Meluluhkan Besi dengan Seni [Karikatur]
Jul 15, 2014
Pagar Makan Tanaman: Tafsir atas Poster Propaganda KRS Rangka Tulang di Urutsewu
Jul 16, 2014

Propaganda Media dan Kesenyapan di Urutsewu

Laporan Utama oleh: Amanatia Junda, Angga Palsewa Putra, dan Tahdia Jawhar Umaruzaman

Suara Merdeka gencar menurunkan berita-berita tidak akurat mengenai Urutsewu. Propaganda pro-militer. Apa dampaknya bagi warga Urutsewu?

JALAN Daendels tampak lengang siang itu, 15 April 2014. Sesekali kendaraan melintas di aspal yang tak pernah mulus permukaannya. Kios fotokopi yang terletak di depan SMPN I Ambal, Kecamatan Ambal, Kebumen, pun sepi pelanggan. Harry dan Natia, dua anggota aliansi Solidaritas Budaya untuk Masyarakat Urutsewu (Esbumus), mulai merasakan ketegangan yang merebak siang itu tatkala mendapati kembali berita di suplemen Suara Kedu dalam harian Suara Merdeka.

Harry yang tidak sengaja melirik lipatan koran di atas meja kantor guru SDN Kaibon Petangkuran, terkejut. Air muka kepala sekolah yang tadinya ramah sontak pucat pasi saat mengetahui maksud kunjungan kedua tamunya. Keduanya bermaksud meminjam koran Suara Merdeka tersebut untuk difotokopi karena akses terdekat ke lapak koran kurang lebih delapan kilometer dari Desa Kaibon Petangkuran.

Terdapat tiga berita mengenai Urutsewu dalam koran tersebut. Masing-masing berjudul “Urutsewu Keren…”, “Tragedi Setrojenar Jangan Terulang”, dan “‘Wong Parkiran’ Diminta Tanggung Jawab” yang berhasil ditemukan Harry di kantor guru. Dalam “Tragedi Setrojenar Jangan Terulang”, dikutip pernyataan warga mengenai himbauan agar orang luar Urutsewu tidak datang pada acara 16 April:

“‘Kami tetap ingin masalah Desa Setrojenar yang menyelesaikan warga sendiri. Kami mohon tak usahlah teman LSM datang ke sini pada 16 April besok, karena bisa memperkeruh situasi desa yang sudah kondusif ini,’ kata Arief Luqman Hakiem yang mengaku lahir dan besar di Desa Setrojenar ini.”

Dengan rona khawatir, Kepala Sekolah bertanya, “Sebenarnya, yang terjadi gimana ya, Mbak?” Begitu pula dengan pemilik kios fotokopi yang berkali kali mencuri baca koran yang ia gandakan. Ia semakin tertarik tatkala mengopi berita mengenai kasus pemerkosaan yang dituduhkan ke “Wong Parkiran” di Pantai Setrojenar. Ia mengopi enam lembar. Padahal yang dipesan hanya lima.

Dewi, sekretaris Esbumus yang menyusul ke kios fotokopi, langsung merasakan perubahan sikap pemilik kios. Padahal, pagi tadi ia sempat berbincang hangat dengan sang pemilik dan istrinya. Sepasang suami istri tersebut menyapanya ramah. Mereka bertanya dengan antusias, bahkan sempat bercanda mengenai peran penari di acara pentas budaya pada 16 April besok.

“Kenapa, Pak?” tanya istrinya muncul dari dalam rumah, bingung.

Suaminya hanya diam dan terus membaca, raut wajahnya tegang. Ia sedang membaca berita “Tragedi Setrojenar Jangan Terulang” yang memuat kutipan berisi imbauan agar “pihak luar desa, seperti LSM dan elemen warga di luar tiga desa, yakni Desa Setrojenar, Brecong dan Ayamputih, tidak usah datang ke Setrojenar” pada peringatan 16 April, tanggal di mana terjadi penembakan petani di Desa Setrojenar 2011 silam.

