Pasar Malam dan Mimpi Manusia Pinggir Kota
Jun 23, 2017
“ANTI-PANCASILA”?: Apa dan Siapa Itu “anti-Pancasila”?
Jul 15, 2017

Estetika Korban dan Estetika Solidaritas di Jalan Poster

Sejak diminta mengerjakan kurasiposter dalam pameran bertajuk “Menuju Jalan Poster” benak saya disusupi pertanyaan ini: Apakah ada estetika yang bisa menjadi fondasi kerja seni bagi para pembuat poster? Saya tak pernah punya pengalaman kerja kuratorial atau kerjapenulisan yang berhubungan dengan seni rupa. Sekali pun sejak mahasiswa sudah berkawan baik dengan beberapa seniman gambar—yang lebih beken disebut perupa—namun saya tak punya kualifikasi sedikit pun untuk mengerjakan kerja-kerja kuratorial. Tanggungjawab kurasi karya yang diserahkan pada saya lebih disebabkan oleh keterlibatan saya dalam gerakan sosial—terutama di isu-isu agraria dan perampasan ruang hidup—selama tiga tahun terakhir. Jadi pertanyaan estetika apa yang bisa memandu kerja pengurasian poster-poster terus menerus berputar di benak saya.

Apakah poster bisa menjadi jalan perjuangan bagi pekerja seni poster atau bahkan masyarakat umum dalam mengarus-utamakan persoalan-persoalan sosial yang merugikan satu atau beberapa kelompok masyarakat? Apakah poster bisa menjadi alat yang ampuh dalam memperjuangkan kemenangan kasus-kasus agraria dan perampasan ruang hidup, korupsi, kesetaraan dan kedamaian hidup antar umat beragama, mahalnya biaya pendidikan, buruh, dan lain sebagainya? Dan estetika macam apa yang kira-kira mendasari rangkaian panjang workshop, pameran, dan kerja kesenian semacam ini?

Poster tentu bukan satu-satunya alat perjuangan atau bahkan penyelesai masalah yang ampuh. Namun tak pula bisa diabaikan perannya sebagai media penggedor kesadaran publik sekaligus pembangun irama kebersamaan dan kesatupaduan dalam penyelesaian kasus yang mengorbankan rakyat banyak di satu sisi dan menguntungkan segelintir pihak di sisi yang lain. Kesadaran bahwa poster bisa menjadi media perlawanan terhadap kesewenang-wenangan segelintir pihak dan menjadi media perjuangan bagi pihak-pihak yang paling dirugikan membuat para pekerja seni semacam Afandi, anggota Taring Padi, Andre Anti-Tank hingga seniman poster yang berpengalaman seperti Alit Ambara menjadikan seni poster sebagai jalan perjuangan. Namun sejauh mana poster bisa menjadi media seni sekaligus sarana yang ampuh dalam memperjuangkan isu tertentu tak banyak menjadi perbincangan publik seni maupun gerakan sosial yang memanfaatkan media ini.

Sebelum memasuki perbincangan estetika dan panduan kerja umum bagi para pekerja seni poster, saya berusaha mempertanyakan dan menguji apakah jalan tersebut bisa dipertanggungjawabkan secara sosial-politik. Pertanyaan dan pengujian ini penting untuk melihat sampai sejauh mana para pekerja seni poster menempatkan diri dalam ruang besar berbagai persoalan yang ada di masyarakat dan peran strategis macam apa yang bisa dikerjakannya. Dengan mencermati peta jalan inilah jebakan kredo “Seni untuk seni itu sendiri” dan jebakan bombasme “Seni yang diabdikan untuk kepentingan mereka yang tertindas atau dirugikan” bisa dihindari.

Dari Boikot Art Jog Menuju Jalan Poster

Ide pameran poster aksi ini bermula dari obrolan kecil antara B. Nugroho dan Mugageni saat menyaksikan aksi Boikot Art Jog di Jogja National Museum (JNM) pada akhir Mei 2016. Saat itu, poster-poster aksi boikot yang dibawa para demonstran hanya berupa coretan-coretan sederhana dari spidol dan cat semprot di kain spanduk atau keras putih. Dalam pandangan Mugageni, aksi boikot itu hanya mendapatkan efek meluas namun tidak ada efek untuk meninggi. Lebih jauh ia menyatakan bahwa aksi boikot itu akan menarik kalau para demonstran dibekali pengetahuan seni dan ketrampilan membuat poster yang mencukupi.

