Jogja Sold Out (?)
Nov 4, 2015
Datang dan “Hilang” di Gedung Societet TBY
Nov 10, 2015

Neoliberalisme dan Otonomi Sastra

 

Wahmuji

Salah satu isu yang mengemuka baik dalam kasus buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (33 Tokoh Sastra) dan kriminalisasi Iwan Soekri dan Saut Situmorang adalah otonomi sastra. Kira-kira narasinya seperti ini: ada orang ‘luar sastra’, yakni Denny JA, yang datang dengan modal ekonomi besar dan mengobrak-abrik dunia sastra yang ‘sakral’ dengan menobatkan dirinya sebagai salah satu tokoh sastra. Dengan uang besar pula, Denny JA (diduga) dan Fatin Hamama mampu menyewa pengacara dan mengkriminalkan kata makian yang dianggap sudah lazim dalam sastra. Artinya, hukum dibawa masuk untuk mengadili sastra.

Narasi itu menitikberatkan rusaknya otonomi sastra; atau otonomi sastra dilanggar dengan brutal. Narasi semacam itu saya pikir benar, tetapi mesti dieksplorasi lagi agar kita tidak terpeleset pada jebakan asumsi-asumsi naif mengenai dunia sastra atau seni secara umum, yakni penyangkalan-penyangkalan atas penetrasi kekuasaan eksternal: bahwa sastra (Indonesia) memang ‘sakral’ atau suci—tidak terkotori persoalan duniawi, bahwa dunia sastra berisi orang-orang jujur dan naif sehingga satu saja orang jahat datang maka rusaklah dunia sastra. Atau, di sisi lain dari koin kenaifan yang sama, bahwa karya yang ‘besar’ dan ‘agung’ akan dengan sendirinya memancarkan sinar keagungan yang menerangi dunia.

Seperti negara kecil Belanda yang dulu bisa menjajah Nusantara yang luas karena kerjasamanya dengan para raja dan bangsawan, Denny JA menjadi ‘tokoh sastra’ karena kerjasamanya dengan sederet pemegang otoritas sastra kita:  Jamal D Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, Nenden Lilis Aisyah, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Ignas Kleden. Artinya, dunia sastra juga berisi orang-orang yang karena punya kekuasaan simbolik, umumnya lewat blurb dan kata pengantar, bisa mentahbiskan orang-orang yang baru datang sebagai hebat, pintar, orisinal, dan sebagainya. Dengan kata lain, ada dinamika internal sastra yang menopang hadirnya orang-orang seperti Denny JA.

Persolan lain terkait dengan otonomi adalah hubungan dengan kekuasaan eksternal: sejauh mana kekuasaan eksternal memengaruhi, bahkan menentukan, bentuk dinamika di dalam dunia sastra yang relatif otonom (atau setidaknya diharapkan otonom)? Dalam kasus Denny JA, kita melihat dengan jelas bahwa uang adalah kekuasaan, bahwa modal ekonomi mampu diubah menjadi penghormatan dan modal budaya (pengetahuan yang dianggap bernilai: puisi esai, tema anti-diskriminasi). Fenomena yang sama sebenarnya bisa kita temui sehari-hari. Di dalam sebuah kampung, sejauh amatan saya, kita akan melihat bagaimana masyarakat cenderung lebih menghormati orang yang kaya daripada yang miskin, bagaimana orang kaya cenderung lebih didengarkan pendapatnya.i

Kenapa bisa demikian? Saya kira kita semua sepakat bahwa kondisi itu terkait dengan kekuasaan yang lebih besar, sebuah rezim pemaknaan atas hidup yang menekankan pentingnya ekonomi di atas bidang lain, di atas bentuk pengetahuan yang lain. Di masa Soeharto, kita mengenal rezim pemaknaan semacam itu dengan sebutan ‘pembangunanisme’; dan di masa ini, neoliberalisme. Eksplorasi mengenai otonomi sastra tidak akan bisa kita lakukan tanpa memahami kekuasaan eksternal yang dominan dan bagaimana kekuasaan itu bekerja di dunia sastra.

Tulisan ini akan mencoba mengeksplorasi dua persoalan terkait otonomi sastra: dinamika internal sastra dan hubungannya dengan kekuasaan eksternal. Agar dua persoalan itu bisa dieksplorasi sekaligus, sastra akan dianggap dan diperiksa sebagai sebuah medan (field) dalam pengertian Bourdieu (seorang filsuf dan sosiolog dari Perancis).

Wajah Sastra sebagai Sebuah Medan

Medan adalah bidang atau ruang sosial yang spesifik. Secara konseptual, medan dirancang Bourdieu untuk melampaui institusi dan pasar. Institusi cenderung didasarkan pada konsensus, sedangkan medan menekankan ciri pertentangan dalam kehidupan sosial. Karena itulah, pertentangan dalam mengambil posisi di dunia sastra merupakan sesuatu yang wajar, tidak seperti dikeluhkan Richard Oh, penyelenggara Khatulistiwa Literary Award, bahwa “[s]alah satu ketidakmajuaan sastra kita di dunia rupanya bukan pada kurangnya karya-karya bagus, tapi semangat sikut-menyikut antar sastrawan.”ii Justru “sikut menyikut”, saling menentang, menolak dan memperbarui pandangan ideologis atau estetika merupakan roda bagi gerak dunia sastra—kalau mau jujur, sejarah sastra Indonesia adalah sejarah polemik dan pertentangan. Selanjutnya, medan juga lebih inklusif daripada pasar. Di dalam medan memang tergambar hubungan pertukaran antara pembeli dan penjual—sastrawan secara sadar maupun tak sadar membayangkan pembaca tertentu dari karyanya; tetapi juga ada peringkat dan hierarkiiii—karya besar, karya semenjana/medioker, karya picisan, dan lain-lain.

Sebagai sebuah dunia yang penuh pertentangan, sastra merupakan situs dominasi sekaligus perlawanan dan keduanya terhubung secara relasional. Meski saling bertentangan, kedua posisi isu sepakat bahwa ada yang disebut sastra; keduanya punya motif untuk mempertahankan sastra. Perbedaan posisi dalam medan sastra, dominan dan subordinat, bersumber dari jenis modal yang dimiliki oleh agen (sebutan Bourdieu untuk seluruh pelaku dan pemangku kepentingan dalam sebuah medan). Setiap medan punya jenis modalnya sendiri, punya sesuatu yang dianggap bernilai. Bourdieu biasanya membagi modal yang dipertaruhkan dalam sebuah medan menjadi empat, yakni modal ekonomi, modal simbolik (nama besar), modal budaya (pengetahuan bernilai), dan modal sosial (jaringan).

Dari berbagai jenis modal di atas, Bourdieu memberi perhatian lebih pada oposisi modal ekonomi versus modal budaya. Modal ekonomi cenderung lebih mudah diukur (jumlah uang atau aset ekonomi bisa dihitung dengan cepat), tetapi tidak demikian dengan modal budaya. Modal budaya adalah aspek pengetahuan dari produk budaya; artinya, orang yang paham produk budaya tertentu berarti ia memiliki modal budaya. Jenis modal ini bisa berupa pilihan estetis sastra yang sudah menubuh, pengetahuan atas karya-karya sastra yang dianggap hebat (yang butuh kemampuan tertentu untuk dipahami), dan kredensial pendidikan (misalnya, Doktor atau Profesor sastra).

