Risiko Sistemik dan DP0%
Feb 23, 2017
Negara, Adat dan Pendisiplinan Ulayat Nagari Sumatera Barat
Mar 18, 2017

Pengalaman, Posisionalitas dan Kekuasaan

Ilustrasi oleh Moh. Dzikri Hendika

Ilustrasi oleh Moh. Dzikri Hendika

Ilustrasi oleh Moh. Dzikri Hendika

(Ulasan Buku Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial karya Katrin Bandel)

A Modern Tale of Two Brothers. Begitulah Guardian memberi sub-judul untuk menggambarkan kakak beradik, Shaun dan Lee, yang mengambil jalan hidup berbeda: Shaun mualaf dan berganti nama menjadi Abdul, sedangkan Lee berkeliling Inggris untuk ikut reli anti-muslim. Keduanya tetap berhubungan, berusaha menghormati pilihan masing-masing, dan tetap merasa menjadi saudara karena, ujar Abdul, “darah lebih kental daripada air”. Namun, perbedaan jalan hidup keduanya bukan berarti tidak membawa masalah, paling tidak secara psikis. “I wasn’t expecting this,” ujar Lee. “It’s not something you’d expect a white man to do.” Kalau kau orang kulit putih, tidak sewajarnya kau menjadi muslim. “It’s like you’re going backwards,” kata Lee saat menyaksikan kawan-kawan muslim Abdul makan pakai tangan.

Going backwards. Masuk Islam berarti memilih peradaban terbelakang. Begitulah anggapan banyak orang Eropa kulit putih, terutama yang secara politik berafiliasi dengan sayap kanan – yang pengaruhnya di Eropa cukup mengkhawatirkan, khususnya di Zaman Donald Trump sekarang ini. Namun, situasi di Eropa lebih baik dibandingkan di AS, kata Erdward Said dalam pengantar Twenty-Fifth Anniversary untuk bukunya Orientalism, dalam hal pemahaman umum mengenai Timur Tengah [atau Barat Tengah], Arab, dan Islam. Nyatanya ribuan orang Eropa masuk Islam setiap tahun karena berbagai alasan.

Singkatnya, kita melihat Islam direpresentasikan sebagai peradaban terbelakang, agama teroris, dan kekuasaan politiknya dianggap tidak demokratis; di sisi lain, Islam menarik simpati dari ribuan, bahkan jutaan, orang sehingga jumlah mualaf di Eropa, dan Barat secara umum, terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam konteks seperti itu, tidak mengherankan bila masuk Islam menjadi ‘sensasi’ tersendiri, melahirkan pengalaman-pengalaman unik, dan membuat orang berefleksi tentang posisi dan identitasnya.

Begitulah yang terjadi pada Katrin Bandel. Buku terbarunya, Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial (2016), memang tidak hanya membicarakan pengalaman mualafnya. Namun, kalau kita bandingkan dengan dua buku Katrin yang telah diterbitkan sebelumnya [Sastra, Perempuan, Seks (2006) dan Sastra Nasionalisme Pascakolonitas (2013)], Kajian Gender lebih banyak mengungkapkan sisi pribadi penulisnya, lebih berani secara terbuka menyatakan pentingnya pengalaman dalam analisis dan, dalam istilah Katrin sendiri, menekankan pentingnya ‘posisionalitas’.

Insider dan/atau Outsider

Pengalaman dan posisionalitas adalah dua istilah penting yang kita temukan dalam jenis kajian yang dieksplorasi Katrin sejak buku pertamanya: feminisme dan pascakolonialisme. Kedua kajian itu memang dianggap punya kesejajaran dalam tahap-tahap eksplorasi analitisnya. Keduanya berangkat dari kritik atas representasi [feminisme -> perempuan oleh laki-laki; pascakolonialisme -> masyarakat terjajah oleh penjajah], kemudian berupaya untuk eksplorasi diri dan bersuara atas nama diri sendiri [feminisme -> eksplorasi perempuan oleh perempuan; pascakolonialisme -> masyarakat terjajah bicara dirinya sendiri], dan sering terbagi ke dalam dua kategori [teoretis & praktis] yang saling memengaruhi. Di titik ‘eksplorasi diri’, kajian feminis bahkan dianggap memberi sumbangan penting terkait dengan posisi peneliti dan yang-diteliti. Dalam eksplorasinya mengenai Insider/Outsider Research, Linda Tuhiwai Smith menyebutkan bahwa kajian feminis – bersama pendekatan kritis lainnya – “telah membuat metodologi insider jauh lebih diterima dalam penelitian kualitatif.” Sebelumnya, seorang peneliti mesti outsider agar ‘kemurnian’ objektivitasnya terjaga. Kini, seperti kita tahu, pengalaman – dan hasrat – justru dianggap modal berharga saat orang mau meneliti sesuatu.

