Die taz: Sebuah Catatan Harian (3) 27 September 1978: Perempuan dengan Nama Panggilan taz
Jan 7, 2016
Polisi Enggan Usut Kasus Kekerasan Terhadap Ibu-Ibu Rembang!
Jan 8, 2016

Die taz: Sebuah Catatan Harian (4) 10 Desember 1978: Beranjak ke Berlin

Kongres Tunix di auditorium utama Technischen Universität, Berlin, pada 27 Januari 1978. FOTO: KLAUS MEHNER.

 

Kongres Tunix di auditorium utama Technischen Universität, Berlin, pada 27 Januari 1978. FOTO: KLAUS MEHNER.

Kongres Tunix di auditorium utama Technischen Universität, Berlin, pada 27 Januari 1978. FOTO: KLAUS MEHNER.

 

Bila kita berangkat dari Berlin subuh hari Jumat, maka tergantung cuacanya, kita baru akan berada di Frankfurt pada siang hari Sabtu. Itulah gambaran jarak di antara dua kota yang dipertimbangkan sebagai markas taz. Pada masa Jerman masih terbelah Timur dan Barat, lokasi sentral Frankfurt di Jerman Barat dianggap lebih strategis karena mudah dicapai oleh kelompok-kelompok alternatif yang tersebar di penjuru negara itu.

Saat menentukan markas taz, kelompok Frankfurt berargumentasi bahwa tenggat redaksi bisa dijadwalkan dua hingga tiga jam lebih lambat. Sementara itu, kelompok pro-Berlin Barat menekankan adanya program subsidi yang bisa membantu penghematan biaya produksi hingga 30.000 mark. Cuma lokasinya yang bagai pulau kecil dan terpencil di wilayah Jerman Timur menyebabkan masalah logistik besar. Belum lagi, kebanyakan aktivis yang terlibat mencurigai segala hal yang berbau sentralistis dan memiliki markas tetap.

Namun, sebuah koran nasional, meski dipersiapkan secara desentralistis tetap membutuhkan kantor. Protokol Sidang Pleno Nasional (Desember 1978) mencatat berlangsungnya perdebatan panas di antara kepulan asap damai ganja. Seluruh 73 aktivis yang hadir menyepakati bahwa taz mulai 2 April 1979 harus terbit setiap hari dan membutuhkan lokasi produksi yang tetap.

Para aktivis, yang harus mengeruk kocek sendiri untuk hadir di sidang pleno, juga dimintai sumbangan 400 mark untuk menggulirkan “proyek taz”. Dan, setiap orang yang hadir memiliki satu suara. Karenanya, kubu pro-Frankfurt dan pro-Berlin Barat bersaing hebat, membeberkan alasan-alasan kuat agar kota pilihannya diterima.

Putusan untuk Berlin

Kelompok pro-Frankfurt awalnya sangat yakin bakal bisa menang dengan mudah. Ternyata, kritik menghantam dari kalangan aktivis akar rumput. Mereka menganggap grup Frankfurt sering kelewat sinis terhadap upaya-upaya dan inisiatif kelompok regional lain. Sementara itu, lokasi Berlin Barat di kawasan front Perang Dingin juga dikhawatirkan akan memengaruhi haluan koran. Para aktivis München menawarkan model lain. Yaitu, merotasi kota markas setiap tiga bulan. Dengan begitu, katanya, tim redaksi bisa bekerja lebih erat dengan kelompok-kelompok regional yang akan menjadi staf sementara.

Putusan untuk Berlin jatuh pada 10 Desember 1978, pukul 13.50 dengan 43:30 suara. Kekalahan tidak diterima dengan mudah. Air mata sempat berkucuran, baku tinju pun terjadi. Ada aktivis yang tidak mau menulis lagi karena sakit hati. Kantor berita ID di Frankfurt lalu menuding taz memilih politik tradisional, menggunakan kualitas kertas yang menyebabkan hutan-hutan ditebang, dan tekonologi yang tak ramah manusia. Tuduhan terakhir ini bisa jadi terpicu oleh pilihan taz untuk menggunakan proses cetak foto untuk terbitannya. taz adalah koran pertama Jerman yang menolak dipakainya lempeng timah pada proses cetak.

