Pulauku Kini
Oct 29, 2017

Suluk Kebudayaan

Ilustrasi Oleh Moch Dzikri Hendika

Warisan terbesar yang ditinggalkan para wali tanah Jawi (baca: Islam Nusantara), yang mungkin akan susah diterima oleh para santri, sebenarnya adalah wayang (kulit) dan bukan “peradaban teks”. Selain para wali kita tidak meninggalkan teks—kecuali sedikit dan itupun dalam bentuk huruf Hanacara—peradaban teks hanya bisa menyingkap secara terbatas “olah kebudayaan” proses Islamisasi awal, yang sebenarnya telah memanifes dan membentuk “diri” kita, dalam tata ontologi (tauhid) sufisme yang ingin diperjuangkan.

Mungkin para wali, menurut saya, sangat sadar peradaban teks seberapapun agung dan besar kontribusinya terhadap hidup ini, ia pada akhirnya tak mengantarkan kita pada “akhlak”, alias baru tidak mengantarkan manusia menuju diri paripurnanya (baca: janma utama/insan kamil).

Wayang dengan komponen unsur tembang, cerita, teater, sastra, gending, seni rupa, musik, dan suaranya, seperti dirumuskan Kalijaga, adalah sarana “tanpa menggurui” masyarakat Jawa dan sekitarnya untuk melihat “diri” mereka sendiri. Ia seolah mengajak kita melihat sembilan “fakultas” dalam diri kita (baca: babahan hawa sanga), yang memanifes dalam diri wujud Pandawa, Sembadra, Karna, dan Kresna, agar sisi gelap “kecenderungan” jahat kita tidak tergelar dalam wujud Kurawa yang berjumlah 100 itu. Wayang dengan begitu merupakan eksempalar yang diperlambat ihwal “perang besar” manusia mengalahkan diri-nya sendiri (baca: Jihad Akbar). Inilah cara mengenali diri, seperti diserukan secara kuat oleh “tasawuf”. Man ‘Arafa….

Dalam pupuh ke-8 “Serat Cebolek” karangan Yasadipura, hal ini terkonfirmasi:

Punapa malih rasaning Kawi
Bima Suci kalihan Wiwaha
Pan sami keh sasmitane
Ngenting rasaning ngelmu
Yen patitis kang mardikani
Kadyangga Kawi Rama
Punika tesawuf

Apalagi “rasa”-nya (makna) Kawi
Bima Suci dan Arjuna wiwaha
Sungguh penuh pralambangnya
Sebuah “makna” ilmu yang sangat dalam
Jika tepat (dalam) menguliti maknanya
Seperti halnya Kawi Rama(yana)
Itu merupakan Tasawuf

Peradaban teks dengan begitu, dalam kerangka ontologi sufisme (baca: tauhid hakiki), hanya membantu sedikit—atau malah secara deontologis mengkerangkeng “laku” manusia (baca: suluk) yang sebenarnya berjumlah sebanyak jumlah manusia di bumi ini, seperti disitir oleh sebuah perkataan “hikmah” seorang sufi di awal abad Islam. Karena semakin manusia berhasil menderet dan mengeksplisitasi larangan dan seruan dari ajaran, maka semakin terpapar pada mata kita “pelanggarannya”. Ini seolah membenarkan aksioma, “Tidak ada satu koruptor pun pada dasarnya yang menolak bahwa perbuatannya itu tercela dan melanggar agama.” Ini bukan ihwal ketidaktahuan “pengetahuan” akan benar-salah, melainkan ihwal cermin “diri” yang telah kotor atau sebentuk kegagalan mewujudkan “diri” kemanusiaannya yang memang tak pernah ia “gulawentah”.

Akhirnya saya sedikit mafhum, warisan terbesar kita sebenarnya jikapun ia terselip dalam peradaban teks kita—yang sebanarnya bukan hanya teks “logis-rasional” karena berwujud bahasa metafora “sastrawi” yang ditembangkan—hanya merupakan pandu awal agar kita menerjunkan diri dalam olah diri atau riyalat dalam bahasa Jawanya (baca: Riyadhoh), sebagai ejawantah ilmu “Kasidan Jati”, “kasampurnan”, atau “ma’rifat”. Olah diri atau tepatnya “olah budi” tersebut dimulai dengan cara mengenali diri, yang dalam bahasa kita disampaikan secara beragam sejak zaman Yasadipura hingga Suryomentaram, yakni dari mulai term mulat-sarira, mawas-diri, nanding-sarira, tepa-sarira, hingga nyawang-karep.

