Saya Hanya Ingin Berbagi Penderitaan

Jauh sebelum saya berencana pulang kampung nan jauh itu, saya dengan susah payah mengumpulkan berbagai macam judul buku, ada novel, cerpen, kumpulan puisi, jurnal, artikel dan berbagai macam jenis buku lainnya. Puji kantong kosong yang selalu rela diambil selembaran-selembarannya demi toko-toko buku online maupun lapak-lapak yang tersebar disepanjang jalan kenangan di Yogya.

Saya pun dengan suka rela hanya makan nasi telur dan nasi kucing demi sebuh judul buku yang harus saya dapatkan. walaupun saya harus sering menelan ludah melihat teman saya memesan beraneka macam makanan serta membeli baju beraneka merk dan juga nongkrong ditempat-tempat keren yang memang sudah sengaja diperuntukkan kepada para wisatawan dan juga kepada siapapun yang datang ke Yogya. Tentu orang semacam saya tidak akan pernah melirik tempat semacam itu, bukan karena saya tidak mampu membayar, tapi tempat semacam itu menjauhkan saya dari sebuah diskusi. Sesekali saya juga pernah berkunjung ngopi dan bertemu kawan-kawan lama ditempat semacam itu. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak mengingat sesuatu yang lebih penting, saya barangkali juga akan mengikuti beberapa teman mahasiswa saya, tapi apa dikata, ada hal lebih penting yang harus dibeli. Empat tahun lamanya saya mengumpulkan buku dari hasil keringat sendiri, tak perlu saya ceritakan apa pekerjaan yang saya lakukan itu, nanti saya tambah kelihatan heroik dimata kalian. Yang jelas, saya anti tipu-tipu. Karena dilingkungan keluarga saya, yang paling utama dalam menjalankan kehidupan ini adalah kejujuran yang harus dikedepankan.

Dalam seminggu, saya mewajibkan diri membeli buku minimal satu sampai tiga buah, tergantung isi yang mulia dompet. Dan ketika melihat diskon besar-besaran, puji Soekarno dengan warna merahnya, saya tidak akan segan-segan mengontak teman-teman saya kesana-kemari untuk meminjam beberapa ratus ribu uang mereka demi mendapatkan berpuluh-puluh judul buku diskon itu. Lima tahun lamanya, alhamdulilah sekitar 657 judul buku terkumpul, lumayankan, itu angka fantastis bagi orang kere seperti saya.

Belum lagi ditambah dari sumbangan beberapa rekan penulis, penerbit dan pecinta buku di Yogya, jumlah sumbangan buku yang terkumpul berjumlah sekitar 148 judul. 657 ditambah 148 sama dengan 805 judul buku. Sungguh ini adalah kali pertama dalam sejarah di kampung saya melihat judul buku sebanyak itu. Tentu diluar pengelihatan mahasiswa yang sering mondar mandir di toko buku di kota. Sembari saya packing dalam sebuah kardus, sejuta harapan tertumpuk disana.

Tepat pada tanggal 12 Juni 2017, buku terbang ke Lombok nan jauh itu, dengan satu harapan, saya akan bisa berbagi penderitaan. Selang seminggi kemudian, saya yang menyusul buku itu menuju kampung halaman. Mata saya berkaca-kaca sesampai di rumah melihat buku mendarat dengan selamat. Tentu setelah mencium tangan dan kening kedua orang tua beserta adik-adik saya.

Tiga hari saya di rumah, saya lalu memulai aktivitas baru dengan membuka lapak baca gratis sembari menunggu beduk magrib, sungguh, itu bulan ramdhan paling indah yang saya alami selama hidup saya. Melihat beberapa anak-anak dari berbagai usia, SD, SMP, SMA dan teman-teman mahasiswa mengerumuni lapak baca yang saya buka, namun tidak sedikit yang nyinyir melihat aktivitas yang baru mereka lihat itu. Di kampungku, kurang lebih sekitar dua puluhan mahasiswa aktif yang berkuliah di kota, belum terhitung juga yang sudah lulus maupun yang sudah bekerja, baik guru maupun pekerja lainnya. Namun yang paling menyedihkan bagi saya adalah, ketika saya tahu kalau teman mahasiswa saya sendiri yang menyinyiri aktivitas tersebut. Sungguh, saya merasa gagal dalam membagi derita itu.

Saya yakin dan percaya, dengan banyak membaca, kita akan jauh lebih menderita, begitu juga sebaliknya, dengan tidak membaca, maka hidup akan baik-baik saja.

