Ibu-Ibu Rembang dan Kematian Marhaenisme
Apr 13, 2016
Peringatan Lima Tahun Tragedi Setrojenar dan Orasi Politik Inayah Wahid
Apr 17, 2016

Soekarno dan Dasi Aidit

Ilustrasi: Muhammad Rivai

Ilustrasi: Muhammad Rivai

Ilustrasi: Muhammad Rivai

Kalau kita membaca kembali tulisan-tulisan atau pidato-pidato Soekarno, Aidit dan Njoto pada 1960-an, pandangan bahwa telah terjadi perang urat saraf antara ketiganya memang sulit untuk dimungkiri. Semua itu menunjukkan bahwa antara Soekarno dengan PKI memang terlibat sebuah muslihat, alias saling bersiasat satu sama lain.

Pada sejumlah topik penting, Soekarno dengan tegas menunjukkan posisinya yang berseberangan dengan Aidit cs. dalam interpretasinya terhadap sosialisme dan Marxisme. Sebagaimana halnya Hatta, Sjahrir dan para pendiri Republik yang segenerasinya, sejak masa kolonial Soekarno selalu berpandangan bahwa dalam konteks Indonesia, misalnya, maka perjuangan kelas tidak bisa dijadikan pangkal pergerakan, karena akan membuat persatuan Indonesia menjadi ringkih. Kesadaran kelas (zelf bewust) memang penting, tapi perjuangan kelas (klassen-strijd) bagi sebuah bangsa yang sedang menghadapi rongrongan kaum kolonialis dan imperialis bersifat kontraproduktif.

Rakjat djelata harus dibuat sadar akan arti golongannja sendiri. Mereka harus dibuat zelf bewust, harus dibuat self conscious. Mereka harus diinsjafkan harga kelasnja, harus dibuat class conscious. Mereka harus diinsjafkan bahwa hanja dalam masjarakat sosialismelah mereka dapat sedjahtera, tetapi djuga bahwa masjarakat sosialisme itu tidak dapat tertjapai djika tidak dengan tenaga mereka.

Meraka harus mengerti bahwa tingkatan Nasional itu ialah tingkatan mutlak ke arah Revolusi Sosialisme, artinja bahwa mereka dalam tingkatan sekarang ini harus mengutamakan ‘kenasionalan’, boleh klasse-bewust, tetapi tidak boleh mengkobarkan klassen-strijd! Bekerdja bersama-sama dengan semua golongan dan lapisan jang menghendaki kemerdekaan nasional, tetapi djuga djangan diperkudakan oleh sesuatu golongan jang lain untuk kepentingan golongan jang lain itu.

Demikian pandangan yang sering diutarakan Soekarno. Dan tentu saja pandangan itu ditentang oleh Aidit.

Kini masih ada sadja sementara orang mengatakan bahwa mereka dapat menerima adjaran Marxisme, ketjuali adjarannja tentang perdjuangan kelas. Pernjataan demikian ini sebenarnja merupakan suatu bentuk penolakan terhadap seluruh adjaran Marxisme. Sebab, adjaran Marx tentang perdjuangan kelas adalah ‘djiwa’ daripada Marxisme.”

Tulisan Aidit itu tentu saja ditujukan kepada Soekarno. Di tengah kontestasi ideologi pada masa Demokrasi Terpimpin, figur sentral yang masih berusaha untuk “menjinakkan” Marxisme agar bisa tunduk pada interpretasi keindonesiaan memang tinggal Soekarno.

Pada berbagai pidatonya, Soekarno memang selalu memberikan penekanan ihwal pentingnya untuk membumikan tafsir mengenai sosialisme, agar relevan dengan situasi keindonesiaan, sebagaimana yang misalnya diulanginya di hadapan kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia berikut ini.

… for the execution of this, in the execution of this, kita sama sekali harus berpikir baru dan tidak bisa menggendoli atau nggenuki atau berdiri di atas apa-apa jang kita peroleh dari textbook-textbook ekonomi yang terkenal. Entah textbook kata Pak Bandrio tadi dari Harvard-kah, atau textbook dari Columbia-kah, entah textbook dari Leiden-kah, entah textbook dari manapun. Bahkan tidak dari textbook, kalau ada textbook itu, tidak dari textbook Sovjet-Uni, tidak dari textbook RRT, tidak dari textbook Korea Utara, tidak dari textbook any Socialist country in this world.

Sebab apa?

Sebab Sosialisme kita sebagai sudah dibenarkan Ampera, sebagai sudah dibenarkan MPRS, adalah Sosialisme Indonesia, bukan sosialisme a la Sovjet, bukan sosialisme a la RRT, bukan sosialisme a la Korea, bukan sosialisme a la Polandia, bukan sosialisme a la Cekoslowakia, bukan sosialisme a la Hongaria, bukan sosialiame a la Bulgaria.”

Dan bilamana Njoto ada menulis sebagaimana berikut ini dalam bukunya, “Marxisme, Ilmu dan Amalnja” (1962), maka tiada lain jika tulisan ini sebenarnya ditujukan kepada Soekarno.

Apakah Sosialisme Indonesia itu dan-bagaimana harusnja dia kita selenggarakan? Saja ingin memulai dengan suatu logika jang sederhana tetapi keras: Sosialisme adalah Sosialisme. Djuga ini bukannja tak ada gunanja saja tekankan, sebab ada jang mengartikan Sosialisme Indonesia itu hanja dari sudut kekhususan-kekhususan, keistimewaan-keistimewaan, perlainan-perlainan, dan malahan pertentangan-pertentangan dengan sosialisme-sosialisme lain. Pembela-pembela ‘Sosialisme Istimewa’ ini biasanja mengatakan ‘Sosialisme Indonesia bukan Sosialisme Sovjet, bukan Sosialisme Tiongkok, bukan Sosialime Kuba’. Saja tjuma kuatir, djangan-djangan jang dimaksudkan oleh mereka adalah bahwa Sosialisme Indonesia itu bukan… Sosialisme!

