Pengakuan Seorang Mantan Petani

Ilustrasi oleh Moch Dzikri

Disebuah Negri di Desa terpencil terlihat hamparan kehijauan dengan udara jernih yang rimbun dengan pepohonan dan gunung yang menjulang tinggi. Dengan masyarakat yang begitu ramah dan sederhana. Sederhana dalam busana yang mereka kenakan, juga sederhana dalam pemikiran serta mimpi-mimpinya.

Tidak ada yang lebih baik dari yang namanya kehidupan dibanding dengan sebuah kematian. Begitu aku menyakinininya dengan segala kesadaranku. Bahkan, begitu yang dikatakan guru ngajiku dulu sewaktu aku masih duduk dibangku kelas dua SD. Karena yang paling menyedihkan adalah ditingalkan dibandingkan meninggalkan.

Amaq Molah. Begitu orang kebanyakan memanggilku. Pekerjaanku sehari-hari adalah seorang buruh tani di Desa tempat tinggalku, aku menikmati segala kesibukan yang kujalani sehari-hari, bangun dipagi buta berlomba dengan seekor ayam jantan. Kalau telat sedikit saja, maka lima piring nasi akan terlewat begitu saja. Tidak ada keahlian lain yang bisa kulakukan selain memegang pancul, sabit serta cara bercocok tanam. Bahkan, aku mengibaratkan, apa yang sedang kutanam kuanggap adalah anak kandungku. Sebelum menanam bibit atau benihnya, aku seringkali mengajaknya ngobrol layaknya petuah seorang bapak kepada anaknya yang akan pergi jauh meninggalkan keluarga untuk menuntut ilmu. Menyaksikan pertumbuhannya sedari bibit sampai menghasilkan buah, masa panen adalah suatu kebahagiaan yang tidak bisa atau belum ada kata yang bisa mewakili perasaan seorang petani atau buruh kecil sepertiku. Kalaupun ada, aku yakin para Dewa masih merahasiakannya.

Ilustrasi oleh Moch Dzikri

Ilustrasi oleh Moch Dzikri

Hutan serta alam di Desa tempat tinggalku ini adalah pemandangan terbaik di Pulau ku. Tempat rekreasi dan liburan melepas penat bersama keluarga adalah pilihan yang tepat. Bahkan, masyarakat menyakini bahwa, kalau sudah berlibur ke pantai-pantai di kawasan Desa ku ini akan membawa hubungan yang tadinya bermasalah akan menjadi bahagia, yang tadinya bakal cerai akan melupakan niat berpisahnya, yang tadinya masih sendiri akan segera mendapatkan pasangan. Begitulah, alasan satu-satunya masyarakat karena suasana yang ditawarkan adalah ketenangan serta kedamaian yang tiada tara. Kalau tidak percaya, datanglah bersama sang kekasih. Maka bisa aku pastikan, sepulang dari sana, kau akan langsung datang kerumahnya dan meminta kepada orang tua pasanganmu untuk segera diresmikan didepan penghulu.

Namun cerita itu kini hanya tinggal kenangan serta mitos yang hanya bisa diceritakan kepada anak dan cucuku. Pantai-pantai yang dulu begitu asri dan nyaman kini sudah tiada lagi, beberapa pejabat yang kami pilih dulu telah berkhianat. Berkhianat kepada kami sang pemilik pantai-pantai serta tempat berlibur bersama keluarga kami.

Kini yang terjadi malah sebaliknya, pasangan yang tadinya harmonis tidak lagi bahagia, seorang bujang yang tadinya berniat melamar kekasihnya gagal kepenghulu, keluarga yang tadinya adem ayem kini tercerai berai. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan karena pemerintah yang dulu kami anggap sebagai Dewa telah melacurkan diri pada para Kapitalisme, bersenggama dengan feodalisme dan beronani bersama Imperialisme.

