Kooperasi dan Gerakan Advokasi Warga: Cerita dari Pinggir Kalimetro
Oct 3, 2017
Surat untuk Oppung
Oct 26, 2017

Dihilangkannya Orang-orang Sekaroh

Ilustrasi oleh Gegen Moehammad

Hari itu hujan mengguyur kampung Sekaroh, tak ada satu orang pun yang duduk di beranda seperti hari-hari sebelumnya, barangkali mereka sudah bosan melihat hujan atau setidaknya mereka sudah bosan hawa dingin menggerogoti daging tipis mereka. Apa juga yang harus dilihat di malam gelap tanpa penerangan, hujan? Tentu masyarakat yang hidup di pinggiran hutan Sekaroh tidak pernah menjadikan hujan sebagai wahana hiburan atau sekadar menikmati rintik-rintiknya sebagai salah satu kejadian langit yang ditunggu-tunggu. Justru tidak sedikit masyarakat yang membenci fenomena langit tersebut.

Marsini salah satunya, ia salah satu dari sekian pemburu babi hutan yang masih bertahan di Sekaroh. Jika hujan turun, ia akan masuk hutan berhari-hari lamanya, mencari jejak-jejak babi yang sudah jarang ditemukan. Tentu binatang hama itu akan jarang keluar jika hujan terus saja mengguyur sepanjang hari. Marsini biasanya ditemani Ayep adik tirinya dan juga Bikan anaknya, tidak lupa mereka ditemani Pelor, Mirah dan Menjangan anjingnya yang memang sudah dilatih sedari kecil sebagai anjing pemburu yang handal. Setiap berburu, tiga anjingnya akan selalu jadi teman setia mereka. Sudah hampir sembilan hari mereka menyusuri hutan. Kali ini adalah hari tersial bagi ketiga pemburu ini, tidak seekor pun babi hutan mereka dapati.

Hutan Sekaroh adalah hutan adat. Tak ada satu orang pun yang boleh menebang pohon dengan dalih apapun. Jika itu dilanggar, maka hari itu juga si pelaku penebangan akan tewas seketika, entah oleh sebab apa, dari ujung kaki sampai sekujur tubuh biasanya akan membiru, juga lebam, lalu setelahnya akan terlihat seperti orang gila yang mengoceh sendiri tanpa diketahui penyebab penyakit semacam itu, dan tentu kematian menantinya. Yang jelas masyarakat masih sangat mempercayai hal semacam itu dengan sebutan tuah . Masyarakat sangat mempercayai tatanan kehidupan adat, jika pemangku mengatakan tidak boleh, maka tidak ada satu orang pun yang berani membantah bahkan menyanggah, karena itu adalah satu petuah yang wajib ditaati. Jika ada diantara mereka yang tidak percaya atau mencoba melanggar, maka segala bentuk keburukan akan menjemputnya. Amaq Anom adalah pemangku Desa yang sangat disegani dan dihormati di kalangan masyarakat setempat, bukan karena usianya yang sudah hampir se—abad itu atau karena ilmu Ramal, Senteguh, Senjerit, Seranggas dan ilmu Jaye Sempurne yang ia miliki. Namun karena kejujuran dan kerendahan hati serta pemikiran-pemikirannya yang bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat juga petuah-petuahnya yang selalu mengajak masyarakat untuk tetap mejaga hutan.

Ia selalu berpesan; “Jika satu pohon akan kita tebang, berarti kita sudah menghilangkan sepuluh nyawa seseorang, tapi jika satu pohon kita tanam, seribu orang akan terselamatkan.” Begitulah petuah-petuah yang selalu dilontarkan Amaq Anom selaku pemangku Adat yang sangat dicintai warganya.

Namun seiring berjalannya waktu, syarat-syarat alam mulai dilangkahi, satu persatu mulai menggerogoti pohon-pohon besar yang tumbuh subur di hutan adat, ada yang merambah menjadi penebang liar, makelar tanah, juga pemburu liar yang dengan sembarang menembaki apa saja yang melintas di hadapan mereka, tak perduli itu hewan atau binatang keramat yang memang sengaja dilindungi, baik oleh masyarakat adat maupun pemerintah. Segala jenis satwa penghuni Hutan Sekaroh dihabisi. Semua itu dilakukan setelah wafatnya Amaq Anom selaku pemangku adat Hutan Sekaroh, tidak ada lagi yang disegani oleh orang-orang yang memiliki kerakusan dan ketamakan duniawinya.

