Syahadat Bumi (Ibu Bumi Dilarani)
Dec 22, 2016
Demokrasi Kita sebagai Infrastruktur Kapitalisme
Feb 16, 2017

Jakarta yang Ambles dan Pendalaman Ide Ahok tentang Penataan Ruang

Subsidence

Tina Talisa: Berkaitan dengan penataan kawasan perkotaan, ada pembangunan di bawah permukaan tanah, diantaranya MRT, dan juga pembangunan yang menjulang tinggi yang berkaitan dengan hak atas udara. Bagaimana strategi Paslon 2 dalam mengelola pembangunan perkotaan berkaitan dengan hak atas permukaan tanah dan hak atas udara?

Ahok: Ya, itulah yang kami katakan. DKI ini kaya-raya. Kenapa kaya-raya? Karena masih punya ruang udara dan ruang bawah tanah termasuk laut, yang belum dikelola dengan baik. Nah, inilah yang kami tawarkan. Kami mulai menugaskan pada BUMD kami untuk menguasai. Termasuk TOD, transit-oriented development. Dimana ada stasiun-stasiun, maka radiaus 350 m dari stasiun itu, itu dikuasai oleh BUMD-BUMD kami. Inilah yang kami lakukan. Jadi prinsip kami sangat sederhana. DKI kaya, kita akan manfaatkan KLB tadi, yang tadi dikritik seolah-olah didiskresi. Bukan. Ini memanfaatkan ruang, atas dan bawah tanah, untuk membangun infrastruktur DKI. Peraturannya memang lagi disusun. Tapi secara Pergub, kita sudah bisa mengatur. Misal Monas. Monas itu, kalau kita katakan 50 hektar saja, kita gali 5 meter ke dalam.  Bayangin kalau 50 hektar itu 500 ribu meter persegi. Dua juta setengah. Nggak ada orang yang bisa begitu kaya-raya, di tengah ibukota, dari Monas kalau ditarik sampai ke Sudirman, Patung Pemuda, itu 7,7 kilometer. Bayangkan kalau kita pakai semua itu untuk menjadi properti milik BUMD-BUMD DKI, baru kita kerjasamakan.

Tulisan ini akan mendiskusikan ide Gubernur DKI Jakarta petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), tentang pemanfaatan ruang di DKI Jakarta, terutama dalam konteks ini adalah ruang bawah tanah dan udara. Secara spesifik saya akan melihatnya dengan kerangka amblesan tanah (subsidence) yang terjadi di Jakarta serta ancaman banjir yang datang sehubungan dengan terjadinya amblesan tanah tersebut. Saya akan menstrukturkan tulisan ini pertama-tama dengan mengidentifikasi amblesan tanah yang ada di Jakarta serta penyebabnya, risiko banjir yang ditimbulkannya, dan ditutup dengan kembali ke ide Petahana seperti yang dikutip di atas, yang disampaikan pada debat pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur Provinsi DKI Jakarta pada 27 Januari 2017.

Permasalahan amblesan tanah di Jakarta sudah menjadi perhatian, baik pemerintah atau akademisi. Dari pemerintah, tidak tanggung-tanggung, Presiden Joko Widodo seperti yang dapat dibaca di Antaranews.com April 2016 mengkhawatirkan kondisi ini. “Data yang saya terima penurunan muka tanah di DKI sudah sangat mengkhawatirkan, rata-rata 7,5 cm sampai 12 cm,” demikian Jokowi. Dari kalangan ilmuwan, sudah sangat banyak riset yang dilakukan untuk memonitor laju penurunan tanah di Jakarta, serta untuk mengidentifikasi dampaknya bagi Kota Jakarta dan penghuninya. Saya tidak perlu merinci riset-riset itu satu-persatu di sini. Dari kalangan praktisi, Deltares, perusahaan Belanda yang berbasis di Delft dan merupakan konsultan keteknikan di bidang air (air minum, banjir, air kotor, dan amblesan) bagi Provinsi DKI Jakarta, pada 26 Mei 2015 mengadakan round-table discussion khusus tentang amblesan tanah Jakarta dengan mengundang 60 orang, termasuk di dalamnya pakar dari berbagai negara. Pakar dari berbagai negara diundang karena amblesan kawasan perkotaan bukanlah hal istimewa cuma pengalaman Jakarta, namun sudah pernah terjadi di kota-kota lain seperti Tokyo, Bangkok, dan Venice.