Ladang serta sawah tempat bercocok tanam kini telah berubah fungsi, kehidupanku sebagai buruh tani telah dirampas sekenaknya oleh mereka yang mendaku diri akan membawa perubahan, masyarakat yang hidup di Desaku kini mulai berubah, dari gaya hidup sampai gaya bicaranya. Ladang dan sawah berdiri pabrik-pabrik, pantai-pantai berdiri hotel dan penginapan. Hutan disapu menjadi taman, bukit-bukitnya pun tak kalah perubahan. Keramahan masyarakat yang dulu begitu kurasakan sehari-hari telah berubah menjadi kesibukan-kesibukan tak beraturan. Perempuan pirang lalu lalang dengan berbusana You Can See memamerkan segala bentuk yang dulunya sangat sulit terlihat kini seperti jajanan pasar buah di acara Agustusan.

Hukum adat serta agama kini hanya sebatas simbol. Sebagian tokoh juga ikut serta melacurkan diri sebagai pengawas. Parahnya lagi, mereka yang diangap para tokoh juga ikut serta menjajakan lahan-lahan yang dulu menjadi milik masyarakat umum sebagai tempat rekreasi bersama keluarganya itu kini tidak lagi gratis, mau berlibur harus siapkan beberapa puluh ribu untuk membayar tiket masuk! Masyarakat kalangan menengah kebawah dipastikan tidak akan mendapatkan lagi liburan ditempat yang dulu sering kali mereka kunjungi.

Kini yang mampu berlibur atau yang bisa berkunjung ketempat-tempat itu sudah dilabeli secara tidak langsung harus kalangan menengah ke atas yang bisa menikmati alam serta pantai karena fasilitas yang sudah didesain Ekslusif.

Kehidupan masyarakat kini compang camping, petani atau tepatnya mantan petani yang dulunya bangun pagi-pagi buta kini sudah jarang bahkan bisa dikatakan tidak ada lagi, masjid serta surau yang terbentang hanya tikar-tikar panjang tanpa shap yang menempati.

Masyarakat berganti peran, yang tadinya alim kini berganti peran menjadi pemabok, pencuri dan perampok . Alasan satu-satunya adalah pekerjaan yang sulit mereka dapatkan, karena kebanyakan keahlian yang mereka miliki satu-satunya adalah bergaul bersama pacul, sabit, bibit dan pupuk. Tidak ada keterampilan lebih selain itu. Kalaupun mereka mau bekerja di pabrik serta hotel-hotel yang dibangun di tanah mereka sendiri, mereka harus memiliki beberapa kreteria, harus memiliki ijazah, sertipikat, dan yang terpenting. Mereka harus pandai dalam bebrapa bahasa asing. Karena keahlian semacam itu tidak satupun mereka miliki maka satu-satunya cara agar bisa bertahan hidup merka harus mencari cara bagaimana mempertahankan atau menyambung hidupan kedepannya. Tidak lain dan tidak bukan, harus menjadi seorang perampok.

Anak-anak putus sekolah, yang laki-laki menjadi begal dan yang perempuan harus melacur. Beginilah kehidupan yang kami jalani sehari-hari di Desa ini. Aku kini mendirikan perkumpulan sekaligus mejadi ketua perampok. Bagaimana lagi, kehidupan yang dulu begitu nyaman, damai dan bahagia dirampas semena-mena, kini waktunya aku Amaq Molah datang membalas dendam. Berhati-hatilah kalian yang duduk nyaman serta dibentengi tembok tebal serta bertingkat, kami mengenal wilayah ini melebihi siapapun.

Aku amaq molah beserta rekan-rekan seperjuangan ku akan datang menyambangimu, mengobrak abrik rasa nyaman yang kau rampas dari tanah kami, memperkosa anak-anak gadis sebagimana kau dengan sekenaknya meniduri anak-anak perempuan kami. Berhati-hatilah, karena kini. Aku amaq Molah datang untuk balas dendam.

Lico, 27-11-2016 Yogyakarta.

Hasan Gauk
Hasan Gauk
Hasan Gauk. Penulis adalah kurator Sastra asal Lombok. Saat ini aktif sebagai anggota Gerakan Literasi Indonesia (GLI) dan bergiat di kegiatan-kegiatan literasi yang lain.

Comments are closed.