Persoalan penting terkait dengan penelitian insider, lanjut Smith, adalah “kebutuhan untuk terus-menerus berefleksi”. Tentu saja baik peneliti outsider maupun insider perlu berpikir kritis, mempertimbangkan hubungan mereka dengan yang-diteliti, serta kualitas dan kekayaan data dan analisisnya. Akan tetapi, peneliti – dan penulis – insider harus hidup dengan konsekuensi-konsekuensi dari proses penelitiannya, juga hasil penelitiannya, baik terhadap diri mereka sendiri maupun keluarga dan masyarakatnya.

Hasil refleksi Smith itulah yang muncul dalam benak saya ketika membaca eksplorasi dan analisis Katrin dalam Kajian Gender. Kecenderungan Katrin untuk lebih menekankan pengalaman dan posisionalitas sudah mulai kuat di buku keduanya, dan kini terlihat lebih kentara, dan bahkan terasa cukup dominan, dengan hadirnya cerita pengalaman pribadi di hampir semua tulisannya. Katrin tampak ingin menekankan, dan meyakinkan pembaca, bahwa apa yang ditulisnya merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, setidaknya bagi Katrin sendiri. Di level isu, khususnya wacana kolonial terkait gender, Katrin menunjukkan bahwa meski kita hidup di era globalisasi, dalam keseharian kita menghadapi – mengamini atau melawan – berbagai kepercayaan yang telah dipupuk bersama dengan penjajahan – moralitas seks, sejarah yang linear, Barat yang lebih maju, dll. Dengan kata lain, penjajahan belum berakhir. Atau, kita, sebagai masyarakat (bekas) terjajah, tidak mungkin bisa begitu saja mengabaikan sejarah keterjajahan kita.

Dibandingkan dua buku Katrin sebelumnya, yang sangat kuat karena kemampuan argumentasi Katrin yang mengagumkan, Kajian Gender membawa satu kekuatan lain: kehidupan pribadi Katrin sendiri. Perjalanan Katrin dari buku pertama hingga ketiga mungkin bisa dirangkum sebagai perjalanan dari outsider researcher yang simpatik menjadi insider researcher yang penuh gejolak-diri, dari resah dan kagum jadi terhanyut, dari mempertaruhkan karier akademis [bagian dari pemerhati Indonesia yang memilih menulis dalam bahasa Indonesia dan menyapa langsung pembaca Indonesia] sampai mempertaruhkan kehidupannya sendiri [lebih memilih hidup di Indonesia, mualaf].

Esai sebagai Wahana

Dengan semangat posisionalitas semacam itu, esai, seperti dibilang sendiri oleh Katrin di buku keduanya, merupakan genre tulisan yang paling cocok dipakai. Bagi Katrin, “salah satu unsur terpenting dalam penulisan esai adalah memposisikan diri.” Dalam arti: ”berpendapat”, yaitu “mengekspresikan pandangan atau penilaian mengenai permasalahan tertentu.” Katrin menyatakan lebih lanjut bahwa pengalamannya semakin ia kaitkan dengan relasi kekuasaan global. Di Kajian Gender, kecenderungan itu tetap hadir, dengan penekanan ‘relasi kekuasaan global’ pada ‘wacana kolonial’ – bukan, misalnya, neoliberalisme atau kapitalisme global, meski Katrin juga menyinggungnya singkat. Esai, khususnya pada abad ke-19, lewat tulisan-tulisan dari, misalnya, Ralph Waldo Emerson, tidak berfungsi utama sebagai penyampai informasi, tetapi untuk membangkitkan emosi, perasaan, dan tanggapan melalui provokasi. Dengan kata lain, esai menunjukkan apa yang penting dalam hidup kita. Namun, Katrin memperlakukan esai dengan sedikit berbeda: ia ingin menunjukkan bahwa pengalaman pribadi selalu terkait dengan sesuatu yang lebih besar – dan ia justru mengeksplisitkan perangkat teoretisnya dalam tulisan-tulisan di Kajian Gender. Esai dijadikan wahana untuk menunjukkan diri Katrin sebagai perempuan, muslim, bule Eropa, dan akademisi sekaligus.