Barangkali hal itu yang membuat masyarakat di kampung saya terlihat baik-baik saja, terlihat bahagia kala indeks kemiskinan semakin tinggi, terlihat baik-baik saja kala perampasan lahan dan ruang hidup di kampung sebelah, terlihat adem ayem tatkala pengangguran tak bisa dikurangi, terlihat gembira saat kelaparan tak bisa ditanggulangi, terlihat tenang tatkala harga dan biaya pendidikan, kesehatan, BBM, listrik, air, bahan pokok dan tingkat perceraiian semakin tinggi yang mengakibatkan semakin bertambahnya jumlah TKI dan TKW mencari nafkah di nergi tetangga. Saya yakin, ketika masyarakat di kampung saya rajin atau pernah membaca buku, mereka akan marah saat mendengar itu semua, mereka akan marah saat tidak mampu menjadi solusi atas masalah yang meninpa masyarakat, akan marah saat semua harga semakin tak terjangkau, akan marah saat melihat saudara, tetangga di zholimi atas nama kesejahteraan. Iya, saya yakin seyakin-yakinnya, mereka pasti akan marah. Namun sampai saat ini, saya masih belum mendengar kemarahan-kemarahan itu.

Lebaran akhirnya telah dilaksanakan, itu bertanda, saya mesti harus balik ke Yogya, perpustakaan akhirnya saya serahkan kepengurusannya pada adik saya paling bontot, dan kini, dialah yang selalu berkeliling menggantikan saya membuka lapak ke berbagai Desa. Tiga bulan saya di Yogya, adik saya menelpon dengan suara penuh keraguan dan ketakutan, dalam obrolan itu, dia dengan suara terbata-bata menjelaskan bahwa, buku saya hilang hampir 50 judul katanya, mendengar laporannya, saya terdiam sejenak, lalu tertawa bahagia, sungguh ini adalah kabar yang abang tunggu-tunggu dik jawab saya di telpon. Mendengar jawaban saya, adik saya itu menjadi agak tenang dan bertanya-tanya, barangkali dalam hatinya berkata, kehilangan buku kok senang, abang saya mungkin sudah rada-rada gila. Saya lalu menjelaskan kenapa saya tidak marah tapi justru merasa senang, kira-kira begini yang saya katakan pada adik saya; begini dik, dengan kita kehilangan buku itu, berarti masyarakat atau teman-teman di kampung kita itu sebenarnya malu, jadi mereka dengan diam-diam mengambil buku itu untuk dibaca, semoga dugaan abang tidak salah, jadi, abang berharap, semakin banyak teman-teman kita di kampung sadar betapa pentingnya membaca itu.

Di kampung saya, membaca adalah hal yang tabu, mereka masih beranggapan bahwa hanya orang-orang mampu  dalam hal perekonomian saja yang paling layak membaca, tidak seperti kami yang miskin, hal itu pernah saya tanyakan pada beberapa teman dan rata-rata jawaban mereka sama. Sungguh ini adalah kekeliruan yang nyata. Itulah salah satu alasan saya mengumpulkan berbagai macam literatur selama di Yogya agar bisa berbagi dan juga mematahkan anggapan yang selama ini menjadi paradoks dalam masyarakat di kampung saya. Dengan membuka perpustakaan jalanan juga sedikit tidak akan mematahkan asumsi-asumsi yang selama berpuluh-puluh tahun tertanam itu akan terkikis, semua orang berhak atas pendidikan dan pengetahuan. Agar mereka tahu juga bahwa, semua orang itu setara, semua orang itu berhak atas keinginan-keinginan yang tentu tidak merugikan orang lain dan semua orang juga berhak atas segala bentuk pengetahuannya. Ia tidak mesti memilih tempat atau siapapun meski kita hanya berada di ujung pulau paling tertinggal sekalipun.

Dan kau tahu, saya dengan mudah mengetahui siapa saja yang datang diam-diam mengambil buku tersebut, hal itu bisa saya lihat dari status-status teman-teman saya di facebook, mereka menjiplak tulisan dalam buku-buku tersebut menjadi statusnya, kendati demikian, saya sengaja tidak menegur atau berkomentar dalam status-status yang mereka buat untuk menjaga rasa kepercayaan dalam diri mereka. Tapi saya akan mengajak mereka berdiskusi sepulang saya nanti bahwa, menjiplak tulisan orang itu hukumnya haram.

Dalam hati saya berharap, dengan hilangnya buku-buku tersebut akan memunculkan Tan Malaka, Pram, Wiji Tukul, Suwarsih, Rendra, Saut Situmurang, Sitor,  Marsinah, Martin, Aidit,  Karl Mark, Camus, Hegel, dan banyak lagi yang lainnya. Semoga Tuhan beserta alam semesta merestui keinginan saya.

 

Yogyakarta 16 September 2017

Hasan Gauk
Hasan Gauk
Hasan Gauk. Penulis adalah kurator Sastra asal Lombok. Saat ini aktif sebagai anggota Gerakan Literasi Indonesia (GLI) dan bergiat di kegiatan-kegiatan literasi yang lain.

Comments are closed.