Salah satu pokok perjuangan di dalam medan sastra adalah batas-batas mengenai apa itu sastra.iv Artinya, batas sebuah medan tidaklah jelas—ia justru merupakan sebuah sumber konflik tersendiri. Pertentangan-pertentangan yang selalu hadir dalam sastra adalah bentuk perebutan legitimasi mengenai apa itu sastra, sastra macam apa yang lebih tinggi, siapa yang bisa disebut sastrawan, dan sebagainya. Pemisahan sastra serius-sastra populer adalah contoh dari pergulatan mengenai batas sastra. Sebagai contoh, saat ini, sejauh pengamatan saya, sebagian besar agen sastra cenderung enggan untuk menggunakan kategori penilaian sastra serius-sastra populer karena pengaruh wacana affirmative action dan politically correctness.v Pemisahan itu dianggap hierarkis dan tidak adil; sastra populer harus diberi tempat yang lebih layak. Itulah jenis modal budaya di dalam dunia sastra Indonesia saat ini terkait persoalan pemisahan sastra serius-sastra populer.

Bagaimanapun, meski berisi pertentangan terus-menerus, ada aturan main dalam medan sastra. Orang yang punya modal ekonomi besar, misalnya, tidak bisa begitu saja mendapatkan posisi terhormat di medan sastra. Umumnya, ada tiga bentuk strategi yang dipakai dalam berkonflik, yakni konservasi, suksesi, dan subversi. Strategi konservasi biasanya dipakai oleh agen yang berposisi dominan atau senior (misalnya, para sastrawan senior anti-Cyber Sastra); suksesi dipakai oleh pendatang baru yang ingin mendapatkan akses terhadap posisi dominan (orang yang tetap menulis karya di koran dalam contoh kasus yang sama); dan subversi dipakai oleh agen yang ingin mendapatkan bagian dari yang dikuasai oleh posisi dominan (para pengusung Cyber Sastra yang tetap hanya mempublikasikan karya di internet).

Konflik dan “sikut-menyikut” dalam sastra seperti tergambar di atas merupakan mekanisme internal di dalam sastra sendiri untuk terus mendefinisikan diri, terus bergerak, dan terus bertahan hidup. Medan lain memiliki bentuk pertarungannya sendiri, jenis modal dominannya sendiri, dan hubungan yang berbeda dengan kekuasaan politik dan ekonomi. Di titik inilah sastra bisa disebut memiliki sifat otonom, meskipun relatif. Sastra berbeda dengan medan lain dan punya mekanisme sendiri ketika berhadapan dengan kekuasaan eksternal.

Menurut Bourdieu, semakin otonom medan sastra, semakin ia bersikap anti-kekuasaan eksternal, yang puncaknya adalah ‘seni untuk seni’; sebaliknya, semakin heteronom, semakin ia ditentukan oleh kekuasaan eksternal, khususnya ekonomi. Bourdieu memang mengkategorikan ulang oposisi budaya tinggi vs budaya rendah menjadi medan produksi skala-terbatas (cenderung otonom) dan medan produksi skala-besar (cenderung heteronom). Keduanya dicirikan oleh antara lain bentuk-bentuk legitimasi dominan: yang pertama lebih banyak ditentukan oleh legitimasi spesifik (ahli-ahli sastra), sedangkan yang kedua oleh pasar (publik luas). Tarik menarik posisi otonom-heteronom adalah bagian penting dalam perjalanan sejarah dinamika internal medan sastra di Indonesia.

Modal Budaya Mengenai Otonomi Sastra

Dalam medan sastra, ada banyak agen yang ikut bermain—untuk berkonflik, untuk menentukan apa itu sastra, sastra macam apa yang baik, siapakah sastrawan, dan lain-lain. Di antaranya adalah sastrawan, akademisi dan kritikus sastra, penerbit; juga berbagai media seperti koran, majalah, jurnal, media sosial; bahkan politikus dan tentara (dalam kasus Lekra vs Manikebu). Karena itulah, sangat sulit untuk menentukan sejauh mana sastra itu otonom, khususnya dari kekuasaan eksternal yang lebih besar. Kita harus memetakan benar posisi tiap pemangku kepentingan dan hubungan ideologis mereka dengan kekuasaan ekonomi dan politik dominan. Terangkatnya sastra avant garde, seperti pada tahun 1970an, dengan contoh Sutardji Calzoum Bachri sebagai ‘pemimpin’-nya, menunjukkan kecenderungan seni untuk seni yang bisa dianggap sebagai puncak otonomi sastra—hanya peduli dengan eksplorasi bentuk, pengabaian makna dari kata. Akan tetapi, kita juga bisa membaca kecenderungan itu sebagai ‘afirmasi total’ sastra pada kekuasaan Orde Baru yang anti seni politik. Kerumitan semacam ini menunjukkan kemustahilan menghindari yang-non-sastra saat membicarakan sastra.

Tulisan ini tidak akan mampu menggambarkan tiap agen sastra dan posisi mereka di medan sastra saat ini, apalagi dalam sejarah sastra Indonesia. Eksplorasi semacam itu akan membutuhkan penelitian kuantitatif yang panjang. Apa yang bisa saya paparkan hanyalah modal budaya para agen sastra terkait dengan persoalan otonomi sastra. Artinya, cara orang-orang sastra sendiri mendefinisikan otonomi sastra. Tulisan ini juga hanya mampu menghadirkan pandangan dua agen sastra, yakni sastrawan dan kritikus; dan itu pun beberapa yang sudah ditahbiskan atau diakui di sastra terutama dalam dua periode politik, yakni Orde Baru dan Reformasi (hanya satu dua agen sastra dari masa sebelumnya yang saya periksa). Artinya, saya tidak mengeksplorasi pandangan kelompok Lekra maupun orang-orang yang menekankan hubungan langsung sastra dengan kekuasaan.

Dalam kaitannya dengan isu otonomi-heteronomi sastra, eksplorasi mengenai modal budaya tentang otonomi setidaknya memberikan gambaran mengenai dinamika internal medan sastra sendiri yang menjadi basis penerimaan atau penolakan terhadap karya atau penulis tertentu (terutama yang baru datang), menunjukkan kesadaran dan penyangkalan hubungan sastra dengan kekuasaan eksternal, dan akan menjadi salah satu bahan penting untuk otokritik.

Kalau sastra disebut otonom, ia otonom dari kekuasaan eksternal macam apa? Sejauh penelusuran saya, setidaknya ada tiga bentuk kekuasaan eksternal yang coba dilawan oleh orang-orang sastra (atau setidaknya mereka ingin lepas atau tidak tersentuh oleh kekuasaan itu): moralitas (dominan) masyarakat, politik, dan ekonomi.

Upaya untuk menjaga otonomi sastra dari moralitas dominan masyarakat dapat kita lihat dalam pandangan Iwan Simatupang dan pembelaan atas sastra wangi. Dalam tulisan yang diterbitkan pada 1961 di Majalah Sastra, Iwan Simatupang membalas kritik Boen S. Oemarjati atas ketidakjelasan sikap dalam karyanya terhadap persoalan-persoalan yang sedang dibahas dan dianggap tidak memberikan “sesuatu sikap hidup yang positif.” Iwan Simatupang menanggapi kritik itu dengan pertama-tama menggambarkan semacam hakekat seni. Seni, bagi Iwan, adalah “organisme mutlak, sejak dari mulai sekali.” Dengan demikian, “[p]lotnya, expose-nya, momen motiris-nya yang mencakup klimaks dan anti-klimaksnya, moralnya, filsafatnya, semuanya ini sudah komplet hadir sejak genesisnya yang acap juga disebut sebagai ilham, intuisi, entah apalagi”. Kondisi penciptaan semacam itu membuat tanggungjawab penulis terhadap pembaca atau masyarakat tampak absurd dan berlebihan. Itu karena “[t]anggung jawab adalah pengertian moral,” sedangkan pengarang tidak punya tanggungjawab moral apapun kecuali terhadap dirinya sendiri, yakni tanggungjawab untuk kreatif.vi

