Membajak Reforma Agraria
Oct 26, 2017
Suluk Kebudayaan
Nov 1, 2017

Pulauku Kini

Ilustrasi Oleh Moch Dzikri Hendika

Terlalu banyak kesaksian
Romantisme nyanyian ombak
Seperti bait-bait klise penyair kamar
Yang mati diburu kesepiannya

Pelayaran nama-nama
Berakhir bocor dan karam
Hanyut bersama perahu kata-kata

Bibir pantai penuh buih
Lautan tertutup kabut
Oi! Siapa dia bergelap-gelapan di muara
Tua-muda diam-diam gemar bercinta

Di Negeri Nun, teman-temanku sibuk mengarang
Pameran puisi tentang gelombang
Tapi mereka tak kunjung datang
Berbagi rasa dengan nelayan
Sementara aku tetap awas di beranda;
Rumah kecil di ujung bukit
Yang kau ludahi ketertinggalannya

Di pulauku, gemuruh kata iman
Ibarat ungkapan cinta yang rawan

Orang-orang berwajah halus
Orang-orang berwajah beringas
Sama bengisnya terhadap harta

Angan-angan diajak tenggelam
Menyelami laju percepatan
Apa bedanya daratan dan lautan
Bila dihuni perusak lingkungan?

Gagahnya kelamin kemajuan
Terlihat perkasa namun mandul
Mlungker di bawah perut para dewan;
Wakil Rakyat tinggal nama unjuk wibawa
Seolah hebat tapi “lemah syahwat”!

Raja-raja suka gawat
Seperti hentakan petir
Mengancuk langit Madura
Kepalang terlampau malang
Raja-raja kikuk tak berdaya
Menghadapi keindahan tubuh mulus;
Kenyataan eksotis, pelacuran fakta

Orang-orang saling berlomba
Mendaras ayat merapal doa
Di tanah asin yang katanya amin
Sementara aku tak puas-puas
Bersandar di tiang bambu Tanian Lanjang
Tanyaku, “Mengapa langit selalu menjatuhkan kata sifat?”

Orang-orang harus bangkit!
Berani bicara, berani bergerak
Bersaksi pada kesadaran;
Tanah kepulangannya

Pada hari-hari yang terus diburu kecemasan
Kehidupan mesti dijauhkan dari rupa-rupa berhala;
Rekayasa besi baja kapitalis
Penindas alam dan manusianya

Luka-luka berjalan sangsi
Terkapar di persimpangan kota
pada rasa sakit yang terbiasa ditaburi garam,
sungguh aku heran!

Orang-orang berlarian meninggalkan tanda
Celurit berkarat, Karapan Sapi kian sekarat

Oh! Bulir-bulir air mata
Mengalir di bawah sudut ketebalan aspal
Di atasnya terdengar kesah
Derita hilir-mudik para pekerja
Susah-payah menjilati peluhnya
Batinnya diperah dan dicengkeram
Oleh pemborong poyek pembangunan

Sirnanya sarang semut dan rerumputan
Ialah rambu waktu yang diasingkan
Demi pengeboran minyak
Dalih pelebaran jalan

Wahai jutaan perantau di hamparan negeri orang!
Semoga kalian tak lupa jalan “pulang”!

“Kesadaran” adalah “tanah kepulangan”

Bersaksi dan bangkit!

Jogja-Madura, 2016

A. Musawir
A. Musawir
Lahir di Madura, 07 Mei 1989. Merantau ke Malang dan menjalani hidupnya sebagai penjual Molen Mini. Pernah merantau ke Jogjakarta, menjadi penjual Es Tebu. Penulis meminati pelajaran sastra, khususnya puisi dan karya fiksi. Ia pernah terlibat dalam beberapa aksi gabungan, di antaranya gerakan bersama mahasiswa Papua di Jogjakarta: "Aliansi Boikot Art Jog" dalam pagelaran kesenian "Art Jog 2016" yang disponsori Freeport, Bank Mandiri dan perusahaan-perusahaan perusak lingkungan lainnya, Jogja National Meseum, 2016. Aksi "Solidaritas Jogja untuk Rembang", dalam rangka menolak kedatangan Ganjar Pranowo pada Acara Temu Mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Jogjakarta, 2016. Puisi-puisinya beberapakali dibacakan di halaman Kejaksaan Negeri Kota Malang pada aksi penuntasan kasus korupsi pembebasan lahan kampus 2 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, aksi penuntasan kasus korupsi Jembatan Kedungkandang Kota Malang, aksi pembelaan atas 77 buruh PT. Indonesian Tobacco Malang, aksi menolak pendirian hotel The Rayja di atas sumber mata air Umbul Gemulo, Bumiaji-Kota Batu, dan beberapa aksi lainnya.

Comments are closed.