Budi Ubrux Seniman Corong NYIA
Dec 23, 2017
Aparat Kepolisian Pukul Warga Penolak Bandara
Jan 9, 2018

Membaca “Darah Muda”

“Tidak ada yang bisa menentukan nasib hidup manusia. Sekarang dihina-hina, besok dihormati, siapa tahu? Jadilah pemain sandiwara yang baik, kalau orang-orang itu melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan padamu, bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa. Anggap saja dunia ini tidak lebih dari panggung menyedihkan yang harus kau taklukan!” – Darah Muda

Kalimat kutipable di atas saya temukan saat memasuki bagian ketiga novel “Darah Muda”. Menarik membaca “Darah Muda” ini bagi saya karena mengingatkan pada beberapa novel dan otobiografi yang sebelumnya pernah saya baca. Seperti “Istambul”-nya Orhan Pamuk yang bercerita tentang sejarah leluhur, masa-kecil, memori tentang kejayaan kota di masa lalu. Atau “Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta” karya Muhidin M Dahlan, “Burung-burung Cakrawala” karya otobiografi Mochtar Pabottinggi dengan genre narasi yang kurang-lebih sama namun ia tulis berdasarkan pengembaraan hidupnya, dan terakhir adalah “Kata-kata”, karya filsuf Perancis yang sempat jadi role model eksistensialisme, Jean Paul Sartre – yang seperti diakui sendiri oleh si penulis “Darah Muda”, bahwa novel ini mulanya memang terinspirasi dari “Kata-kata” Sartre.

Setiap bertualang di belantara bacaan, saya punya kebiasaan menerapkan cara membaca yang diperkenalkan Roland Barthes dalam “The Death of the Author”, bahwa syarat lahirnya pembaca dan proses pembacaan, pertamakali yang harus dilakukan adalah pengarang harus mati. Mati di sini bukan pengarang harus dibunuh, tidak (hehehe..), tapi secara metaforik – meskipun dalam hal “Darah Muda”, pengarangnya sendiri di bagian akhir novelnya telah mewanti-wanti ia tak ingin mati dengan mengatakan: “Alangkah senangnya bisa mati bahagia saat tenggelam di dunia kata-kata. Tidak, aku tidak ingin mati. Justru sebaliknya: aku ingin hidup abadi di dalamnya”.

Bagi Roland Barthes, kematian pengarang diandaikan melalui tindakan pemutusan hubungan antara penulis dan teks yang ditulisnya ketika teks itu telah sampai di hadapan pembaca. Ketika sampai di tangan pembaca, maka mau tidak mau teks itu telah menjadi milik pembaca, hidup di alam pembaca dan tidak lagi berada di bawah kendali penulis yang bisa saja mengubah jalan cerita saat teks itu masih dalam proses penciptaan. Ia sepenuhnya jadi milik pembaca, di bawah kuasa pembaca, dimana setiap hasil pembacaan atau tafsiran tak lain merupakan intertekstualitas dari pembaca itu sendiri. Metode yang ditawarkan Barthes itu bagi saya sangat membantu saat berhadapan dengan bacaan, karena dengan itu memungkinkan saya lolos dari rezim narasi, sehingga dapat membaca dengan suka-suka, tanpa harus dibebani oleh ketepatan makna atau maksud yang hendak disampaikan oleh pengarang. Dalam tradisi hermeneutika, cara membaca seperti ini sebenarnya berada pada titik paling ujung perkembangan epistemologi hermeneutik. F.Budi Hardiman mengistilahkannya sebagai hermeneutika radikal, dengan penjaga gawang seperti Paul Ricoeur, Derrida, atau juga Barthes. Tapi alih-alih mengulas hal abstrak semacam itu, saya lebih tertarik untuk mempraktikkan cara membaca yang ditawarkan Barthes dalam The Pleasure of the Text.