Pandangan Iwan Simatupang cukup ekstrim. Tanggungjawab sastrawan adalah menulis karya sastra; ia tidak punya tanggungjawab lain pada masyarakat. Apapun yang dibicarakan karyanya, sikap apapun yang diambil karyanya terhadap persoalan tertentu di masyarakat, semua itu bukan tanggungjawab sastrawan. Itu karena momen penciptaan bukanlah momen kesadaran; penciptaan adalah ilham, sesuatu dari entah apa yang merasuki seorang pengarang. Pandangan khas Romantik mengenai penciptaan semacam ini muncul lagi tahun 1980-an lewat Budi Darmavii dan tahun 2000-an lewat Dewi Lestari.viii

Sikap yang lebih terbuka terkait perlawanan atas moralitas ditunjukkan oleh Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan Komunitas Utan Kayu/Salihara secara umum saat mempromosikan karya ‘sastra wangi’. Dalam pandangan mereka, moralitas yang diserang adalah moralitas terkait dengan seks. Seperti paparan Katrin Bandel dalam beberapa esainya, eksplorasi/eksploitasi atas seks dianggap mereka sebagai cara untuk melawan moralitas kolot masyarakat Indonesia.ix Saya sendiri banyak sepakat dengan kritik yang dilontarkan oleh Katrin Bandel. Namun, dalam kaitannya dengan apa yang sedang kita bicarakan di sini, cukuplah aman apabila kita menganggap bahwa pembelaan para agen sastra dari Komunitas Salihara sebagai salah satu bentuk upaya menjaga ‘kebebasan’ sastra dari moralitas yang berlaku di masyarakat. Se-rasis atau se-kolonialis apapun, tampaknya upaya semacam itu dihargai di medan sastra.

Kekuasaan eksternal selanjutnya adalah kekuasaan politik. Manifesto Kebudayaan (Manikebu) adalah contoh penting, tapi juga problematis, tentang upaya menjaga otonomi Sastra dari kekuasaan politik. Manifesto itu disusun oleh tiga belas “seniman-budayawan” pada 23 Agustus 1963 sebagai reaksi atas kehidupan kesenian, termasuk sastra, yang dianggap telah dikuasai politik, dengan Lekra sebagai representasinya.x Slogan “politik adalah panglima” milik Lekra, organisasi kebudayaan yang hampir selalu direpresentasikan sebagai underbow PKI, yang dijalankan bersamaan dengan roda kekuasaan Soekarno dan diterapkan dengan “represif” dirasa mengekang kebebasan berekspresi dan menyapu estetika “ke tepi jalan.”xi Manifesto ini penting karena merupakan upaya konkrit untuk melepaskan sastra, dan kesenian secara umum, dari politik praktis, tetapi problematis karena menyangkal penetrasi politik pada “kebebasan berekspresi” yang mereka angkat. Penetrasi politik dimaksud adalah konteks perang dingin zaman itu, yang praktisnya hadir dalam lembaga-lembaga kebudayaan yang bekerja sama dengan CIA untuk mempromosikan “kebebasan berekspresi” itu di tengah masyarakat yang sadar politik.xii Artinya, titik puncak dari ‘pembebasan’ ini adalah penyangkalan atas politik. Efek jangka panjang dari penyangkalan itu adalah, meminjam istilah Afrizal Malna dalam Sesuatu Indonesia, “deideologi sastra” atau upaya menjauhkan sastra dari politik atau mengabaikan penetrasi politik—gejala yang cukup dominan pada karya sastra, khususnya puisi, tahun 1970an dan 1980an.

Upaya serupa hadir dalam Perdebatan Sastra Kontekstual di dasawarsa awal 1980-an. Dengan mengesampingkan beberapa perbedaan pendapat Arief Budiman dan Ariel Heryanto mengenai apa itu sastra kontekstual, secara umum mereka meyakini bahwa ada dominasi “universalisme” dalam Sastra Indonesia. Dan sastra kontekstual adalah perlawanan terhadap dominasi itu. Universalisme dimaksud adalah kepercayaan akan “adanya suatu sumber inti sastra yang baik dan benar. Dan itu dianggapnya berlaku untuk segala zaman, dalam setiap masyarakat”.xiii Keyakinan ini dikritik karena disamping argumen itu tidak bisa dipertahankan di hadapan perspektif “sosiologis” juga karena berakibat pada tercerabutnya sastra dari konteks masyarakatnya sendiri. Sehingga terciptalah tradisi sastra yang tidak berakar pada realitas kehidupan Indonesia, kebarat-baratan, dan jadinya asing dari publiknya sendiri. Keterasingan ini, menurut Arief Budiman, makin tragis karena para sastrawan menuduh publiknya tidak paham apa yang mereka tulis sedangkan pembaca yang diharapkan, yakni Barat, sama sekali tidak menganggap karya mereka bermutu (disimbolkan dengan tiadanya sastrawan yang meraih Nobel Sastra).xiv

Secara umum, sebagian besar penanggap, terutama yang masuk dalam buku susunan Ariel Heryanto Perdebatan Sastra Kontekstual, mempertanyakan definisi ‘sastra kontekstual’ dan berusaha membuktikan bahwa tradisi sastra Indonesia itu sudah ‘kontekstual’—artinya, menyangkal klaim Arief Budiman. Selain itu, sebagian lagi gerah karena merasa bahwa Arief Budiman (dan Ariel Heryanto) menggurui sastrawan dan tidak menghargai otonomi sastra sebagai sebuah seni. Abdul Hadi WM, misalnya, mengutip Dami N Toda, menyatakan bahwa “seorang sastrawan, sebagaimana intelektual lain, tak perlu didorong-dorong, apalagi dipaksa untuk memilih tantangan yang penting bagi kerja kreatifnya”. Itu karena pada dasarnya, sastra tidak pernah tercerabut dari akar wilayahnya. “Yakni wilayah situasi, wilayah kemungkinan. Dengan begitu sastra justru menemukan otonominya” (Kartapati Z). Kalau sastra kemudian “diorbitkan menjadi batu loncatan dari gerakan pembaruan sosial sebagai ideologinya, maka sastra menjadi tidak bebas lagi. Sastra menjadi alat perjuangan sosial,” kata Henrik Berybe.xv

Di sisi lain, dalam “Deideologi Sastra dan Diksi-Diksi Terkejut,” Afrizal Malna mempertanyakan klaim independensi sastra, terutama dari politik. Sastra merasa bebas dari politik, tapi politik ternyata sangat mempengaruhi kehidupan Sastra. Contoh yang diangkatnya adalah kebijakan politik Orde Baru yang sering tidak jelas dalam melihat posisi Sastra dan kemampuan rezim otoriter itu untuk melarang dan mengontrol pertunjukan Sastra. Pengalaman pahit pertarungan Lekra-Manikebu menurut Afrizal berpengaruh panjang pada dunia sastra dan manifestasinya hadir dalam lokalisasi sastra terhadap lingkungan sendiri (deideologi). Narasi umum tentang independensi sastra (dari politik), yang muncul kuat pada dekade-dekade awal Orde Baru berkuasa, dilihat dari karya sastra-karya sastra yang lahir, khususnya puisi, menunjukkan bahwa sastra kurang “mengambil sikap kritis terhadap kapitalisme ekonomi di masa Orde Baru.” Dalam kaitannya dengan masalah itu, pembicaraan dikotomis “sastra serius dan sastra populer” yang marak pada akhir dekade 1970-an dan awal dekade 1980-an bagi Afrizal merupakan langkah yang kurang jauh. Pembicaraan dikotomis itu, juga kecemasan pada perkembangan kota dan kesenjangan sosial yang terjadi, memberi kesan bahwa sastra “tidak banyak terlibat untuk ikut memberi warna pada bagaimana kapitalisme memasuki proses-proses kualitatifnya.” Sastra telah berusaha menekan gerak kapitalisme, tetapi dilakukan dengan “semacam eksotisme dan kesunyian diri.”xvi

