Kooperasi dan Absennya Pendidikan Berbasis Kerjasama

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Di negeri kita ini, hal apa lagi yang tidak dikompetisikan atau diperlawankan satu dengan lainnya? Dunia usaha berkompetisi, meniti karier berkompetisi, mencari pekerjaan berkompetisi, bertetangga sering juga berkompetisi, bahkan menyelenggarakan pendidikan anak pun dikelola dengan prinsip-prinsp kompetitif. Tidak ada beda, entah itu TK, SD, bahkan perguruan tinggi. Hampir semua aspek dalam kehidupan kita dilakukan dengan penuh persaingan.

Prestasi Diri dan Kepalsuan

Guru memberi pelajaran atau tugas bukan untuk menekankan pemahaman dan membangun dasar-dasar cara berpikir (logika) anak, atau meng-kondisikan anak bekerjasama dan saling belajar satu sama lainnya (sosial), namun agar mereka bersaing untuk memperoleh nilai terbaik. Menjadi bintang, menjadi nomor satu, sang juara, dan artinya: mengalahkan teman yang lain. Juara bagi dirinya, juara bagi orangtuanya, juara bagi sekolahnya.

Kreatifitas guru lemah dalam membuat kegiatan yang mendorong anak bekerjasama satu dengan yang lain. Membiarkan anak bermain adalah cara yang paling mudah. Dan lihatlah, anak-anak lari berkejaran, bermain dorong-dorongan, terjatuh, dan tertawa-tawa. Sebagai anak-anak mereka senang bekerjasama, tapi sebagai murid seringkali mereka dididik oleh orang dewasa ke arah yang berbeda. Betapa banyak instrumen disusun untuk mengukur keberhasilan pendidikan dengan cara ujian kompetitif, mulai dari yang sifatnya harian bernama Pekerjaan Rumah (PR), semester, tahunan, hingga ujian wajib nasional. Anak-anak stres, orangtua pusing, bahkan sebenarnya dirasakan pula oleh pelaksana lembaga pendidikan itu sendiri.

Kegiatan seni, melukis misalnya, yang semestinya merupakan aktifitas yang mengedepankan kehalusan budi dengan segenap perasaan dan unsur afektif anak, pun tidak terlepas dari upaya-upaya mengkompetisikannya. Setelah hasil menggambar anak dikumpulkan, diumumkanlah juara 1, 2 atau 3, tanpa diberitahu mengapa demikian. Dan tidak ada penjelasan mengapa berhenti sampai angka 3 sementara mereka diajar angka tak berbilang; mengapa pula ada banyak anak yang tidak berangka lalu menjadi bukan siapa-siapa lagi. Pengetahuan mengenai estetika seni, pewarnaan, obyek, teknik menggambar, dll malah alpa diajarkan. Yang penting lomba, dan setiap perlombaan ada yang kalah dan ada yang menang, ada yang senang dan berbangga diri, ada yang sedih dan menarik diri. Kompetisi melahirkan perbedaan, jarak, bahkan dapat timbulkan perpecahan. Betapa banyak anak-anak melakukan kecurangan, manipulasi, penipuan, untuk mendapat predikat juara itu. Bahkan dibantu atau dilakukan pula oleh orangtua dan guru-pengajarnya. Demi gengsi dan label prestasi.

Tidak sadarkah kita bahwa munculnya kebiasaan contek-mencontek hingga plagiarisme adalah karena orang dituntut menunjukkan performa diluar kemampuan aslinya? Betapa menyedihkan jika nanti lahir generasi penuh kepalsuan di negeri Indonesia ini.

Generasi Kooperatif yang Merdeka dan Berdaulat

Pendidikan yang diselenggarakan dengan prinsip-prinsip kompetitif hanya akan melahirkan manusia-manusia individual, tidak memiliki tanggung jawab lebih luas daripada dirinya, dan sulit membangun tindakan-tindakan bersama. Kalaupun harus membangun tim dan bekerja bersama dalam dunia kerja atau masyarakat baru yang dimasukinya, itupun dilakukan dalam kerangka memenangkan kompetisi. Atau, jika berhasil menjadi bagian dari kelompok, ia taken for granted sebagai tuntutan pekerjaan atau tugas, bukan dilakukan dalam rangka mengorganisir diri untuk mencapai tindakan-tindakan yang dicita-citakan bersama.