Selesai aksi, Mugageni mengusulkan penyelenggaraan workshop poster bagi para demonstran pada  B. Nugroho. Dari B. Nugroho, ide penyelenggaraan workshop ini tersambung pada pekerja seni yang tergabung dalam Serikat Tukang Gambar—selanjutnya disingkat Setanggam. Di momen pengerjaan stensil di Warung Kopi Lico, Mugageni menyampaikan kembali kritik poster selama aksi Boikot Art Jog pada anggota Setanggam dan kawan-kawan yang sering terlibat dalam pengorganisasian dan aksi-aksi solidaritas. Sayangnya, obrolan tentang workshop yang bisa dikerjakan antara teman-teman Setanggam dengan Mugageni terhenti sesudah pengerjaan stensil Warung Kopi Lico. Tidak tahu persis apa yang menyebabkan obrolan itu terhenti. Anggota Setanggam justru menindaklanjuti Kursus Etnografi yang diselenggarakan oleh GLI dengan pemateri Hairus Salim dan Anna Mariana lewat penyelenggaraan pameran lukisan bertajuk Kali Gajah Wong bersama Komunitas Lukis Cat Air (Kolcai) Chapter Yogya pada tanggal 28 Februari-14 Maret 2017.

Sekitar bulan April 2017, dalam kunjungan Mugageni ke Warkop Lico, obrolan tentang kemungkinan penyelenggaraan workshop bersama kawan-kawan Setanggam muncul kembali. Ia mengusulkan diadakannya workshop poster aksi digital karena ia terbiasa mengerjakan desain grafis digital. Para pemrakarsa workshop semula ingin menjadikan acara ini sebagai acara bersama antara GLI, Setanggam, FNKSDA, IMM AR Fakrudin, PMII Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, dan teman-teman Pers Mahasiswa. Namun dalam perkembangannya, ide workshop keroyokan ini gagal terlaksana. Yang terjadi justru pengerjaan workshop poster aksi yang dikerjakan oleh Setanggam dan Mugageni dkk.

Workshop poster aksi diadakan pada tanggal 20-21 April. Peserta Workshop berasal dari Setanggam dan organ gerakan mahasasiswa Cakrawala. Di hari pertama Bagas memantik workshop poster aksi dengan tema sejarah poster. Di hari kedua, Mugageni memaparkan sejarah dan perkembangan poster aksi dan komposisi desain poster dalam kerja-kerja pengorganisasian gerakan sosial dan aksi soilidaritas. Rencana workshop yang semula terfokus pada digital kemudian meluas ke media-media lain. Di akhir acara poster-poster aksi yang dihasilkan peserta workshop diputuskan untuk dipamerkan. Karena peserta workshop sedikit, para fasilitator dan peserta menyepakati usulan dari salah seorang peserta agar para pembuat poster yang tidak terlibat di workshop bisa berpartisipasi dalam pameran. Dari usulan ini para seniman poster seperti Alit Ambara, Rohalusmu, dan Dany Dwi Anggoro bisa berpartisipasi di acara pameran poster bertajuk “Menuju Jalan Poster.”

Penyelenggara pameran memilih LKiS di Jalan Pura no. 203, Sorowajan, Bantul sebagai ruang untuk memamerkan poster-poster. Pemilihan LKiS sebagai lokasi pameran didasari pertimbangan bahwa mereka merupakan salah satu aktor yang memotori berbagai gerakan sosial, budaya dan keagamaan di Indonesa sejak era 1990-an hingga sekarang.

 

Menuju Jalan Poster: Estetika Solidaritas dan Estetika Korban

Secara sederhana, poster-poster yang diikutsertakan dalam pameran ini terbagi menjadi tiga kategori. Pertama, poster yang mengangkat persoalan sosial-politik, agama, dan lingkungan yang menjadi isu hampir semua lapisan masyarakat. Poster-poster semisal “Aku sama dengan kamu, KITA SAMA” karya Ambar Fitriani P, “Stop Dirty Energy” karya Wikan Tri Sambodo, “Harus Turun Takhta” karya Logoshead, “Sedikit atau Banyak Korupsi” karya Edwin dan  “Bebaskan Negeri dari Sampah Kemunafikan” karya Mimin.

Kategori kedua adalah poster yang diangkat dari persoalan sosial yang tidak memberikan dampak langsung (terutama dalam jangka pendek) pada seniman atau pembuat posternya. Para pekerja seni ini—sekali pun memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial yang kemudian mereka angkat dalam karya poster—tidak menjadi bagian dari masyarakat adat Dayak, petani Urutsewu, atau massa buruh industrial. Kita bisa memandang poster-poster semacam ini sebagai ekspresi solidaritas dari pekerja seni kepada kelompok-kelompok masyarakat yang sedang memperjuangkan hak-haknya. Yang masuk di dalam kategori ini di antaranya “May Day” karya Alit Ambara, “Tanah Adat Dikalahkan Kelapa Sawit” karya Rohalusmu, dan“Tanah adalah Kehidupan: Tolak pemagaran atas (?) TNI di Urutsewu,” karya Kafabi.

