Normalisasi Kali Ciliwung dan Ahok (yang “Gagal Paham”?)
Feb 17, 2017
Risiko Sistemik dan DP0%
Feb 23, 2017

Solidaritas Negara-negara Selatan: Proposal Samir Amin

Samir Amin berbicara di konferensi Marxisme di Universitas Peking, China. 2015. Foto: Youtube.

Samir Amin berbicara di konferensi Marxisme di Universitas Peking, China. 2015. Foto: Youtube.

Samir Amin berbicara di konferensi Marxisme di Universitas Peking, China. 2015. Foto: Youtube.

Tulisan Bosman di literasi.co yang menanggapi tulisan Melky Nahar di Islam Bergerak kembali mengingatkan saya pada ceramah Samir Amin “The Path of Development for Underdeveloped Countries” di hadapan peserta konferensi Marxisme pertama di Universitas Peking, China pada tahun 2015. Tulisan Bosman yang awalnya dimaksudkan untuk merespon tulisan Melky tentang Ijon Politik Tambang dalam Pilkada serentak pada beberapa bagian menyoal ekspansi kapital China di Indonesia yang menurut Bosman tidak ada bedanya dengan yang dilakukan negara-negara kapitalis lainnya di Indonesia selama ini alias lagu lama. Dalam tulisan itu, Bosman mengambil contoh kasus tambang Mangan di Belu. Untuk memeriksa hal tersebut kita memerlukan pembahasan tersendiri secara terpisah. Adapun maksud dari tulisan ini adalah hendak mengetengahkan proposal Samir Amin dalam ceramahnya yang kebetulan beririsan dengan munculnya China sebagai kekuatan ekonomi  penting di dunia. Yang pada akhirnya berkaitan dengan ekspansi kapital yang dilakukan China di berbagai negara termasuk Indonesia. Saya menangkap ceramah Amin tersebut sebagai sebuah proposal provokatif sekaligus sebuah peringatan kepada China.

Dalam ceramahnya tersebut dan juga di beberapa ceramahnya yang lain, Samir Amin menyatakan dengan bangga, apa yang disebutnya sebagai Bandung Project untuk merujuk Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955 sebagai peristiwa penting dalam lintasan sejarah perjuangan negara-negara peserta KAA yang dia sebut Global South dalam melawan imperialisme Global North (Amerika, Eropa Tengah dan Barat serta Jepang). KAA juga menjadi satu bukti yang dia gunakan untuk membantah propaganda era perang dingin untuk menandai persaingan antara Amerika dan Uni Soviet yang kemudian membagi negara-negara di dunia ke dalam dua kubu. Di satu pihak, Truman (Amerika) mengatakan bahwa dunia terbagi ke dalam dua kubu: negara-negara bebas dan negara-negara boneka komunis. Di pihak lain, Zdanov (Uni Soviet) juga membagi negara-negara di dunia ke dalam dua kubu: negara-negara sosialis dan negara-negara kapitalis. Samir Amin dan beberapa intelektual di masanya menjalin kontak dengan Chou En Lai untuk menyampaikan poin keberatan mereka terhadap pernyataan Zdanov bahwa yang benar adalah dunia terbagi ke dalam tiga kubu bukan dua kubu. Kubu yang ketiga adalah negara-negara non-blok  yang sedang memperjuangkan kemerdekaan nasionalnya. Negara-negara yang termasuk ke dalam kubu ketiga ini lah yang kemudian mendeklarasikan diri sebagai negara-negara non-blok melalui konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955.

Lebih jauh lagi, menurut Samir Amin, dalam dan melalui KAA Bandung, negara-negara non-blok ini menolak bahwa kemerdekaan nasional yang baru saja berhasil mereka rebut dari tangan imperialis adalah akhir dari perjuangan. Di sini kita diingatkan dengan jargon Soekarno yang terkenal: Revolusi Belum Selesai. Proklamasi kemerdekaan adalah sebuah awal perjuangan yang sesungguhnya bagi negara-negara selatan ini untuk membangun kedaulatan ekonominya. Dalam istilah Soekarno Ekonomi Berdikari. Namun perlu dicatat bahwa mereka tidak secara spesifik menyebutkan ekonomi yang dimaksud mereka adalah kapitalisme atau sosialisme atau model tersendiri di luar dua model itu. Di sini Samir Amin menyebut proses ini, yang kemudian dia teorisasikan sebagai Delinking.