Forum Intelektual bagi Frankfurt

Frankfurt seputar 1978 merupakan kota yang lebih terbuka daripada Berlin. Lebih liberal, lebih mapan, kota perdagangan dan perbankan internasional, dengan bandara udara yang menjadi pintu dunia, penerbit Suhrkamp, dan koran-koran kenamaan lintas wilayah seperti Frankfurter Rundschau dan Frankfurter Allgemeine.

Kalangan intelektual di sana banyak dipengaruhi oleh kehadiran Universitas Frankfurt, oleh pemikiran Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno, serta filsafat Frankfurter Schule, oleh Jürgen Habermas dan teori mengenai tindakan komunikatif (theorie des kommunikativen händeln, theory of communicative action), oleh letaknya yang dekat Perancis, dan juga oleh ide-ide eksistensialisme dan strukturalisme yang tengah berkembang di sana.

Secara politik, kalangan aktivis Frankfurt didominasi kelompok kiri “Spontis” yang anarkis dan enggan mengorbankan hedonismenya demi disiplin keorganisasian. Sebuah koran kiri oleh mereka dipandang sebagai forum intelektual yang menawarkan bahan pemikiran.

Belajar Kerja Sama

Hanya segelintir orang dari Frankfurt yang turut ke Berlin Barat. Kota di tengah Jerman Timur itu didominasi oleh kelompok yang sigap melakukan aksi politik dan dekat ke gerakan akar rumput. Dari sikapnya bisa dikatakan, bagi aktivis Berlin, melancarkan aksi jauh lebih penting daripada strategi dan teori. Mungkin karena itu juga gerakan “pendudukan bangunan kosong” yang di Frankfurt sudah dianggap kuno, di Berlin baru mulai memanas.

Di Berlin, yang ingin bergabung mengerjakan taz bukan dari kalangan teori filsafat, melainkan para mahasiswa jurusan politik, yang memikirkan langkah realistis setelah lulus kuliah dan kalangan aktivis yang telah lama bergabung dalam kelompok-kelompok kerja basis.

Redaksi taz bagai koalisi besar berbagai gerakan, yang masih harus belajar bekerja sama.

Perusahaan dari Kaum Kiri

Selanjutnya perlu dibentuk struktur perusahaan yang tepat agar taz bisa didaftarkan sebagai perusahaan. Ini tidak mudah karena hukum yang mengatur yayasan melarang kegiatan yang bersifat usaha dagang. Karenanya, perlu didirikan sebuah Perseroan Terbatas (PT) yang dikelola oleh dewan komisaris dan secara resmi berada di bawah Yayasan Sahabat Taz.

Pengacara Otto Schily ditetapkan sebagai komisaris di Berlin, sedangkan Ulrich K. Preuß mewakili taz di Frankfurt. Selain sebagai penandatangan akta pendirian PT, para komisaris ini bertindak sebagai penanggung jawab dalam buku register PT. Namun, kedua komisaris ini tidak diperbolehkan untuk campur tangan dalam kegiatan harian atau melakukan intervensi apa pun, terutama yang bersifat redaksional.

Semua keputusan nonredaksional berada di tangan jajaran direksi Yayasan Sahabat Taz, yakni lima orang direktur yang dipilih setiap enam bulan sekali dalam rapat nasional.

Pada akhirnya, taz terbentuk dari beberapa perusahaan, yang terjalin dalam struktur rumit. Struktur ini dibuat sedemikian rupa agar bisa menggunakan sebanyak mungkin peluang kemudahan pajak dan subsidi dana dari pemerintah Berlin Barat, selain juga agar dalam kasus pailit ada pemisahan antara kekayaan perusahaan dan harta pribadi, sehingga utang perusahaan tidak menjadi tanggung jawab pribadi-pribadi yang terlibat.

