Pelurusan Sejarah ‘65 melalui Cerita

Suasana diskusi buku Penjagal Itu Telah Mati karya Gunawan Budi Susanto di Sekretariat Gerakan Literasi Indonesia (GLI), Jumat (11/12). FOTO: FAJAR B. MAHARDIKA

Suasana diskusi buku Penjagal Itu Telah Mati karya Gunawan Budi Susanto di Sekretariat Gerakan Literasi Indonesia (GLI), Jumat (11/12). FOTO: FAJAR B. MAHARDIKA

JUMAT(11/12), Gerakan Literasi Indonesia (GLI) menyelenggarakan diskusi buku Penjagal Itu Telah Mati (Pataba Press, 2015) karya Gunawan Budi Susanto. Kang Putu, sapaan akrab penulis, saat ini bekerja sebagai wartawan Suara Merdeka.Penjagal Itu Telah Mati(PITM) merupakan kumpulan cerpennya yang ditulis sejak 2013 hingga 2014 dan merupakan kelanjutan dari buku penulis sebelumnya, Nyanyian Penggali Kubur (Gigih Pustaka Mandiri, 2011).

Diskusi yang dimulai pukul 17.00 di Sekretariat GLI, Kotagede, Yogyakarta, ini diikuti delapan belas orang. Hadir sebagai pemantik diskusi adalah dua mahasiswa Sastra Indonesia: Elki Setyo Hadi dari Universitas Ahmad Dahlan dan Moh. Dzikri Hendika dari Universitas Gadjah Mada.

Elki mengawali diskusi dengan mengungkapkan hasil pembacaannya yang berfokus pada gagasan yang hendak disampaikan Kang Putu lewat bukunya. Menurut Elki, bagi Kang Putu, negara kita telah bertindak mengangkangi kuasa Tuhan dengan cara mencabut nyawa manusia seenaknya. Hal itu dapat dilihat dari berbagai kasus pembantaian manusia pada 1965. Kang Putu, masih menurut Elki, juga menyodorkan gagasan pentingnya pelurusan sejarah ‘65 yang selama ini dibengkokkan rezim Orde Baru.“Penerbitan buku semacam ini merupakan bagian dari upaya pelurusan sejarah yang berhasil dipelintir rezim Orde Baru,” jelas Elki.

Sementara itu, Moh. Dzikri Hendika lebih menyoroti unsur intrinsik dari setiap cerita. Dzikri membahas secara lengkap, mulai dari sudut pandang cerita hingga tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Tak selesai disitu, ia juga membandingkan karya Kang Putu ini dengan karya-karya Linda Christanty. “Jika Linda menghadirkan data, Kang Putu menghadirkan cerita yang ditulis dengan indah. Kang Putu mengajak pembaca untuk berdialog lewat cerita. Pembaca diseret secara langsung untuk menjadi bagian cerita,” ungkap Dzikri.

Salah satu peserta diskusi, Zen, mengatakan bahwa buku ini tidak hanya berhenti pada ide pelurusan sejarah, tapi juga turut menawarkan sebuah solusi atas kasus ‘65, yaitu rekonsiliasi. Ia menilai, tawaran rekonsiliasi membuat karya tersebut berbeda dengan cerita-cerita dengan latar belakang ‘65 lainnya yang masih berfokus pada pengungkapan peristiwa pembantaian.

“Buku ini menawarkan kepada kita agar tak usah memendam dalam-dalam seluruh dendam,serta mengungkapkan seluruh identitas dan apa yang kita alami oleh karena identitas yang dulunya memalukan. Itulah sebabnya ia berbeda dibandingkan dengan yang lain,” kata Zen.

Acara diskusi ini selesai pada pukul 19.15.Penyair H.B. Jassir menutup acara dengan membacakan puisi karya Saut Situmorang berjudul Andung-Andung Petualang. “Andung-andung”adalah nyanyian ratapan kematian di kalangan orang Batak.Para peserta diskusi menyepakati untuk menggelar diskusi-diskusi lanjutan buku ini di kampus-kampus. []

Fajar B. Mahardika
Fajar B. Mahardika
Mahasiswa tingkat akhir Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan

Comments are closed.