Kembali pada tulisan Bosman yang membaca pertumbuhan ekonomi China sebagai efek tak terhindarkan dari “spatio-temporal fix” yang harus ditempuh negara-negara kapitalis maju yang mengalami over akumulasi kapital. Perlu diingat selain China, hal ini juga terjadi di India dan Brazil. Tapi saya tidak akan masuk lebih jauh ke sana. Lagi-lagi saya akan menghubungkan ini dengan ceramah Samir Amin.

Samir Amin dengan nada sedikit merayu menyatakan bahwa China termasuk ke dalam kelompok negara-negara selatan (Global South). Melihat posisi China saat ini, Samir Amin menekankan bahwa China memegang peranan penting dan tanggung jawab khusus di antara negara-negara selatan yang lain. KAA Bandung adalah sebuah proyek yang belum selesai. Amin lebih memilih menyebutnya sebagai proyek yang macet karena intervensi negara-negara imperialis (seperti yang terjadi Indonesia, Mesir, Mali, Ghana) alih-alih sebagai proyek gagal. Anggota negara-negara selatan perlu membangun kembali solidaritas di antara mereka seperti yang pernah mereka lakukan melalui KAA Bandung. Dalam sebuah artikel yang ditulisnya di 2016, Samir mengusulkan untuk memasukkan negara-negara Amerika Latin dalam kelompok Global South (Menjadi Tri-continental Front).

Berikut ini adalah proposal Samir Amin yang disampaikannya di hadapan peserta Konferensi Internasional Marxisme yang pertama di Universitas Peking tahun 2015. Anggota negara-negara selatan harus membangun solidaritas dan bekerjasama guna menjalankan proyek-proyek kedaulatan (Sovereign Projects). Sistem industrialisasi modern yang terhubung  dengan sistem agraria setempat. Sebagai pihak yang paling siap di bidang teknologi dan industri, China memegang peranan penting di sini. Sebaliknya, China membutuhkan bahan mentah untuk menunjang industry di dalam negrinya. Bahan-bahan mentah ini bisa didapatkan dari negara-negara selatan lainnya. Dengan catatan setiap bentuk kerjasama yang dilakukan bukan semata perdagangan jual beli tapi dalam frame work proyek solidaritas atau proyek kedaulatan (South-south solidarity sovereign project). Bukan berdasarkan kompetisi yang akan berujung pada dominasi satu pihak terhadap pihak lain. Selain solidaritas di bidang ekonomi, negara-negara Global South juga perlu membangun solidaritas politik dan militer untuk menghadapi bahaya laten agresi dari negara-negara imperialis. Hanya dengan cara inilah, menurut Samir Amin, negara-negara Global South mampu melawan dominasi monopolistik dari triad kapitalis kolektif Amerika, Eropa Tengah dan Barat serta Jepang.

Lalu benarkah seperti yang ditengarai Bosman dalam tulisannya bahwa investasi China di Indonesia semata adalah tindakan “spatio-temporal fix” yang harus ditempuh karena China sudah mengalami over-akumulasi kapital. Mau tak mau kita juga harus melihat implikasinya sampai ke ranah geo-politik. Terutama kaitan antara gelontoran investasi China di negara-negara ASEAN dan kisruh laut cina selatan.  Lagi-lagi untuk memeriksa ini kita perlu pembacaan lebih lanjut mengenai tindak tanduk China di berbagai negara termasuk negara-negara di benua Afrika. Perlu dipertimbangkan di sini, dalam kaitannya dengan tindakan “spatio-temporal fix”,  negara tujuan investasi terbesar China justru adalah Amerika.

Di ujung ceramahnya, Samir Amin memberikan warning kepada China. Jika China mengikuti pola-pola yang dilakukan negara-negara kapitalis maju yang menerapkan investasi sebagai bentuk terselubung dari neo kolonialisme atau semata guna menghisap sumber dayanya, maka China akan kalah. Namun jika China menempatkan hal tersebut dalam spirit solidaritas sebagaimana  yang dilakukan Chou En Lai dan pemimpin-pemimpin negara-negara anggota KAA Bandung, China akan menang. Dan Global South akan menang bersama China. Apakah China akan mengikuti saran Samir Amin? Jika pun iya, apakah pemimpin-pemimpin negara-negara selatan  lainnya akan menyambutnya? Di situ letak persoalan lainnya.[]

 

 

 

Angga Palsewa Putra
Angga Palsewa Putra
Aktif di Gerakan Literasi Indonesia.

Comments are closed.