Selanjutnya, bagaimanakah sejarah pandangan mengenai hubungan sastra dengan kekuasaan ekonomi? Kekhawatiran mengenai dominasi ekonomi atas sastra setidaknya sudah muncul pada tahun 1930-an awal. Seperti dicatat oleh Keith Foulcher, dalam salah satu suratnya dengan Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana mengkhawatirkan pengaruh komersialisasi penerbit-penerbit swasta terhadap eksistensi pengarang “serius.”xvii Kritik atas booming fiksi populer di tahun 1970-an dan 1980-an juga menekankan bahaya komersialisasi sastra. Kita bisa melihatnya dengan jelas dalam paparan Jakob Sumardjo mengenai oposisi Novel Populer dan Novel Sastra. Sebagai contoh, menurut Jakob Sumardjo, tujuan penulisan novel populer adalah murni dagang; pengarang menjadi milik massa; dan pembaca dieksploitasi oleh novel populer (pasar). Tentu kita bisa tidak sepakat dengan pendapat Jakob Sumardjo, tetapi poinnya di sini adalah kecenderungan untuk menjaga otonomi sastra dari kekuasaan ekonomi, khususnya penjualan sebagai basis utama penilaian.

Kecenderungan anti-ekonomi ini berlanjut sampai tahun 1990-an. Setidaknya, kita bisa mengambil satu contoh yang bisa kita pakai untuk merumitkan lagi hubungan sastra dan kekuasaan ekonomi. Tahun 1994, para seniman Yogyakarta yang tergabung dalam “Komite Seniman Anti Bisnis Seni” melakukan demonstrasi terhadap pembacaan sajak-sajak Rendra di sport-hall Kridosono, Yogyakarta. Para demonstran menganggap tiket yang dijual oleh panitia terlalu mahal dan itu bukti nyata bahwa seni telah dibisniskan. Mereka tidak sepakat dengan pembisnisan seni, yang sudah bisa terbaca dari nama “komite” mereka. Apalagi seni yang bermuatan kritik sosial.

Pertanyaannya sekarang, bisakah sastra keluar dari jejaring bisnis? WS Rendra menjawab tidak. “Tanpa bisnis seni bagaimana bisa ada penerbitan buku-buku? Bagaimana bisa diproduksi film-film untuk gedung-gedung bioskop?”xviii Lebih lanjut, kalau seni tidak bisa dibisniskan, bagaimana seorang seniman bisa hidup? Para demonstran ingin menjaga otonomi sastra dari kekuasaan ekonomi, tapi pada saat bersamaan memojokkan orang yang hidup dari sastra dan mengingkari eksistensi kekuasaan ekonomi yang sudah melekat dalam sastra.

Dari paparan singkat di atas, setidaknya kita bisa melihat bagaimana para agen sastra dominan cenderung menganggap otonomi sebagai salah satu nilai utama dari kehidupan sastra. Namun, penekanan yang sangat kuat pada otonomi itu tampaknya juga ditarik sampai titik terjauh sehingga menjadi penyangkalan atas kekuasaan eksternal. Kita akan melihat perubahan pandangan semacam itu di periode selanjutnya, yang menunjukkan betapa erat hubungan sastra dengan kekuasaan eksternal.

Demokratisasi Legitimasi: Dari ‘Kritikus’ Ke Pembaca

Tentu ada perubahan di medan sastra seiring dengan perubahan kekuasaan politik dan ekonomi yang begitu besar di era reformasi. Salah satunya adalah pandangan mengenai ‘kebebasan’ sastra atau otonomi sastra dari kekuasan politik dan ekonomi. Di masa ini, para agen sastra cenderung lebih bisa mengambil jarak dari kekuasaan politik praktis, tetapi lebih tunduk pada kekuasaan ekonomi. Kita akan melihat beberapa contoh modal budaya mengenai hal itu, tetapi baiknya kita pahami dulu bahwa di masa ini, kekuasaan dominan memang bukan kekuasaan politik yang sentralistik, tetapi kekuasaan ekonomi.

Jatuhnya Soeharto didahului dan diiringi dengan krisis ekonomi. Karena itulah, terlepas dari beberapa keberhasilan di bidang politik, agenda utama reformasi yang sampai sekarang masih diprioritaskan adalah agenda ekonomi. Demokratisasi politik tampaknya dilakukan dengan gigih demi kepentingan ekonomi, bukan yang lain. Kalau di masa Soeharto kita masih menjadi negara pembangunan dalam arti berada di tengah antara kontrol penuh negara atas ekonomi dan penyerahan ekonomi pada pasar, di masa ini bisa mengatakan bahwa negara semakin ke kanan, semakin pro-pasar. Dalam praktik ekonomi-politik, Indonesia adalah penganut kepercayaan neo-klasik atau yang lebih dikenal dengan neo-liberal.

Secara sederhana, neoliberalisme adalah kepercayaan bahwa kebebasan individu merupakan jaminan bagi terangkatnya martabat manusia dan bagi kemajuan umat manusia. “Tidak ada yang namanya masyarakat, yang ada hanyalah individu-individu,” kata Margareth Tatcher. Kepercayaan yang mutlak pada individu ini berarti pengabaian struktur, pengabaikan sejarah, pengabaian kolektivitas. Individu-individu neoliberal adalah individu-individu yang merasa bebas dari kekangan struktur apapun dan bebas memilih untuk hidup dengan cara apapun.

Dalam level yang lebih politis, yakni sebagai sebuah praktik ekonomi politik, kebebasan individu neoliberal mensyaratkan kebebasan akan hak privat, pasar bebas, dan perdagangan bebas. Ruang yang besar atas ketiga kebebasan itu, menurut David Harvey, mensyaratkan sebuah mekanisme akumulasi kapital tertentu yang disebutnya sebagai accumulation by disposession.xix Frasa itu dimaknai Harvey sebagai akumulasi kapital yang ditopang oleh penghilangan secara koersif kepemilikan bersama, sebuah kelanjutan dari primitive accumulation­-nya Karl Marx. Maka, tidaklah mengherankan apabila komersialisasi di segala bidang merupakan metode penting bagi ‘pembebasan individu’ untuk mendapatkan hak-hak kepemilikan yang lebih luas; dan jargon utamanya adalah ‘bebaskanlah pasar dari politik’.

Selaras dengan kepercayaan dan praktiknya seperti disebut di atas, di medan Sastra, neoliberalisme menekankan juga pentingnya kebebasan pasar dari politik (sastra). Neoliberalisme mengangkat legitimasi massa/pasar (khalayak pembaca) dan berusaha membebaskan diri dari legitimasi spesifik (kritikus sastra, ahli sastra). “Thousand people can’t be wrong,” bunyi kata-kata mutiara di laman Best Seller situs Gramedia. Tak kalah penting, neoliberalisme menguatkan nilai tukar dari modal ekonomi terhadap modal-modal lainnya (simbolik, kultural, sosial).xx

Sekarang, mari kita periksa kecenderungan itu dalam modal budaya atau pandangan yang diterima sebagai bernilai di medan sastra. Saya akan menjabarkan kecenderungan para agen sastra untuk tidak lagi percaya pada otoritas sastra yang elitis dan memilih untuk mengandalkan legitimasi pembaca (pasar) yang dianggap lebih demokratis. Kecenderungan ini sama sekali bertentangan dengan pandangan di masa sebelumnya dan berkaitan erat dengan perubahan kekuasaan ekonomi dan politik.