Nah, di sini, “Darah Muda” menjadi menarik karena dari segi hubungan antara si penulis dan teks yang ditulisnya, baik langsung maupun tidak langsung punya benang-merah dengan sejarah petualangan saya terjerumus di dunia bacaan dan tulisan. Hubungan yang saya maksud itu adalah sebagai berikut; Pertama, sejak enam tahun lalu saya sudah mengetahui kalau draft ini dalam proses pengerjaan (meskipun belum pernah membacanya), yaitu pada tahun 2011, ketika saya dan penulis dipertemukan dalam kelompok menulis kreatif kecil-kecilan (beranggotakan sekitar 5-7 orang dengan pertemuan rutin yang diadakan setiap dua minggu sekali) di Semesta Kotabaru. Kedua, dari pengalaman itu, tentu saja tidak bisa dipungkiri kalau saya kenal dengan si penulis “Darah Muda”. Dan bagi saya menantangnya di sini. Saya yang terbiasa “membunuh” penulis ketika membaca, dihadapkan dengan karya yang tidak mudah “dibunuh” lantaran kedekatan saya dengan penulisnya. Tapi saya akan mencoba sedapat mungkin “membunuhnya”, dan menuliskan impresi saya setelah membaca novel ini, melakukan intertekstualitas sebagaimana biasa saya membaca dan menulis. O ya, ini bukan ulasan buku, lho, apalagi kritik sastra. Karena tidak ada unsur penulisan kritik sastra atau ulasan buku yang berhasil dipenuhi oleh tulisan ini. Mungkin lebih tepat kalau tulisan ini dianggap seperti kolom komentar yang biasanya nongol di bawah menu status facebook, di mana siapa saja bebas bersuara. Dan inilah komentar saya.

Bagian pertama yang menarik perhatian saya (dan juga mungkin bagi pembaca lain) adalah judul dari novel ini sendiri: Darah Muda. Berkat Si Raja Dangdut Rhoma Irama, frase atau istilah “darah muda” yang menggambarkan semangat jiwa muda ini menjadi familiar dan bermukim di banyak kepala orang Indonesia. Menurut Yulia Yulee dalam ulasannya di www.liputan6.com, ada 7 sifat yang dimaksud Bang Rhoma di lagu Darah Muda; (1). Yang selalu merasa gagah, (2). Tak pernah mau mengalah, (3). Masa yang berapi-api, (4). Yang maunya menang sendiri, (5). Walau salah tak peduli, (6). Berpikirnya sekali saja, dan (7). Tanpa menghiraukan akibatnya.
Entah disadari atau tidak, ini menjadi sesuatu yang menarik sekaligus menantang bagi sang penulis karena selain frase itu sudah familiar dan tinggal dibangkitkan saja dari benak kolektif (logika brand sebenarnya bekerja di sini), novel itu juga ditantang untuk melakukan dekonstruksi terhadap konotasi “Darah Muda”, di mana orang biasanya secara “otomatis” akan terasosiasi dengan lagu dangdut saat mendengar kata itu. Dan bagi saya setelah membaca novel ini, judul itu rupanya berhasil melakukan dekonstruksi diam-diam di kepala saya atas konotasi “Darah Muda”, dari bayangan yang semula lekat dengan lagu dangdut menjadi cerita perjalanan hidup “aku”.

Bagian kedua, adalah kutipan yang dihadirkan penulis untuk mengawali “Darah Muda”. Tidak tanggung-tanggung, ada tiga kutipan sekaligus. Pertama berasal dari John Patrick Shanley, kedua dari Orhan Pamuk dan ketiga dari Horatius. Kutipan yang sepintas terkesan “rame” ini dengan mulus memikat saya masuk ke dalam “Darah Muda” pada lima detik pertama (karena konon ada yang bilang, menarik-tidaknya tulisan bisa ditentukan dari lima detik pertama). Walaupun tiga kutipan itu berasal dari sumber yang tidak saling berkait satu-sama lain, namun penulis mampu merajutnya menjadi satu kesatuan makna yang utuh. Lima detik pertama itu pula yang bisa diterapkan pada kalimat yang ada di sampul belakang buku: “Pada mulanya adalah kisah keringnya sungai di sebelah timur rumahku selama bulan Oktober..”. Kalimat ini sederhana, tapi justru dari kesederhanaanyalah segi puitik muncul, membangkitkan suasana.