Generasi kita harus dididik dengan prinsip-prinsip kerjasama. Dengan bekerjasama lah mereka bisa saling belajar, mengenali atau menghargai potensi dan keunikan masing-masing, serta kelebihan dan kekurangannya. Yang kurang dibantu, dan yang lebih merasa memiliki tanggung jawab. Bekerjasama dan saling membantu untuk kepentingan yang lebih luas; bukan keuntungan pribadi atau kelompoknya semata, apalagi dilakukan dengan cara-cara koruptif .

Diharapkan dalam sepuluh atau duapuluh tahun mendatang, melalui pendidikan berbasis kerjasama akan lahir generasi yang solid dalam berkelompok, berorganisasi, bermasyarakat, dan bernegara. Dalam konteks yang lebih luas, mereka inilah kekuatan negeri yang tidak mudah diperalat apalagi dihancurkan oleh kekuatan asing, baik imperialisme dan kolonialisme modern bernama kapitalisme maupun penjajahan negara oleh negara lain.

Dalam konteks sejarah kolonialisme, pengerukan sumber daya tanah-air Indonesia dimulai dan terus menerus terjadi melalui dihancurkannya jiwa-jiwa yang merdeka dan solid dalam ikatan kolektivitasnya, berlaku pendekatan ‘hancurkan manusianya, ambil tanah-airnya’. Pendidikan dan konstruksi kebudayaan yang dibangun oleh pemerintah kolonial, bertujuan melahirkan individu-individu yang menghamba pada rezim kolonial dan penyedia tenaga kerja industrial, menghapus kemungkinan pikiran-pikiran orang untuk memiliki imajinasi bersama bernama bangsa dan negara. Akibatnya, unit keluarga tidak lebih  sebagai satuan penyedia tenaga kerja. Padahal keluarga adalah lembaga pendidikan sesungguhnya, yang pertama dan utama. Pendidikan berorientasi kompetisi hanya akan menghasilkan individu yang soliter, keluarga yang mudah pecah, dan ujungnya terciptanya masyarakat buruh industrial/kolonial.

Oleh karena itulah para pendiri bangsa kita menekankan pentingnya bekerjasama, menyatukan perbedaan bahasa, suku-bangsa, dan tumpah-darah dan kesejarahannya masing-masing, menuju persatuan bangsa Indonesia. Organisasi menjadi institusi belajar politik dan saluran dalam menuntut hak-hak anggota, bahkan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kedaulatan ekonomi masyarakat dilakukan dengan cara memperjuangkan arti penting kooperasi (kerjasama). Lembaga kooperasi tumbuh di desa-desa. Orang-orang dewasa dididik mengelola uang, mengatur keinginan, terikat dalam rasa tanggung-jawab dan kontrol satu sama lainnya. Kooperasi sebagai lembaga ekonomi menuntut perubahan mendasar dalam sikap dan mental, berupa kepercayaan, kerjasama dan tekad mandiri-berdaulat, berorientasi untuk kemanfaatan anggota. Tanpa itu kooperasi hanya akan menjadi nama yang bisa jadi isinya sebenarnya adalah lembaga hutang-piutang pencari rente (rentenir) yang dimiliki oleh orang tertentu, sebagaimana banyak kita jumpai di pinggir-pinggir jalan sekarang.

Barangkali kondisi demokrasi kita yang baru bersifat prosedural dan melahirkan aktor-aktor politik (dominan ataupun alternatif) tanpa disertai lahirnya kebijakan-kebijakan implementatif pada kebutuhan publik, disebabkan oleh tidak adanya kerjasama inter dan antar-aktor. Gerakan sosial cenderung fragmentatif dan berhenti pada isu, lembaga negara berdiri pada posisi yang tidak tersentuh ( _status quo_) dalam logika linearitas kebijakannya, elit bisnis aman dalam aktifitas usahanya, sementara masyarakat kebingungan mendapatkan saluran politik dan memperoleh kebutuhan dasarnya.

Kekhawatiran di atas dapat dicegah di antaranya dengan mengubah cara mendidik anak-anak kita, dimulai dari pendidikan inklusif yang menyediakan ruang bagi orang lain dan menciptakan suasana kerjasama satu dengan lainnya, bermodalkan keunikan karakter masing-masing orang. Bukan kerjasama yang bersifat penyeragaman. Dididik mereka untuk memiliki cita-cita bersama disertai dorongan mewujudkannya secara kooperatif.

Saya yakin bahwa sepanjang sejarah kehidupan di alam raya ini, makhluk yang dapat bertahan sampai dengan peradaban kita saat ini adalah mereka yang berhasil melakukan kerjasama.[]

Ahmad Luthfi
Ahmad Luthfi
Penulis adalah pendidik dan sejarawan di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Comments are closed.