Kita bisa melacak kecenderungan demokratisasi legitimasi ini dari esai Radhar Panca Dahana “Sejarah Sastra Menuju Pembaca” yang maktub di buku Kebenaran dan Dusta dalam Sastra (2001). Menurut Radhar, ada tradisi patron dan paternalistik dalam sastra Indonesia, yang ditandai dengan memusatnya legitimasi sastra pada tokoh-tokoh tertentu, misalnya A. Teeuw dan HB Jassin, dan pada sebagian elit di Jakarta. Kondisi-kondisi itu musti diatasi, yakni dengan cara menempatkan pembaca pada posisi dominan. Dengan cara demikian, eksklusivitas dan arogansi sastra akan terkikis; standar-standar, dominasi, dan pensubordinasian sastra bisa diintervensi dan didobrak; dan lahirnya “demokrasi subjektivitas”. Sedangkan tugas kritikus adalah melakukan kodifikasi tafsir pembaca dan menjadikannya “standar-standar yang disesuaikan oleh geografi dan demografi para pembaca yang diwakilinya.”xxi

Narasi serupa juga muncul di perdebatan panjang Cyber Sastra. Dalam perdebatan yang dibukukan pada tahun 2001 dan 2004 itu, muncul berbagai isu penting. Salah satunya adalah dominasi legitimasi kesastraan. Dan menariknya, jalan keluar yang umumnya diajukan sama seperti yang diutarakan Radhar, yakni demokratisasi legitimasi dengan mengangkat pembaca. Dalam arti: persamaan hak dalam melegitimasi karya sastra, baik yang dimiliki kritikus atau sastrawan senior, majalah sastra, redaktur koran, maupun, yang sedang diperjuangkan, pembaca (awam). Usman K.J. Suharjo, misalnya, dengan mengutip William Sloane, berpendapat bahwa “yang membuat buku menjadi sebuah karya sastra adalah pembacanya” dan bukan “kritikus sastra, editor, atau profesor” (2004: 63). Pembacalah yang membuat seorang penulis menjadi sastrawan. “Selama karya seorang penulis masih dinikmati, dibaca, didiskusikan dari waktu ke waktu, maka karya itu telah menjadi karya sastra dan penulisnya menjadi sastrawan”.xxii Begitu juga dengan Muhammad Al-Fayyadl. Ia menganggap sastra cyber punya potensi mendobrak “elitisasi dan ‘absolutisme’” yang “begitu dominan dalam mekanisme sastra cetak, di mana tidak sembarang orang dapat mempublikasikan karya-karyanya”. Di era sastra cyber, menurut Fayyadl, telah terjadi “relativitasi”, sebuah proses yang membuka peluang bagi karya sastrawan yang tidak terkenal, dan “menyerahkan seleksi kualitasnya kepada publik”.xxiii Fayyadl menyamakan fenomena sastra cyber dengan “kesenian populer lainnya” dan sama menariknya dengan “fenomena sastra subkultur” yang berusaha mengangkat yang pinggiran, yang hidup jauh dari pusat-pusat sastra. Ia juga menunggu dan berharap bahwa sastra cyber akan mampu menggerakkan “animo massa”. Seperti Radhar Panca Dahana, Suharjo dan Fayadl melihat elitisme secara negatif dan percaya bahwa pembaca adalah jalan keluar dari dominasi elit-elit sastra di medan Sastra.xxiv

Peristiwa penting lain dari perjalanan legitimasi dari-kritikus-ke-pembaca bisa kita temui dalam Anugrah Sastra Pena Kencana (ASPK) pada tahun 2008. ASPK menyeleksi dan menerbitkan 20 Cerpen Terbaik Indonesia dan 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008. Yang menarik dari anugrah itu, berkaitan dengan demokratisasi legitimasi, bukanlah kemenangan karya-karya dari beberapa juri dalam penghargaan (yang sudah jamak terjadi di Indonesia!), tetapi mekanisme penyeleksian dan pemenangan. Pemilihan pemenang dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah penyeleksian juri, dimana juri memilih 20 karya cerpen dan 100 puisi yang tersebar di berbagai media massa di Indonesia. Sedangkan tahap kedua adalah pemungutan suara pembaca melalui Short Message Service (SMS).

Saya masih bisa menambah daftar kecenderungan itu lebih panjang lagi. Intinya, kita melihat pergeseran pandangan atas legitimasi sastra yang lebih menekankan pentingnya pembaca/publik. Perubahan pandangan mengenai legitimasi sastra secara sepintas tampak tidak berhubungan dengan isu otonomi sastra; tetapi, justru lewat perubahan pandangan itulah penyangkalan atas kekuasaan eksternal dalam pembicaraan mengenai otonomi sastra di masa sebelumnya jadi terbantahkan. Jalan pintas yang diajukan bagi persoalan elitisme sastra di Jakarta itu juga secara ‘kebetulan’ senada dengan agenda-agenda desentralisasi politik yang dicanangkan oleh Bank Dunia dan IMF, juga seirama dengan jargon neoliberal untuk membebaskan pasar dari politik. Tentu saja saya tidak hendak mengatakan bahwa semua orang yang namanya saya sebut di atas adalah antek-antek neolib. Namun, ‘kebetulan’ semacam ini tentu membuat kita berpikir lagi tentang otonomi sastra. Selain itu, dinamika internal tentang legitimasi ini membuka jalan bagi munculnya fenomena sastrawan best-seller yang diakui di medan sastra karena status best-seller­nya, seperti Andrea Hirata.

Kasus Andrea Hirata dan Skandal Denny JA

Andrea Hirata merupakan contoh penulis (dia tidak mau disebut sastrawan) di masa ini yang mendapatkan legitimasi massa sekaligus spesifik (kritikus sastra, akademisi)—setidaknya melalui blurb dinovel-novelnya. Dari pernyataan-pernyataannya di mediamassa dalam kasus Damar Juniarto dua tahun silam (2013), maupun dalam wawancara-wawancaranya yang lain, kita bisa melihat bagaimana kesuksesan penjualan (kekuasaan ekonomi) mampu dengan mudah dikonversi menjadi modal simbolik dan modal budaya. Andrea Hirata dianggap salah satu sastrawan besar Indonesia yang mendunia; ia juga mendapat legitimasi untuk berbicara mengenai sastra yang baik itu seperti apa.xxv

Tentu banyak orang sastra yang geram dengan bagaimana Andrea Hirata meremehkan sastra Indonesia yang tidak laku secara internasional, atau sastra Indonesia secara umum. Namun, kita mesti ingat bahwa sebagian agen sastra sendirilah, di dalam dinamika internalnya, yang memungkinkan lahirnya orang yang mengaku hebat karena punya banyak pembaca yang mengakuinya sebagai hebat. Thousand people can’t be wrong! Dan tugas kritikus adalah melakukan kodifikasi tafsir ribuan pembaca yang tak pernah salah itu.

Dalam kasus Andrea Hirata-lah, saya kira, kita menemukan betapa kenaifan berujung penyangkalan atas hubungan sastra dengan kekuasaan ekonomi melahirkan sesuatu yang mungkin tidak kita inginkan. Jalan pintas yang diajukan para agen sastra untuk mengkritik elitisme dan sikap paternalistik dengan mengangkat pembaca di posisi tertinggi dalam legitimasi sastra menemukan batasnya di kasus Andrea Hirata. Kalau tidak hati-hati, kegigihan mengangkat pembaca sebagai jalan keluar dari persoalan legitimasi sastra sama saja menyerahkan sastra pada pasar, pada angka penjualan.

Kalau Andrea Hirata bisa kita sebut sebagai fundamentalis pasar karena ketergantungannya pada kekuasaan ekonomi lewat angka penjualan, Denny JA cenderung menggunakan modal ekonomi dengan cara yang lebih ‘tradisional’, atau kasar, yakni dengan ‘membeli tunai’ para pemegang otoritas sastra yang ironisnya kita anggap sebagai para begawan sastra Indonesia. Buku 33 Tokoh Sastra merupakan bukti nyata bahwa otonomi sastra dari kekuasaan ekonomi tidak sebesar yang kita bayangkan, bahwa sastra tidaklah suci dari uang.

