Soekarno dan Dasi Aidit
Apr 14, 2016
Agama dan Seni Perlawanan Rakyat Urutsewu
Apr 17, 2016

Peringatan Lima Tahun Tragedi Setrojenar dan Orasi Politik Inayah Wahid

Foto: Muhammad Muslich

Foto: Muhammad Muslich

Foto: Muhammad Muslich

Lima tahun pasca meletusnya tragedi berdarah di Lapangan Setrojenar, Kecamatan Bulus Pesantren, Kabupaten Kebumen, para petani Urutsewu menyelenggarakan rangkaian acara peringatan. Para petani, alim-ulama, perangkat desa, dan pemuda-pemudi di tiga kecamatan (Ambal, Mirit, dan Bulus Pesantren) berduyun-duyun menghadiri Mujahad Yasin dan Tahlil Kubro bersama dan berpartisipasi dalam peringatan tragedi berdarah itu di Lapangan Setrojenar. Di luar warga Urutsewu dan pejabat pemerintah, aktivis agraria, mahasiswa, hingga tamu undangan turut mengikuti rangkaian acara ini. Spanduk dengan tulisan “Tolak Pemagaran dan sertifikasi oleh TNI di tanah warga!”, “Kami cinta NKRI, Kami cinta TNI, tapi kami wajib melawan KETIDAKADILAN,” dan “Warga Urutsewu rindu Kedamaian dan TNI yang melindungi, menghargai, dan menghormati hak-hak rakyat!” terpasang di sekitar teratak yang dipasang oleh warga di lokasi acara.

Perampasan tanah milik warga Urutsewu secara sepihak oleh Kodam IV Diponegoro dan kegigihan warga yang mendiami wilayah sepanjang 22,5 km dari Kali Luk Ulo hingga Kali Wawar pada 16 April 2011 lalu berujung dengan ditembaknya 6 petani, 14 orang luka-luka, dan 12 sepeda motor dirusak. Pasca tragedi Setrojenar tersebut, setiap tahun rakyat Urutsewu menggelar acara peringatan di lapangan Setrojenar. Tempat penyelenggaraan acara ini persis berhadapan dengan kantor Dinas Litbang Kodam IV Diponegoro yang juga didirikan secara sepihak di atas tanah rakyat tersebut.

Dimulai dengan mujahad Yasin dan tahlil kubro, acara peringatan ini diramaikan dengan arak-arakan gunungan berupa hasil pertanian dari lahan konflik, orasi politik, aksi teatrikal, dan pertunjukan wayang hasil kreasi rakyat Urutsewu sendiri. Selain Romo Kyai Seniman Martodikromo (ketua FPPKS) dan Widodo Sunu Nugroho (Ketua USB), Inayah Wahid (putri bungsu Gusdur atau Abdurrahman Wahid) juga menyampaikan orasi politik dalam peringatan 5 tahun tragedi Setrojenar. Acara ini ditutup dengan doa bersama dan itikad rakyat Urutsewu untuk memperjuangkan hak mereka atas lahan sepanjang 22,5 kilometer di sepanjang pantai Kecamatan Ambal, Mirit, dan Bulus Pesantren.

Pertunjukan Kesenian dan Orasi Politik Rakyat urutsewu

Peringatan 5 tahun tragedi Setrojenar kali ini punya warna berbeda dibandingkan peringatan-peringatan sebelumnya. Selain acara doa bersama, dua macam kreasi kesenian baru dihadirkan untuk memeriahkan peringatan ini. Pertama adalah aksi teatrikal yang skenarionya disiapkan sendiri oleh warga Urutsewu bersama Kepala Desa Wiromartan yang sekaligus menjadi Ketua USB, Widodo Sunu Nugroho. Gamelan dengan para penabuh (wiyaga) dari penduduk desa Wiromartan sendiri mengiringi aksi teatrikal yang dilakukan oleh mahasiswa dari Yogya dan Purwokerto. Naskah cerita berbahasa Jawa itu mendapatkan respon meriah dari penonton karena tema dan bahasa yang digunakan adalah hal-hal yang sangat dekat dengan warga Urutsewu.

Pertunjukan kesenian lain yang menarik perhatian warga adalah pertunjukan “Wayang Dalang-Dalangan” dengan lakon “Semar Mbangun Kahyangan”. Kyai Imam Zuhdi, ulama kharismatis dari Setrojenar yang sehari-harinya mengurus pesantren dan pengajian, bertindak sebagai dalang dalam pertunjukan wayang. Lakon “Semar Mbangun Kahyangan” ini, menurut Romo Kiai Imam Zuhdi adalah simbol dari rakyat yang bekerja keras mengingatkan pemimpin yang sudah lupa dari mana mereka berasal. Bukan hanya mengingatkan, Semar yang menjadi simbol dari rakyat ini juga menuntut para pemimpinnya untuk memiliki sifat pemberani dalam membela hak-hak rakyat yang tertindas. Akhirnya, dengan kekuatan rakyat dan pemimpin yang pemberani, Semar membangun kahyangan yang bisa menjadi tempat tinggal nyaman bagi semua pihak.

Selaku tuan rumah Peringatan 5 Tahun Tragedi Setrojenar, dalam sambutannya Kepala Desa Setrojenar menyerukan kepada aparat pemerintah dari level terendah hingga tertinggi untuk sejak sekarang bersikap berani dalam membela kepentingan rakyat.

