Daun-daun Di Atas Arus
Jul 11, 2016
Obah, Owah: Bergerak, lalu Berubah!
Jul 13, 2016

Kacang Lupa Kulit; Sesat Juga Menyesatkan.

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

“Cuma manusia pengecut atau curang yang tiada ingin melakukan pekerjaan berat, tetapi bermanfaat buat masyarakat sekarang dan di hari kemudian itu”

(Tan Malaka)

Kita semua tentu masih ingat bagaimana aparat sewaan PT. Semen Indonesia memukul ibu-ibu Pegunungan Kendeng yang menolak penambangan kapur secara massif di Rembang. Jerit dan tangis terus mengiris, perempuan dilempar ke semak-semak, ada beberapa warga ditangkap. Tuduhan wartawan palsu karena membawa kamera dan mendokumentasikan aksi dilayangkan pada mereka. Salah satu yang ditangkap adalah seorang ibu-ibu yang dituduh sebagai provokator. Tindakan kekerasan tidak berhenti sampai di situ. Sampai pada malam hari, ketika ibu-ibu memutuskan bermalam dan membuat tenda di lokasi aksi, aparat tak mengizinkan dan mengobrak-abrik tenda yang akan didirikan. (Dwi Cipta dan Hendra Try Ardianto dkk, 2015 : 136)

Lalu, kita juga ingat bagaimana beberapa waktu lalu para Kartini Gunung Kendeng melakukan aksi menyemen kaki mereka sebagai bentuk penolakan terhadap keberadaan PT. Semen Indonesia di Kec. Gunem, Kabupaten Rembang, yang merupakan lumbung pangan di sekitar gunung Kendeng. Prinsip teguh Ibu Bumi Wes Maringi, Ibu Bumi Dilarani, Ibu Bumi Kang Ngadili (Ibu Bumi Sudah Memberi, Ibu Bumi Disakiti, Ibu Bumi Akan Mengadili) menjadi doa yang dipanjatkan untuk siapapun yang melukai alam. Aksi Ibu-Ibu Pegunungan Kendeng menyemen kaki adalah rangkaian aksi keprihatinan terhadap bahaya kehancuran lingkungan dan keroposnya ketahanan pangan negeri ini yang sampai sekarang tak pernah didengar pemerintah. Kita tak mungkin lupa juga bagaimana para petani pegunungan Kendeng dan segenap warga Yogya bersolidaritas bersama dalam menggeruduk UGM karena dua akademisinya memberikan kesaksian akademisinya yang penuh tipu-daya terhadap praktek pendirian pabrik semen di Rembang.

Kini, sudah tiga tahun tenda perjuangan berdiri tegak menantang keserakahan korporasi serta ketulian dan kebutaan penguasa. Penguasa yang lama kawin dengan gerombolan korporasi  serakah bernama PT. Semen Indonesia membuat dirinya tak peka lagi terhadap persoalan-persoalan rakyatnya. Sampai detik ini, masyarakat terus melawan keberadaan PT. Semen Indonesia. Alasannya sederhana: mayoritas masyarakat di Kendeng adalah petani. Salah satu sumber kehidupan, baik petani maupun umum di sekitar gunung Kendeng, adalah sumber mata air. Mereka lebih mementingkan keselamatan anak cucu dibandingkan dengan bergelimang harta dan kemakmuran semu di masa kini. Sebab, keberadaan masyarakat yang dapat hidup hingga hari ini tidak lain adalah karena sumbangan alam semesta yang diberikan tuhan. Dengan demikian, siapapun tak boleh merusak alam, terlebih untuk memperkaya diri sendiri.

Perjuangan dan prinsip teguh terhadap keselamatan alam inilah yang kemudian banyak membuat seluruh masyarakat baik di Indonesia maupun diluar negeri bersimpati dan mengecam ekploitasi kapur PT. Semen Indonesia di pegunungan Kendeng.

Sebagai perusahaan yang memiliki kekuatan finansial raksasa, bermacam upaya terus dilakukan PT. Semen Indonesia agar dapat meneruskan penambangan. Terakhir, PT. Semen Indonesia digelontor dana 3,46 Triliun oleh Bank Mandiri untuk keperluan modal eksploitasi. Salah satunya dana tersebut digunakan untuk membungkam kesadaran dan kepedulian masyarakat kepada nasib pegunungan Kendeng. Sebagai bukti nyata adalah pemberian bantuan kepada Ikatan Mahasiswa Rembang-Yogyakarta ( IMR-Yogyakarta ) untuk sebuah panggung hiburan di Balai Kartini Rembang pada 22 Juli 2016.

