Kacang Lupa Kulit; Sesat Juga Menyesatkan.
Jul 12, 2016
Obat Kuat
Jul 15, 2016

Obah, Owah: Bergerak, lalu Berubah!

Ilustrasi: Soni TH

Ilustrasi: Soni TH

Puan dan Tuan, sumbangan pemikiran dan sikap atau kebijakan setiap rezim penguasa di negeri kita bisa ditilik berdasar monumen yang dibangun satu presiden ke presiden lain. Soekarno (1945-1966) gemar membuat tugu, semacam Monumen Nasional (Monas). Tugu itu simbol lingga-yoni. Di sebalik keinginan Soekarno memoncerkan bangsa dan negara baru, Indonesia, ke pentas dunia, tercermin pula kecenderungan pribadi dia — yang menempatkan perempuan sebagai subordinasi: objek seksual. Dia beristri banyak dan karena itu bisa saya sebut ngawula manuk, mengabdi pada falus, penis.

Bukankah tugu-tugu itu gambaran falus, penis, yang tegak lurus menantang langit? Megalomaniak, begitulah mungkin kata orang yang tak seiya-sekata dengan gaya kepemimpinan dia.

Nah, sebagai satriya pangembating praja, satriya lelananging jagad, satriya tan kemba tirakat, Soekarno memerankan diri sebagai lelaki sejati yang berani berseru lantang: holopis kuntul baris, go to hell with your aids, Amerika kita setrika, Inggris kita linggis! Soekarno mencanangkan Trisakti: berdikari (berdiri dengan kaki sendiri) di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik, dan berkepribadian nasional di bidang kebudayaan. Karena itulah, segala (bunyi) ngak-ngik-ngok di segala sektor kehidupan yang dinilai cuma merusak kuping dan kesadaran anak bangsa perlu diberangus, diganyang, disikat.

Soeharto (1966-1998) adalah antitesis dari Soekarno. Dia naik sedikit, ngawula wadhuk, mengabdi pada perut. Kemakmuran, kesejahteraan, itulah jargon utama dia. Dan, dia berusaha membuktikan: mampu memberi makan seluruh anak negeri ini. Indonesia pun pada suatu masa dinilai, dianggap, dipercaya telah mampu berswasembada pangan. Soeharto pun memperoleh medali penghargaan dari Badan Pangan Dunia.

Namun kemakmuran yang dia janjikan – lewat bius pembangunanisme, mengiming-imingkan kesejahteraan yang selalu dia banggakan – yang tercermin dalam monumen berbentuk nasi tumpeng: Jogja Kembali dan yang paling spektakuler tumpeng maharaksasa bernama Indonesia – bertumpu pada sektor pertanian dengan pemaksaan “revolusi hijau”. Dunia pertanian kita pun mengalami petaka: pola tanam penuh kearifan (yang organis) diubah menjadi pola tanam (anorganis) dengan tingkat ekstensifikasi dan intensifikasi lahan luar biasa masif: penuh racun kimiawi.

Tercipta ketergantungan petani kepada pemerintah, via badan-badan penyedia benih, pupuk, insektisida, pestisida, serta badan penyangga dan pengatur pemenuhan pangan nasional (Badan Urusan Logistik/Bulog, Badan Pengelola Perniagaan Cengkih/BPPC, dan lain-lain) – yang tak pelak, membuat petani tetap berada di bawah garis kemiskinan, subsisten. Petani ibarat kuli di tanah sendiri. Penikmat tumpeng “orde baru” memang hanya Soeharto bersama anak-cucu dan para kroni.

Karena selalu berurusan dengan wadhuk, mulut dan tangan Soeharto pun rakus. Dia muluk sebanyak-banyaknya, di mana saja, kapan saja. Dia puluk semua, segala, selama-lamanya. Tak ayal, wadhuk-nya pun mblendhuk, methuthuk. Namun ketika daya tampung perut melewati takaran, ibarat waduk kelebihan air dan meluap, bendungan pun jebol. Begitulah yang terjadi. Ketika pemerintahan Soeharto hanya tahu mengurus perut sendiri, seraya menafikan rakyat punya perut, tumbanglah dia.