“Kami menyerukan pada semua pejabat pemerintah untuk memiliki watak berani. Berani membela rakyat. Berani memposisikan dirinya bersama rakyat ketika rakyat kita sedang dilibat masalah.”

Selain menyerukan kepada pemimpin untuk secara tegas berani membela  rakyat, Kepala Desa ini juga menagih janji Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk menyelesaikan konflik lahan di Urutsewu 40 hari pasca dibentuknya tim Mediasi.

Sementara itu, dalam orasi politiknya, Romo Kiai Seniman Martodikromo mengajak rakyat Urutsewu untuk berani berbicara kebenaran tentang sejarah dan hak mereka atas tanah Urutsewu. Ikhtiar seperti bertemu dengan Presiden Joko Widodo, melakukan audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, BPN, dan berbagai pihak telah ditempuh agar tanah yang dirampas oleh Kodam IV Diponegoro bisa dikembalikan pada mereka. Dalam pandangannya, persoalan Urutsewu akan mudah diselesaikan oleh pihak-pihak terkait kalau saja mereka tidak mempersulit persoalan yang mudah.

Dalam peringatan 5 tahun tragedi Setrojenar kali ini, rakyat Urutsewu mengundang Inayah Wahid untuk berjuang bersama mereka dalam menuntaskan kasus perampasan tanah ini. Dalam orasi politiknya, Puteri bungsu Gusdur ini menyatakan secara tegas bahwa lahan yang lokasinya berada di tiga Kecamatan di pesisir Urutsewu adalah hak warga Urutsewu. Ia menyerukan kepada seluruh pihak untuk menempatkan hak warga Urutsewu di atas berbagai kepentingan lainnya. Rakyat kecil di desa-desa yang sebagian besar warga Nahdliyyin sudah bosan ditindas dan dipinggirkan terus-menerus. Namun kelelahan karena lama ditindas tak boleh membuat rakyat Urutsewu berhenti memperjuangkan hak-hak mereka. Puteri Bungsu Gusdur tersebut meneladani sikap Sang Ayah yang juga menjadi presiden Indonesia ke-4.

“Kami, anak-anak Gusdur, selalu mengingat apa yang ia lakukan berkenaan dengan rakyat yang tertindas atau terpinggirkan. Gusdur selalu mendampingi kaum marginal dan rakyat yang sedang berjuang melawan pihak-pihak yang mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan. Itu sebabnya, meski pun yang bisa mengatasi persoalan ini adalah kalian sendiri, namun saya akan berjuang semampu mungkin agar persoalan ini cepat selesai”.

Dalam menanggapi sambuatan Camat Bulus Pesantren yang menginformasikan berbagai program kesejahteraan dan pemberantasan kemiskinan tanpa sedikit pun menyinggung persoalan lahan yang tengah dihadapi rakyat Urutsewu, Inayah Wahid berkomentar tegas.

“Kita tidak bisa berbicara tentang kesejahteraan dan pemberantasan kemiskinan kalau lahan yang menjadi tumpuan hidup petani justru dirampas oleh aparat keamanan. Sebelum bicara tentang kemiskinan dan kesejahteraan, aparat pemerintah harusnya mengembalikan terlebih dahulu hak-hak warga,” ujar Inayah Wahid tegas.

Janji Palsu Ganjar Pranowo

Sebagaimana disampaikan Kepala Desa Setrojenar dan Romo Kiai Seniman Martodikromo, terkatung-katungnya persoalan lahan di Urutsewu karena para pemimpin dari tingkat terendah hingga tertinggi tak memiliki keberanian dan sikap tegas dalam membela rakyat. Pembentukan tim mediasi pada 14 September 2015 sebagai tindak-lanjut pertemuan Gubernur Ganjar Pranowo dan perwakilan petani dan warga Urutsewu tak menjadi solusi yang tepat. Di awal pembentukannya, tim ahli dijadwalkan menjalankan misinya selama 40 hari bekerja sejak dibentuk 14 September lalu. Sejumlah ahli, terutama di bidang pertanahan dan hukum, dengan diketuai Profesor Indra Bastian, dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta telah ditunjuk oleh Pemkab Kebumen untuk memediasi perampasan lahan warga Urutsewu oleh pihak TNI. Tim ini akan melakukan verifikasi terhadap bukti surat yang disampaikan warga maupun Mabes TNI AD.

Sayangnya, janji tinggal janji. Menurut Koordinator FPPKS, Romo Kiai Seniman Martodikromo, pihak tim mediasi terus mengundur-undur janji untuk menyampaikan hasil temuannya. Sejak 14 September 2015, mereka telah menunda pelaporan kerjanya sebanyak empat kali. Gubernur Ganjar Pranowo selaku pengusul pertama ide ini tak memberikan respon sama sekali atas kinerja tim mediasi yang buruk. Kini, 5 tahun pasca tragedi berdarah pada 16 April 2011 silam, rakyat Urutsewu terus mencari pemimpin rakyat yang memiliki keberanian untuk memutus rantai setan persoalan yang memasung hak-hak mereka.[]

Dwi Cipta
Dwi Cipta
Penulis cerita dan esai. Belajar menulis dan menerjemah secara otodidak. Kini sedang belajar di dunia penerbitan dengan ikut mendirikan dan menakhodai Literasi Press.

Comments are closed.