Museum Sangkar untuk Bapak: Catatan Ringkas tentang Kumpulan Cerita ‘Penjagal Itu Telah Mati’ (Bagian II)
Dec 17, 2015
BAH!
Dec 21, 2015

Museum Sangkar untuk Bapak: Catatan Ringkas tentang Kumpulan Cerita ‘Penjagal Itu Telah Mati’ (Bagian III)

“30 September” karya Dadang Christanto. SUMBER: PATABABLORA.BLOGSPOT.COM

Pian-HoaTerbalik ala Gunawan Budi Susanto

Istilah pian-hoa ini saya dapatkan dalam cerita-cerita silat Asmaraman S. Kho Ping Hoo, salah seorang maestro cerita silat yang tak pernah menerima penghormatan resmi negara sebagai salah seorang pengarang besar di negeri ini. Pian-hoa adalah istilah yang dipakai oleh Kho Ping Hoo ketika seorang pendekar menyamar, biasanya untuk membebaskan pendekar yang ditawan musuh atau kekasih yang dikurung oleh orangtuanya. Di masa remaja hingga dewasa, Gunawan Budi Susanto adalah salah seorang penggemar cerita silat Kho Ping Hoo. Saya menggunakan istilah pian-hoa terbalik ini untuk menunjukkan strategi literer jitu Gunawan Budi Susanto dalam menempelak atau menampar wajah pembaca Penjagal Itu Telah Mati.

Lewat rangkaian cerita yang disuguhkan dalam buku Penjagal Itu Telah Mati, Gunawan Budi Susanto pertama-tama menunjukkan wajah dirinya sebagai anak seorang tapol dengan segenap suka-duka hidupnya sejak pecahnya tragedi berdarah 1965 hingga masa tuanya. Dengan penuh kesungguhan ia mengisahkan kerinduan tak terperi pada sosok sang bapak yang terakhir bisa ia lihat wajahnya pada usia empat tahun. Dengan penuh kemarahan hingga kepedihan ia mengisahkan nestapa yang dirasakannya karena sang ibu terus menerus bungkam saat diminta untuk bercerita masa-masa paruh kedua 1960-an hingga 1970-an. Dan lewat seluruh cerita dalam kumpulan cerita ini, kita bisa ikut merasakan seperti apa gejolak perasaan, batin, dan pikiran diri dan keluarganya dalam menjalani hari-hari tanpa kepastian akibat berkuasanya rezim politik otoriter-birokratik-militeristik Orde Baru hingga masa reformasi sekarang ini.

Nah, persis ketika kita merasa bahwa apa yang dikisahkan oleh Gunawan Budi Susanto ini sebagai kisah diri dan keluarganya, tiba-tiba ia membuka penyamarannya. Kalau dalam pian-hoa yang biasa dihadirkan Kho Ping Hoo dalam cerita-cerita silatnya adalah sang pendekar menjadi orang lain terlebih dahulu sebelum menunjukkan wajah aslinya di depan sahabat yang ditawan atau kekasih yang dikurung oleh orangtuanya, maka dalam Penjagal Itu Telah Mati Gunawan Budi Susanto menunjukkan terlebih dahulu wajahnya sendiri di depan pembaca sebelum ia malih-rupa menjadi wajah pembaca sendiri. Sebagai pelajar sastra Indonesia yang tahu betul teknik membangun cerita dan, dengan demikian, secara sadar meletakkan tulisan-tulisannya di atas tradisi penulisan cerita sebelumnya, Gunawan Budi Susanto melentingkan imajinasi pembaca pada sesuatu yang tak ia duga sebelumnya.

Sinyalemen ini sudah ia suguhkan di bagian prolog yang diberi judul “Metamorfosis Keterpelajaran: Semacam Prolog”:

“Celaka, riwayat mesum itu adalah juga potret generasi saya, generasi tahun 1960-an, tetapi berharap hidup kaya dan bahagia sampai kapan pun zaman menjelang. Itulah potret kegagalan, yang tak pantas dibanggakan. (“Metamorfosis Keterpelajaran: Semacam Prolog”, hal. xvii)

Gerundelan itu sebenarnya tak diniatkan sebagai tujuan dari penulisan ceritanya. Ia hanya menjadi pengakuan tentang perkembangan intelektual dari sang pengarang. Namun, mengingat cerita-cerita karangannya adalah hasil dari olah-pikir inteleknya, maka gerundelan tersebut bisa ditempatkan untuk menilai potret pembacanya. Tak sekadar sebagai potret kegagalan yang tak pantas dibanggakan, riwayat yang disuguhkannya itu juga merupakan potret dari sebuah generasi peralihan yang dipaksa untuk mengikuti pembalikan nilai-nilai atau prinsip hidup seiring dengan maraknya rezim politik otoriter-birokratik-militeristik Orde Baru yang ingin mengukuhkan eksistensinya nyaris di semua lapangan kehidupan.