Tepat di hari kesepuluh, nasib baik sepertinya bakal menghampiri mereka. Pelor dan Menjangan gerasak-gerusuk memperlihatkan tingkah yang tak biasa, sepertinya ada babi yang mereka endus baunya. Ayep dan Bikan lalu mengikuti kedua anjingnya yang berlari mendekati pohon mahoni. Sementara Mirah berada di tempat lain bersama tuannya menyusuri pinggiran hutan. Dari jarak yang cukup dekat, Ayep dan Bikan melihat segerombolan penebang kayu di sana, ia dengan sangat berhati-hati melihat satu per–satu wajah di antara mereka. Jelas di sana tertangkap oleh kedua matanya di balik semak belukar, wajah yang sangat ia kenali, Pak Sumenep. Pak Sum nama panggilan akrabnya–adalah seorang Kepala Desa–yang sangat disegani oleh masyarakat di kampungnya, bukan lantaran kebijakan-kebijakannya ia disegani atau cara menjalankan amanat yang sudah diembannya sebagai pemangku desa, melainkan karena kebengisan dan juga keangkuhannya–ia tak akan segan-segan memukul atau memaki siapa saja yang mencoba menegur atas kebijakan-kebijakan atau yang sekedar menanyakan sesuatu perihal kepemimpinnya selama ini, jika ia merasa tersindir, maka si penanya akan mendapat cacian bahkan pukulan. Pak Sum adalah seorang Kepala Desa yang anti terhadap kritik.

*** *** ***

“Kumasuki hutan dengan harapan beberapa babi bisa dibawa pulang.” Tapi setelah mereka melihat kejadian hari itu, Marsini, Ayep dan Bikan seolah getir tiap kali akan memasuki Hutan Sekaroh, mereka takut kalau hal serupa akan mereka lihat lagi.

Semenjak kejadian itu, Marsini, Ayep dan Bikan anaknya tidak melakukan perburuan babi dalam jangka waktu yang cukup lama. “Mereka masih dibayang-bayangi suara raungan anak manusia yang memuncratan darah dari kepala yang terpisah dari tubuhnya.”
Semenjak pembabatan hutan yang dimulai sejak tahun 2001, hanya merekalah yang sampai saat ini tetap bertahan menggantungkan nasib dengan berburu. Sedang warga yang lainnya lebih memilih jadi perantau, baik ke kota maupun ke luar negeri.

Marsini dan Ayep juga berberapa kali diajak oleh sebagian warga yang sudah keluar masuk Malaysia untuk bekerja di sana. Tapi lagi-lagi, usaha mereka tetap tak menuai hasil, mereka tetap bertahan dengan pendiriannya, jawaban yang selalu dilontarkan masih tetap sama sehingga membuat orang yang mengajakknya tak bisa berkata-kata lagi. “Kalau semua laki-laki di kampung ini meninggalkan rumah, lantas siapa lagi yang bakal menjaga tanaman dari serangan hama?. Tentu sebagian warga di kampung ini juga membutuhkan pertolongan dari kekejaman babi hutan yang kerap kali merusak tanaman-tanaman warga, hasil panen juga kan tergantung dari seberapa banyak babi yang tidak merusak dan memakan tumbuhan yang ada di ladang bukan?.”
Satu persatu masyarakat Sekaroh meninggalkan kampung halamannya setelah mereka berhasil mengumpulkan sejumlah ringgit di perantauan. Bahkan, tak jarang dari mereka yang memberi secara percuma gubuk-gubuk hunian mereka pada warga lainnya. Mereka lebih memilih membeli tanah di luar kampung dan membangun rumah baru mereka di sana, begitu seterusnya. Barangkali mereka sudah bosan hidup di pinggiran hutan yang akses air bersihnya sangat sulit didapatkan, jalan-jalannya yang berlumpur tiap kali hujan melanda juga gelap gulita saat matahari mulai condong ke barat, dan tentu juga karena akses informasi yang sangat sulit diperoleh, apa lagi jarak tempuh untuk anak-anak mereka yang bersekolah dan juga bagi mereka yang sesekali ingin berangkat ke kota. Jika tetap memilih bertahan di sana, maka segala akses informasi akan sulit mereka dapatkan. Di tempat ini juga dulu pernah ada sekolah yang didirikan dari iuran warga setempat, namun tidak bertahan lama, tidak sampai dua tahun sekolah itu berdiri, para guru sukarelawan yang mengajar di sana tidak tahan menempuh perjalanan menuju Kampung Sekaroh karena akses jalan menuju sekolah sangatlah memprihatinkan. Pernah ada beberapa dari warga menuntut perbaikan jalan pada Pak Sum selaku kepala desa, juga pada pihak kecamatan hingga kabupaten dan provinsi, tapi sampai akhir priode ke–duanya jalan itu masih seperti semula,  Pak Sum tidak pernah benar-benar ingin memperbaikinya. Saat-saat mendekati pilkada, para calon dari berbagai macam partai bergonta ganti datang menabur janji, namun setelah mereka terpilih dari beberpa di antara mereka yang sering bolak-balik ke Kampung Sekaroh menjadi Dewan Perwakilan Rakyat, Bupati hingga Gubenur tak satupun di antara mereka yang datang memenuhi biji-biji yang kadung sudah tertanam, alih-alih mengirim bantuan, berkabar pun mereka enggan.