Nah!

Tetapi bukan Soekarno namanya jika hanya bisa main sindir dan serang hanya dalam pemikiran formal belaka. Lagi pula, sebagai senioren, sekaligus pemimpin politik Dunia Ketiga yang sudah banyak makan asam garam, Soekarno sepenuhnya menyadari jika dia tidak sedang bermain melawan Aidit cs., yang hanyalah anak kemarin sore itu. Ia sedang bermain dengan Washington, Moskow dan Peking sekaligus.

Dalam kaitannya dengan Aidit cs., Soekarno sebenarnya hanya sedang berusaha agar jangan sampai anak-anak revolusi itu terlalu membebek pada Kruschev atau Mao. Menurut bahasa yang digunakannya sendiri pada tahun 1960-an, “Komunisme di dunia ini sekarang sedang berkonflik, mari kita coba untuk menasionalkan komunis!” Di sini kita bisa melihat betapa besarnya ego dan rasa percaya diri seorang Soekarno dalam mengadapi konflik politik global masa itu.

Untuk “menundukkan” komunis tadi, pada sejumlah kesempatan Soekarno kadang melakukannya dengan menunjukkan pada publik bahwa Aidit cs. sebenarnya tak lebih hanyalah merupakan seorang junior jauh sekaligus pembantunya saja. Dan kenyataannya Aidit memang adalah salah satu menterinya.

Di hadapan tamu-tamu asing, misalnya, ketika Aidit menjadi bagian dari para menteri yang hadir, Soekarno selalu memperkenalkan para menterinya satu per satu dengan gaya khas. “My minister this…, my minister this…, etc. etc. And this is Mr. Aidit, the Chairman of the Indonesian Communist Party… Eh, Dit, dasimu, Dit, ditoto sik!

Aidit yang disentil begitu oleh Soekarno tentu saja jadi salah tingkah dan mau tidak mau harus merapikan dasinya. Padahal, Soekarno melakukan itu sebenarnya hanya untuk menunjukkan bahwa “Aidit iki antekku, dudu antekmu”.

Menurut kesaksian Ny. Supeni, sewaktu berpidato di depan Sidang PBB, di luar teks yang dibacakannya, dimana Soekarno mempromosikan Pancasila, Si Bung sempat berimprovisasi dengan memperkenalkan rombongannya satu per satu.

Tuan-tuan sekalian, di dalam delegasi saya ini ada K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Beliau orang Islam, NU, tapi setuju pada Pancasila. Juga ada Nasution. Dia militer, tapi setuju pada Pancasila. Juga ada Muhammadiyah, yang diapun juga setuju pada Pancasila. Dan di sini, Tuan-tuan sekalian, duduk juga Saudara Aidit, ketua daripada Partai Komunis Indonesia, yang juga setuju pada Pancasila, dimana di dalamnya ada Ketuhanan Yang Maha Esa,” ujar Soekarno, dengan intonasi yang diatur sedemikian rupa. Kruschev, menurut kesaksian Ny. Supeni, yang menyimak baik-baik pidato itu, sampai mendongak kaget mendengarkan klaim Soekarno.

Sewaktu berada di Amerika itu juga Soekarno dan rombongannya diundang untuk dijamu di Gedung Putih oleh Eisenhower. Sebelum acara, delegasi Indonesia dimintai daftar nama rombongan yang akan diajak turut. Lalu dikirimlah daftar nama-nama kepada protokol kepresidenan Gedung Putih. Tak dinyana, Eisenhower kemudian membatalkan undangan itu, karena ada nama Aidit di dalamnya. “I cannot receive the party of President Soekarno…” demikian kawat dari Eisenhower.

Soekarno sontak murka. “Bilang sama Eisenhower, ‘Tuan baru saja menerima Kruschev, si embahnya komunis, tapi kini Tuan menolak menerima Aidit. Tuan mau menerima si komunis Kruschev karena dia berkulit putih, tapi Tuan menolak menerima Aidit karena dia berkerkulit sawo matang. Soekarno tidak bisa terima perlakukan ini.’”

Eisenhower kaget menerima balasan seperti itu. Akhirnya dia bersedia menerima Aidit sebagai salah satu anggota rombongan Soekarno.

Untung lho, Dit, koen dibelani Bung Karno. Nek ora, koen ga iso mlebhu White House. Sing mbelani koen ki Bung Karno lho, Dit, ora Kruschev,” ujar seorang anggota rombongan.

Di White House, Soekarno memperkenalkan satu per satu anggota delegasinya, mulai dari Ali Sastroamidjojo dan lain-lain. Ketika memperkenalkan Aidit, Soekarno kembali mengatur intonasinya. “This is Mr. Aidit, the Chairman of the Indonesian Communist Party. But he is a good communist. He believe in God,” ujar Soekarno, serius. Kontan rombongan Indonesia yang lain jadi cekikikan mendengarnya.

Di luar saling sindir, saling bersiasat dan saling menyerang tadi, Soekarno mungkin memang menyayangi Aidit cs. Bagaimanapun, berbeda dengan 1948, di tangan Aidit cs. PKI kali ini mau menempuh jalan demokrasi untuk turut berkuasa.

Tapi kita tahu, proyek Soekarno untuk “menasionalkan komunis” itu akhirnya gagal. Sejak 1963, PKI semakin tegas menetapkan kiblatnya. Bukan ke Soviet, tapi ke Cina.[]

Tarli Nugroho
Tarli Nugroho
Ekonom.

Comments are closed.