Ahmad Gauss, dalam pembelaannya terhadap Denny JA dan buku 33 Tokoh Sastra, sebenarnya memakai logika yang persis sama dengan sebagian orang sastra sendiri: Denny JA dianggap berpengaruh karena tidak ada “penyair yang karya puisinya dibaca oleh begitu banyak orang seperti puisi esai yang digagas oleh Denny JA.” Dengan nalar seperti ini, Ahmad Gauss bisa melangkah lebih jauh untuk secara tersirat menyatakan bahwa karya Denny JA telah memancarkan keagungan dan pengaruhnya pada publik luas. Klaim semacam ini, seperti sudah saya jelaskan di awal, cenderung naif dan menyangkal kekuasaan ekonomi dalam sastra—yang hadir dalam politik pencitraan, politik sandiwara penulisan puisi esai, dan lain-lain.

Saya pikir kriminalisasi Iwan Soekri dan khususnya Saut Situmorang merupakan ekses dari besarnya kekuasaan ekonomi semacam itu. Dalam sebuah tulisan untuk membela upaya kriminalisasi terhadap Iwan Soekri, Denny JA menyatakan bahwa pihak Iwan Soekri “tentu harus menyiapkan pengacara untuk membelanya. Juga menyiapkan dana untuk pengadilan. Juga menyiapkan waktu, pikiran dan stamina.”xxvi Pernyataan ini, seperti sudah disinggung dalam banyak perbincangan, menunjukkan betapa modal ekonomi begitu kuat sehingga bisa melahirkan kesombongan yang begitu besar. Namun, sekali lagi, seperti telah dijabarkan di atas, kita tidak sepenuhnya lepas dari nalar-pikir semacam itu.

Penutup

Dalam “Neoliberalism, the Utopia (Becoming a Reality) of Unlimited Exploitation”, Bourdieu menyebutkan bahwa neoliberalisme menyebabkan “the progressive disappearance of the autonomous world of cultural production, cinema, publishing etc., and therefore, ultimately, of cultural products themselves”.xxvii Artinya, pengikisan otonomi sastra akan terus berlanjut. Bahkan, mungkin di era ini kita akan menyaksikan hilangnya otonomi sastra. Namun, kita juga mesti ingat bahwa dalam sejarahnya, sastra Indonesia tidak pernah punya otonomi mutlak.

Dengan kesadaran semacam itulah, saya pikir, protes atas terbitnya buku 33 Tokoh Sastra mesti ditempatkan. Angka penjualan mungkin sudah dianggap lazim dan diterima sebagai pelegitimasi sebuah karya, tetapi ‘pembelian tunai’ pemegang otoritas sastra ternyata menggelisahkan kita, menggugah kesadaran kita akan betapa besar kekuasaan ekonomi atas sastra. Kita tidak bisa lagi menyangkal penetrasi kekuasaan eksternal, khususnya ekonomi, dalam sastra. Dinamika internal dalam sastra sendiri menunjukkan adanya hubungan dengan kekuasaan eksternal. Karenanya, dinamika internal di medan sastra—‘sikut-menyikut’, pengambilan posisi estetis dan ideologis tertentu—mesti diterima dan dicermati lebih dalam untuk melihat bagaimana proses de-otonomisasi berlangsung, untuk mencari strategi yang lebih jitu dalam berhubungan dengan dominasi.

Rumusan awal Bosman Batubara tentang seni “Yang Terpanggil Tanah Air”, maupun banyak tulisan lain tentang seni-yang-melawan, merupakan pengakuan terhadap kekuasaan eksternal, baik ekonomi maupun politik, dalam dinamika sastra atau seni terutama terutama terkait inspirasi penciptaan. Penelusuran lebih lanjut tentang persoalan ini mungkin bisa kita lakukan dengan memelajari ulang, dan mengambil inspirasi dari, sikap dan rumusan Lekra, WS Rendra, Wiji Thukul, dan lain-lain. tentang seni dan kekuasaan. Kalau kita tidak hati-hati, penekanan terus-menerus pada ‘perlawanan’ justru akan melokalisir persoalan besar ini pada genre-sastra/seni-berdasarkan-isu atau menggurui sastrawan untuk menuliskan agenda gerakan yang bisa jadi tidak sejalan dengan perasaan mereka.[]

Catatan Kaki:

I. Saya tidak ingin mengatakan bahwa kekayaan adalah satu-satunya sumber penghormatan       terhadap seseorang, tetapi tidak bisa diingkari bahwa saat ini modal ekonomi memainkan peran yang sangat penting.

II. Dikutip dari artikel Ahmad Gaus “Seputar Heboh Buku ‘33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’”

III. http://ahmadgaus.com/2014/01/22/33tokohsastra/, diakses 8 Oktober 2015.

IV. Swartz, David. (1997). Culture and Power: The Sociology of Pierre Bourdieu. Chicago & London: The University of Chicago Press

V. “Salah satu poin utama dalam pergulatan di dalam medan sastra atau artistik adalah definisi mengenai batas-batas medan itu sendiri”(Bourdieu, 1987: 174; dalam Swartz, 1997: 121).

VI. Ini adalah topik lain yang bisa kita perbincangkan di lain kesempatan.

VII. Simatupang, Iwan. (1986). “’T’ dari Tanggung Jawab” dalam Sejumlah Masalah Sastra. Cetakan ke-3. Editor: Satyagraha Hoerip. Penerbit Sinar Harapan.

VIII. Darma, Budi (1983). “Pengakuan”. Maktub dalam Solilokui: Kumpulan Esei Sastra. Dalam “pengakuan”-nya, Budi Darma menyatakan bahwa ia menjadi pengarang karena takdir. Dia mengaku bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang memaksanya untuk menulis. Ia merasa sudah terikat dengan takdir itu sehingga kalau tidak menulis berarti “berkhianat terhadap takdir” (1983: 1). Pertanyataan-pertanyaannya yang lain yang serupa dengan pendapat itu tersebar di banyak esai sastranya.

IX. Lestari, Dewi (2012). Supernova Episode: Partikel. Yogyakarta: Penerbit Bentang. Hal. 492. “Inspirasi akan memilih inangnya. Seperti jodoh, ketika bertemu dan pas, terjadilah perkawinan, dan muncullah entitas baru. Sebuah inspirasi memilih saya sebagai inangnya, dan lahirlah entitas berbentuk novel serial yang berjudul Supernova. Kekuatan yang sama membimbing saya untuk menulis episode demi episode dalam dinamika relasi yang kerap membuat saya bertanya: siapa menulis siapa?

X. Salah satu fakta menarik terkait persoalan seks dalam sastra adalah perubahan pandangan begawan Salihara, Goenawan Mohamad. Pada tahun 1969, dalam esainya “Seks, Sastra, Kita”, Goenawan Mohamad menekankan bahwa permasalahan adegan seks dalam karya sastra bukanlah hadir atau tidaknya seks dalam sastra, tetapi “wajar atau tidak wajarnya suatu pengucapan literer” mengenai seks. Baginya, pengucapan yang berlebihan juga tidak baik.

XI. (1) Trisno Sumardjo, (2) Zaini, (3) H.B. Jassin, (4) Wiratmo Soekito, (5) Bokor Hutasuhut, (6) Goenawan Mohamad, (7) Bur Rasuanto, (8) A. Bastari Asnin, (9) Ras Siregas, (10) Djufri Tanissan, (11) Soe Hok Djin (Arief Budiman), (12) Sjahwil, dan (13) D.S. Moljanto. Sebagian besar penanda tangan dan pendukung Manifes Kebudayaan di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh penting dalam lapangan kesenian dan Sastra di Indonesia karena sebagian besar lawan politik kebudayaan-kesenian mereka, yakni orang-orang Lekra, dipenjarakan atau dibunuh rezim Orde Baru.