Olah Diri atau olah budi dengan begitu adalah “laku” sekaligus proses “budaya” (baca: budi-daya) alias mendayakaan seluruh komponen budi kita (rasa, karsa, dan cipta) kita—yang berbeda dengan defenisi kebudayaan Kuntjaraningrat yang lebih menekankan “hasil” cipta-rasa-karsa—agar diri kita menuju keadaan kesempurnaan hakiki manusia (Kasidan Jati/ngelmu kasampurnan) dalam mengemban tugas “kekhalifahan” di muka Bumi ini untuk menyebarkan rahmat bagi semesta. Hal ini dirumuskan para leluhur dengan ungkapan indah, “Manunggaling Rasa, Cipta, Karsa Agawe Rahayuning Bumi”.

Kebudayaan atau budaya dari defenisi di atas, yang posisi wayang berdiri di dalamnya, dengan begitu dalam makna paling dasarnya adalah olah budi atau katakanlah “proses suluk” untuk terus-menerus menyelaraskan atau memanunggalkan rasa-karsa-cipta diri kita, yang diujungnya akan termanifes dalam tata-budaya, tata-nilai, tata-masyarakat, tata-keraton, juga tata-adat, yang hari ini warisan tersebut lamat-lamat kita tinggalkan dan abaikan.

Dalam kerangka ini pula wejangan Wedhatama ihwal “ngelmu iku kelakone kanthi laku” menjadi sedikit bisa dipahami. Ngelmu itu—jauh dari pengertiannya dicapai sebatas lewat jalan latihan (“learning by doing”) seperti dipahami secara salah oleh kita hari ini—sebenarnya adalah sebentuk capaian atau buah dari olah diri “ruhaniah” untuk mendayakan seluruh potensi dan fakultas dalam diri kita (baca: Rasa, Karsa, Cipta)—yang dengan sendirinya berbeda dengan ilmu yang hanya menekankan aspek kognitif-rasional-diskursif fakultas diri hasil sekolah hari ini.

Dan kita tahu dari para sesepuh, olah diri “thariqah” tersebut berujung pada jatuhnya anugerah rumusan pengetahuan ma’rifat bernama “ora ana apa-apa kejaba dudu”, sebuah proklamasi ontologis “tauhid” tentang tidak ada apapun realitas atau kenyataan yang haq kecuali Allah. La ilaha illallah. La maujuda illallah. Sebuah gerak nafi dan istbat. Selain-Nya dalam gradasi wujud-Nya senyatanya adalah “bathil” alias tidak “haq”. Dan hanya manusialah yang bisa mencipta (baca: Cipta) tatanan realitas semesta menjadi “haq” agar ia bisa menjadi cermin atau ayat yang memanifestasikan tajalli “Sang Realitas Haq” (Sang Hakikat).

Laku Ilmu dengan begitu adalah menggosok cermin hati kita, membersihkan keinginan dorongan nafsu egotism diri kecil kita, serta menajamkan akal agar kita mengenali haq-batil, juga memperindah “rasa” estetik-moral yang akan menjadi bekal manusia sebagai “wakil tuhan” menyebarkan rahmat bagi semsesta atau memperindah alam semesta (Memayu Ayuning Bawana). Dan hanya dari laku ilmu dalam pengertian di atas, kita akan bisa menyingkirkan kejahatan dan keburukan (baca: Bathil) yang sebenarnya merupakan kegelapan yang secara ontologis adalah ketiadaan cahaya-Nya (al Haq), yang sebenarnya merupakan manifestasi dorongan nafsu egotism kita. Agar ilmu bisa—dalam bahasa Wedhatama—“nyantosani” dan menjadi “pangekesing dur angkara”.

Allahu a’lam

21 Oktober 2017

Irfan Afifi
Irfan Afifi
Peneliti Lembaga Kebudayaan dan Kajian Khasanah Pemikiran Nusantara Ifada Initiatives.

Comments are closed.