Polisi Enggan Usut Kasus Kekerasan Terhadap Ibu-Ibu Rembang!
Jan 8, 2016
Die taz: Sebuah Catatan Harian (6) 12 September 1980: Pemberontakan Kaum Perempuan
Jan 10, 2016

Die taz: Sebuah Catatan Harian (5) 17 April 1979: Badut Pelempar Batu

Salinan koran taz yang mengumumkan terbitnya taz secara harian (dalam buku Die taz). FOTO: EDITH KOESOEMAWIRIA.

Salinan koran taz yang mengumumkan terbitnya taz secara harian (dalam buku Die taz). FOTO: EDITH KOESOEMAWIRIA.

Salinan koran taz yang mengumumkan terbitnya taz secara harian (dalam buku Die taz). FOTO: EDITH KOESOEMAWIRIA.

SEORANG badut bertopi, dengan saputangan yang terikat di leher serta tali penahan celana yang menjulur lewat dada dan punggung telanjang untuk menjepit motif kotak-kotak bahan celana badut, yang tengah menari di atas gentong? Ataukah badut itu berdiri di atas marmer bagai tugu yang tiba-tiba hidup? Pada bata di tangannya yang siap melempar, tertera: “taz”.

Apakah potret badut pelempar batu itu konsep perlawanan terhadap publikasi umum? Sebuah terbitan lelucon yang perlu bergerilya? Betulkah perlawanan politik dipandang sebagai pentas sirkus yang perlu menggelitik publik? Lalu batu itu dilemparkan ke siapa? Dan, hanya sebegitukah kemampuannya melempar?

Foto badut tersebut menghiasi halaman utama koran taz yang terbit pada 17 April 1979, hari Selasa setelah Paskah. Di sampingnya tertera: “ab heute täglich”, “kini, setiap hari”.

Setiap hari berarti mulai Senin hingga Jumat. Pada hari Sabtu berlangsung rapat redaksi, dilakukan sebelum produksi pada pekan depannya, yang sudah harus berjalan pada hari Minggu.

Lima belas tahun setelah taz “badut“ itu terbit, redaktur taz Michael Sontheimer masih ingat situasinya. “Di jalan Watt, di kawasan Wedding yang suram. Kami, yang bermaksud menerbitkan koran lima hari seminggu, belum satu kali pun berhasil memproduksi koran kami dalam sehari. Sebelum hari H, kami merencanakan geladi resik. Tapi di ruang besar redaksi, kesepuluh meja kerja kosong. Saya di situ sendirian bersama seorang calon redaktur, Max Thomas Mehr. Cuaca di luar begitu cerah sehingga rekan-rekan tercinta lain lebih tertarik untuk berjemur di taman. Siapa kira bahwa dengan gerombolan orang macam ini, sebuah koran harian bisa diterbitkan?”

Menjawab pertanyaannya sendiri, “Saya tidak.”

Dalam perkembangannya, taz, koran bersosok perempuan idaman itu, sempat berubah menjadi “si lelaki mimpi buruk”: berbulu, egois, bengal, dan mengganggu.

Bagaimanapun, suatu keajaiban bahwa taz bisa terbit, dengan jumlah abonemen yang jauh di bawah prediksi 7.000 abonemen. Bagi pengacara dan aktivis gerakan hijau, Hans Christian Ströbele, kemampuan taz bertahan sampai 6 pekan saja sudah merupakan sukses besar. Bagi dia, terbukti sudah bahwa pada prinsipnya penerbitan sebuah koran kiri lintas wilayah bisa direalisasi. Yang tak disangka-sangka oleh siapa pun, harian itu bertahan hingga kini.

Koran bagi Pembaca

Demokratisasi masyarakat mungkin menjadi sasaran politik yang terpenting bagi taz. “Menerbitkan koran bagi pembaca” merupakan semboyan revolusioner, perwujudan pemikiran dasar Marxis, yakni “memberikan rakyat hak untuk memiliki alat-alat produksi”. Dalam hal ini termasuk: bahasa, tulisan, dan kemampuan berekspresi. Artinya, taz tidak perlu sekadar memberitakan tentang manusia dan menjadikan manusia sebagai objek pemberitaan, melainkan bisa membuka peluang bagi orang banyak untuk menjadi subjek. Dan, menyuarakan sendiri pendapatnya.