Berita desas-desus

Beberapa bulan sebelumnya, tujuh desa di pesisir Urutsewu bersama aliansi Esbumus sepakat untuk mengadakan arak-arakan budaya pada 16 April 2014 dalam rangka memperingati tiga tahun peristiwa penembakan warga oleh TNI. Saat hari-H, jumlah desa yang terlibat menjadi delapan, meliputi: Ayam Putih, Setrojenar, Kaibon Petangkuran, Mirit Petikusan, Mirit, Tlogo Pragoto, Lembu Purwo, dan Wiromartan.

Menjelang hari-H, suplemen Suara Kedu makin gencar memuat pemberitaan tentang kawasan Urutsewu. Dalam sebelas hari, sepanjang 5-15 April 2014, koran ini memuat 13 berita. Ketiga belas berita tersebut terbagi dalam dua tema umum, yakni mengenai konflik tanah di Urutsewu dan kasus pemerkosaan di Pantai Setrojenar, Urutsewu.

Aliansi Esbumus yang turut serta dalam penyelenggaraan pentas budaya 16 April juga mendapat porsi di suplemen Suara Kedu. Pada 9 April, terbit berita berjudul “Gerakan Didanai Rp 9 M”. “Gerakan” yang dimaksud adalah “kubu yang kontra” latihan uji coba senjata TNI di pantai kawasan Urutsewu.

Menurut berita tersebut, gerakan ini mendapat dana sebesar Rp9 miliar. Seorang sumber anonim yang dikutip mengatakan, “dana Rp9 miliar itu dikelola pejabat penting di pemerintahan.” Sementara Kapolres Kebumen AKBP Faizal yang juga dikutip pernyataannya mengaku “menerima banyak SMS yang menyinggung pejabat tersebut. Namun bukan mengenai dana yang dikelola untuk gerakan di Urut Sewu, melainkan isu penggerebekan di salah satu hotel di Purworejo”.

Meski tidak terang-terangan menyebut Esbumus, dua belas nama organisasi dan komunitas yang tergabung dalam “gerakan” tersebut adalah anggota aliansi Esbumus. Nama-nama organisasi dan komunitas tersebut dituliskan dengan urutan yang sama dengan urutan dalam rilis Esbumus di situs resmi mereka, http://urutsewu.tumblr.com/Perihal.

Dalam “Prasangka Suara Merdeka di Urut Sewu” yang berisi analisis ketiga belas berita Suara Merdeka tentang Urutsewu, Wisnu Prasetya Utomo menulis bahwa berita tersebut ditulis berdasarkan prasangka yang susah dipertanggungjawabkan. Sumbernya hanya berasal dari kutipan seorang “sumber” anonim.

SM&DurnafotoKarinaRimaMelati

Foto: Karina R. M.

“Melalui berita tersebut saja kita bisa melihat bahwa wartawan yang menulis berita ini tidak serius melakukan reportase. Pihak yang dianggap menerima dana itu tidak diberikan ruang. Ia hanya mengandalkan sumber anonim. Apakah ini berita, atau pamflet yang berisi gosip, fitnah, dan desas-desus?” tulis Wisnu.

Selain dana misterius, Suara Merdeka juga memberitakan kasus pemerkosaan di Pantai Setrojenar. Setrojenar adalah desa tempat terjadinya peristiwa 16 April 2011. Acara peringatan tiga tahun peristiwa tersebut juga akan digelar di lapangan di desa tersebut. Dalam membingkai kasus pemerkosaan di Pantai Setrojenar, fokus berita-berita tersebut mengarah pada pelaku pemerkosaan dan isu bahwa pantai tak aman.

Suara Merdeka menyimpulkan, pemerkosaan dilakukan terorganisir dan rutin oleh organisasi bernama “Wong Parkiran” yang dipimpin Kyai Imam Zuhdi. Imam Zuhdi adalah tokoh masyarakat Setrojenar yang rutin menyelenggarakan mujahadah (doa bersama) untuk memeringati peristiwa 16 April.