Ketiga, poster yang dibuat oleh pekerja seni yang juga menjadi satu korban persoalan sosial. Contohnya poster berjudul “UKT yang mencekik” karya Kafabi dan “Reject Cement Factory in Java” karya Dany Dwi Anggoro. “UKT yang mencekik” lahir dari ketegangan kreatif Kafabi akibat dirinya menjadi korban dari kebijakan Uang Kuliah Tunggal di kampus UIN Sunan Kalijaga. Sementara “Reject Cement Factory in Java” berangkat dari konflik berkepanjangan antara korban kebijakan industri semen di Pati dan pengusaha semen yang dibekingi penguasa. Dany Dwi Anggoro mengangkat isu ini karena selaku warga Pati ia merasa menjadi korban dari kebijakan negara yang tak mempertimbangkan hak-hak masyarakat lokal dampak ekologis maupun sosio-ekonomi dari kebijakan tersebut.

Dari ketiga kategori itu, ada dua estetika yang secara sadar atau tidak hadir begitu kuat di berbagai poster. Yang pertama, bisa secara sederhana disebut sebagai estetika solidaritas. Estetika ini tumbuh dari kesadaran atau naluri bahwa para pekerja seni tersebut bukan bagian langsung dari persoalan sosial yang menjadi pokok perhatian mereka. Kalaupun merasakan dampak dari persoalan sosial itu, mereka tidak merasakannya secara langsung. Dampak dari persoalan sosial yang diangkatnya baru terasa dalam konteks persoalan yang lebih besar. Misalnya, perampasan lahan adat untuk sawit atau untuk latihan perang. Kedua persoalan ini tidak memberi dampak langsung pada Kafabi dan Rohalusmu. Mereka bukan pemilik lahan atau orang yang terikat langsung pada relasi sosio-ekonomi Urutsewu dan Kalimantan. Namun, dua persoalan sosial ini bertemu di satu persoalan besar seperti kesewenang-wenangan mekanisme pengambilan kebijakan oleh penguasa baik di tingkatan lokal di wilayah mereka maupun di level nasional.

Tumbuhnya simpati pada korban dan kesadaran atas satu persoalan sosial dan ekologis dalam konteks yang lebih besar menjadikan mereka menjadi korban membuat poster yang mereka buat menjadi sebuah undangan keterlibatan pada elemen-elemen masyarakat lain. Poster “Tanah adat dikalahkan Sawit,” dengan gambar timbangan, nampaknya menjadi simbol ketimpangan hukum dan ketidakadilan. Kelompok masyarakat yang akan langsung memahami poster ini adalah para mahasiswa dan pekerja hukum dan mereka yang terlibat atau memiliki kepedulian terhadap isu ketidakadilan. Sayangnya, estetika soilidaritas ini tidak secara intensional dikembangkan oleh para pekerja seni yang terlibat dalam pameran ini. Penentuan sasaran pada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat agar mereka bergabung dalam satu aliansi solidaritas pada korban ini selain akan mengembangkan lebih jauh estetika solidaritas juga memiliki implikasi langsung dalam perjuangan para korban.

Yang kedua, estetika korban. Estetika ini lahir dari kondisi ketakberdayaan keputasasaan korban akibat diabaikannya suara atau tuntutan mereka dan dipinggirkannya hak-hak dari satu beberapa kelompok masyarakat atas isu sosial, ekonomi, ekologi, budaya atau politik yang melekat pada diri mereka. Poster yang lahir dari suara korban biasanya lebih tegas dan menuju langsung pusat sasaran. Poster ini juga menjadi seruan pada pihak-pihak yang dianggap merugikan mereka agar relasi antara korban dan pelaku kesewenang-wenangan terhadap mereka. Poster “UKT mencekik” karya Kafabi menjadi representasi yang tepat bagi suara korban. Selain lantang berseru pada pihak yang dianggap menjadi pelaku tindakan sewenang-wenang pada diri mereka, poster dari pihak korban juga berusaha membangun simpati dari pihak-pihak yang tidak atau belum menjadi korban dari tindakan sewenang-wenang segelintir pihak atau aparat kekuasaan. Poster Dany Dwi Anggoro yang menyerukan penolakan pendirian pabrik semen di Jawa adalah ikhtiar membangun aliansi korban kebijakan industri semen di Jawa, baik yang sudah berada di tataran implementasi dan sudah merasakan dampak langsungnya maupun yang masih pada tataran rencana implementasi.

Sayangnya, estetika korban sering memiliki artikulasi sangat baik dalam aksi-aksi langsung di lapangan namun tidak terumuskan secara konseptual (dalam arti dokumentasi literal) atau tidak dikomunikasikan lewat media massa. Di titik inilah saya kira para pekerja seni yang juga menjadi bagian korban bisa menemukan perannya yang signifikan. Komunikasi pada masyarakat luas inilah yang membuat artikulasi suara korban sampai ke kalangan yang lebih besar dan perjuangan mereka untuk mengatasi persoalan mereka menemukan jalan keluarnya.

Dwi Cipta
Dwi Cipta
Penulis cerita dan esai. Belajar menulis dan menerjemah secara otodidak. Kini sedang belajar di dunia penerbitan dengan ikut mendirikan dan menakhodai Literasi Press.

Comments are closed.