Gugatan Izin Lingkungan Apartemen Uttara: Kepala BLH DIY Tak Memenuhi Panggilan Majelis Hakim PTUN Yogyakarta
Apr 7, 2016
Soekarno dan Dasi Aidit
Apr 14, 2016

Ibu-Ibu Rembang dan Kematian Marhaenisme

Foto: JMPPK

Foto: Dhandy Dwi Laksono

Foto: Dhandy Dwi Laksono

Mulai kemarin sampai tujuh hari ke depan, kita telah, sedang, dan akan menyaksikan sebuah gugatan atas kebekuan nurani dari sebagian besar masyarakat kita yang mulai acuh tak acuh pada perjuangan sesama anak bangsanya. Sembilan ibu-ibu dari Rembang, dengan mewarisi spirit Kartini dalam bentuk yang lebih revolusioner, menyemen atau membeton kaki mereka di depan istana negara. Aksi ini merupakan satu dari serangkaian gugatan yang mereka lakukan pada penguasa—mulai dari level terendah hingga yang paling tinggi—atas kebijakan pendirian pabrik semen di Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Setelah pihak PT. Semen Indonesia yang dibekingi oleh penguasa daerah hingga pusat secara sewenang-wenang tetap menjalankan proses pembangunan pabrik di Gunung Bokong; setelah kebijakan Ijo-Royo-Royo Ganjar Pranowo dihantam sendiri oleh Gubernur salon itu dengan memuluskan rencana pendirian PLTU hinga pabrik semen di Rembang, Pati, Blora, Grobogan, dan Gombong; setelah program Membangun Ketahanan Pangan Jokowi mulai dikhianati oleh Sang Presiden dengan realisasi berbagai proyek infrastruktur dan industrialisasi yang memangsa lahan rakyat, layak kiranya kalau kita mencari tahu apa yang sejatinya dilakukan oleh ibu-ibu dari Rembang dengan menyemen atau membeton kaki mereka. Atau, seperti dalam pertanyaan salah satu teman di kolom komentar status facebook saya: kenapa ibu-ibu Rembang yang harus berdemo atau melakukan aksi?

Menarik rasanya kalau kita mencoba membaca aksi ibu-ibu Rembang ini dalam kaitannya dengan latarbelakang kelahiran ideologi PDIP dan program-program unggulan kadernya yang sekarang sedang menduduki Jateng 1 dan RI 1. Saya tak mau panjang lebar menjelaskan ini. Dalam pandangan saya, aksi membeton kaki yang dilakukan ibu-ibu Rembang di istana negara ini memiliki beberapa tembakan.

Pertama, majunya ibu-ibu di Rembang bisa dibaca sebagai simbol dari keguncamgan lumbung kehidupan setiap rumah petani di Rembang dan petani di manapun di negeri ini. Manakala lahan pertanian sudah tidak bisa diharapkan menjadi gantungan hidup petani, apalagi dirampas secara semena-mena dan dialihfungsikan menjadi pabrik yang mengancam keseimbangan ekologis sebuah wilayah, maka pihak yang paling menanggung derita ini adalah ibu-ibu petani itu. Simpul pengikat lahan yg dirampas, kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga, dan kepastian penyediaan pangan yang menjadi syarat dasar keharmonisan di dalam rumah petani berada pada sosok ibu petani plus ibu rumah tangga seperti mereka. Kalau lahan dan ruang hidup mereka tak bisa menghidupi, apalagi mengalami perampasan, maka keharmonisan anggota keluarga akan lenyap. Dengan begitu, jelas sudah bahwa mereka subyek yang paling terdampak dari kebijakan negara yang membombardir kehidupan para petani dengan penderitaan demi penderitaan.

Kedua, sehubungan dengan latarbelakang lahirnya ideologi PDIP dan pertanyaan kenapa bukan petani laki-laki yang tampil ke depan dan melakukan gugatan terhadap kebijakan industrialisasi yang menghancurkan dunia mereka, kepala saya justru memunculkan simbolisasi yang tepat untuk aksi ibu-ibu Rembang tersebut. Kita semua tahu ideologi nasionalis kerakyatan PDIP berasal dari mitos tentang pertemuan Sukarno dengan seorang petani kecil bernama Marhaen. Mitos ini menunjukkan visi kepartaian PNI yang kemudian bermetamorfosa menjadi PDIP bahwa pihak yang akan mereka bela dan mereka makmurkan terutama adalah kaum marhaen, petani kecil atau petani penggarap, sebelum meluas menjadi kaum buruh dan rakyat kecil pada umumnya. Maka kebijakan industrialisasi dan pembangunan infrastruktur Joko Widodo yang justru menguntungkan pengusaha besar sama artinya menghabisi secara sistematis kaum tani, kaum buruh, dan kelompok miskin desa dan kota lainnya.