Dari analisis Wisnu, serupa dengan berita tentang dana Rp9 miliar, berita-berita pemerkosaan ini lebih bersandar pada isu dan gosip ketimbang fakta. Pemberitaan Suara Merdeka tentang Urutsewu menunjukkan keberpihakannya kepada militer alih-alih masyarakat.

Sehari setelah pentas budaya, pada 17 April, Dwicipta, anggota aliansi Esbumus, mengunggah foto potongan berita “Gerakan Didanai Rp9 M” lewat akun Facebook-nya dan mengklarifikasi bahwa berita tersebut bohong. Dalam waktu singkat, terkumpul 265 komentar dan 49 orang yang membagi foto berita tersebut. Redaktur Pelaksana Suara Merdeka, Triyanto Triwikromo, turut berkomentar di sana.

“Saya sudah bicarakan persoalan ini pada pimpinan. Kami mengusut mengapa berita-berita semacam itu bisa keluar. Sudah saya katakan secara pribadi saya minta maaf dan menyadari ada kesalahan jurnalistik pada berita itu,” tulisnya pada 18 April 2014 di kotak komentar unggahan tersebut.

Portal berita jaringnews.com kemudian menuliskan perdebatan di unggahan foto tersebut dalam berita “Oknum Wartawan Suara Merdeka Kedu Dituding Bisa Dibeli Penguasa dan Militer”. Berita itu disiarkan pada 19 April.

Pada 22 April, lima hari setelah foto tersebut diunggah, Arif Widodo, wartawan yang menulis berita tersebut turut berkomentar di pos foto tersebut. Ia tidak terima dengan pemberitaan jaringnews.com yang menudingnya dapat dibeli oleh pihak militer.

Berlainan dengan sikap Triyanto, pada 29 April, Suara Merdeka menujukkan sikap lembaganya lewat berita yang dimuat di Suara Merdeka suplemen Suara Banyumas. Judulnya “SM Meminta Jaringnews.com Mengklarifikasi”. Dalam berita tersebut, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Amir Machmud N. S. menyatakan keberatan dengan pemberitaan jaringnews.com.

Propaganda pro-militer Suara Merdeka

Berita-berita yang dimuat Suara Merdeka mengenai Urutsewu dapat dikategorikan sebagai propaganda pro-militer. Lasswell dalam Propaganda Technique in the World War (1927) mendefinisikan propaganda sebagai “kontrol opini dengan simbol-simbol penting, atau, berbicara secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi sosial lainnya”.

Pemberitaan yang dibingkai secara dramatis di Suara Merdeka dapat ditafsirkan sebagai bentuk propaganda. Suara Merdeka mencoba mengontrol opini publik dengan simbol-simbol, yang dengan jelas dapat dilihat dari penyajian teks maupun gambar, serta berbicara secara konkret mengenai desas-desus sembilan miliar dan pihak pelaku kasus pemerkosaan, tetapi menjadi kurang akurat karena berita dibungkus layaknya rumor dengan narasumber-narasumber anonim tanpa memegang teguh asas keberimbangan berita.

Menurut Bosman Batubara, anggota aliansi Esbumus dari Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FKNSDA), Suara Merdeka tidak hanya melakukan framing berita, tetapi juga menggembosi perlawanan akar rumput di Urutsewu. Upaya ini telah dirasakan oleh Koordinator Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FPPKS) Seniman Martodikromo sejak 2011. Menurutnya, rumor dana sembilan miliar bahkan sudah lama berhembus di masyarakat. Ia sendiri sempat diberitakan mendapat aliran dana sebanyak Rp20 hingga Rp25 juta pada 2012.

“Saya enggak respons isu-isu itu karena seolah-olah saya sudah kebal dengan pemberitaan yang tidak senafas dan tidak sesuai. Sudah banyak berita negatif semacam itu,” komentar Seniman. Meski demikian, ia selalu menyimpan tumpukan berita yang memojokkan masyarakat Urutsewu sebagai arsip pribadi.