Namun, jangan tergesa menyatakan sang pengganti, Bacharuddin Jusuf Habibie (1998-1999), adalah antitesis Soeharto. Habibie, acap disebut satriya sumela atur, cuma ban serep. Namun jangan juga menyepelekan dia. Bukankah pada masa pemerintahan dia yang singkat, Timor Leste bisa merdeka, lepas dari cengkeraman militer (Angkatan Darat) kita? Meski sebentar, Habibie adalah loncatan dalam konteks politik penguasaan, dari wadhuk (perut) ke bathuk (kening) – simbol kehormatan. Ingat pepatah Jawa: sadumuk bathuk sanyari bumi, sekali kehormatan tercederai, nyawalah yang jadi taruhan!

Nah, masa Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (1999-2001) adalah masa ketika kita mengalami euforia demokrasi, lepas dari kungkungan pemerintahan otoriter-militeristik ke… entah di mana sekarang ini. Gus Dur ngawula tutuk, mulut. Bukan untuk makan sebanyak dia bisa, melainkan bicara sebisa-bisa. Bukan sembarang bicara. Namun bicara berdasar pemikiran jernih bervisi futuristik, jauh ke masa depan. Karena itulah, banyak orang keponthal-ponthal, lari tunggang langgang – baik mendekat maupun justru menjauh.

Gus Dur meminta maaf kepada korban Tragedi 1965 – “karya pemuncak” sekaligus alas keberkuasaan Jenderal Besar Soeharto. Gus Dur meminta pencabutan ketetapan MPRS tentang pelarangan ajaran komunisme, marxisme, leninisme. Gus Dur mencanangkan militer kembali ke barak. Gus Dur mengundang Pramoedya Ananta Toer ke Istana Negara untuk berbincang soal visi (kejayaan) maritim. Gus Dur mengakui, merangkul, melindungi berbagai kelompok minoritas. Gus Dur menyilakan penganut Konghucu menjalankan peribadahan dan etnis Tionghoa merayakan Imlek dan menampilkan segala ekspresi kebudayaan dan kesenian mereka. Gus Dur….

Dan, dan…, karena itulah Gus Dur disingkirkan dari tampuk kekuasaan. Mungkin, lantaran para penentang itu beranggapan Gus Dur ngawula umuk. Namun dia meninggalkan monumen yang tak lekang oleh panas, tak mati-mati oleh sensor dan pembredelan. Itulah pemikiran dia tentang penghargaan terhadap keberagaman, keberbedaan, toleransi antargolongan, antarumat, antariman, antaragama, antarkultur. Gus Dur meninggalkan monumen berupa sikap, pandangan, tindakan yang terus-menerus mengupayakan kemajemukan budaya, multikulturalisme. Itulah monumen pemikiran, bukan monumen berupa benda, raga, fisik.

Kini, kita bisa menyaksikan – diam-diam atau penuh kehebohan – kalangan muda yang mengklaim diri sebagai pengikut atau anak rohani atau ahli waris intelektual Gus Dur atau Gusdurian, berupaya mewujudkan berbagai gagasan Gus Dur ke dalam praksis, ke dalam laku perbuatan: rekonsiliasi antarkomponen yang berseteru saat dan setelah 1965, toleransi dan penghargaan terhadap keragaman, rekonsiliasi dengan alam (ekologis) sebagai rahim kehidupan, dan lain-lain.

Setelah Gus Dur ditumbangkan oleh para pencoleng kekuasaan, maraklah sang pengganti: Megawati Soekarnoputri (2001-2004). Apakah Mega ngawula bawuk – simbol reproduksi sekaligus kehormatan bangsa ini, menuju ke kemandirian sepenuh seluruh? Jika iya, kenapa muncul tuduhan dia “gemar” menjual badan usaha milik negara (BUMN) ke perusahaan asing atau perusahaan transnasional? Dan, karena itulah pulalah kemudian dia dialahkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) – yang secara cerdik menampilkan diri sebagai menteri yang dikuya-kuya, teraniaya, meniru keberhasilan citra Mega ketika dikuya-kuya Soeharto?

