Profil Kooperasi Litera

Kooperasi Litera diprakarsai oleh Gerakan Literasi Indonesia (GLI) sebagai komitmen GLI akan kedaulatan bidang ekonomi guna melawan korporasi trans- dan multi-nasional yang kian kuat mencengkeram Indonesia. Secara struktural, Kooperasi Litera berdiri di dalam Biro Kedaulatan Ekonomi (BKE) GLI. Dengan semangat kedaulatan ekonomi itu, Kooperasi Litera menolak hibah atau funding yang selama ini lekat dengan citra koperasi, LSM, atau elemen gerakan dan komunitas pada umumnya.

Sesuai pola kebijakannya, Kooperasi Litera dijalankan berdasarkan tujuh prinsip yang diambil dari semangat awal berdirinya koperasi di Indonesia yaitu: azas kekeluargaan (gotong royong), keanggotaan sukarela dan berkeadilan, satu orang satu suara, pengembangan kesejahteraan anggota, penyelenggaraan usaha dalam lapangan perekonomian, usaha yang dijalankan adalah dari, oleh, dan untuk anggota, dan pendidikan anggota ke arah kesadaran berkooperasi.

Setiap anggota Kooperasi Litera diwajibkan mengikuti pendidikan berkooperasi dengan beberapa bacaan wajib anggota, yaitu: Menindjau Masalah Kooperasi (Mohammad Hatta), Peranan Kooperasi Dewasa Ini (Dipa Nusantara Aidit), Persoalan Ekonomi Sosialis Indonesia (Mohammad Hatta), Sekilas Nahdlatut Tujjar (Jarkom Fatwa (tim)), dan Kooperasi Media dan Media Kooperasi (Dave Boyle). Selain itu, setiap anggota juga wajib mengikuti materi ke-GLI-an, seperti Serial Diskusi Kedaulatan 1 dan 2 yang diinisiasi oleh Biro Penelitian dan Publikasi (Biro Litbup) GLI.

Kooperasi Litera diwujudkan, salah satunya, untuk mewujudkan media berbasis kooperasi. Ini menjadi jawaban atas berlangsungnya praktik oligarki dan konglomerasi media massa kita sekaligus mewujudkan kedaulatan pembaca atas media yang akhir-akhir ini menjajahnya. Di sinilah Kooperasi Litera sebagai bagian dari GLI memainkan peran penting dalam mencari bentuk alternatif dari skema keuangan Media Literasi/Media Kooperasi GLI yang akan segera diluncurkan pada 2014. Dalam Media Kooperasi, setiap anggota Kooperasi Litera memiliki hak untuk menentukan wacana, isu, dan berita yang hendak digulirkan di media tersebut. Bahkan, setiap anggota Kooperasi Litera memiliki hak untuk masuk dalam rapat redaktur untuk bersuara dan memantau ruang redaktur, hal yang selama ini dikeluhkan banyak jurnalis Indonesia.

Selain menyelenggarakan aktivitas kooperasi pada umumnya yang bertujuan untuk menyejahterakan seluruh anggota, Kooperasi Litera berkomitmen untuk menyisihkan sejumlah keuntungan kooperasi bagi tumbuh-kembangnya GLI. Kontribusi itu sebagai perwujudan peranan kooperasi sebagai gerakan sosial di samping sebagai gerakan ekonomi.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Kooperasi Litera dan Media Kooperasi GLI hubungi: email: geliterasi@gmail.com Laman Facebook GLI: Gerakan Literasi Indonesia; Group Facebook: Gerakan Literasi Indonesia; dan Twitter: @GeLiterasi.