Krisis Ekonomi di Ambang Mata?

Sumber foto : merdeka.com

Apa arti berita tentang gedung-gedung di Jakarta yang kosong bagi Anda? Mungkin akan ada banyak jawaban. Misalnya dalam salah satu pemberitaan di media daring yang sempat saya baca, ditemukan bahwa penyebabnya adalah penawaran gedung-gedung yang berlimpah sementara permintaan menurun, atau minimal laju kenaikannya tidak mampu mengikuti kenaikan dari penawaran. Apapun, angka gedung-gedung yang kosong di Jakarta yang menurut salah satu berita sudah mencapai 18.4%, rasanya sangat patut menjadi perhatian pemerintah, terutama ekonom. Saya sendiri melihatnya bahwa krisis ekonomi yang lebih dalam sudah di ambang mata.

Saya mulai dengan menjelaskan apa itu spekulasi di sektor properti. Dalam konteks gedung-gedung yang kosong, saya mendefinisikan spekulasi sebagai terus-menerus membangun properti seperti gedung-gedung meskipun sebenarnya pasar tidak membutuhkan sebanyak yang dibangun. Mengapa ini bisa terjadi?

Tersebutlah, menurut sebuah teori, overakumulasi terjadi karena kontradiksi internal dalam kapitalisme itu sendiri. Para kapitalis selalu berada dalam ketegangan, baik itu karena ketegangan hubungan kelas, maupun ketegangan karena kompetisi sesama kapitalis. Ketegangan dalam relasi kelas tidak bisa dihindarkan karena para kapitalis terus mengeksploitasi para pekerja melalui hubungan-hubungan penghisapan. Pabrik-pabrik adalah salah satu tempat dimana secara terus-menerus para kapitalis menghisap para buruh. Tuntutan para buruh, seperti yang sering terlihat dalam aksi-aksi buruh di Indonesia dewasa ini, adalah kenaikan upah. Namun tuntutan ini juga bisa meningkat hingga ke titik kepemilikan alat produksi oleh buruh. Sementara ketegangan antar para kapitalis menghasilkan kompetisi. Salah satu manifestasi kompetisi, misalnya, adalah teknologi, dimana kecanggihan teknologi dapat menyebabkan semakin sedikitnya tenaga kerja yang diperlukan dalam sebuah proses produksi.

Kedua ketegangan di atas menghasilkan ganggungan dalam (re)produksi kapitalis dan buruh. Gangguan inilah yang nantinya akan menciptakan kondisi overakumulasi. Kapitalis mengalami kondisi overakumulasi karena uang tidak bisa diinvestasikan di sektor yang menguntungkan bagi kapitalis. Sementara buruh mengalami overakumulasi karena terjadi banyak pengangguran. Kedua overakumulasi ini, baik di kalangan kapitalis maupun di kalangan buruh, saling berkaitan. Anda bayangkan, kalau terjadi overakumulasi di kalangan pekerja, siapa yang akan membeli produk-produk para kapitalis?

Kondisis overakumulasi kapitalismelah yang kemudian menyebabkan terjadinya investasi besar-besaran di sektor properti, atau yang dalam kasus di atas saya sebut spekulasi. Spekulasi terjadi karena, tidak masalah lagi apakah akan ada pembeli atau tidak di sektor ini, namun yang penting kapital diinjeksikan dulu ke dalam pusaran yang selanjutnya. Karena hukum pengusaha adalah mencari uang dengan uang. Artinya, kalau uang tidak diinvestasikan, maka berhenti donk siklus uang mencari uang? Ini jelas tidak diinginkan oleh kapitalis. Karena kalau siklus ini berhenti, si kapitalis bisa mati/berhenti juga.

Mungkin gedung-gedung kosong di Jakarta hanyalah permukaan, kita tidak tahu sebenarnya sedalam/sebanyak apa kredit di sektor properti. Kredit, sebagai cara untuk memutar kapital, tetap diberikan kepada sektor properti karena itu tadi: kapital terus diinvestasikan, diputar, diharapkan akan mendatangkan keuntungan terus. Namun, ada masa ketika harga penjualan property seperti kantor-kantor, sudah tidak rasional, bahkan dari sisi proses produksi sendiri. Hal ini terjadi, karena saking banyaknya penawaran, harga bisa terus diturunkan, meskipun berujung kerugian. Kerugian pertama akan ditutup dengan pinjaman dari kredit pertama. Kerugian kedua dengan pinjaman kredit kedua. Inilah gelembung ekonomi. Namun sampai kapan?
Ada masanya gelembung akan pecah, yaitu ketika kredit sudah tidak mungkin dibayar lagi oleh peminjam.

Ada masanya sistem ekonomi macam ini akan kolpas. Dan inilah krisis kapitalisme di sektor property, yang bisa sangat cepat menjalar ke sektor lain.

Potensi krisis kapitalisme yang lebih dalam sebenarnya sudah sangat terasa. Terutama di desa-desa di Sumatra dimana warga mengandalkan pemasukan uang kontan dari perkebunan karet rakyat. Yang saya maksud perkebunan karet rakyat di sini adalah karet dengan tipe umur panjang, batang besar, dan biasanya ditanam dalam tumpuk-tumpuk yang kecil sesuai dengan kepemilikan tanah yang juga potongan-potongan kecil. Ini bisa dibedakan dengan perkebunan karet yang biasanya adalah karet tipe umur yang relatif lebih pendek, batang yang lebih kecil-kecil, dan kepemilikan yang terkonsentrasi di tangan para pengusaha atau milik pemerintah.

Dalam beberapa tahun terakhir, di Sumatera harga karet adalah 5 ribu rupiah per kilogram. Sempat naik sedikit beberapa bulan yang lalu, namun kembali turun. Menurut informasi yang saya dapat dari obrolan dengan banyak orang, harga ini adalah penurunan yang sangat luar biasa, karena sebelumnya harga karet di atas 20 ribu rupiah per kilogram. Anda bayangkan saja apa dampak penurunan harga komoditas seperti itu bagi para petani karet. Salah seorang teman diskusi saya di Sumatra, seorang petani karet, sambil tertawa menyebutkan bahwa pemerintah sekarang sedang membunuh para petani karet.

Di Jawa, mungkin krisis harga komoditas ini tidak begitu terasa karena para petani di Jawa juga menanam tumbuhan cepat macam cabai dan semangka. Dari tipe-tipe tanaman yang cenderung cepat inilah mereka mendapatkan uang kontan, bukan dari tipe tanaman keras macam karet di Sumatra. Ketika harga komoditas turun, tanaman cepat bisa relatif dialihkan lebih cepat. Tanaman keras tidak.

Zona konsentrasi kapital macam Batam, tak luput dari terpaan angin krisis. Diberitakan pada Mei 2017, selama 5 bulan telah tutup sebanyak 34 pabrik di Batam.

Krisis ekonomi perkotaan, yang terkespresikan dalam bentuk kosongnya gedung-gedung perkantoran di Jakarta, berpadu dengan krisis di pedesaan yang terekspresikan dalam bentuk harga komoditas yang rendah, ditambah dengan krisis di zona konsentrasi kapital macam Batam melalui penutupan pabrik-pabrik, bukan tidak mungkin akan memicu krisis yang lebih besar. PR besar untuk Presiden dan para ekonom (quasi) neoliberalnya. Jangan sampai krisis datang dan para ekonom (quasi) neoliberal cuma bisa memberikan solusi bailout, seperti yang sudah terjadi seringkali, sambil mengatakan bahwa ini adalah krisis sistemik.

Mari kita lihat.

salam
Bosman

Comments are closed.