Sebagai konsekuensi dari pilihan genre tulisan seperti itu, judul buku Katrin Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial mungkin sedikit mengecoh. Sebagian orang mungkin berharap mendapatkan pembahasan yang ketat mengenai metodologi, atau setidaknya paparan yang komprehensif tentang segala isu terkait gender dan pascakolonialitas. (Katrin sudah membuat pengakuan dalam kata pengantarnya bahwa bukunya “sama sekali belum sistematis dan menyeluruh” dalam menghadirkan perspektif pascakolonial dalam kaitannya dengan kajian gender). Namun, bagi saya, dalam konteks pascakolonial, esai-esai Katrin tetap memberi sumbangan yang sangat berharga. Saya ingin memberi satu contoh untuk menerangkannya.

Profesi utama saya adalah penerjemah. Dalam beberapa tahun terakhir, saya sering menerjemahkan laporan LSM dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Setiap LSM punya isu yang beragam, dari kemiskinan hingga demokrasi. Akan tetapi, hampir semua laporan LSM menyinggung persoalan gender, atau setidaknya perempuan. Umumnya, setiap laporan LSM menyentuh keterlibatan perempuan dalam aktivitas-aktivitasnya, dan punya nada mendukung emansipasi perempuan– setidaknya dalam hal suara dan keterlibatan. Di sisi lain, tidak sedikit saya temukan pernyataan-pernyataan yang terlalu terburu-buru, seperti praktik pemberian mahar dianggap sebagai jual-beli perempuan; Islam sebagai sumber patriarki; masyarakat desa harus dimajukan cara berpikirnya; cara hidup masyarakat kampung jauh dari higienis. Dengan kata lain, terlepas dari segala maksud baik yang dimiliki LSM dan orang-orang yang bergiat di dalamnya, ada banyak kepercayaan terkait gender dan kemajuan yang bagi saya bermasalah.

Dalam konteks itulah buku Katrin menjadi pengingat. Kajian Gender membantu kita untuk mengurai kompleksitas isu-isu yang sudah terlanjur kita percayai akar masalah dan jalan keluarnya. Katrin membantu kita menggoncang kepercayaan kita sendiri. Bentuk esai, yang membolehkan hadirnya pendapat pribadi, memungkinkan Katrin memadukan pengalaman, perangkat teoretis, dan argumentasi kuat sekaligus. Kajian Gender adalah buku yang akan kita butuhkan saat mau menulis metodologi kajian gender atau dekolonisasi metodologi kajian gender dalam konteks pascakolonial, khususnya Indonesia.

Islam dalam Konteks Eropa vs Konteks Kampung Saya

Pengalaman tidak bisa dibantah. Ia hanya bisa dirasakan. Saat pengalaman diutarakan atau dituliskan atau coba dipahami, ia masuk ke dalam kekuasaan bahasa. Dan karenanya bisa didiskusikan. Cara kita memaknai pengalaman memberi petunjuk pada apa yang penting bagi kita, sekaligus struktur apa yang membentuk subjektivitas kita. Dan, dengan merujuk pada sesuatu yang lain – khususnya struktur kekuasaan –  kita sedang bicara soal bagaimana kita memposisikan diri atau diposisikan.