Tiga bulan berlalu, Marsini, Ayep dan Bikan sudah mempersiapkan bekal. Kali ini mereka harus mendapatkan banyak buruan. Jika tidak, hutang selama tidak melakukan perburuan akan kian menumpuk. Perasaan was-was mereka kini sedikit demi sedikit berangsur hilang, toh, kalau mereka tidak berburu, hutang kepada Wanto tak akan bisa tertutupi, belum lagi dengan disertai bunga-bunganya.

“Kali ini, akan Kutantang seribu babi dengan lengan terbuka. Pantang kita pulang sebelum mendapatkan banyak buruan,” ucap Bikan dengan penuh percaya diri.

Ayep yang mendengar semangat yang ber–api-api lalu menepuk pundak keponakannya untuk ikut memberi semangat. “Dulu, paman semasih seusiamu lebih bersemangat darimu, kalau tak percaya bisa kau tanyakan pada Ayahmu. Tapi paman mengakui, dulu paman lebih tua saat itu ketimbang usia kau sekarang ini.” Bikan yang mendengar ucapan pamannya itu kini lebih memantapkan semangatnya. “Jadi, aku tidak akan keluar dari hutan sebelum meringkus puluhan babi, Paman.”

“Jangan berucap sembrono Kau, Nak, karena dalam kepercayaan kita, bukan parang, tombak atau senjata tajam lainnya yang membuat kita terluka ataupun merasa takut. Tapi yang paling dihindari adalah ucapan yang terlalu jumawa. Apa Kau ingat Amirun? Dia tewas bukan karena parang yang menyabet di lehernya. Ia terkenal memiliki ilmu kanuragan dan ilmu kebal, tapi asal Kau tahu, ia tewas atas ucapannya sendiri yang tidak bisa tersentuh senjata tajam”, ujar sang  Ayah menasehati.

“Aku ingat sekali waktu Irun tewas seketika akibat ucapannya, Yah.” Ya, “di Hutan Sekaroh; tak ada yang terkuat, Nak, dan yang akan bertahan hidup di sana adalah mereka yang selalu rendah hati dan menjaga ucapannya dari kesombongan-kesombongannya juga kebaikan hati mereka yang ikut merawat segala yang ada di hutan ini. Jadi anakku, hutan ini adalah milik semua makhluk hidup yang ada di muka bumi ini. Jadi jangan sekali-sekali sembarang Kau menggunakan parangmu untuk memotong ranting sekalipun, paham Kau!” Sambung sang Ayah menekan tegurannya.
*** *** ***
Pagi menyambut, warna tanah masih terlihat gelap, cuaca dingin menusuk tulang, embun masih bergelantung menari-nari di dedaunan. Belakas, panah, tombak dan sejumlah tali ikat–tak boleh ada yang tertinggal. Tak lupa juga botol-botol tuak, ikan teri kering dan emping nasi, serta ubi untuk bekal perjalanan mereka. Seperti biasa, Bikan akan selalu mengingat ibunya yang selalu sibuk mempersiapkan bekal untuk mereka sebelum berangkat menuju hutan. Ibunya juga sering berpesan “Ingat, Nak, setelah terkena kulit atau darah babi itu, segeralah Kau bersuci, karena di agama kita mengharamkan dan juga bersipat nakjis mukallazah. Apa kau masih ingat doa bersuci bukan?.” Bayangan itu segera ia lupakan, ia tak mau terlarut dalam kesedihan-kesedihannya. Toh, ibunya kini sudah berbahagia di surga.