Dengan sangat cerdik PT. Semen Indonesia memanfaatkan kepandaian IMR-Yogyakarta dalam pembuatan proposal agar dapat memberikan legitimasi bahwa PT. Semen Indonesia suka membantu masyarakat Rembang. Keterbatasan kepandaian para mahasiswa Rembang di Yogyakarta yang hanya pada pencarian dana menjadi tusukan mendalam masyarakat Kendeng. Acara yang dibiayai oleh PT. Semen Indonesia ini menjadi keprihatinan bersama karena jauh-jauh dari Rembang belajar ke Yogyakarta mereka hanya belajar membuat proposal dan mengemis dana ke perusahaan yang menghancurkan alam di jantung kehidupan mereka sendiri.

Kalian Penindas!

Adakah kalian lupa falsafah para leluhur Jawa, Ojo Dadi Kacang Kang lali Lanjaran ( jangan jadi Kacang Lupa Kulit)? Tak sadarkah kalian, darimana asal kalian? Ada apa disekitar kalian? Adakah kalian pura-pura tak tahu persoalan di Rembang? Lantas apa guna kalian belajar ?

Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan konyol yang dapat diajukan pada mereka yang berjas atau menyandang status sebagai mahasiswa Rembang di Yogyakarta. Mengapa konyol? Sebab, Kendeng adalah juga bagian Rembang. Jika diibaratkan dengan tubuh manusia,  Kendeng adalah kepala sedangkan mereka ( mahasiswa Rembang ) adalah mata, hidung, telinga dan mulut. Jika kepala sakit sudah pasti organ lain di kepala juga akan sakit.

Tetapi aneh bukan main, mereka (Ikatan Mahasiwa Rembang- Yogyakarta) tidak merasakan sakit seperti apa yang dirasakan oleh para petani pegunungan Kendeng. Mereka tak bersimpati sama sekali terhadap perjuangan para Kartini Kendeng yang telah berkorban tenaga, pikiran, dan harta bendanya demi menyelamatkan lingkungan yang menjadi ruang hidup mereka juga. Atas nama kaum terpelajar mereka kangkangi dan pura pura tuli dengan persoalan saudara mereka sendiri. Jelaslah bahwa sekelompok mahasiswa tersebut sedang terserang sesat fikir proposalisme. Dalam bahasa Julien Benda, mengingat keterpelajaran para mahasiswa Rembang itu, mereka tengah menjerumuskan diri mereka sendiri pada tindakan “pengkhianatan kaum intelektual.”

Acara pagelaran musik menjadi panggung hura-hura yang disenangi, tanpa dimensi kesadaran sosial dan kepekaan terhadap bahaya kehancuran lingkungan alam mereka sendiri. Mereka tengah mempermalukan diri dan sesama mahasiswa Rembang yang tak ikut-ikutan dengan menerima uang panas PT. Semen Indonesia. Sementara PT. Semen Indonesia menjadi pihak paling bahagia dalam acara tersebut. Sebab, kaum terpelajar dapat diajak berkompromi untuk turut serta menindas saudaranya sendiri.

Sudah barang tentu tersesatnya para kaum terpelajar IMR-Yogyakarta dalam jurang nista kesenangan duniawi ini juga merupakan penyesatan terhadap masyarakat Rembang yang lain. Lebih utama generasi muda di Rembang.  Dengan menyediakan acara panggung hiburan, PT. Semen Indonesia melalui tangan IMR-Yogyakarta mencoba melakukan pencucian kesadaran pemuda di Rembang agar lupa diri dan lepas dari persoalan sosialnya. Korban ketamakan PT. Semen Indonesia (yaitu para petani di Gunung Kendeng dan warga Rembang) dan masyarakat umum dapat menyimpulkan bahwa Ikatan Mahasiswa Rembang – Yogyakarta adalah bagian dari PT. Semen Indonesia. Di sisi lain, pencantuman logo PT. Semen Indonesia dan dana proposal mereka merupakan cara pemutihan kedzaliman PT. Semen Indonesia. Barangsiapa yang berdiri dipihak PT. Semen Indonesia maka dia termasuk dari golongannya. Golongan para penindas yang lalim!

Untuk Ikatan Mahasiswa Rembang-Yogyakarta, segeralah putus kontrak sponsor dengan P.T Semen Indonesia, sebelum Ibu bumi mengadili serta memboikot perbuatan dzalim tersebut.  Cepat atau lambat. Karena doa orang terdzalimi dijanjikan Tuhan akan dikabulkan! Bertaubatlah![]

Muhamad Nasihudin
Muhamad Nasihudin
Muhamad Nasihudin, Lahir di Cilacap 22 November 1991. Selain sebagai santri Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Jogja, penulis juga aktif sebagai anggota Neo Gerakan Literasi Indonesia (Neo GLI). Saat ini sedang menempuh pendidikan di Jurusan Siyasah, Fakultas Syariah & Hukum, UIN Sunan Kalijaga. Pada gerakan mahasiswa aktif di PMII.

Comments are closed.