“Bagi saya pribadi, berita semacam itu tidak berpengaruh, tetapi masyarakat, kan, banyak yang muncul, bertanya tentang isu-isu demikian, seperti saat ada berita sertifikasi tanah. Berita ini hanya pancingan. Banyak yang terkecoh dengan berita itu. Tapi, saya punya keyakinan, kita melawan dengan ketenangan banyak keberhasilannya saat itu,” ungkapnya lagi saat ditemui di kediamannya, 20 Mei 2014.

Meski berita-berita Suara Merdeka tidak membuat Seniman goyah, ia masih mendapat efek sosial langsung saat bertemu orang-orang di sekitarnya. Seperti ketika isu pemerkosaan di Pantai Setrojenar santer diberitakan.

“Rata-rata teman-teman di Kecamatan Ambal menyalahkan saya. ‘Ki lho rombongane riko sudah berbuat seperti ini. Riko harus bertanggung jawab’,” kata Seniman menirukan komentar-komentar tajam dari pamong praja.

Dampak pemberitaan Suara Merdeka

Meski tak banyak warga kawasan Urutsewu yang membaca Suara Merdeka, berita tersebut tetap beredar dari mulut ke mulut. Respons warga terbelah, antara yang terpengaruh dan tidak terpengaruh.

Afifudin, salah satu pendiri Serikat Remaja Urutsewu (Sereus), berpendapat, pemberitaan tentang gerakan didanai Rp9 miliar tersebut tidak berpengaruh pada masyarakat Desa Entak, Kecamatan Ambal.

Di Desa Kaibon Petangkuran muncul kekhawatiran, meski kecil. “Saya tahunya dari teman-teman. Dampaknya kecil di Desa Kaibon Petangkuran. Warga yang baca koran jarang. Informasi enggak ada yang lewat media. Tapi, kemarin saya diberitahu bahwa Bu Lek (bibi) saya yang ngomong ke kakak saya, suruh ngomongin ke saya agar jangan ikut-ikutan,” ujar Muhlisin, Kepala Desa Kaibon Petangkuran. Ia aktif menentang pencaplokan tanah Urutsewu oleh TNI.

Bibi Muhlisin bekerja sebagai guru di Buluspesantren, Kebumen. “Mungkin Bu Lek diberitahu teman-teman sesama guru. Otomatis, kalau guru itu, kan, ikut perkembangan informasi lewat media cetak,” imbuh Muhlisin.

Berita “Gerakan Didanai Rp 9 M” juga memengaruhi aliansi. Komunitas Teater Gerak Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen awalnya menyatakan bergabung dengan aliansi Esbumus. Namun, lima hari menjelang hari-H hingga pada 16 April, Teater Gerak tidak kunjung hadir.

Eri Listiawan, Ketua Umum PMII Kebumen sekaligus mahasiswa IAINU, menjelaskan bahwa terdapat konflik internal di jajaran staf pengajar IAINU. Salah satu dosennya, Wasdi Salim, memutuskan untuk berhenti berlangganan koran Suara Merdeka akibat pemberitaan miring secara bertubi-tubi mengenai Urutsewu. Di saat yang sama, terdapat dosen lain yang juga redaktur di Suara Merdeka. Ia menduga, Teater Gerak terpengaruh oleh berita “Gerakan Didanai Rp 9 Miliar” sehingga tidak jadi turut serta di acara 16 April. Hingga berita ini diturunkan, Teater Gerak IAINU tidak bisa dikonfirmasi mengenai sikap mereka.

Selain berita tentang dana Rp9 miliar, berita pemerkosaan di Pantai Setrojenar juga berdampak serius. Menurut Eri, berita tersebut menimbulkan kesan bahwa pantai tersebut tak lagi aman sehingga masyarakat Kebumen enggan berkunjung. Nurul Fitriyani, pelajar kelas XI SMA Kutowinangun yang juga warga Desa Kaibon Petangkuran, bercerita, beberapa guru di sekolahnya mengimbau para siswa untuk menjauhi Pantai Setrojenar.