Bagian ketiga, adalah tentang isi buku. Bila di atas telah disinggung bahwa penulis terinspirasi salah-satunya dari karya Sartre, maka warna eksistensialisme ini pula yang kerap saya jumpai di sepanjang narasi “Darah Muda”. Di dalam tokoh “aku”, ada kecemasan akan kemungkinan-pengingkaran ala Kierkegaard (salah-satu penggagas eksistensialisme asal Denmark) dengan pilihan-pilihan tindakan “tak masuk akal” (misalnya saat tokoh “aku” pada waktu kecil menolak untuk menangis ketika tidak mendapat uang receh dari pamannya sementara saudara-saudaranya yang lain semua mendapatkannya. Atau ketika di bangku sekolah menengah pertama, tokoh “aku” menolak simpati dari kawan perempuan bernama Sari saat dirinya sedang ditimpa masalah), juga fluktuasinya kesadaran diri dan permainan kehidupan yang mengingatkan pada salah-satu kredo eksistensialisme ala Sartre, bahwa hidup layaknya skenario di mana “aku” menjadi perancang dan pengarang skenario itu. Dalam kehidupan tokoh “aku” itu, permainan khas eksistensialisme dapat dijumpai di dalam narasi semisal, saat di sekolah menengah pertama ia membentuk kelompok belajar yang beranggotakan murid-murid pintar tapi terabaikan dengan tujuan sekedar untuk membuat kejutan kepada guru-guru yang selama ini meremehkannya. Atau, ketika tokoh “aku” berpindah kuliah dari Semarang ke perguruan tinggi ternama di Yogyakarta sekedar untuk menanggapi tantangan kawannya. Pendek kata, sejak kecil, lingkungan permainan dan pendidikan membentuk si “aku” menjadi “individu tukang mikir” yang setiap tindakannya mesti diikuti perhitungan dan kecenderungan membangkang.

Misalnya, bila menyimak satu di antara sekian banyak sinisme “aku” pada Bab 7;

“Yang paling menjengkelkan dari semua buku pelajaran itu adalah buku-buku tipis berukuran besar penuh soal-soal pilihan ganda. Buku-buku LKS itu, setelah dibolak-balik akan tampak kumal dan lebih cocok menjadi pembungkus kacang goreng daripada menjadi pegangan belajar siswa di sekolah. Aku tidak memiliki ketertarikan pada buku bernama LKS ini. Namun anehnya buku ini harus selalu ada di antara tumpukan-tumpukan buku di mejaku. Aku berpikir sampai kapan benda laknat ini harus dibeli, dibaca, dan dihafal hanya untuk mendapatkan pengakuan pintar di sekolah dan mengantar seseorang pada masa depan cerah.”

Bila direfleksikan ke dalam filsafat eksistensialisme, ada persoalan ala Sartre yang merasuki tokoh “aku” saat berhadapan dengan buku LKS yang menjelma jadi “liyan”, di mana eksistensi “sang liyan” itu jadi “neraka”- nya Sartre, lantaran kehadiran LKS mengobyektifikasi “aku”, dan bahkan dapat menentukan masa depan (cekidot kalimat terakhir yang digarisbawah). Absurdisme sebuah buku yang “lebih cocok menjadi pembungkus kacang goreng” tapi nyatanya punya kuasa menentukan masa depan inilah yang entah disadari atau tidak, memberi nuansa eksistensialisme.

Bagi penikmat bacaan seperti saya, tokoh “aku” bukan hanya menunjukkan kecenderungan membangkang (barangkali ini yang dimaksud dengan “Darah Muda”?) yang benihnya telah tertanam sejak sebelum menginjak bangku sekolah, saat “aku” menolak menangis sebagaimana seharusnya anak kecil ketika tak diberi bagian uang oleh pamannya, tapi juga sekaligus menyulut semangat membaca, memprovokasi jagad literasi. Membaca sebagai jalan penyelamatan dari dunia yang membosankan, tapi juga sekaligus membaca sebagai bentuk perlawanan akan sebuah keadaan. Ketika si tokoh “aku” masih terbata-bata mengenali abjad latin, gandrung pada cerita bergambar dan lebih asyik hidup dalam alam khayal, sampai menjadi kutubuku dan membuatnya terkadang menjadi snob karena banyaknya pengetahuan yang telah ia reguk dari dunia literasi yang melebihi pengetahuan kawannya, bahkan juga pengetahuan guru-guru yang mengajarnya – kisah anak kecil jenius inilah yang tak saya jumpai saat membaca “Istambul”, “Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta”, “Kata-kata” ataupun “Burung-burung Cakrawala”.