Beberapa publikasi yang saya baca menyebutkan bahwa penurunan tanah memang terjadi di Jakarta dengan variasi spasial dan temporal. Misalnya pengukuran dengan global positioning system (GPS) pada rentang waktu 1997-2010 menunjukkan bahwa setiap tahun amblesan tanah di Jakarta terjadi di berbagai tempat dengan variasi antara 1-28 cm/tahun. Amblesan yang paling besar misalnya tercatat di kawasan Pantai Mutiara yang pada periode Desember 1997 hingga September 2007 ambles sedalam 80-90 cm.

Apa yang menyebabkan terjadinya amblesan? Round-table discussion yang diorganisir oleh Deltares di atas pada akhirnya menyatakan para ilmuwan sepakat bahwa ektraksi air tanah adalah salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap terjadinya amblesan tanah di Jakarta. Namun, ekstraksi air tanah bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya amblesan tanah di Jakarta. Beberapa publikasi yang lain mengidentifikasi faktor-fraktor lain, misalnya: pembebanan pada tanah karena banyaknya gedung-gedung, aktivitas tektonik, dan juga kompaksi material sedimen di Jakarta.

Ada juga publikasi yang, sependek yang dapat saya cerna sebagai pembaca, menyajikan argumen yang meyakinkan dengan metode penelitian yang ketat, sampai pada kesimpulan bahwa ekstraksi air tanah hanya berkontribusi kecil kepada amblesan tanah di Jakarta (17,5%), sementara sisanya (82,5%) adalah faktor-faktor lain seperti pembebanan gedung-gedung. Tentang faktor apa yang paling berkontribusi terhadap amblesan tanah di Jakarta, berbagai angka disajikan para peneliti. Ada variasi di dalamnya. Variasi yang paling ekstrim adalah dua yang saya sampaikan di atas (ektraksi air tanah vs. pembebanan gedung-gedung). Satu hal yang pasti, semua sepakat terjadi amblesan tanah di Jakarta.

Lagipula, keempat faktor di atas pada dasarnya saling berhubungan. Ekstraksi air tanah besar-besaran terjadi karena orang banyak butuh air. Sumur-sumur bor dalam (kekira lebih dari 40 m) biasanya dimiliki oleh sektor industri atau komersial seperti pabrik, hotel, mall, dan apartemen. Di kampung-kampung kota macam RW 10 Bukit Duri, menurut obrolan saya dengan beberapa orang di sana tahun lalu, kedalaman sumur-sumur mereka sekitar 10 m. Ini bisa dipahami, bahwa RW 10 Bukit Duri dekat dengan Kali Ciliwung. Air Kali Ciliwung bisa mengisi akuifer (batuan sarang air) dangkal darimana rakyat memompa air untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Ekolog yang saya ajak berdiskusi di Jakarta tahun lalu mengkhawatirkan di beberapa tempat proses eko-hidrologi pengisian (recharging) akuifer dangkal di sekitar kawasan Kali Ciliwung ini akan rusak karena adanya proyek Normalisasi Ciliwung dimana tiang-tiang turap memotong/menutup aliran air tanah dari Kali Ciliwung ke akuifer dangkal, dan sebaliknya bila kondisi kesetimbangan air menghendaki itu. Saya rasa analisis itu masuk akal. Konsekuensinya adalah, ke depan, warga yang selama ini mengandalkan sumur-sumur dengan pola aliran air tanah seperti itu, kemungkinan besar akan menemukan sumur-sumur mereka mengering. Ditinjau dari faktor jarak ke permukaan, air tanah dangkal memiliki waktu pengisian kembali yang lebih singkat dibandingkan air tanah dalam, karena jaraknya lebih dekat ke permukaan. Sehingga, secara lebih spesifik, ekstraksi air tanah dalam oleh sektor-sektor industri dan komersial-lah yang terutama menyebabkan terjadinya amblesan tanah di Jakarta.

Ekstraksi air tanah,  faktor pertama penyebab amblesan tanah yang diidentifikasi di atas, bukanlah hal yang berdiri sendiri, namun ia memiliki hubungan dengan kepadatan Kota Jakarta. Semakin padat Kota Jakarta, maka semakin banyak air yang dibutuhkan. Sementara, jaringan pipa air minum non air tanah, seperti yang diungkap oleh moderator dalam diskusi debat Pilgub DKI Jakarta 2017, baru sanggup memenuhi sepertiga kebutuhan total air bersih Jakarta.

