kota mencari peruntungan dan menjadi kaya. Setelah puluhan tahun diperantauan dengan harta dan gelar pendidikan yang mutakhir, mereka tiba-tiba pulang ke kampung dan ingin menjadi penguasa seolah dia maha tahu tentang penyakit yang menjangkiti kampungnya puluhan tahun. Sementara kampung dapat apa? Kampung tetap penyakitan Pung ditinggal generasi yang gemar mengumpulkan rupiah dan dollar di negeri orang.

Nah, aku yakin, kau pasti bertanya bukan kemana mereka yang dulu kau sebut angka parsikkola naung gabe jolma[21] kan? Mereka semakin sibuk Pung, bahkan sangat sibuk! Sibuk mengurusi kabupaten ini melalui Proyek raksasa yang saat ini sedang ramai di kerjakan. Kebun kopimu pun tak luput dari korban penggeseran untuk pelebaran jalan, ya walaupun Ompung Boru tidak keberatan dengan tidak diberi ganti rugi, bagaimana dengan mereka pemilik kebun yang lain. Kalau tidak membahas proyek, mereka akan sibuk mencari-cari kesalahan pemerintah dan menghinanya.

Aku sedikitpun tidak keberataan saat mereka mengkritik pemerintah bahkan memakinya Pung, karena aku juga melakukan hal yang sama. Namun yang aku sesalkan adalah masih banyak hal yang lebih gawat Pung! Daripada mereka membahas itu, bukankah lebih baik mereka memobilisasi petani dan mengajari mereka bagaimana pola bertani yang baik? Bagaimana dengan nasib omak-omak yang mencangkul di sawah tapi suaminya membahas Togel di kedai Kopi?  Bagaimana nasib mereka yang harusnya menerima beras Raskin, tapi ditikung oleh mereka yang sebenarnya mampu? Bagaimana dengan anak sekolah yang kehilangan waktu bermain dan belajarnya karena harus membantu ibunya di sawah, bahkan mereka yang putus sekolah karena tidak cukup biaya? Bagaimana kampungmu! Hutagalung! Yang sampai hari ini tidak dimasuki air bersih bertahun-tahun? Adakah mereka memberi hati mendampingi masyarakat untuk mendapatkan itu? Bukankah itu jauh lebih gawat Pung? Bagaimana mak Family tetangga kita di Silalahi yang sudah janda harus menyekolahkan anaknya empat orang dengan menggantungkan hidup pada mangutip gambiri?[22] Bagaimana dengan itu semua Pung? Bagaimana mereka bisa menganggap itu jauh lebih penting daripada membahas hal yang berbau kota Pung?

Tapi tidak Pung. Aku yakin, nanti lima atau sepuluh tahun lagi, Debata akan melahirkan generasi penerus yang cinta akan Bona Pasogit[23] Pung, yang terlahir dari Rahim suci Omak-omak yang menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mencangkul sepetak sawah demi sejengkal perut manusia yang ada di rumahnya.

Pung, aku yakin kalau kau pasti menangis juga melihat republik ini menjadi seperti ini diusianya yang 72 tahun. Republik ini sedang berduka Pung. Pemerintahnya sibuk mengurusi perutnya sendiri, masyarakatnya hobi saling menghina satu sama lain, seperti kau bilang mereka senang menjadi Panjahut-jahut na so mamboto magona[24].

Sudahlah Pung. Aku lelah menangis. Aku hanya berdoa pada yang Maha Kuasa supaya melahirkan generasi penerus yang baik untuk negeri ini, dan semoga alam masih mau diajak bersahabat Pung. Manghorasi Sahalamu Natua-Tua! Anggiat dipatudu Tuhan angka Dahiang-Dahiang nauli na denggan. Sai ro ma ho tu parnipionhu!![25]

 

 

Siboro Hutagalung, 10 Sepember 2017

 

 

[1]DISON MARADIAN OP. Fernando Doli: Disini Dikuburkan Kakek Fernando

[2]Amang Uda: Bapauda (adik laki-laki dari ayah)

[3]Manuk Na Pinadar: Salah satu makanan khas Batak Toba yaitu ayam bakar yang disirami bumbu yang juga digongseng. Terbuat dari kemiri, andaliman, bawang, dan kacang tanah..

[4]Dekke Si Udur-Udur: Dekke dalam bahasa Batak Toba artinya ikan, dan Si Udur-udur dalam bahasa Batak artinya lancar atau mudah.  Merupakan perlambangan sebuah harapan agar rezeki, pendidikan, dan semua rencana dapat berjalan dengan lancar yang disajikan dalam bentuk Ikan Mas Arsik yang dpadukan dengan sayuran kacang panjang.

[5]Aek Sitio-Tio: Aek dalam bahasa Batak Toba artinya air, dan Tio dalam bahasa Batak Toba artinya bersih atau jernih. Merupakan air putih sebagai perlambangan kebersihan, kejernihan, dan kemurnian jiwa, sehingga orang yang meminumnya akan bersih jiwanya.

[6]Bara-Bara: Bagian kolong rumah dari rumah adat Batak Toba yang berbentuk rumah panggung, dan disebut dengan Jabu Bolon (rumah besar/megah).