Katrin paham betul peliknya posisionalitas. Ia menyadari bahwa berbicara dari posisi tertentu seringkali bukan opsi yang bisa dipilih. Dengan kata lain, proses identifikasi diri dan pengalaman dengan wacana tertentu, dengan kekuasaan struktur tertentu, dengan sendirinya menunjukkan posisionalitas. Pilihan, atau kecenderungan kuat, Katrin untuk selalu menautkan diri dengan relasi kekuasaan global, khususnya wacana kolonial dan modernitas, tentu disadarinya, bahkan dieksplorasinya. Katrin mengaitkan pilihan untuk menautkan pengalaman dengan wacana kolonial dan modernitas sebagai bagian dari gerakan sosial. Mengutip Judith Butler, Katrin berusaha untuk melakukan analisis “genealogi kritis terhadap praktik-praktik dalam medan” kekuasaan kontemporer. Dalam kata-kata Katrin sendiri, ia berharap untuk bisa “membangun kesadaran akan sejarah konsep gender yang membentuk pengalaman dan posisi diri kita.” Untuk apa? Agar kita bisa “menghindari esensialisme” dan dengan punya kesadaran, kita akan menemukan “kemungkinan untuk mengubah atau menegosiasikan konstruk-konstruk yang ada.”

Saya sangat setuju dengan pendapat dan proyek politik Katrin. Namun, di saat bersamaan, saat membaca beberapa bagian dari pengalaman dan refleksi Katrin, saya merasa ada jarak, ada banyak hal yang tidak saya rasakan urgency-nya bagi diri saya sendiri. Saya merasakan kegelisahan yang serupa terkait wacana kolonial, khususnya soal kemajuan dan seksualitas tetapi, dalam beberapa bagian refleksi, seperti identitas keislamannya di Eropa dan pembelaannya atas Islam terkait dengan seksualitas, saya merasa mendengarkan sebuah dongeng modern, seperti kisah Shaun/Abdul dan Lee seperti saya utarakan di atas. Dongeng yang tidak saya alami. Di titik itu, saya merasa punya posisi berbeda dari Katrin.

Saya menduga perasaan berbeda itu disebabkan oleh dua hal. Pertama, perbedaan latar belakang. Saya besar di sebuah desa yang semua orangnya beragama Islam sekaligus mempraktikkan ritual yang tidak diajarkan dan mungkin bertentangan dengan Islam, seperti perdukunan, kenduren, nonjok, dll. Semua ritual itu berisi doa yang ditujukan kepada nenek moyang dan dewa-dewi penjaga kampung. Saat ini, praktik-praktik semacam itu sudah jauh berkurang, baik dalam jumlah ritual maupun jumlah peserta ritual, karena dianggap tidak islami dan uniknya juga dianggap tidak modern atau kekinian. Jadi, di desa saya, Islam disejajarkan dengan ‘modernitas’, bukan dipertentangkan. Monoteisme dianggap lebih maju daripada animisme dan dinamisme serta kepercayaan pada danyang atau dewa-dewi. Kalau secara global – mungkin lebih tepatnya Eropa dan Amerika Serikat – menjadi muslim dianggap mundur ke belakang, di kampung saya, menjadi muslim justru sebaliknya. Kalau kau tidak ikut arus menjadi muslim yang taat, berarti kau kolot karena masih percaya dengan dewa-dewi dan perdukunan. Berarti kau belum mendapat hidayah.

Seiring dengan itu, status haji/hajah semakin dihargai tinggi. Dan setiap acara hajatan selalu diisi dengan tausiyah. Sebagian besar, meski tidak semua, penggiat apa yang bisa kita sebut ‘reformasi desa menjadi lebih islami’ tersebut adalah orang-orang yang secara ekonomi sudah mapan. Di sisi lain, saya cenderung menikmati bergaul dengan kawan-kawan kampung yang suka mabuk-mabukan, yang jarang ke masjid, yang hampir tidak pernah jumatan, yang sebagian besar berasal dari kelas ekonomi rendah. Setelah puluhan atau mungkin bahkan ratusan kali ngobrol sambil mabuk dengan kawan-kawan baik saya yang kurang islami itu, saya menemukan adanya rasa frustrasi, inferior, dan mental self-defeating. Jadi, setidaknya bagi saya dalam konteks kehidupan kampung, menjadi muslim yang taat terkait erat dengan kelas ekonomi. Kalau kau sudah berkecukupan, saatnya kau berpikir tentang akhirat. Begitulah tuntutannya: jadilah kaya dan pikirkan kehidupan setelah kematian.

