Puthut EA: Nanti Saya Kerja Apa? Maka Ia Belajar Menulis dengan Serius
Nov 3, 2014
Cara Media Memandang ‘Timur’ di Yogyakarta
Nov 5, 2014

LSM-isasi Perlawanan

Oleh Arundhati Roy*

Penerjemah Dwicipta**

Ancaman yang tengah dihadapi oleh gerakan-gerakan massa adalah LSM-isasi perlawanan. Mudah saja membelokkan apa yang akan saya paparkan sebagai tuduhan untuk semua LSM. Ini tentu sebuah kekeliruan. Di tengah suramnya situasi yang dijejali oleh LSM-LSM palsu yang mengatur atau menyedot uang bantuan, atau berusaha menghindar dari tuntutan pajak (di negara bagian seperti Bihar,[1] mereka diberi uang sebagai mahar), tetap ada LSM-LSM yang menjalankan pekerjaan dengan baik. Namun, penting pula mempertimbangkan fenomena LSM dalam konteks politik yang lebih luas.

Di India, misalnya, ledakan pertumbuhan LSM yang didanai asing bermula pada akhir 1980-an dan 1990-an. Ini bertepatan dengan dibukanya pasar India pada neoliberalisme. Waktu itu, negara India, demi menyesuaikan diri dengan persyaratan-persyaratan Program Penyesuaian Struktural,[2] mencabut subsidi di bidang pembangunan pedesaan, pertanian, energi, transportasi, dan kesehatan masyarakat. Ketika negara melepaskan peran tradisionalnya itulah LSM-LSM masuk dan bekerja di bidang-bidang yang tak lagi dikerjakan negara. Bedanya, tentu saja, dana-dana yang tersedia untuk mereka hanya secuil dari anggaran untuk pembiayaan publik yang nyata digorok oleh negara.

Sebagian besar LSM berkocek tebal dibiayai dan berpatron pada hibah badan-badan pembangunan dan lembaga donor yang sejatinya dibiayai oleh negara-negara Barat, Bank Dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan korporasi multinasional. Walau barangkali bukan lembaga yang sepenuhnya sama, pada dasarnya mereka bagian dari formasi politik yang sama yang mengatur proyek neoliberal dan agenda utamanya adalah menuntut pemangkasan subsidi pemerintah.

Mengapa badan-badan tersebut membiayai LSM? Bisakah kita secara sederhana mengatakannya sebagai kedok misionaris gaya lama? Atau karena rasa bersalah? Pertimbangannya lebih dari itu semua. LSM memberi kesan bahwa mereka tengah mengisi ruang kosong yang diciptakan oleh sebuah negara yang sedang rapuh, tapi hal itu dilakukan dengan cara yang ngawur. Sumbangan nyata mereka adalah melepaskan sumbu peledak dan membagi-bagikan bantuan atau kemurahan hati kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Mereka mengubah jiwa dan perasaan masyarakat umum. Mereka menyulap orang-orang menjadi korban yang manja dan menumpulkan bagian yang tajam dari perlawanan politik. LSM membentuk sejenis penyangga antara sarkar (penguasa atau negara) dan publik. Antara imperium dan subjek. Mereka telah menjadi wasit, penafsir, dan fasilitator.

Dalam jangka panjang, LSM-LSM ini dapat bertanggung jawab pada pendonornya, tapi tidak pada orang yang menjadi objek kerjanya. Mereka menjadi apa yang oleh para ahli botani disebut sebagai spesies indikator.[3] Fenomenanya hampir beriringan, di mana makin besar kerusakan yang diciptakan oleh neoliberalisme, maka makin besar pula wabah LSM di tempat itu. Tak ada yang bisa menggambarkannya dengan lebih pedih selain fenomena ketika Amerika Serikat bersiap menginvasi sebuah negara dengan cara menyiapkan LSM untuk masuk dan memuluskan penghancuransecara berkelanjutan. Untuk memastikan pendanaan mereka tak dihalangi dan pemerintahan negara di mana mereka beroperasi akan mengizinkan mereka bekerja, LSM tersebut harus menyajikan pekerjaan mereka dalam kerangka yang dangkal dan sedikit-banyak dipisahkan dari konteks politik atau historisnya. Kebanyakan adalah konteks historis atau politik yang kontroversial.