Pembebanan dari gedung-gedung, faktor kedua yang berkontribusi terhadap amblesan tanah di Jakarta, juga tidak berdiri sendiri; sebab gedung-gedung berhubungan erat dengan populasi dan aktivitas bisnis di Jakarta. Pola yang tak terbantahkan adalah, semakin banyak bangunan, maka akan semakin berat beban buat tanah Jakarta. Penyebab lain, pemadatan sedimen, juga tidak bisa dilepaskan dari pembebanan yang terjadi di atasnya. Ekstraksi air tanah, pada titik tertentu juga bisa mempercepat pemadatan. Ini bisa dijelaskan karena pori pada batuan yang tadinya terisi air tanah, karena air tanahnya diambil, sekarang menjadi kosong. Beban di atas tanah dengan pori yang kosong atau menuju kosong itu akan mempercepat pemadatan.

Aktivitas tektonik, meski memiliki kaitan yang paling kecil dengan ketiga faktor penyebab amblesan yang lain karena banyak peristiwa tektonik yang berhubungan dengan proses alamiah Bumi, terutama pergerakan lempeng-lempeng Bumi, bukan berarti bisa dikatakan tidak memiliki kaitan sama sekali. Beberapa hasil penelitian di berbagai tempat seperti Perancis, Swiss, dan Turki menunjukkan bahwa kegiatan pemboran untuk geothermal bisa menyebabkan gempa bumi minor. Saya tidak sedang menyatakan bahwa pemboran air tanah dalam di Jakarta menyebabkan gempa bumi minor, poin saya adalah aktivitas tektonik tidaklah selamanya sebuah proses yang tanpa campur tangan manusia.

Apa dampak yang ditimbulkan oleh amblesan tanah di Jakarta? Selain dislokasi spasial yang berdampak langsung pada bangunan, misalnya bangunan menjadi miring atau bergerak, yang tak kalah penting adalah risiko banjir. Risiko banjir semakin parah karena pada saat yang bersamaan, menurut para ilmuwan, meski lajunya relatif kecil dibandingkan dengan laju penurunan tanah di atas, juga terjadi kenaikan muka air laut (sekitar 0,5 cm/tahun). Banjir besar November 2007 di Jakarta bagian utara adalah banjir yang datang dari laut dan penyebabnya adalah kombinasi antara muka air laut yang naik dan amblesan tanah di daratan.

Dari paparan soal amblesan ini, kita kembali ke poin soal ekstensi pembangunan, yang dalam kutipan di atas disebut “properti,” ke atas dan ke bawah. Argumen-argumen yang sudah dipaparkan menunjukkan  bahwa ide itu tidak sensitif dengan kompleks krisis sosio-ekologis yang sekarang sedang menimpa Kota Jakarta karena dia akan semakin menambah beban bagi tanah Jakarta. Dan, kalau kebutuhan air minum pipa non air tanah tidak bisa dipenuhi, karena tidak terdengar juga cara yang meyakinkan baik dari Petahana maupun dari dua Paslon yang lain dalam debat itu tentang bagaimana caranya memenuhi dua pertiga lagi kebutuhan total air di Jakarta, pembangunan-pembangunan properti yang dimaksud Petahana kemungkinan besar akan memperkuat faktor penyebab amblesan yang lain: ekstraksi air tanah. Karena pembangunan-pembangunan properti itu membutuhkan pasokan air.

Dalam gambar yang saya ambil dari salah satu artikel seperti yang disebutkan di gambar itu (lihat gambar “Penurunan Tanah di Jakarta 2008-2009”), terlihat besaran masalah yang dihadapi berupa laju amblesan pada tahun tertentu serta plot lokasi yang dibicarakan Petahana dalam debat Pilgub. Selain secara umum ide Petahana itu tidak sensitif dengan permasalahan yang disampaikan tulisan ini, secara lebih spesifik salah satu lokasi yang disebutkan (Monas) berada pada lokasi yang juga ambles.

Terakhir, masih tersisa satu kali debat, masih ada waktu baik bagi Petahana untuk memperdalam pendapatnya, atau juga bagi paslon lain dan warga untuk menggalinya. Bagi pemilik suara, silakan pikirkan baik-baik.

Comments are closed.