XII. Untuk melihat lebih lengkap proses penciptaan Manifes Kebudayaan dari perspektif para pendukungnya, baca Prahara Budaya susunan D.S. Molejanto dan Taufiq Ismail, sedangkan untuk pembahasan yang cenderung lebih objektif, lihat “A Survey of Events Surrounding Manikebu” dari Keith Foulcher.

XIII. Penjabaran lebih rinci tentang hubungan beberapa penggagas Manikebu dan lembaga yang didukung CIA bisa dilihat di Kekerasan Budaya Pasca 65 karya Wijaya Herlambang.

XIV. Heryanto, Ariel (ed). (1985). Perdebatan Sastra Kontekstual. Jakarta: CV Rajawali. Hal. 44.

XV. Pandangan ini belakangan dikritik oleh Saut Situmorang dalam esainya “Sastra Kontekstual”, yang maktub dalam Politik Sastra dan bisa diakses di https://boemipoetra.wordpress.com/2014/01/27/sastra-kontekstual/

XVI. Sebagian penanggap dalam Perdebatan Sastra Kontekstual merupakan orang-orang yang sudah terkonsekrasi di medan Sastra, tetapi beberapa nama, seperti Kartapati Z dan Henrik Berybe yang dikutip di sini memang bukan orang-orang yang sejauh pengetahuan saya memiliki pengaruh besar di medan Sastra. Pun demikian, maraknya perdebatan itu, yang menarik banyak intelektual bahkan di luar medan sastra, menunjukkan kepedulian yang penting atas otonomi Sastra di satu sisi, tetapi juga hubungannya dengan masyarakat di sisi lain.

XVII. Malna, Afrizal. (2000). Sesuatu Indonesia: Personifikasi Pembaca-yang-Tak-Bersih. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. Hal. 472-87.

XVIII. Keith Foulcher, Pujangga Baru: Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942, hal.19.

XIX. Rendra, WS. (2001). Penyair dan Kritik Sosial. Yogyakarta: Penerbit KEPEL Press.; hal. 98

XX. Lihat A Brief History of Neoliberalism

XXI. Kesimpulan ini saya rumuskan dari beberapa landasan: (a) modal ekonomi adalah salah satu jenis modal dalam penteorian Bourdieu terkait medan; (b) salah satu jenis pergulatan dalam medan Sastra adalah persoalan nilai tukar antar-modal; (c) neoliberalisme, menurut Bourdieu, membangun filsafat manusia dengan landasan ekonomi; dan (d) jargon utama neoliberal, ‘bebaskanlah pasar dari politik’, mengimplikasikan pengutamaan ekonomi dibanding hal-hal lainnya. Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa pengutamaan nilai ekonomis berarti peningkatan nilai transfer modal ekonomi terhadap modal-modal lain baik di satu medan atau pun lintas-medan.

XXII. Dahana, Radhar Panca. (2001). Kebenaran dan Dusta dalam Sastra. Magelang: IndonesiaTera. Hal. 249.

XXIII. Situmorang, Saut (Ed). (2004). Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk. Yogyakarta: Jendela. Hal. 63-64.

XXIV. Ibid, hal. 157.

XXV. Dalam isu ini, Saut Situmorang tampaknya memiliki pendapat berbeda. Ia cenderung menekankan pentingnya kritik sastra (akademis) alih-alih mengandalkan legitimasi massa dalam melawan dominasi elit sastra di Jakarta.

XXVI. Lihat, misalnya, wawancaranya dengan Hernowo Hasyim di Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=gK0NSWRNtcs

XXVII. http://inspirasi.co/inspirasi/forum/post/4045/gugatan_hukum_pertama_dunia_sastra_kasus_social_media

XXVIII. Bourdieu, Pierre. (2000). Acts of Resistance: Against the New Myths of Our Time. Cambridge: Polity Press. Hal. 102.

wahmuji
wahmuji
Alumnus S2 Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma. Ia bersama teman-temannya mengelola Media Sastra Online dan Warung Kopi Lidahibu.

58 Comments

  1. whoah this weblog is great i really like studying your articles. Keep up the good work! You already know, lots of persons are looking round for this info, you could help them greatly.

  2. I’m very happy to read this. This is the type of manual that needs to be given and not the accidental misinformation that is at the other blogs. Appreciate your sharing this greatest doc.

  3. Interesting topic but I’m not sure that I agree with you. Things like this have chanbged the way the web was formed and created. Is it really as simple as changing out the direction and watching the web change?

  4. dry wizard says:

    I would say that longevity is all about a state of mind. While diet and health can aid in this I think it’s the mindset. It all boils down to making them think that they are still an asset.

  5. I was just looking for this information for some time. After six hours of continuous Googleing, at last I got it in your web site. I wonder what is the lack of Google strategy that don’t rank this type of informative sites in top of the list. Usually the top web sites are full of garbage.

  6. Good ¡V I should certainly pronounce, impressed with your web site. I had no trouble navigating through all tabs and related information ended up being truly easy to do to access. I recently found what I hoped for before you know it in the least. Reasonably unusual. Is likely to appreciate it for those who add forums or something, site theme . a tones way for your customer to communicate. Nice task..

  7. I am apart of a commitee that is trying to start a clothing company. I am in charge of designing the clothing website because for right now you can only order stuff online. But I was just wondering how do you start a website for a clothing company? What are some good domain places to sign up for a domain..

  8. You really make it seem so easy together with your presentation however I to find this topic to be actually one thing that I feel I would never understand. It sort of feels too complicated and extremely wide for me. I’m looking ahead to your next submit, I¡¦ll try to get the dangle of it!

  9. World Facts For Children… […]here are some links to sites that we link to because we feel they’re worth visiting[…]…

  10. Well I definitely enjoyed reading it. This post provided by you is very effective for good planning.

  11. Great write-up, I¡¦m normal visitor of one¡¦s blog, maintain up the nice operate, and It’s going to be a regular visitor for a long time.

  12. I have been exploring for a little for any high-quality articles or blog posts on this sort of house . Exploring in Yahoo I finally stumbled upon this web site. Studying this info So i am happy to exhibit that I’ve an incredibly excellent uncanny feeling I found out exactly what I needed. I such a lot certainly will make certain to don¡¦t overlook this site and give it a glance on a constant basis.

  13. Well I truly enjoyed reading it. This information provided by you is very constructive for proper planning.

  14. I’m very happy to read this. This is the kind of manual that needs to be given and not the accidental misinformation that is at the other blogs. Appreciate your sharing this best doc.

  15. I’ve been surfing online more than three hours today, yet I never found any interesting article like yours. It is pretty worth enough for me. In my view, if all web owners and bloggers made good content as you did, the net will be much more useful than ever before.

  16. I’m extremely impressed with your writing skills and also with the layout on your weblog. Is this a paid theme or did you customize it yourself? Anyway keep up the excellent quality writing, it’s rare to see a nice blog like this one today..

  17. Was koche ich heute – diese Frage stellen sich tag fuer tag viele Menschen. Und wir haben tag fuer tag die perfeckte Antwort darauf! Besuchen Sie uns auf unserer Webseite und lassen Sie sich von uns beraten . Wir freuen uns auf Sie!

  18. Hello.This post was really fascinating, especially because I was looking for thoughts on this topic last Friday.

  19. This is really interesting, You are a very skilled blogger. I have joined your feed and look forward to seeking more of your wonderful post. Also, I’ve shared your site in my social networks!

