Berbagai Wacana Pembangunan Kawasan Danau Toba
Mar 26, 2016
“Islam Jawa” dan Perlawanan Petani
Apr 7, 2016

Masalah Geokimia pada Proyek Reklamasi di Teluk Jakarta

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi kepada M. Sanusi (anggota DPRD DKI Jakarta), disusul dengan penetapan tersangka terhadap Presiden Direktur Agung Podomoro Land selaku perusahaan induk PT. Muara Wisesa pemegang Izin Reklamasi Pulau G di Teluk Jakarta, serta penetapan Sugianto Kusuma, pemilik PT Agung Sedayu, membuat tema reklamasi di Teluk Jakarta beberapa hari ini menjadi bahan perbincangan yang hangat di media sosial.

Gubernur DKI Jakarta, Ahok, berada di pusat pusaran kasus ini karena pada masa Gubernur Ahok-lah dikeluarkan 4 izin reklamasi di Teluk Jakarta, yaitu Pulau G, F, I, dan K. Izin Pelaksanaan Reklamasi Pulau G kepada PT Muara Wisesa terbit pada 23 September 2014. Izin Pelaksanaan Reklamasi Pulau F kepada Jakarta Propertindo terbit pada 22 Oktober 2015. Izin Pelaksanaan Reklamasi Pulau I kepada PT Jaladri Kartika Pakci terbit pada 22 Oktober 2015. Dan Izin Pelaksanaan Reklamasi Pulau K kepada PT Pembangunan Jaya Ancol terbit pada 17 November 2015.

Dengan melakukan pembacaan terhadap Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Pulau K dan I tulisan ini akan memperlihatkan bahwa ada hal mendasar yang absen (dan kurang) dalam AMDAL kedua pulau reklamasi di Teluk Jakarta ini. Kekurangan itu terletak pada tidak ada dan kurangnya analisis geokimia terhadap sedimen lunak, tebal, dan beracun yang ada di lokasi reklamasi di Teluk Jakarta dalam dokumen AMDAL kedua Pulau reklamasi ini.

Dalam dokumen bertajuk Rapid Environmental Assessment for Coastal Development in Jakarta Bay (Jury et al., 2011: 104), disebutkan bahwa “[I]nvestigasi lapangan dilakukan sebelum perencanaan reklamasi. Ini penting bagi para teknisi untuk sampai pada rancangan yang paling cocok dan hemat biaya. Investigasi yang telaten mencakup semua aspek termasuk pemahaman hidrografi, karakteristik kondisi soil yang berada di dasar laut, pengaruh meteorologi dan oseanografi, hidraulika pantai termasuk di dalamnya proses pembentukan garis pantai, sumber potensial material pengurug dan pembuangan material yang dikeruk, dan sebagainya, akan memastikan suksesnya perencanaan reklamasi dan tahapan pelaksanaan yang mengikuti pada proyek yang diajukan”.

Jury et al. (2011) dibuat oleh DHI Water @ Environment (S) Pte. Ltd, sebuah perusahaan yang berpusat di Denmark dan menyediakan jasa di berbagai bidang yang menyangkut perairan, atas permintaan Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia untuk memastikan pembangunan yang berkelanjutan di Teluk Jakarta.

Disebutkan dalam Jury et al. (2011: 104) di Teluk Jakarta terdapat endapan alluvial (yang berasal dari proses yang berasosiasi dengan sungai) berupa lempung lunak (soft clay) dengan ketebalan mencapai 16 m dan merupakan formasi geologi yang muda (Holocene). Persebaran sedimen lunak (soft sediment) ini disajikan dalam peta pada gambar 1 berikut.

12523833_10208623178837929_8575170351236569560_n

Gambar 1: peta persebaran dan ketebalan sedimen lunak di Teluk Jakarta (sumber: Jury et al. 2011: 105).

Dalam bagian lain disebutkan oleh Jury et al. (2011: 29) bahwa sedimen di Teluk Jakarta sudah terkontaminasi oleh logam berat seperti yang disajikan pada tabel 1. Terlihat dalam tabel 1 bahwa kandungan Cu dan Zn sudah melebihi target values, dan mendekati atau melebihi intervention value. Target dan intervention value dalam tabel 1 diadopsi dari Netherlands standards for water sediments. Target values artinya tingkat dimana terjadi kualitas sedimen yang berkelanjutan, dalam artian, ini adalah nilai yang menjadi target yang harus dicapai agar sedimen berfungsi secara baik untuk manusia, tumbuhan, dan hewan. Sementara intervention value maksudnya telah terjadi kontaminasi yang serius. Bahaya logam berat bagi mahluk hidup adalah pada kadar yang berlebih dapat merusak organisme. Secara spesifik, Cu (Copper) dapat menyebabkan anemia, penyakit hati, kerusakan ginjal, dan iritasi usus. Zn (Zinc) memiliki efek korosif pada kulit dan menghancurkan membran saraf.

12919740_10208623179517946_8000754661318011594_n

Tabel 1: Konsentrasi logam berat pada sedimen Teluk Jakarta 2000-2004.