Pagi menjelang siang, sebelum memasuki hutan, Marsini melakukan ritual puji agar segala urusan diperlancar. Kemenyan mulai ditaburi pada arang yang sudah kemerahan, juga dipersiapkan keminang tempat daun sirih, kapur, gambir dan tidak lupa buah pinangnya. Dipersiapkan juga benang putih sebagai bebet dalam ritual ini, setelah mantra-mantra selesai dibacakan, Ayep lalu mulai menaburkan beras pada jalan utama menuju hutan. Namun ia lupa satu hal persyaratan, “ayam.” Ritual semacam itu masih dipercayai di kalangan masyarakat Sekaroh. Tanpa ritual, mereka menyakini akan terkena bala sewaktu-waktu ketika akan memasuki hutan. Ia ingat persis pesan Amaq Anom “sebelum kita memasuki hutan; kita wajib berucap salam meminta pada Sang Hyang Maha Kuasa dengan melakukan ritual-ritual puji, karena kita sebagai manusia tidak hanya hidup sendiri, banyak makhluk ciptaan Tuhan yang tak terlihat secara kasat mata, maka lewat ritual itu kita melakukan doa-doa agar segala kemudahan, pertolongan dan terhindar dari malapetaka  di hutan ini juga segala niat kita diperlancar dan dipermudah segala urusannya.” Baginya, Amaq Anom bukan sekedar pemangku Adat, tapi jauh dari itu, ia adalah guru sekaligus Ayah bagi warga masyarakat di Sekaroh.

Sudah setengah hari mereka menelusuri hutan. Pelor, Mirah dan Menjangan mulai mengendus-endus, sepertinya ini adalah hari keberuntungan bagi mereka. Tidak seperti beberapa bulan yang lalu, mereka pulang dengan tangan hampa, kesialan dan hanya rasa lelah yang dibawa pulang. Setelah ditelisik, ternyata Ayep tidak melakukan ritual seperti yang sudah diminta oleh kakaknya, setelah kepulangannya dari berburu waktu itu, Ayep mengakui kesalahan yang dilakukannya walau saat itu, rasa lelah masih bergelantungan diraut wajah mereka.

“Maaf Kak, kesialan ini semua diakibatkan atas kesalahanku.”

“Maksud Kau, Yep?”

“Aku telah lalai dan abai terhadap ritual puji sebelum kita memasuki hutan kemarin, Aku tidak melaksanakan ritual seperti yang Kau perintahkan itu.”

“Apa! Bukannya Aku sudah menyuruh Kau melakukannya waktu itu?.”

“Sekali lagi maafkan Aku, Kak. Aku yang salah.”

“Acong Kau, ini sungguh keterlaluan, Kau ini goblok atau bagaimana, hah. Itu hal wajib yang harus kita laksanakan sebelum memasuki hutan, lupa Kau?!.”

“Sekali lagi maafkan Aku, Kak. Aku janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.”

“Bajingan, pantas saja kita sampai berpuluh-puluh hari menyusuri hutan dan tak satupun buruan yang kita dapatkan, ternyata Kau memang mengabaikan ritual peninggalan nenek moyang kita. Kelewatan Kau ini, untung saja nyawa Kau tidak ikut tertinggal di sana, mulai besok, biar Aku saja yang akan melakuakan ritual puji!.”