***

Bila masuk lebih jauh mengenali sosok “aku” dalam “Darah Muda”, maka akan didapati kalau sebenarnya si doi punya jiwa pengelana. Kenapa demikian, karena pembaca akan menemukan banyak kata “menyusuri” berulangkali hadir di sepanjang cerita. Kalau tak salah hitung, ada dua puluh enam kata “menyusuri” hadir di novel ini. Mulai dari halaman 40 yang mengisahkan ayah “aku” yang menyusuri rel pengangkut tebu, sampai kebiasaan “menyusuri” yang menurun ke anaknya, “aku”, yang kemudian mulai mengalami rasa bosan saat melangkahkan kaki menyusuri jalanan; “Kebiasaanku menghabiskan waktu di perpustakaan, menyusuri jalanan dan menjenguk sudut-sudut kotaku yang samar, atau menyembunyikan diri di sebuah kedai kopi sampai menjelang tutup, perlahan-lahan menjadi kegiatan yang membosankan (lihat, hal: 373)”.

Selain berjiwa pengelana, sosok “aku” juga tipe perenung. Daya spontanitasnya lenyap sejak ketika kecil ia mengalami masa yang tak mengenakkan. Inilah yang membuat sosok “aku” pada situasi lain kadang berkebalikan dengan sifat eksistensialisme, di mana eksistensi mendahului esensi. “Aku” pada situasi yang lain bisa berubah menjadi seorang Cartesian (cogito ergo sum), lantaran apa yang hendak dilakukan selalu dipikirnya dengan penuh pertimbangan. Tentu saja hal itu juga berkebalikan dengan sifat Darah Muda yang diidentifikasi Yulia Yulee, walau hanya terkesan main-main. Tapi kalau hendak menempatkan sosok “aku” ke dalam konteks yang lebih luas seperti remaja Indonesia misalnya, saya akan melakukan kilas-balik melalui uraian etnografi Sasaki Shiraishi dalam “Pahlawan-pahlawan Belia” – atau bahkan bila ditarik mundur lagi ke belakang, menggunakan istilah pemuda ala Ben Anderson dalam “Revolusi Pemuda”. Anderson memposisikan pemuda sebagai satu kategori sosiologis yang menjadi tulang punggung revolusi dan menggerakkan perubahan sosial. Jika dikembalikan ke “aku” di Darah Muda, kentara ada pergeseran sifat “aku remaja” yang tumbuh di tahun 90’an di penghujung usia Orde Babe dengan anak-anak muda di masa revolusi. Hal itu juga akan tampak jika diletakkan ke dalam timeline pemuda Bumiputera yang berangasan, reaksioner, terkadang naïf, sebagaimana reportase yang ditulis Tjamboek Berdoeri dalam “Indonesia dalam Api dan Bara”, cerita “Jalan Tak Ada Ujung” Mochtar Lubis, atau cerita pendek “Surabaya” Idrus.

Jika Shiraishi menyatakan melalui metafora menarik bagaimana dinamika politik Indonesia pada masa Orde Babe layaknya relasi keluarga inti yang meliputi ayah-ibu-anak, dengan peran bapak yang berkuasa di dalam sebuah keluarga, maka demikian pula sosok bapak dalam kisah “aku” di Darah Muda – yang tercermin pada sikap sang bapak ketika ingin menentukan nasib pendidikan “aku” dengan mengambil kembali ijasah dari sekolah unggulan dan memasukkannya ke sekolah teknik tapi gagal dan sejak itu rusaklah hubungan antara bapak dan anak.

Kontras psikologi “aku” yang cenderung muram di “Darah Muda” juga akan tampak jika diletakkan satu rak dengan cerita-cerita “Lupus” karya Hilman yang populer di tahun 90’an sampai 2000’an, dengan penggambaran remaja urban ceria yang dikisahkan secara ringan. Atau, ketika “aku” kuliah di Yogyakarta menjelang ambruknya Orde Babe, dengan novel yang muncul saat Orde Babe baru menancapkan kaki-kaki kekuasaannya, yang dapat dijumpai pada kisah “Cintaku di Kampus Biru” Ashadi Siregar yang populer di film tahun 1976, dua tahun setelah demonstrasi besar berujung malapetaka (Malari). Di novel Ashadi Siregar itu, dikisahkan ada mahasiswa dari jurusan antropologi terlibat dalam dinamika politik kampus (yang mungkin bisa dilihat sebagai miniatur politik lebih luas?). Berbeda dengan keterlibatan “aku” dalam politik di Darah Muda yang mengambil tempat sebagai saksi mata ketimbang sebagai pelaku, walaupun di sana juga dikisahkan bagaimana situasi demonstrasi menjelang ambruknya Orde Babe.

