Rambu Duka

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika.

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika.

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika.

Mak, akhirnya aku kembali ke Jogja. Setelah dua pekan lebih lamanya aku bergerilya ke desa-desa menemui saudara-saudaraku yang terperangkap dalam papan catur penguasa. Yang sama seperti kita. Sama-sama dirampas kekayaan alamnya. Dan, Mak, entah kenapa tanganku kali ini berat rasanya menulis cerita ini. Bahkan, tak sengaja aku melelehkan air mata beberapa hari ini. Betapakan tidak, Mak. Para penguasa kelewat lalim kepada kita. Semua harta bumi kita dirampas dan bahkan nyawa kita semua tak luput darinya. Tapi aku kuat bertahan dan melawan, Mak. Sekuat tenaga kulawan diriku sendiri agar cerita ini jadi dan dibaca semua saudara-saudaraka. Dan aku selalu mendoakan agar semua perlawanan ini tak berujung sia-sia seperti masa lalu.

Jadi begini, Mak:

Tengah hari yang panas, Exsan mengantarku ke sebuah pertigaan. Menunggu bis menuju Pati. Tanpa permisi keringat mengucur di sekujur wajahku. Exsan tertawa. Exsan memang suka tertawa, Mak. Tapi, keluarganya baik padaku. Terutama sang ibu. Hampir setiap jam aku disuruh makan olehnya. Mamak tahukan kalau perutku kecil betul? Kebaikkan keluarga Exsan akan selalu kukenang, Mak. Kelak jika aku masih hidup, kebaikkan itu akan kubalas, Mak.

Tahu-tahu jarum pendek jam tanganku berhenti di angka sebelas. Belum satupun bis jurusan Pati melintas di jalan itu. Seraya masih menunggu, Exsan berkata.

“Bung, ini dari Ibuku. Ambillah!” ujarnya seraya menyerahkan segumpal duit kumal. 30 ribu rupiah.

Sentak aku menolak.

“Jangan, Bung! Duitku masih ada.”

“Ambillah! Ini dari Ibuku. Kalau kau menolaknya, sama saja kau mengecewakan Ibuku.”

Dengan perasaan terpaksa aku ambil duit kumal itu.

Mak, kau tahu. Keluarga Exsan tak jauh sama dengan kita. Sama-sama miskin. Dan selayaknya orang miskin, kita sama-sama ditolak para tetangga. Yang miskin memang jadi borok bernanah. Jadi momok menakutkan bari para penguasa di negeri ini, Mak. Dan orang-orang kaya selalu dijilat-jilat dan dihormati!

Tiba-tiba sebuah bis berhenti begitu saja di depanku dan Exsan. Maka akupun bergegas masuk. Sebelumnya aku pamit pada Exsan.

“Hati-hati, Bung!” ucap Exsan dengan suara kencang. Kencang betul. Sehingga semua pasang mata di jalan itu tertuju padanya.

Lasem, bersama segala tetek-bengeknya mengantar gerilyaku selanjutnya. Pati. Salam.

Baru saja bis yang kutumpangi berhenti, semua orang, pengasong, pengemis, tukang ojek, dan angkutan lain, merubung bis itu. Sebelum aku turun dari bis, kusempatkan membaca puja-puji yang pernah kau pesankan padaku, Mak. Dan inilah, untuk kali pertamanya aku menginjakkan kaki di tanah Pati. Tanah yang sama seperti beberapa wilayah di Jawa Tengah, Urut Sewu, Surokonto, Cilacap, Gombong, dan Rembang. Tanah yang dirampas para penguasa dan korporasi, Mak. Kemudian beberapa lelaki paru baya merubungiku, Mak. Aku bukan raja atau sultan yang haus dihormati. Aku bukan orang kaya yang haus dijilat. Kita sama. Sama-sama miskin. Dan kau tahu, Mak, pertanyaan yang mereka lontarkan semuanya sama. “Mas, mau ke mana? Mau saya anter?” Tapi aku hanya menjawab dengan kepala menggeleng, Mak. Aku takut ditipu lagi seperti tempo hari. Dan karena memang salah satu saudaraku berjanji akan menjemput. Akhirnya aku memutuskan menunggu saja.