Lalu, siapa dan apa pula yang menjadi tuan SBY (2004-2014)? Ya, kepada apa dan siapa dia mengabdi? Apa monumen yang dia bangun? SBY mengesankan ke hadapan publik: dia terpelajar yang hati-hati, penuh perhitungan, tak mengedepankan emosi – bahkan ketika menciptakan lagu (?). Maka, dia merasa perlu “menyelesaikan” kuliah doktor di Institut Pertanian Bogor. Ya, dia doktor ekonomi pertanian (?), yang bahkan menganugerahi diri sendiri dengan gelar profesor ilmu pertahanan setelah mendirikan Universitas Pertahanan.

Namun, kemudian kita tahu, pada masa pemerintahan dia: negeri ini makin terkaveling dalam peta pertambangan ekstraktif yang masif. Sebagaimana ditunjukkan Siti Maemunah dari Jatam, pada masa pemerintahan SBY pemberian izin konsesi tambang meningkat 11 kali menjadi 11.000 selama 13 tahun terakhir. Di Kalimantan Timur, misalnya, di bawah 100 izin tambang pada masa Soeharto meningkat menjadi 1.488 izin (Siti Maemunah, “Capres dan Rezim Ekstraksi”, Kompas, 18 Juni 2014, halaman 6). Peningkatan itu terjadi seiring pemberian otonomi ke pemerintahan kabupaten/kota, yang leluasa dan bahkan berlomba-lomba mengeluarkan izin konsesi tambang.

Masa pemerintahan SBY sungguh menjadi masa pesta-pora para pengusaha industri tambang di berbagai kawasan negeri ini. SBY memperoleh nama besar di kancah internasional, tetapi meremukkan kedaulatan negeri kita dari dalam. Dia ngawula kupluk, peci, kopiah – yang merupakan aksesori dan bukan bagian tak terpisahkan dari ketubuhan kita sebagai negara-bangsa.

Nah, kini, Joko Widodo (2014-….), kepada apa dan siapa dia mengabdi? Memang belum kentara benar karena belum lama, belum genap dua tahun mengelola pemerintahan. Ngawula manuk, ngawula bawuk, ngawula wadhuk, ngawula bathuk, ngawula tutuk, ngawula kupluk — sampai remuk? Dengan gaya blusukan, apakah dia justru bakal keblasuk? Namun bukankah dia menawarkan Trisakti Bung Karno? Apakah itu berarti dia berkehendak memberdikarikan perekonomian kita, memberdaulatkan kehidupan politik kita, dan membangun kepribadian nasional dalam kebudayaan kita? Upaya memutar jarum jam ke arah berlawanan?

Mari kita cermati. Bukankah kita belum terlampau lupa ketika para ibu dari Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, di Pegunungan Kendeng Utara, mengusung lesung ke depan Istana Negara dan memperdengarkan suara bertalu-talu kothekan mereka, Joko Widodo seperti membisu-menuli? Kabar dari desa — yang dulu dia janjikan bakal menjadi basis “pembangunan” di negeri ini — yang disuarakan para ibu yang mencemaskan perusakan masif lahan subur pertanian mereka oleh eksploitasi dan penghancuran oleh perusahaan semen itu seperti menabrak dinding batu yang pejal. Sia-sia.

Bukankah pemerintahan Joko Widodo bukan antitesis dari pemerintahan rezim ekstraktif sebelumnya? Alih-alih menghapus kebijakan pembangunan yang bertumpu pada kekuatan industri ekstrasi, Joko Widodo justru menghancurkan sektor pertanian dari dalam. Pemerintahan Joko Widodo secara serampangan dan sembarangan menerapkan kebijakan yang tak lebih cerdas dari pemerintahan sebelumnya. Tidak mewujudkan kedaulatan pangan, Joko Widodo justru memilih cara gampangan: mengimpor semua-mua pula?