Lebih jauh lagi, cerita-cerita yang ditulis oleh Gunawan Budi Susanto tak hanya menyuguhkan potret kekalahan dari keluarga korban, tetapi secara kontrapuntal juga menyuguhkan potret kekalahan dari para penjagal dan keluarganya atau pun orang-orang yang melestarikan kekerasan fisik, struktural, dan kultural pada korban tragedi 1965. Ditangisi atau pun ditertawai, hidup yang mereka jalani adalah sebentuk kehidupan yang memalukan bagi diri sendiri. Sialnya, akibat rasa malu yang berlebihan pada kehidupan yang mereka jalani itu, baik pihak yang dianggap menang maupun pihak yang dianggap kalah menjadi terlalu berharap pada generasi baru, generasi sesudah mereka, agar tak lagi mengalami kekalahan memalukan seperti dirinya.

Di titik ini, saya teringat dengan ucapan sejarawan Yunani kuno, Horatius. Setelah menuturkan kisah-kisah sejarahnya, Horatius dengan penuh teka-teki melontarkan retorika yang menempelak pembaca atau penyimak uraian sejarahnya: “Apakah kau pikir aku sedang mengisahkan diriku sendiri? Dengan mengubah nama dan tempat, untukmulah kisah-kisah ini kututurkan.” Ingatan pada retorika itu membuat saya memandang cerita-cerita Gunawan Budi Susanto dalam konteks sebagaimana kisah-kisah Horatius. Lewat cerita-ceritanya, Gunawan Budi Susanto tengah memainkan simulasi yang berakhir dengan tusukan kesadaran di benak pembacanya. Saya membayangkan, begitu menyelesaikan buku ini, Gunawan Budi Susanto akan berujar pada pembacanya dengan senyum simpul:

“Jadi, bagaimana? Apakah kau mengira aku sedang mengisahkan diriku sendiri dan menjaring iba darimu? Tidak. Aku tak sepolos itu. Lihatlah baik-baik. Hanya dengan mengubah nama, tempat, dan membalik logika peristiwa, kisah yang kutulis itu telah menjadi kisahmu sendiri!”

Catatan Penutup: Pengakuan Seorang Pemburu

Setelah mencoba menyajikan pada pembaca yang terhormat mulai dari catatan memalukan para pembaca dan kritikus sastra Indonesia hingga tanggapan literer saya selaku pembaca yang tak terdidik secara formal-akademik sebagai seorang kritikus sastra, saya hanya ingin memperjelas kedudukan saya sebagai seorang pembaca jalanan. Saya bukan penahbis seorang penulis seperti halnya Sapardi Djoko Damono, Maman Mahayana, atau para kritikus yang hidup nyaman dalam budaya penahbisan para penulis kosong. Penahbis semacam itu biasanya tak mau berlelah-lelah mencari permata prosa seperti Ulid Tak Ingin ke Malaysia, Nyanyian Penggali Kubur, Penjagal Itu Telah Mati, atau sebuah novel indah karya penulis yang tak familiar di kalangan kritikus atau pembaca sastra yang baru-baru ini saya baca. Semua karya yang saya sebutkan di atas sudah menjadi permata sejak dari mulanya. Saya hanya beruntung karena pernah membacanya dan belajar banyak dari karya yang ditulis para penulis jempolan itu, meskipun nama mereka tak begitu dikenal oleh publik sastra secara luas kalau tak disentuh oleh tangan penahbis.

Alih-alih menjadi seorang penahbis, saya lebih suka menjadi pemburu dalam pengertian pemburu sebagaimana dituliskan oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di esai pendeknya yang cemerlang, “Kyai Mahfudz Sang Pemburu Kitab”. Seperti apa ethos dan pathos seorang pemburu, silakan buru dan baca esai cemerlang Gus Dur yang ditulis puluhan tahun lalu itu. []

Dwi Cipta
Dwi Cipta
Penulis cerita dan esai. Belajar menulis dan menerjemah secara otodidak. Kini sedang belajar di dunia penerbitan dengan ikut mendirikan dan menakhodai Literasi Press.

Comments are closed.