Bikan hanya sebagai pendengar ke–dua orang tua yang sedang beradu mulut, rasa lelah dan kekecewaannya masih lebih terasa dibandingkan harus mendengar Ayah dan Pamannya beradu mulut. Ia lalu meninggalkan kedua orang tua yang masih berjibaku di ruang tengah. Sepertinya, Ayah Bikan sangat marah ketika tahu bahwa; apa yang dilakukan adiknya itu bisa membahayakan nyawa mereka. Bikan lalu menuju ke kamarnya dan tertidur pulas dengan berbantal kelelahan yang terdengar dari suara dengkurnya.
*** *** ***
Di balik pohon mahoni, pelor dan menjangan terlihat mencium sesuatu, ia lalu berlari sembari diikuti tuannya dari belakang. Ia melihat segerombolan babi di balik semak-semak. Marsini lantas memerintah anjing-anjingnya segera mengejar sambil berlari menyusul. Sementara Ayep dan Bikan berlari menyilang, kelewang dan tombak sudah siap membidik tubuh babi hutan tersebut. Plaaaaaaak, tak ayal tiga babi hutan tewas di ujung tombak. Ayep dan Bikan berlumuran darah, sepertinya mereka terlalu bergairah menusukkan tombaknya ke tubuh hewan itu sehingga wajah mereka tampak percikan-percikan darah ikut menempel.

Mereka melanjutkan perburuan. “Kali ini kita akan pulang membawa hasil, Paman,” Bikan menyakinkan pamannya. Mereka berjalan membuntuti anjing-anjingnya. Namun langkah mereka terhenti di bawah pohon lian. Pohon kramat yang sudah berumur sekian abad. Setelah didekati, dua kepala manusia berserakan di sana. Marsini, Ayep dan Bikan tak kepalang kaget. “Siapa yang tega melakukan perbuatan iblis  semacam ini?.”
“Ini pasti Boro, kak,” ucap Ayep menyakinkan.

“Hus, jangan sembarang ngomong Kau!”

Bikan juga tak ayal, ketakutannya sangat tampak, terlihat dari baju Ayahnya yang tak dilepaskannya sedari tadi.

“Sudah, Nak, sudah! Ayo cari sebagian tubuh mayat-mayat itu bersama Pamanmu, Kau ini laki-laki, dan kita Orang Sasak. Jadi jangan jadi pengecut melihat hal semacam ini,” Ayahnya menasehati.

Marsini lalu memungut kepala-kepala yang berserakan itu. Ayep dan Bikan sibuk menyibak semak-semak, lalu lalang mencari tubuh kedua kepala itu ditemani anjingnya. Selang beberapa menit, tubuh dari kedua kepala itu terlihat tergeletak di bawah semak belukar yang sepertinya sengaja ditutupi. Namun siapa yang mampu menandingi pencimuan Pelor, Mirah dan Menjangan?

Marsini adalah saksi kunci atas pembunuhan yang dilakukan Pak Sum waktu itu, dalam hati ia juga menyakini bahwa; pembunuhan ini juga ada kaitannya dengan Kades tersebut karena ke dua mayat ini adalah salah satu warga yang selalu mengkritisi kebijakan serta perbuatan Pak Sum yang selalu menjual tanah-tanah di Sekaroh. Marsini bahkan sangat mengenali kedua mayat itu, ia adalah Muksin dan Muksan yang kini kepalanya sedang ditenteng di tangannya.

Di balik pohon, sekitar pelemparan batu anak berusia dua tahun, Pak Sumenep beserta sejumlah warga memergoki ketiga laki-laki itu dengan dua kepala serta tubuh di masing-masing tangannya. Tak ayal, ketiga laki-laki itu langsung menjadi bulan-bulanan warga, sebagian warga berpendapat “Bagaimana jika ketiga laki-laki ini dibakar? Ini adalah perbutan orang kafir,” teriak warga lainnya, “Maka mereka pantas dibakar hidup-hidup,” sebagian warga juga berkata; “Mereka ini keluarga pemakan babi, jadi darah mereka sudah halal untuk kita tumpahkan.”

Emosi yang meluap-luap akhirnya menutupi sisi kemanusiaan mereka. Ketiga pemburu itu akhirnya terpanggang di bara api yang menyala-nyala. Sementara Pak Sumenep melukiskan senyuman terbaiknya di langit-langit sore itu.

Yogyakarta, 04 Oktober 2017

Hasan Gauk
Hasan Gauk
Hasan Gauk. Penulis adalah kurator Sastra asal Lombok. Saat ini aktif sebagai anggota Gerakan Literasi Indonesia (GLI) dan bergiat di kegiatan-kegiatan literasi yang lain.

Comments are closed.