Ya, inilah rezim tanpa prakarsa dan manda saja menjadi konsumen segala produk dan komoditas dari negeri-negeri seberang. Ngawula punuk; menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa?

***

Jika benar tudingan saya itu, bagaimana perubahan mesti digulirkan? Dari mana, ke mana, dan oleh siapa?

Itulah pertanyaan pokok yang harus kita jawab. Pada berbagai kesempatan, sebagaimana Pramoedya Ananta Toer, saya menyatakan: hanya pada dan oleh kaum muda perubahan bisa bergulir. Namun, kini, mari kita pertajam pernyataan itu dengan pertanyaan lanjutan. Jika benar kaum muda yang mengubah keadaan, kaum muda macam apa? Kaum muda yang manda saja dijejali (reproduksi teori) ilmu, pengetahuan, dan teknologi – tanpa pemahaman tentang genealogi dan filsafat keilmuan? Kaum muda yang hanya akan menentukan sikap berdasar pilihan berganda untuk menjawab bakal jadi apa: kuda tunggangan, kuda bendi, kuda pacu, atau kuda liar – yang sebenar-benar tak liar karena bisa dibudidayakan dan diambil susunya?

Jadi, sekali lagi, kaum muda macam apa?

Itulah kaum muda yang tak cuma melek huruf, tetapi melek keadaan, melek kahanan. Kaum muda yang tahu dan paham ada ketimpangan luar biasa dalam struktur perekonomian dan politik kita. Kaum muda yang tahu betapa menyerikan penghancuran alam yang telah, sedang, dan terus terjadi di berbagai belahan negeri ini. Kaum muda yang mengerti betapa kaum petani, buruh, dan nelayan adalah kelompok yang terus-menerus terpinggirkan. Kaum muda yang ngeh betapa pasal-pasal karet yang mulur-mungkret peninggalan pemerintahan kolonial Hindia Belanda, yang memberangus sikap dan suara kritis, terus direproduksi dalam berbagai undang-undang – antara lain Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Ekonomi, yang mengancam Saut Situmorang yang getol menyiangi kehidupan sastra Indonesia dari manipulasi, pembohongan, pembodohan, pengerdilan, dan pembesaran yang salah kaprah dan keblinger.

Itulah kaum muda yang tahu betapa banyak, amat-sangat banyak, saudara sebangsa teraniaya di berbagai negara sebagai buruh migran. Kini, lebih dari 200 warga negara Indonesia, termasuk Rita Krisdianti, terancam hukuman mati di berbagai negara. Mereka mencari penghidupan di luar negeri lantaran kekayaan di negeri ini dikeruk sampai tandas oleh kekuatan modal mondial, yang dimakelari penguasa dan dicentengi aparatur kekerasan dalam negeri. Itulah pula kaum muda yang bisa menangkap degup kenyerian tembang pedih perempuan buruh migran yang tergambar, misalnya, dalam puisi indah dan berguna (dulce et utile) kawan saya, Mugi Astuti, buruh migran di Hong Kong. Dengarlah “Dunia Sungguh Asu” ini.

Kang,

Selamat pagi sekarang ini terucap pada kopi

Karena ternyata yang kaubutuhkan hanya wedokan

yang cuma bisa nangis untuk membuatmu merasa ada

Ya maaf, Kang

Hari yang lalu air mata menyublim dalam keringatku saat mbabu

Menetes memenuhi rekening bank melunasi utang-utang

yang kaubuat atas nama masa depan kita

Apakah terbaca?