Menurut Nurul, berita miring tersebut dimaksudkan untuk memperburuk citra pariwisata di Pantai Setrojenar. Pihak yang paling dirugikan tentu saja masyarakat yang mencari penghasilan dari sektor wisata di sepanjang Pantai Setrojenar. Sepinya pengunjung membuat pendapatan para pedagang di sekitar pantai menurun drastis. Bu Gendut, penjual es cendol di utara Desa Setrojenar, mengeluhkan hal serupa.

Imam Zuhdi menjelaskan bahwa ia tidak terprovokasi oleh pemberitaan Suara Merdeka yang memfitnahnya sebagai ketua organisasi “Wong Parkiran” yang disebut mengorganisir pemerkosaan di Pantai Setrojenar. Menurutnya, respons atau perlawanan terhadap pemberitaan tersebut justru akan menegaskan bahwa ia memang mengakui dirinya sebagai pelaku.

“Saya enggak marah. Feeling kami, berita itu sudah di-skenario. Dan saya tidak pernah diwawancarai oleh Suara Merdeka,” tegas Imam Zuhdi. Menurut Din, salah seorang warga Setrojenar, masyarakat sudah tidak percaya sama sekali dengan isi berita koran Suara Merdeka. Menurut mereka, itu hanyalah usaha-usaha untuk melemahkan daya juang masyarakat Setrojenar. Rata-rata masyarakat Setrojenar tidak membaca Suara Merdeka. Pemberitaan tersebut diketahui dari mulut ke mulut.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan Literasi.co, di kawasan Urutsewu, Suara Merdeka beredar di instansi-instansi pemerintah seperti sekolah, puskesmas, dan kantor kecamatan. Menurut Nurul, sekolahnya juga hanya berlangganan Suara Merdeka. Seniman mengatakan, hanya koran tersebut yang tersedia di puskesmas. Setelah pentas budaya 16 April 2014 silam, Muhlisin mendapati tumpukan Suara Merdeka di Kantor Kecamatan Ambal yang boleh warga ambil secara gratis. Saat hendak mengonfirmasi hal tersebut ke Kantor Kecamatan Ambal, Literasi.co kesulitan untuk melakukan wawancara karena kendala perizinan.

Di Desa Tlogo Pragoto, setiap hari datang kiriman koran Suara Merdeka dari kantor Kecamatan Mirit, meski pada akhirnya jarang dibaca oleh perangkat desa. Anehnya, perlakuan serupa tidak diterima oleh Desa Wiromartan. Widodo Sunu Nugroho, Kepala Desa Wiromartan, mengatakan, balai desanya sama sekali tidak berlangganan Suara Merdeka dan tidak mendapat kiriman koran gratis dari Kantor Kecamatan Mirit.

Sirkulasi harian tersebut di instansi pemerintahan tampaknya berpengaruh pada pembentukan opini pegawai di lembaga tersebut. Muhlisin, misalnya, ketika mengunjungi Puskesmas Kecamatan Ambal, sering kali mendapat teguran dari staf medis puskemas tersebut atas aktivitasnya.

“Nah, orang-orang (seperti di puskesmas) itu yang biasanya memengaruhi masyarakat yang tidak membaca koran. Karena dia tahunya dari informasi media. Kalau masyarakat, kan, dapat informasi langsung. Jadi sering bertentangan. Seperti puskesmas, dia enggak pernah mau ikut-ikut urusan seperti ini (pergerakan), tapi, ya, komentar. Kalau diajak diskusi, baru enggak bisa beradu argumentasi,” tutur Muhlisin.

“Yang terpengaruh dan menakut-nakuti itu (dari) kalangan pembaca (Suara Merdeka). Bahasanya seolah-olah bahasa pemerintah yang membenarkan isi media itu,” imbuhnya lagi.

Memilih diam

Suara Merdeka adalah koran paling banyak dibaca di Jawa Tengah. Oplah koran yang situs webnya berjargon “Semata-mata Fakta!” ini mencapai 100 ribu eksemplar pada 2013, dengan jumlah pembaca lima kali lipat oplah. Dengan dominasinya yang besar, Suara Merdeka berpotensi menggiring opini publik sesuai keinginan dapur redaksi.