Laporan-laporan yang apolitis mengenai situasi sulit (dan karena itu sebenarnya sangat politis) di negara-negara miskin dan zona-zona perangakhirnya membuat orang-orang dari negara itu tampak seperti para korban yang mengidap patologi. Orang-orang India kurang gizi, orang-orang Etiopia masih menderita kelaparan, para pengungsi Afghanistan di tenda-tenda pengungsian, dan orang-orang Sudan menderita. Mereka membutuhkan uluran tangan orang kulit putih. Tanpa disadari, mereka memaksakan stereotipe rasial dan menguatkan kembali capaian, kenyamanan, dan hasrat (cinta yang jahat) Barat. Merekalah misionaris-misionaris sekuler di dunia modern.

Akhirnya—pada skala yang lebih kecil, tapi lebih licik—modal yang disediakan untuk LSM merupakan modal yang sifatnya untung-untungan, yang mengalir masuk-keluar dalam perekonomian negara-negara miskin.Peran serupa dimainkan dalam kancah politik alternatif. LSM memulainya dengan memaksakan agenda. Ia mengubah konfrontasi menjadi negosiasi. Ia mendepolitisasi perlawanan. Ia bercampur-baur dengan gerakan masyarakat lokal yang secara tradisional bersifat mandiri. LSM-LSM memiliki cukup dana untuk mempekerjakan orang lokal yang bisa menjadi aktivis dalam gerakan perlawanan, tapi kini merasakan bahwa ia sedang mengerjakan hal-hal yang secara kreatif langsung menghasilkan (dan memperoleh penghidupan ketika mereka terlibat di dalamnya).

Perlawanan politik yang nyata tak pernah menawarkan jalan pintas. LSM-isasi politik tengah mengancam; mengubah perlawanan menjadi pekerjaan yang rapi, masuk akal, bergaji, dan memiliki jam kerja dari pukul 9 pagi sampai 5 sore. Dengan beberapa tambahan kerja yang dilolohkan pada mereka. Perlawanan nyata memiliki konsekuensi-konsekuensi nyata. Dan tidak bergaji. []

*Penulis buku Capitalism: A Ghost Story dan peraih Booker Prize for Fiction pada 1997 untuk novelnya yang berjudul The God of Small Things

**Diterjemahkan oleh Dwicipta (dengan tambahan catatan kaki oleh Lubabun Ni’am) dari artikel yang ditulis oleh Arundhati Roy dengan judul “NGO-ization of Resistance”. Artikel ini dimuat di laman Massalijn yang berbasis di Belanda. Untuk menyimak artikel dalam versi bahasa Inggris, silakan kunjungi tautan berikut: http://massalijn.nl/new/the-ngo-ization-of-resistance/

[1] Bihar merupakan salah satu dari dua puluh delapan negara bagian di India, terletak di India bagian utara. Bihar menjadi pusat kekuasaan politik dan budaya pada masa India kuno.

[2] Program Penyesuaian Struktural awalnya didesain dan didanai oleh International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia, yang kemudian diadopsi oleh lembaga-lembaga keuangan internasional lainnya. Program ini menyapu negara-negara berkembang sejak 1980-an. Lihat Gilbert Rist, The History of Development: From Western Origins to Global Faith (London: Zed Books, 2008), hal. 171–178.

[3] Spesies indikator adalahspesies yang berkaitan erat dengan komunitas hayatirentan maupun proses ekosistemunik. Di Indonesia, misalnya, contoh spesies indikator adalah elang jawa, binatang yang dikenal sebagai pemangsa puncak di hutan-hutan di Pulau Jawa. Lihat Mochamad Indrawan, Richard B. Primack, dan Jatna Supriatna, Biologi Konservasi (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007), hal. 304.

Dwi Cipta
Dwi Cipta
Penulis cerita dan esai. Belajar menulis dan menerjemah secara otodidak. Kini sedang belajar di dunia penerbitan dengan ikut mendirikan dan menakhodai Literasi Press.

Comments are closed.