aku tahu hidup tak seindah puisi status pesbukmu

Juga tak sesopan mulut yang lanyah mengutip ayat dan hadis

agar terlihat seperti orang suci

Ya sekali lagi maaf, Kang

Dunia sungguh asu

Mengukur sukses pada kemplingnya setang bunder

yang bikin kita silau hingga khilaf membabi buta

Menyebar tanda tangan pada lembaran kredit cicilan bank

Ya sudahlah, Kang

Kudengar kau sudah move on

Sebentar lagi kawin dengan wedokan yang kauimpikan

Wedokan beriman yang tiap hari tebar omongan

alhamdullilah wasyukurilah

Bukan seperti aku yang cuma bisa omong wasyu kowelah

cuma satu pesanku

wedokanmu jangan kauajak golek kreditan bank

Karena aku tak yakin ia bisa seperti aku

Diekspor jadi babu

Wis ya, Kang, met bahagia

biar aku nglunasi utang-utang atas nama kita

karena meski aku mencintaimu apa adanya

faktanya hidup begitu banyak biaya.

Tentu yang saya bayangkan bukan kaum muda yang termehek-mehek sampai mbrebes mili saat menyanyikan sajak indah (tetapi tak berguna) “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono – tipikal penyair anak kandung “orde baru”.

Aku ingin mencintaimu

Dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat

Diucapkan kayu kepada api

Yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu

Dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat

Disampaikan awan kepada hujan

Yang menjadikannya tiada.

Ya, itulah kaum muda yang paham benar keadaan belum lagi berubah dari pelukisan dalam sajak indah dan berguna Wiji Thukul. Mereka pun bakal bisa menjawab lantang pertanyaan menohok dari “Sajak Tikar Plastik Tikar Pandan”.

tikar plastik tikar pandan

kita duduk berhadapan

tikar plastik tikar pandan

lambang dua kekuatan

tikar plastik bikinan pabrik

tikar pandan dianyam tangan

tikar plastik makin mendesak

tikar pandan bertahan

kalian duduk di mana?

Nah, jika bertemu kaum muda yang tahu persis semestinya mereka duduk di tikar pandan, saya akan bergabung: mengiringi dari belakang. Kini, saatnya kebo nusu gudel. Saat orang tua bangkotan macam saya belajar dari kaum muda yang berkehendak menciptakan keadaan lebih baik di segenap bidang kehidupan. Ya, kini saatnya bersama mereka melagukan “Dendang Perlawanan”. Simaklah….

ketika pengusaha jadi penguasa, dikawal militer sebagai centengnya, adalah keniscayaan: negeri kita pun dikaveling-kaveling. dijual dalam paket indah dan seksi. dan, jangan lupa, semua itu sudah berlangsung lama, teramat lama. berulang-ulang, ganti berganti rezim.

gunung-gemunung dijual ke pemilik modal besar dari negeri-negeri jauh. hutan belantara dijarah lalu dihibahkan ke taipan dan jadilah sumber minyak goreng yang mengalir ke dapur dan perut kita. air disedot dari perut bumi digelontorkan ke pabrik dan dijual kembali kepada kita dengan merek terkenal dari negeri beradab di eropa sana, sehingga pantas jika dihargai lebih mahal dari semestinya.

apa, apalagi yang tak dijual dari negeri ini? sedangkan manusia pun dijajakan sebagai tenaga kerja murah meriah. ditawarkan ke siapa saja di negeri mana saja, tanpa perlindungan hukum, tanpa pembekalan keterampilan memadai, tanpa jaminan keselamatan dari negara.

dan kini, di sini, di kampung kecilku, di kota semarang: dijual sebuah taman budaya.

ya, paket besar dibeli pemilik modal besar dari seberang.

paket kecil ditawarkan kepada sembarang pemilik modal.

wajar saja bukan?

kenapa mesti sewot

toh sampean pula yang memilih mereka

: para pengelola negeri ini

yang kemudian menjual segala apa

untuk kemakmuran entah siapa!

sambil menyitir presiden yang telah mampus dari negeri jauh

sampean bilang, “bila politik bengkok, puisilah yang meluruskan.”

tidakkah sampean ingat, ketika gunung dibongkar-bangkirkan dan para ibu berhadapan dengan laras senapan, sampean malah asyik-masyuk bikin puisi tentang rembulan.