Konsep itu dikaitkan dengan teori Brecht mengenai radio. Brecht pernah mengulas bagaimana mengubah penyiaran radio (dan televisi) dari sebuah alat distribusi menjadi alat komunikasi. Bagi Brecht, yang penting adalah “mendorong pendengar agar tidak hanya mendengar, tetapi juga untuk bersuara. Selain itu, radio tidak seyogyanya mengisolasi pendengarnya, sebaliknya justru menjalin hubungan dengan para pendengar.”

Dari sudut pandang ini, penyiaran harus berhenti mengunakan konsep pemasok berita, sebaliknya mengorganisasi masyarakat untuk memasok berita. Secara konsekuen, buntut dari pemikiran utopis ini adalah penghapusan jurnalisme sebagai profesi.

Bila semua penerima informasi juga merupakan pengirim berita, maka tidak akan dibutuhkan kaum profesional yang menyebut dirinya jurnalis. Yang dibutuhkan adalah teknisi, yang bisa memberikan layanan bantuan teknis dan merawat peralatan tersebut. Konsep serupa bisa kita lihat sekarang dalam bentuk forum-forum internet, serta berbagai wujud “jurnalisme warga”.

Sebagai wadah penampungan tema, jurnalisme warga memberikan sumbangan besar. Namun, sebagai konsep surat kabar yang ogah kehilangan bobot, jurnalisme warga tidak berfaedah. Meski begitu, ada banyak kemiripan antara sebuah institusi seperti Wikipedia dengan utopia koran taz pada awalnya.

Kualitas koran tidak diukur dari intensitas suara dan masukan pembaca, juga bukan pada jumlah informasi yang akurat dari akar rumput, melainkan pada pilihan editor—apa yang diedit, pada penempatan berita-berita yang telah dipadatkan agar terbangun kaitan antara suatu berita dengan laporan lain. Pada akhirnya, koran bukanlah ensiklopedia.

Redaksi surat kabar tidak hanya harus memeriksa setiap laporan, tetapi memilih dan memotong. Setidaknya supaya muat dalam halaman yang tersedia. Tim redaksi mendefinisikan apa yang menurutnya penting dan perlu diberitakan. Tentunya, dengan begitu, juga menyisihkan apa yang dianggapnya tidak penting.

Dan, sebesar-besarnya keinginan untuk memberikan ruang kepada semua pihak, hal itu tidak mungkin dilakukan. Tudingan melakukan sensor dengan cepat terlontar. Bagi taz, tak terelakkan dan menohok jati diri yang memang penuh kontradiksi.

Khayalan tentang kehebatan diri adalah sisi lain dari kemurungan hati. taz, yang bagi sebagian orang sudah gagal sebelum mulai, kemudian setiap hari terbit untuk “menggulingkan status quo”. Namun, yang ternyata bisa diubah dan menjadi sasaran kudeta itu adalah taz sendiri.

taz menjelma sebagai gelanggang pertarungan yang ditayangkan untuk publik. [Disadur oleh Edith Koesoemawiria dari buku Die taz karya Jörg Magenau]

Jörg Magenau
Jörg Magenau
Lahir pada 1961 di Ludwigsburg, Jerman. Semasa kuliah, ia mengambil jurusan filsafat Jerman di Freie Universität, Berlin. Selepas kuliah, ia bekerja sebagai jurnalis di mingguan Freitag, die Wochenpost, dan koran taz pada 1997 hingga 1999. Setelah itu, Magenau pindah ke harian Frankfurter Allgemeine Zeitung hingga 2002. Kini menjadi redaktur majalah Literaturen serta aktif sebagai juri dan moderator acara-acara sastra.

Comments are closed.