Romantika Hujan

13435463_886760891451190_2098462729856108252_n

Hujan telah tiba bersama kereta Solo-Jogja
Seorang lelaki tua keluar dari pintu kereta
Dengan tas lusuh dan topi pembelian isterinya
Sepuluh tahun lalu dengan berat hati
Ia menanam isterinya di tanah merah di sebelah mall terbaru

Lelaki tua itu duduk di kursi tunggu
Hujan belum jua reda
Angka pada jam dinding besar, membeku kedinginan
Di halaman stasiun kereta
Bocah laki-laki bermain air
Ia ingat anak-anaknya
Yang mati seusai paskah

Pada air hujan yang menggenang
Muncul matahari dan bulan
Serta kenangan bahwa pernah sekali waktu
Sang isteri membawakan ia mantel lusuh sambil berbisik; “Telah kubuatkan untukmu secangkir teh!”
Lelaki tua itu tak sengaja melelehkan air mata

Hujan rupanya jemu jua
Hingga akhirnya betul-betul reda
Usai menyeka air matanya
Lelaki tua itu pun lamban melangkah pergi
Meninggalkan stasiun kereta
Menanggalkan segala kesedihannya

Jogja yang hingar
Menyambutnya tak seperti duapuluh tahun lalu
Dimana sepasang lobang hidungnya masih dimanjakan bau wewangian dari rumah-rumah
Kini bau busuk jualah yang meraja
Bau busuk sampah dan kotoran manusia-binatang

Matahari yang kebelet
Muncul dari balik awan
Cahayanya turun ke kolong-kolong jembatan
Dan permukaan kali samping pemukiman-pemukiman kumu orang-orang terjajah
Lelaki tua itu terus berjalan

Langkahnya yang lamban itu terhenti pada sebuah pintu gerbang pemakaman umum
Tubuhnya tergetar
Kerinduan dalam dirinya menjelma hantu-iblis menakutkan
Perlahan ia melangkah masuk dalam dunia awal kehidupan

Sepasang matanya yang kabur
Berkunang-kunang mencari sepasang batu nisan isterinya
Ingatannya mulai termakan usia di awal delapanpuluh tahun umurnya
Tapi perasaannya tak bisa bohong
“O, Isteriku!” ratapnya kala angin lesu menampar wajahnya yang keriput tua penuh garis kecil-kecil

Lagi, sepasang kaki lelaki itu terenti
Persis di sebelah nisan berlumut; itulah makam sang isteri
Lelaki tua itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari mantelnya; sebotol arak dan secarik kertas
Dalam keheningan ia berbisik, “Aku datang ke mari sekadar memberikan puisi ini padamu, Isteriku. Sebentar lagi aku kan menyusulmu!”

Di jalan raya
Antara lokalisasi-terminal lama
Lelaki tua itu tergelepar di anak-anak tangga stasiun kereta
Rupanya arak tanpa tahu orang banyak
Telah membantunya menyeka kecamuk perasaannya

Senja hilang
Malam tiba
Kereta Solo-Jogja
Menjerit-jerit dari kejauhan
Lelaki tua yang mabok itu
Terbangun dari tidurnya
Dengan payah ia bangkit dari kursi
Kemudian kembali ia menenggak araknya
Di bawah hujan yang lahir kembali

O, hidup seorang penyair tua
Yang luruh dalam ideologi
Yang dikocok-kocok realitas
Tunggullah kematianmu tiba
“Ya. Ya, aku akan mati layaknya manusia biasa bukan sebagai penyair yang pahlawan, yang penuh metafora kata-kata puisi! Datanglah padaku dan bawakan beberapa botol arak sebelum kematianku, Nak!”

Jogja, 18/11/16

Yasir Dayak
Yasir Dayak
Penyair

Comments are closed.