Potensi media massa dalam mengatur agenda (agenda setting) di satu lingkup wilayah bukanlah hal yang baru. Gagasan penentuan agenda terbit pada 1958 dalam artikel yang ditulis Norton Long.

“Dalam beberapa hal, surat kabar adalah penggerak utama dalam menentukan agenda daerah. Surat kabar memiliki andil besar dalam menentukan apa yang akan dibahas oleh sebagian besar orang, apa pendapat sebagian besar orang tentang fakta yang ada, dan apa yang dianggap sebagian orang sebagai cara untuk menangani masalah.”

Tentang kekuatan pers yang tidak bisa diremehkan juga pernah dinyatakan Bernard Cohen (1963). Ia menulis, “Surat kabar mungkin tidak sering berhasil memberi tahu orang apa yang harus dipikirkan, tetapi surat kabar luar biasa berhasil dalam memberi tahu pembacanya apa yang harus dipertimbangkan.”

Pengaruh media terhadap sikap masyarakat pernah dialami Seniman. Pada 2012 lalu, Seniman dikabarkan menerima aliran dana misterius sejumlah puluhan juta rupiah. Akibatnya, ia mendapatkan celaan dari orang-orang yang tak menyukai sepak terjangnya sejak lama.

“Yo pantes wae riko ngono… wong demo dibiayai (ya pantas Anda seperti itu… demonya dibiayai, kok),” ucap Seniman menirukan komentar orang-orang. Ia juga nyaris tak lagi dipercayai oleh sesama tokoh pergerakan di Urutsewu.

Di Kaibon Petangkuran, kalangan pemuda yang ikut dalam kegiatan persiapan acara 16 April 2014 tidak terpengaruh pemberitaan. Namun, berita-berita itu membuat warga takut berkomentar.

“Masyarakat jadi diam. Enggak mau komentar. Yah, mereka tetap menolak (perampasan tanah). Dampak dari berita itu, rata-rata diam karena mereka jadi bimbang. Sebenarnya berani, tapi ada ketakutan. Jadinya diam. Makanya kalau ada masalah, baru satu per satu ngobrol. Nunggu desa lain membicarakan kasus itu dulu,” tutur Muhlisin.

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana Teori Spiral Kesunyian bekerja di tataran masyarakat Urutsewu. Noelle Neumann (1973, 1980) menyatakan, media massa mempunyai dampak yang sangat kuat pada opini publik. Pada satu isu kontroversial, orang-orang membentuk kesan-kesan tentang distribusi opini. Mereka mencoba menentukan diri mereka sendiri, apakah di pihak mayoritas ataukah di pihak minoritas, kemudian melihat apakah opini publik sejalan dengan mereka. Apabila mereka merasa sebagai minoritas, mereka cenderung diam berkenaan dengan isu tersebut.

Media massa memainkan peran penting dalam Spiral Kesunyian karena diandalkan orang untuk menemukan distribusi opini publik. Media massa berpengaruh dalam tiga cara. Pertama, membentuk kesan tentang opini yang dominan. Kedua, membentuk kesan tentang opini mana yang sedang meningkat. Ketiga, membentuk kesan tentang opini mana yang dapat disampaikan di muka umum tanpa menjadi tersisih.

Kekuatan yang memotivasi untuk diam ini digambarkan sebagai ketakutan akan keterasingan. Namun, Lasorsa (1991) mempertanyakan apakah diam ini adalah bentuk ketakutan yang benar-benar mengakar kuat karena iklim opini yang berlawanan. Hasil analisis regresinya menunjukkan, keterbukaan politik tidak hanya dipengaruhi oleh iklim opini seperti dinyatakan oleh Noelle Neumann, tetapi juga dipengaruhi oleh variabel demografi (usia, pendidikan, dan penghasilan), tingkat persepsi atas kemampuan diri, perhatian pada informasi politik di media massa, dan keyakinan sesesorang atas posisinya. Lasorsa seolah menegaskan bahwa orang tidak benar-benar lemah menghadapi opini publik yang diciptakan media massa. Masih ada celah untuk mematahkan spiral kesunyian.