Berdasarkan peta pada gambar 1 terlihat bahwa ketebalan sedimen lunak pada area dimana Pulau K dan I akan dibangun lebih dari 12 m. Sementara, data kontaminasi sedimen yang diadopsi dari Jury et al. (2011: 29) seperti tabel 1 di atas, memiliki dua kelemahan. Pertama, tidak diketahui lokasi pengambilan sampel sedimen. Kedua, tidak diketahui kedalaman pengambilan sampel. Besar kemungkinan sampel diambil pada dasar laut (pada permukaan material sedimen). Untuk mengetahuinya, maka referensi yang dikutip oleh Jury et al. (2011), seperti Razak (2004), Fitriati (2004) dan P2O LIPI (2003) haruslah diakses. Masalahnya, Jury et al. (2011) tidak mencantumkan secara lengkap/memadai sumber-sumber yang mereka kutip pada bagian “references” naskah tersebut.

Dari kedua data di atas (ketebalan sedimen lunak dan konsentrasi logam berat yang dikandungnya), maka langkah analitik yang seharusnya dimiliki oleh dokumen AMDAL pulau reklamasi di Teluk Jakarta adalah analisis material kimia sedimen (geochemistry/geokimia). Hal ini misalnya, ditekankan sendiri oleh Jury et al (2011: 105), bahwa “[D]engan pemahaman tentang sedimen lunak di tangan…perencanaan haruslah menyertakan pengamatan yang detil terhadap soil/sedimen sebelum pelaksanaan berbagai pembangunan, dan investigasi haruslah sampai pada kedalaman yang benar untuk mendapatkan parameter soil yang benar atau relevan… Perencanaan juga haruslah menyiapkan perlakuan yang efektif terhadap endapan yang lunak itu baik di dalam lahan yang direklamasi maupun sepanjang perimeter reklamasi. Pada sepanjang perimeter reklamasi, pemasangan dapat dikontrol dengan efektif dengan cara mengeruk seluruh endapan yang ada. Metode ini cenderung sederhana, baik proses mengeruk dan mengurug dapat dilaksanakan dengan sederhana,… Namun, penting diperhatikan bahwa pemindahan sedimen lunak seperti itu dapat menghasilkan dampak lingkungan yang tak diinginkan, terutama karena sedimen yang relatif memiliki kandungan racun yang tinggi pada area-area tertentu dan karena itu haruslah dikelola dengan hati-hati…”.

AMDAL Pulau K tidak melaksanakan analisis geokimia terhadap material sedimen di Teluk Jakarta. Akibatnya, tidak diketahui lebih jelas tentang kondisi sedimen lunak beracun yang ada di Teluk Jakarta pada lokasi dimana Pulau K akan dibangun. Selain itu, tidak dijelaskan juga dampak reklamasi terhadap sedimen lunak beracun ini.

Analisis geokimia sedimen menjadi penting dalam reklamasi di Teluk Jakarta, karena seperti yang dapat dibaca dalam dokumen AMDAL Pulau I, akan dikeruk sebanyak 2.276.657 m3 sedimen lunak dan akan ditimbun di sebelah utara Teluk Jakarta. Secara teknis sedimen ini akan dibuang di perairan yang memiliki kedalaman lebih dari 20 m. Teknik pembuangannya adalah dengan membuka bagian bawah kapal pengangkut sedimen. Dijelaskan dalam AMDAL Pulau I bahwa begitu bagian bawah kapal pengangkut sedimen dibuka, maka “material akan ke dasar perairan karena adanya gaya gravitasi”. Tidak disebutkan mengapa bisa dipastikan bahwa “material akan ke dasar perairan karena adanya gaya gravitasi”. Namun, dari foto yang ada di AMDAL Pulau I, justru yang terlihat adalah adanya kekeruhan setelah proses pembuangan material sedimen lunak. Ini artinya material sedimen justru menyebar di tubuh air, bukan turun “ke dasar perairan karena adanya gaya gravitasi” seperti yang dibayangkan oleh pembuat AMDAL.

Sementara, AMDAL Pulau I menyajikan data analisi kimia sedimen dan menyimpulkan bahwa “[S]emua parameter kecuali kadmium sudah berada di bawah baku mutu lingkungan…”. Cd (Cadmium) menyebabkan disfungsi ginjal, kanker paru-paru, kerusakan tulang, peningkatan tekanan darah, kehancuran ginjal, bronkitis, dan kanker. Namun, tidak dijelaskan teknik pengambilan sampel sedimen yang dianalisis. Teknik pengambilan sampel menjadi penting mengingat ketebalan sedimen yang besar di Teluk Jakarta. Sampel sedimen di permukaan kemungkinan besar akan berbeda kualitasnya dengan sampel sedimen beberapa meter di bawah permukaan. Poinnya, analisis sedimen secara suksesif berdasarkan kedalaman menjadi penting bagi Pulau I karena, seperti yang dapat dibaca dalam dokumen AMDAL proyek ini, pengerukan mencapai 6 m.

Dengan demikian, absen dan minimnya analisis geokimia terhadap material sedimen lunak, tebal, dan beracun di Teluk Jakarta seperti yang sudah dibahas melalui pembacaan terhadap AMDAL Pulau K dan I ini, tak memberikan jalan lain bagi tulisan ini kecuali menyimpulkan: proses reklamasi seperti ini adalah sebuah cara yang mengantarkan lingkungan akuatik Teluk Jakarta ke dalam kondisi yang semakin beracun. Belum diketahui apa yang terjadi dengan pulau-pulau lain seperti F dan G. Untuk menjawab itu perlu dilakukan pembacaan terhadap AMDAL proyek-proyek tersebut.[ ]

Comments are closed.