ketika tanah petani dipagar besi dan ditancapi papan bertuliskan: di sini lahan militer untuk berlatih perang — sementara buldoser dan begu menggerung-gerung mengeruk pasir besi dari tanah mereka, sampean bersorak girang. oho, tentara kita pintar pula berdagang.

ketika para buruh beraksi menuntut kenaikan gaji dan jaminan sosial memacetkan arus di jalan-jalan, sampean kesal dan menggerutu, “dasar manusia tak tahu diuntung. sudah diberi pekerjaan, malah bikin kericuhan.” sampean tak sadar, atau menutup mata, segala apa yang sampean makan dan sampean kenakan bermula dari kerja keras petani, buruh, dan nelayan.

jika tak ada tanah untuk berladang, ke mana pula para petani menebar benih?

kalau tak ada buruh yang bekerja, apa pula yang bisa sampean sandang?

bila tak ada polisi dan tentara di jalan-jalan, bukankah sampean justru merasa aman dan nyaman?

kini, di sini, saat ini, ayolah berdendang

mumpung dendang perlawanan belum dilarang

mumpung kita belum didelete Tuhan dan mati penasaran

lantaran tak pernah sempat berbuat kebaikan

bagi sesama

bagi kehidupan.

salam, salam.

Maka, jika sampean masih merasa nyaman makan ayam goreng di Kentucky Fried Chicken, memamah hamburger dan pizza, atau donat di McDonald sambil memainkan games penuh darah dan luka nganga seraya alpa para ibu digebuki di berbagai kawasan pertanian yang tergusur korporasi raksasa secara semena-mena, tak tahu lagi saya: buat apa pula berpidato panjang-lebar tentang perlawanan dan perubahan. Jika sampean mendatangi acara kesenian, seminar, dan sejenisnya, lalu berebut foto bersama sang narasumber dan mengunggah ke jejaring sosial, tanpa tahu apa yang diperbincangkan, tak tahu pula saya buat apa lagi masih bikin sekolah menulis dan membaca. Jika sampean masih memercayai ulama, cendekiawan, komedian, dalang, seniman, akademisi yang berpengikut teramat banyak dan berbayaran besar setiap kali naik panggung, meski tak pernah bersentuhan langsung dengan persoalan riil masyarakat, tetapi punya keberanian dan bangga ketika jadi bintang iklan perusahaan raksasa – dengan, misalnya, menyatakan tambang adalah ramah lingkungan, tambang sungguh berkeadaban – tak paham saya buat apa pula masih berdiri di sini.

Mumpung saya belum lagi mual, mulas, dan muak lantaran capek mengharap kaum muda bakal memandu perubahan, sementara mereka merasa nyaman jadi mahasiswa, misalnya, tanpa prestasi apa-apa dan malu menyentuh tanah padahal jelas kelak bakal juga bersemayam di dalam tanah, izinkan saya undur diri, lalu duduk manis sembari merapal mantra: obah, owah, obah, owah, obah, owah, obah, owah, obah, owah, obah, owah, obah, owah, obah, owah, obah, owah, obah, owah, obah, owah, obah, owah, obah, owah, obah, owah….

Maka, agar malam ini tak jadi percuma, wahai, Kaum Muda, bergeraklah, ciptakan perubahan: menuju tata kehidupan baru yang aman, nyaman, selamat, adil, dan sejahtera – sesuai dengan visi kemudaan dan kepeloporan sampean. Ciptakan revolusi, revolusi pemuda.

Selamat malam. Salam setengah merdeka!

Patemon, 28 Januari 2016

* Prasaran ini dibacakan sebagai pidato kebudayaan di Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS), Jumat, 29 Januari 2016.

Gunawan Susanto
Gunawan Susanto
Akrab disapa Kang Putu. Pegiat kebudayaan. Tinggal di Semarang. Kumpulan cerpennya yang terbaru "Penjagal Itu Telah Mati".

Comments are closed.