“Yah, kita tidak punya bekal untuk men-counter (pemberitaan) itu. Dalam hati kecil sebenarnya berpikir bahwa ini sakjane (sebenarnya) media punya sumber apa enggak. Kalau, toh, punya sumber, bertanggung jawab apa enggak? Nah, ketika kita bicara sumber dan pertanggungjawaban narasumbernya, kadang-kadang lemahlah kita. Lemahnya… ah, paling-paling nanti media mengelak. Sampai pada batasan-batasan itu, kita diam. Kita menganggap SM itu balung gede; kekuatan yang besar. Ngapain kita lawan? Ya, kita tetap melawan, tapi dengan diam sebagai bentuk politik itu karena kita tidak berdaya,” ungkap Seniman.

Seniman Martodikromo adalah salah satu petani yang mempunyai tingkat persepsi atas kemampuan dirinya dan keyakinan kuat atas posisinya. Ia bercerita bahwa sempat ada usaha untuk mengklarifikasi berita yang menyudutkan pergerakan rakyat Urutsewu ke Suara Merdeka pada 2012. Namun, ia tak tahu apakah itu dimuat atau tidak oleh SM.

Tidak adanya perlawanan terhadap pemberitaan Suara Merdeka yang merugikan disebabkan oleh sikap warga, terutama petani, sendiri berbeda-beda. Ada golongan petani yang kritis dan peduli; ada yang acuh, tetapi tidak mau kehilangan tanahnya; ada pula yang benar-benar tidak mau ambil pusing. Untuk golongan yang terakhir ini, menurut Seniman, “Dia ndak respons. Mengabaikan berita. ‘Yang penting saya bertani, saya beraktivitas.’ Menanam baginya menjadi salah satu media perlawanannya. Bertani adalah melawan. Melawan ketidakadilan. Melawan orang yang menyertifikatkan tanah saya menjadi tanah TNI.”

Sepuluh Mei lalu, Nurul mengunggah foto spanduk di laman Facebook-nya. Spanduk tersebut berbunyi, Pemilu/Wisata Setrojenar Aman. Terimakasih Warga Masyarakat Tidak Terprovokasi Berita Suara Merdeka dan Durna Modern Tentang Setrojenar. Ia menemukan spanduk-spanduk dengan tulisan tersebut di daerah Petanahan, Kebumen, dan di jalan menuju Kutowinangun, Kebumen. Beberapa temannya berkomentar, mereka juga mendapati banyak spanduk serupa belakangan ini, terutama setelah 16 April 2014.

Baik Seniman, Kepala Desa Setrojenar, maupun anggota Esbumus tidak tahu siapa pemasang spanduk tersebut. Menurut Imam Zuhdi, spanduk itu adalah bentuk solidaritas orang-orang yang peduli pada nasib petani di Urutsewu. Solidaritas yang merangkak diam-diam dalam kesenyapan di Urutsewu. Ia pun tidak menyebutkan siapa pihak di balik kampanye anti-Suara Merdeka tersebut. Baginya, yang terpenting, warga Setrojenar tidak termakan berita Suara Merdeka dan Durna modern. Durna merupakan tokoh wayang purwa yang memiliki sifat gemar mengadu domba. Di zaman modern ini, oknum-oknum seperti Durna ada di mana-mana. [ ]

4 Comments

  1. seks izle says:

    211629 299072Attractive portion of content material. I basically stumbled upon your weblog and in accession capital to assert that I get in fact loved account your weblog posts. Anyway I is going to be subscribing to your augment and even I success you get admission to constantly speedily. 251208

  2. seks izle says:

    605194 257531Hi there! I basically want to give a huge thumbs up for the very good data you can have appropriate here on this post. I will likely be coming once again to your weblog for far more soon. 192847

  3. I simply want to say I am just newbie to blogs and definitely enjoyed you’re web site. Almost certainly I’m want to bookmark your blog post . You certainly have terrific writings. Regards for sharing your web page.

  4. […] [Laporan Utama I] Propaganda Media dan Kesenyapan di Urutsewu […]