[7]Arsik:Cara khas orang Batak dalam memasak ikan (biasanya ikan air tawar) dengan merebus ikan dalam air yang dipadukan dengan kunyit, andaliman, asam Batak, kacang panjang, tahu/tempe, sangge-sangge, dan bawang serai serta berwarna kuning. Memiliki rasa yang didominasi asam, asin, dan pedas.

[8]Asa mulak tondi tu badan: Tondi artinya Roh, dan Badan artinya Tubuh. Hal ini menyimbolkan mengembalikan jiwa yang hilang. Pada umumnya dilakukan pada orang yang baru sembuh dari sakit, atau yang baru mengalami kecelakaan.

[9]Pamukka Ni Huta: Pamukkan dalam bahasa Batak Toba artinya pembukan atau yang pertama kali membuka, dan huta adalah kampung. Merupakan sebutan untuk para orang tua atau leluhur yang pertama kali mendirikan kampung.

[10]Banua Ginjang: Banua dalam bahasa Batak Toba artinya benua, dan Ginjang artinya atas. Merupakan sebutan untuk surge atau alam baka.

[11]Ompung Mulajadi Na Bolon: Merupakan sebutan untuk Tuhan dalam bahasa Batak Toba.

[12]Tuak: Merupakan salah satu minuman  khas Batak Toba yang berasal dari fermentasi cairan dari pohon Nira atau Kelapa.

[13]Aha do haroa na porlu? Na marminggu I do, manang pangalaho? Molo pe marminggu tiap minggu, ai molo Pamangus do pangalaho na, aha ma jambar na marminggu ganup ari?: Apa sebenarnya yang penting? Pergi bergereja atau perbuatan? Kalaupun pergi gereja setiap minggu, tapi perilakunya seperti setan (tidak baik), apa gunanya pergi ke gereja tiap minggu?

[14]Centeng Na Pantang So Bilak: Merupakan sebutan untuk orang muda yang merasa dirinya seorang preman.

[15]Rambon: Merupakan waktu petang saat sore menuju malam. Rambon sering digunakan untuk ayam yang tidak bisa lagi melihat saat hari mulai gelap.

[16]Debata Pe Marnida Do: Debata dalam bahasa Batak Toba juga digunakan untuk menyebut Tuhan, dan Marnida artinya melihat (dari jarak jauh). Merupakan sebutan untuk mnyimbolkan Tuhan yang selalu melihat hidup manusia setiap saat (Tuhan Maha Melihat).

[17]Lak tumagon do baro niba ni paias baru ni paias billok di mata ni halak: Lebih baik bila membersihkan kudis pada tubuh sendiri, daripada membersihkan kotoran mata orang lain. Merupakan sebutan untuk menyimbolkan kesadaran untuk memperhatikan kekurangan pada diri sendiri daripada memperhatikan kekurangan orang lain.

[18]Partopi Tao: Merupakan sebutan untuk masyarakat Batak Toba yang tinggal di daerah pesisir Danau Toba.

[19]Nga Hasea Be: Hasea dalam bahasa Batak Toba artinya bagus, baik, ataupun sukses. Merupakan sebutan untuk seseorang yang sukses dan hidupnya mapan secara ekonomi.

[20]Dongan Sahuta: Dongan dalam bahasa Batak Toba artinya teman, dan Sahuta artinya satu kampung. Merupakan sebutan untuk menyebutkan teman yang berasal dari kampung halaman yang sama.

[21]Angka Parsikkola Naung Gabe Jolma: Parsikkola dalam bahasa Batak Toba artinya mereka yang menjadi kaum terpelajar secara akademis, dan Jolma artinya menjadi manusia yang seutuhnya atau sukses. Merupakan sebutan untuk mereka yang terpelajar serta sudah sukses secara akademisi dan pekerjaan.

[22]Mangutip Gambiri: Mangutip dalam bahasa Batak Toba artinya mengutip, dan Gambiri artinya kemiri. Merupakan sebutan untuk mereka yang bekerja dengan mengutip kemiri yang berjatuhan di tanah dalam suatu ladang dan juga hutan.

[23]Bona Pasogit: Merupakan sebutan kampung halaman bagi orang Batak Toba.

[24]Panjahut-Jahut Na So Mamboto Magona: Merupakan sebutan dalam bahasa Batak Toba untuk mereka yang hobi bergosip dan memfitnah orang lain serta tidak mengenal siapa dirinya sebenarnya.

[25]Manghorasi Sahalamu Natua-Tua! Anggiat dipatudu Tuhan angka Dahiang-Dahiang nauli na denggan. Sai ro ma ho tu parnipionhu!!: Berkati dan damping lah aku orang tua (kakek).  Semoga Tuhan menunjukkan petunjuk yang baik dan indah  (dalam menjalani kehidupan). Datanglah ke dalam mimpiku.

Zen Siboro
Zen Siboro
Pahompu ni Pangarongrong na Lapung: Cucu dari kakek Pangarongrong (gelar untuk kakek yang dalam bahasa Batak Toba Pangarongrong artinya merobohkan atau kuat) Na Lapung dalam bahasa Batak Toba artinya nakal atau sering usil.

Comments are closed.