Kedua, perbedaan struktur kekuasaan yang dijadikan acuan dalam membicarakan pengalaman. Katrin menautkan pengalaman pribadinya menjadi muslim dengan wacana kolonial dan relasi kekuasaan global saat ini. Saya, sebagai orang desa yang tidak islami, pertama-tama justru berhadapan dengan tuntutan ‘menjadi islam yang baik’, lebih tepatnya muslim yang taat, yang tidak neko-neko. Saya juga berurusan langsung dengan kekuasaan negara dengan segala institusinya yang mengatur siapa yang bisa saya jadikan istri.

Kekuatan, Batas, dan Ketidakterbatasan Pengalaman

Perbedaan mengalami Islam antara saya dan Katrin tersebut membuat saya menerka batas-batas pemaknaan yang secara inheren dibangun oleh sebuah pengalaman. Mungkin benar adanya bahwa meningkatnya kesalehan formal di kampung saya terkait dengan penindasan Islam di level global, bahwa perhatian yang cenderung eksesif pada ketaatan beragama itu merupakan reaksi nativis dari relasi kekuasaan global yang timpang.  Efek lainnya, beragama tampak semakin fokus pada pemaknaan harafiah dari kitab suci dan aturan-aturan, untuk kemudian menekankan moral, tetapi melupakan level spiritual,  level di mana beragama berarti ajakan untuk merangkul misteri Tuhan. Bagaimanapun, secara praktis, yang pertama-tama harus saya hadapi bukanlah wacana global, tetapi struktur kekuasaan yang hidup dalam masyarakat lokal/nasional. Struktur kekuasaan lokal seperti itulah, bersama dengan institusi-institusinya, yang menurut saya kurang mendapat perhatian dari Kajian Gender.

Menghadirkan pengalaman dan menyadari posisionalitas akan memberi kekuatan evokatif pada sebuah kajian. Di sisi lain, keduanya juga mungkin merangkai batas pemahaman kita atas suatu persoalan. ‘Batas’ dalam artian negatif maupun positif. Negatif, semacam keharusan untuk terlibat langsung agar paham, lahirnya pemahaman yang begitu berbeda atas realitas dari satu orang dan orang lain. Menghadirkan pengalaman bisa jadi juga merupakan bentuk perlindungan diri, usaha untuk menyensor apa yang tidak ingin dikatakan (“narrative coherence is self-protective,” kata Adam Phillips). Positif, membuat kita rendah hati untuk berani mengatakan tidak tahu dan tidak paham.

Membaca pengalaman-pengalaman Katrin dalam Kajian Gender membuat saya bertanya-tanya: apakah saya berani dan mampu menautkan pengalaman hidup pribadi untuk saya refleksikan dan saya jadikan bagian dari sebuah penelitian? Apakah pengalaman pribadi saya penting dan layak dibaca orang? Kemanakah refleksi pengalaman hidup akan membawa saya? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa saya jawab, tetapi justru meyakinkan saya bahwa Katrin telah berusaha keras untuk bisa merefleksikan pengalaman hidupnya sendiri dalam Kajian Gender; menghadirkan pengalaman yang direfleksikan bukan hanya soal kemampuan untuk menautkan diri dengan sesuatu yang lebih besar, tetapi juga soal keberanian dan eksperimen diri – yang pertaruhannya cukup besar. Kita terhanyut dan tidak tahu akan bermuara di mana…

*Esai ini adalah versi revisi dari ulasan yang dipresentasikan di acara Bedah Buku Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial yang diadakan oleh Anjani, 28 Februari 2017, di Ruang Palma, Universitas Sanata Dharma.

wahmuji
wahmuji
Alumnus S2 Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma. Ia bersama teman-temannya mengelola Media Sastra Online dan Warung Kopi Lidahibu.

Comments are closed.