Pembacaan kedua itu bisa melahirkan pembacaan ketiga. Kehadiran ibu-ibu di depan istana negara dan aksi mereka membeton semennya bisa dibaca sebagai simbolisasi kematian ‘laki-laki marhaen’ atau para laki-laki yang mengukuhi ideologi marhaenisme. Para petani laki-laki atau petani penggarap laki-laki yang tak hadir di depan istana negara ‘telah mati’ mata pencahariannya. Sebentar lagi mereka akan hijrah ke kota-kota besar, menjadi buruh bangunan atau buruh pabrik, dan yang paling sial menjadi gelandangan dan pengemis. Dan negara yang terus berpihak pada para pengusaha akan terus menyingkirkan mereka sampai tak punya ruang istirahat nyaman selain liang lahat! Seiring masuknya para petani kecil dan buruh tani itu ke liang lahat, maka mati pula ideologi marhaenisme yang dikukuhi oleh PDIP sebagai pewaris sah ideologi PNI. Ideologi yang lebih patut mereka kukuhi sejak masa sekarang adalah kapitalisme elitis!

Lalu apa hubungan tindakan ibu-ibu Rembang yang membeton kakinya dengan kebijakan ketahanan pangan Joko Widodo dan Ijo Royo-Royo Ganjar Pranowo? Bukankah ini bisa menjadi sindiran telak di depan istana negara, bahwa kebijakan ketahanan pangan dari presiden yang kemarin mendapatkan kemenangan heroik itu bisa dibaca sebagai kebijakan ketahanan beton! Pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, bandara, dan berbagai pabrik menggunakan bahan dasar semen. Bentuk paling nyata dari kebijakan ini adalah munculnya beton-beton keras dan angkuh yang tak ramah lingkungan.

Maka sebagai turunan dari kebijakan ketahanan beton ini adalah tidak adanya warna ijo royo-royo (warna hijau adem yang menunjukkan banyaknya pepohonan rindang dan tanaman menghijau), tapi warna abu atau kelabu yang gelap. Tidak ada lagi warna hijau, kecuali gambar atau pemandangan hijau di layar televisi, dan kita semua tahu pemandangan hijau di layar televisi itu adalah pemandangan hijau palsu! Kebijakan penuh tipu daya dari pemimpin politik Jawa Tengah ini semakin nyata karena di hari yang sama dengan dimulainya aksi pembetonan kaki para Kartini modern dari Rembang itu, Sang Gubernur justru sedang tertawa lebar dalam sebuah acara. Sekali lagi ia mengkhianati ujaran Sukarno di masa lalu yang berseru begini dalam sebuah pidato yang sering saya dengarkan: “Kalau engkau bingung dengan arahnya revolusi, kalau engkau bingung dengan jalannya revolusi Indonesia, kembalilah, kembalilah kepada Amanat Penderitaan rakyat! Di istana negara, ketika para ibu-ibu Rembang sedang menagih amanat penderitaan rakyat yang diserahkan kepada pemimpin politiknya, dan Joko Widodo entah kemana, lalu Ganjar Pranowo tertangkap kamera sedang tertawa-tawa bahagia.

Akan menarik sebenarnya bila aksi ibu-ibu Rembang ini diikuti oleh aksi ibu-ibu dari Urutsewu yang tanahnya juga mengalami perampasan, ibu-ibu dari Kendal yang kemarin telah mendatangi Tenda Perjuangan, ibu-ibu Batang yang tanahnya sedang disulap menjadi pabrik PLTU, dan ibu-ibu di Jakarta yang tengah mengalami penggusuran lahannya. Kita semua akan menjadi saksi apakah amanat penderitaan rakyat yang sedang diminta kembali oleh para ibu-ibu ini, yang bisa jadi diikuti oleh ibu-ibu yang lain, akan dipenuhi oleh pemimpinnya, baik di tingkat nasional maupun daerah. Bila tidak, maka kaki dan jiwa ibu-ibu itu akan terbeton penderitaan. Joko Widodo, Ganjar Pranowo, dan elite-elite PDIP yang mendaku dirinya sebagai kaum marhaen tetap bisa tertawa riang. Ideologi marhaen hanya menjadi jubah dari ideologi kapitalisme yang menguntungkan segelintir elitenya. Kaum liberal pendukung penguasa tetap sinis dengan orang miskin dan para petani. Dan kita semua tetap acuh tak acuh. Sungguh seekspresif akhir dari puisi Rendra yang berjudul Khotbah: Fantastik!

Dwi Cipta
Dwi Cipta
Penulis cerita dan esai. Belajar menulis dan menerjemah secara otodidak. Kini sedang belajar di dunia penerbitan dengan ikut mendirikan dan menakhodai Literasi Press.

Comments are closed.