***

Saya jadi ingat Max Lane dalam “Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia”. Doski menulis begini; “Sebuah lukisan yang berhasil adalah sebuah lukisan yang mampu menangkap sebuah momen, dan sebuah lukisan yang hebat menangkap sebanyak mungkin aspek dari momen tersebut sehingga kita mampu menangkapnya sebagai sebuah kenyataan dengan segala macam geraknya”. Nah, kalau ibarat lukisan itu, ketimbang kisah tentang drama politik, “aku” menurut saya lebih berhasil dalam menampilkan kritik terhadap sistem pendidikan. Bagaimana tidak, seorang anak yang sejak kecil punya otak cemerlang, rada bengal dalam soal pelajaran sekolah, kemudian mesti terhenti proses belajarnya di pendidikan formal saat menginjak bangku kuliah. Di fase ini, tersirat bagaimana sistem pendidikan gagal menciptakan suasana belajar yang asyik, dan begitu juga sebaliknya, sosok “aku” pada akhirnya juga mengalami kegagalan menyesuaikan diri dengan aturan umum yang berlaku di lingkungan pendidikan. Alih-alih mengikuti jadwal perkuliahan misalnya, “aku” lebih memilih menciptakan ritme belajarnya sendiri dengan sering mengunjungi perpustakaan.

Saat membaca sampai di bab 13, saya bertemu dengan “aku” yang tengah berada pada fase mabuk dunia kata-kata (apakah ini efek lantaran terlalu banyak membaca?!?) dan ingin menjadi seorang penulis. Bahkan lebih ekstrim lagi, pada bab selanjutnya, “aku” memutuskan berhenti kuliah demi ingin total fokus di dunia penulisan. Pada fase itu, psikologi “aku” bisa serupa Don Kisot yang hendak berperang melawan monster padahal kenyataannya monster yang hendak dilawannya itu adalah sebuah kincir angin. Inilah yang saya temui ketika sampai di halaman 286;

“Keyakinan diriku untuk menaklukan dunia bagai gelombang pasang yang sedang tinggi-tingginya. Di ruang-ruang sunyi kota ini, aku sering berteriak sendiri menimpali teriakan orang gila yang kebetulan berpapasan denganku: aku sendirilah yang menjadi nahkoda bagi jiwaku! Lalu benakku mengubah lanskap kota yang dipenuh-sesaki bangunan menjadi lautan dengan gelombangnya yang ganas”

Tapi meski demikian, agaknya “aku” melakukan itu masih di bawah kendali kesadarannya, seolah pengarang “Darah Muda” sendiri tak rela jika “aku” larut begitu saja dalam kegilaannya. Ini terungkap pada halaman sebelumnya: “Aku sejenis aktor yang ditakdirkan untuk mencipta permainan, bahkan meski permainan itu kukerjakan sendiri dan tidak ada orang lain yang menyaksikannya. Jadi aku tidak tertarik untuk menjadi penonton yang menjemukan (lihat, 258)”.

Walaupun di “Darah Muda” ada banyak orang yang ditemui “aku”, tetapi fokus dari novel Darah Muda sendiri sebenarnya berpusat di “aku”. Tentang bagaimana kesadaran diri dan emosi “aku” mengalami naik-turun lantaran perubahan kondisi eksternal yang berada di luar kuasa diri.

Satu adegan yang kalau boleh dibilang paling konyol adalah saat “aku” sedang jatuh cinta dengan perempuan bernama Mutiara. Alih-alih mengajak Tiara kencan sebagaimana logika pada umumnya, “aku” justru sibuk menciptakan realitas lain di dalam tempurungnya sendiri sampai akhirnya si Tiara digebet oleh laki-laki lain. Mengetahui hal itu, galaulah si “aku” ini, melangkah menyusuri jalanan sampai tanpa sadar ia tiba di suatu tempat. Itu terjadi setelah “aku” mendapat kabar dari Tiara kalau dirinya akan bertunangan. Meski dalam bidang pengetahuan, wawasan “aku” boleh diadu ketangkasannya, tapi rupanya lewat kisah itu, “aku” benar-benar bisa jadi pecundang saat dihadapkan dengan asmara. Untuk yang terakhir ini, semoga adegan jatuh cinta itu tidak jadi rujukan pembaca dalam mendekati lawan jenis. Hehehe..

Sekali lagi, tulisan ini hanya salah-satu komentar di bawah status facebook, yaitu pembacaan saya atas “Darah Muda”, yang tentunya masih akan memunculkan banyak cerita lain yang lebih menarik ketika “Darah Muda” dibaca oleh pembaca yang berbeda.

Comments are closed.