  20. When I originally commented I clicked the -Notify me when new comments are added- checkbox now each time a comment is added I’m four emails using the same comment. Perhaps there is any way that you are able to eliminate me from that service? Thanks!

  21. Terrific work! This is the type of information that should be shared around the web. Shame on the search engines for not positioning this post higher! Come on over and visit my site . Thanks =)

  22. Hi there, just became aware of your blog through Google, and found that it is really informative. I’m going to watch out for brussels. I will be grateful if you continue this in future. Numerous people will be benefited from your writing. Cheers!

  23. Excellent weblog right here! Additionally your site a lot up very fast! What host are you the usage of? Can I am getting your associate hyperlink to your host? I want my website loaded up as quickly as yours lol

  24. We’re a group of volunteers and opening a new scheme in our community. Your website offered us with valuable info to work on. You’ve done a formidable job and our whole community will be thankful to you.

  25. Nice blog right here! Also your site lots up fast! What host are you using? Can I am getting your associate link to your host? I desire my website loaded up as quickly as yours lol

  26. I loved as much as you will receive carried out right here. The sketch is attractive, your authored material stylish. nonetheless, you command get bought an shakiness over that you wish be delivering the following. unwell unquestionably come further formerly again since exactly the same nearly a lot often inside case you shield this hike.

  27. Wow! Thank you! I always needed to write on my blog something like that. Can I implement a portion of your post to my site?

  28. Hiya, I’m genuinely glad I’ve identified this information. Today bloggers publish just about gossips and net and this really is in fact frustrating. A excellent internet site with interesting content material, that is what I want. Thank you for keeping this internet site, I’ll be visiting it. Do you do newsletters? Can’t uncover it.

  29. Nice blog here! Also your web site loads up very fast! What host are you using? Can I get your affiliate link to your host? I wish my web site loaded up as fast as yours lol

  30. Needed to compose you the bit of word so as to thank you very much the moment again with the gorgeous solutions you have featured here. It was simply unbelievably open-handed of you to give unhampered just what a lot of people could have offered for sale for an e book to get some profit on their own, chiefly considering that you might well have tried it if you decided. The principles in addition worked like a great way to recognize that other individuals have the same keenness the same as my personal own to learn lots more in respect of this matter. I am sure there are many more pleasant moments up front for individuals who look over your site.

  31. I think other web-site proprietors should take this web site as an model, very clean and magnificent user genial style and design, let alone the content. You are an expert in this topic!

  32. I am not sure where you are getting your info, but great topic. I needs to spend some time learning much more or understanding more. Thanks for magnificent info I was looking for this information for my mission.

  33. whoah this blog is fantastic i really like reading your articles. Keep up the great paintings! You recognize, a lot of individuals are hunting around for this information, you could aid them greatly.

  34. go to post says:

    I simply want to say I’m very new to blogging and site-building and really loved you’re page. More than likely I’m want to bookmark your site . You definitely come with really good article content. With thanks for revealing your website.

  35. hey there and thank you for your info – I’ve definitely picked up something new from right here. I did however expertise a few technical issues using this web site, since I experienced to reload the website lots of times previous to I could get it to load properly. I had been wondering if your web hosting is OK? Not that I am complaining, but slow loading instances times will sometimes affect your placement in google and can damage your high quality score if advertising and marketing with Adwords. Well I’m adding this RSS to my email and could look out for much more of your respective intriguing content. Make sure you update this again very soon..

  36. I wanted to write you that very small remark just to thank you over again for the striking basics you’ve shown at this time. This has been quite unbelievably generous with people like you to grant unhampered exactly what many of us could have offered for sale as an electronic book to get some profit for themselves, even more so considering the fact that you could possibly have done it in the event you wanted. Those things also served to be a easy way to realize that the rest have the identical desire really like mine to learn a little more when considering this problem. I am certain there are some more enjoyable occasions ahead for individuals that start reading your blog.

  37. 276794 567355I gotta bookmark this website it seems extremely helpful . 595305

  38. It¡¦s really a cool and helpful piece of info. I¡¦m glad that you just shared this useful info with us. Please keep us up to date like this. Thanks for sharing.

  39. Great awesome issues here. I¡¦m very happy to see your post. Thank you so much and i am looking forward to contact you. Will you please drop me a e-mail?

  40. As I site possessor I believe the content matter here is rattling wonderful , appreciate it for your hard work. You should keep it up forever! Good Luck.

  41. Modern Sofa says:

    Great goods from you, man. I’ve understand your stuff previous to and you’re just too fantastic. I actually like what you have acquired here, really like what you are stating and the way in which you say it. You make it entertaining and you still care for to keep it smart. I cant wait to read much more from you. This is actually a great website.

  42. Hiya, I’m really glad I’ve found this info. Nowadays bloggers publish just about gossips and internet and this is really irritating. A good site with interesting content, this is what I need. Thanks for keeping this site, I’ll be visiting it. Do you do newsletters? Cant find it.

  43. Thanks a lot for sharing this with all of us you really know what you are speaking approximately! Bookmarked. Kindly additionally visit my website =). We can have a hyperlink exchange agreement between us!

  44. good website says:

    I simply want to mention I am just newbie to weblog and certainly enjoyed your blog. Most likely I’m going to bookmark your site . You definitely have wonderful stories. Thank you for revealing your blog.

  45. I just want to say I am all new to blogs and seriously loved your web page. Likely I’m going to bookmark your blog . You actually come with wonderful articles and reviews. Kudos for sharing your web page.

  46. Home Plans says:

    wonderful issues altogether, you just won a new reader. What would you suggest in regards to your submit that you made some days ago? Any certain?

  47. I get pleasure from, lead to I found just what I was having a look for. You’ve ended my four day lengthy hunt! God Bless you man. Have a nice day. Bye

  48. Motorcycle says:

    I do consider all the ideas you have offered to your post. They are very convincing and can certainly work. Nonetheless, the posts are too short for starters. Could you please extend them a little from next time? Thank you for the post.

  49. We are a group of volunteers and starting a new scheme in our community. Your website offered us with valuable information to work on. You have done a formidable job and our entire community will be thankful to you.

  50. full post says:

    I just want to tell you that I’m new to blogging and honestly liked you’re blog. Likely I’m likely to bookmark your blog . You definitely come with fabulous article content. Kudos for sharing with us your web site.

  51. I simply want to say I am very new to blogging and truly loved your web blog. Likely I’m likely to bookmark your blog post . You amazingly come with tremendous writings. Thank you for sharing with us your website page.

  52. I just want to mention I am very new to weblog and truly savored you’re web-site. Most likely I’m going to bookmark your blog post . You surely come with incredible posts. Thanks for sharing with us your web-site.

  53. great page says:

    I just want to tell you that I am newbie to blogs and certainly liked your web site. More than likely I’m planning to bookmark your blog . You definitely have wonderful articles and reviews. Cheers for sharing your website.

  54. read content says:

    I just want to tell you that I am all new to blogging and honestly enjoyed your blog. Almost certainly I’m want to bookmark your blog post . You really have awesome posts. Regards for revealing your website page.

  55. good page says:

    I simply want to say I’m new to weblog and actually loved this web page. Likely I’m planning to bookmark your website . You certainly have fantastic writings. Appreciate it for sharing with us your blog.

  56. Its fantastic as your other posts : D, thankyou for posting. “A great flame follows a little spark.” by Dante Alighieri.

  57. seks izle says:

    587369 276119Great paintings! This is the kind of info that should be shared around the web. Disgrace on Google for now not positioning this publish upper! Come on over and talk over with my site . Thanks =) 564535

  58. I just want to mention I’m very new to weblog and truly liked this page. Likely I’m planning to bookmark your site . You absolutely come with tremendous article content. Thank you for sharing your web page.