Hampir sejam lamanya aku menunggu, Mas Herno tidak kunjung datang. Tiba-tiba telepon genggamku bergetar. Tanda ada pesan masuk. “Mas, maaf. Saya enggak bisa jemput. Mas naik bis jurusan Purwodadi. Minta turun di pom bensin Sukolilo!” Begitulah bunyi pesan itu. Dan aku pun mengikuti pesan Mas Herno. Tak jauh betul jarak antara terminal ke Sukolilo. Tiga penanakkan nasi saja.

“Weehhh, Mas Yasir, maaf tadi enggak bisa jemput,” ucap Mas Herno.

“Iya,” jawabku seraya mengangguk.

“Kita lagi sibuk nyiapin acara Halal Bi Halal buat tanggal 18.”

Aku mengangguk. Ya, Mak. Herno Joyo ialah nama saudara baruku. Kemarin kami bertemu di Pegunungan Kendeng. Aku berjanji akan bergerilya ke Pati dan nginap di rumahnya barang sehari.

“Ya beginilah, Mas, rumah saya,” ucap Mas Herno ketika kami sampai di rumahnya.

Aku diam saja.

Entah kenapa, Mak. Tak ada sedikit pun rasa penat pada tubuhku. Mungkin pertemuan demi pertemuan dengan saudara-saudaraku ini adalah penangkalnya. Namun entahlah, Mak. Yang jelas aku bahagia bisa bertemu dengan mereka.

“20 kilometer, Mas,” Mas Herno mulai bercerita, “Dulu pernah kami terabas menuju PTUN Semarang. Mas bisa bayangkan apa yang kami rasakan waktu itu. Tapi tak sekali pun kami berhenti. Semua demi Kendeng, Mas. Demi anak cucu kelak. Sudah lihatkan barisan gunung tadi? Kalau itu dirusak, tak ada lagi yang tersisa. Rumput sekalipun,” ia berhenti. Menyulut rokok. Dan melanjutkan, “Tapi ya lagi-lagi sama, kami tetap dipermainkan dengan alasan A, B, C, dan Z,” ia terdiam lagi. Pun aku.

Di tengah obrolan, seseorang tiba-tiba masuk dari pintu samping rumah Mas Herno.

 

“Ha, Yasir!” ucap lelaki paru baya dengan pipa di mulutnya.

“Mbah Kendeng. Bagaimana kabar?” sapaku pada lelaki itu. Mbah Kendeng.

“Baik. Baik. Anda?”

“Standar.”

Kami bertiga tertawa.

Kiranya tak perlulah aku ceritakan panjang-lebar tentang gerilyaku di Pati padamu. Karena semua sama saja. Sama-sama dimiskinkan. Sama-sama dirusak alamnya. Sama-sama dirampas hak hidupnya. Dan cerita ini memang tak betul, Mak. Karena tak ada keindahan di negeri ini. Apakah gunung yang dikeruk pabrik semen itu indah, Mak? Apakah hutan yang dibakar itu indah, Mak? Apakah manusia yang melacurkan diri ke pabrik semen itu indah, Mak? Apakah pembantaian petani-petani itu indah, Mak? Apakah perampasan hak hidup dan nyawa itu indah, Mak? Lantas apa guna aku tulis kesakitan ini dengan penuh keindahan, tetapi pada kenyataannya keindahan hanyalah milik para penguasa saja. Ya, Mak. Keindahan hanyalah milik penguasa saja.

Akhirnya kutinggalkan lagi Pati. Jogja yang tua tak sabar menanti. Namun baru saja aku menginjakkan kaki kembali di tanah Jogja, sebuah berita cukup menyengitkan hatiku, Mak. Betapakan tidak. Saudara-saudaraku dikepung. Dikatakan monyet. Dipukul. Diciduk. Diamankan alias dipukuli juga. Dan tak sengaja lagi, Mak. Aku melelehkan air mata. Semua keadaan ini ialah rambu duka, Mak. Rambu duka. Di mana tak satu orang pun yang menginginkannya.

Sekian dulu ya, Mak. Jika aku masih hidup. Aku akan pulang dan menceritakan langsung semua ini padamu.

 Yasir Dayak, 18 Juli 2016, Yogyakarta

 

Yasir Dayak
Yasir Dayak
Penyair

Comments are closed.