Akibatnya, taz mendirikan sebuah penerbitan di Berlin dan juga di Frankfurt. Selain itu, mendirikan PT percetakan Contrapress Satz und Druck serta PT yang menangani administasi taz, Compress GmbH. Menyusul setelahnya, pembentukan serangkaian perusahaan kecil, yang lalu disoroti oleh majalah der Stern. Majalah itu (1979) menulis, “Perusahaan kapitalis canggih belum tentu mampu menandingi keberhasilan rajutan rumit perusahaan media taz, yang dibuat oleh kaum kiri itu.”

Awal 1979, pekerja taz terdiri dari 20 orang. Empat bulan kemudian jumlahnya bertambah menjadi sekitar 50 orang. Akhir tahun itu, ada 90 orang yang bekerja di taz.

Pada awalnya pekerja taz kebanyakan aktivis yang ketika di Frankfurt mengisyaratkan ketertarikan untuk bergabung. Di masa itu, siapa saja dan apa pun latar belakangnya bisa bekerja di taz tanpa perlu melamar dan tanpa tes kemampuan. Ketika itu, taz memang belum punya instansi yang bertugas menyaring atau memeriksa lamaran. Yang terpenting pada masa itu adalah sikap keterlibatan. taz bukan sekadar pekerjaan, melainkan misi dan realisasi dari sebuah pandangan hidup.

Bekerja di taz bukan berarti memiliki pekerjaan atau upah yang tetap. Setiap orang yang diangkat sebagai pekerja menerima 800 mark. Jumlah yang pada masa itu pun sangat kecil.

Masalahnya, taz seret dana dan tidak mampu membayarkan seluruh gaji. Untuk mengatasinya, sebagian pekerja taz mendaftarkan diri di kantor bantuan sosial Berlin sebagai warga yang tunakarya. Tunjangan tunakarya yang mereka terima membantu mengisi kekurangan itu.

Banyak pekerja taz yang juga punya kerja sampingan. Menjadi sopir taksi, misalnya, sangat populer di antara pekerja taz. Ada pula yang mendaftarkan diri kembali sebagai mahasiswa agar bisa mendapatkan pinjaman dana pendidikan. Tanpa berbagai bentuk bantuan “duit negara” ini, taz ketika itu tidak mungkin bisa jalan.

Kalau dilihat ulang, hubungan taz dengan negara agak mirip hubungan seorang anak dengan ayah yang otoriter: pantang didengar, harus dilawan, dan bisa dicemooh, tapi boleh dimintai atau bahkan diakali supaya membantu dengan tunjangan. Ada pandangan: kenapa tidak? Bukankah itu bagian dari pragmatisme politik?

Terpaksa Menerima Iklan

Perkembangan abonemen taz tidak membahagiakan. Dalam selebaran intern ditulis, pembelian peralatan harus ditunda karena “harapan kami untuk mendapat sumbangan dari pembaca dan simpatisan terlalu tinggi”. Begitulah kondisinya pada awal Januari 1979.

Semakin terdesak, pada 8 Maret, redaksi dengan muram memberitakan pembaca bahwa taz akan terpaksa menerima iklan. Tulisnya, “Kami ingin sekali mengetahui pendapat Anda, apakah Anda bersedia menerima surat kabar yang untuk sementara juga menyajikan iklan?”

Pasalnya, akhir Februari baru terkumpul 5.000 pelanggan yang mau berabonemen. Artinya, jumlah 7.000 abonemen baru bisa diproyeksikan untuk April. Padahal, harapannya akan terkumpul sedikitnya 20.000 abonemen supaya koran taz terjamin terbit. Sementara koran saingan, die Neue, tampak sibuk mengoarkan keberhasilannya mengumpulkan abonemen.

Kalangan Frankfurt semakin skeptis: apa mungkin gabungan kelompok aksi di Berlin Barat, yang dianggapnya sering kacau itu, bakal berhasil mengukuhkan terbitan surat kabarnya? Kalaupun berhasil, lalu akan bagaimana tampilannya?

Terbitan seputar Maret 1979, yang dipublikasi sekali seminggu, belum bisa dijadikan patokan. Pembaca tak pernah tahu eksperimen apa yang akan disajikan. taz mengaku masih sedang dalam pencarian dan memohon kesabaran pembaca. Dituliskan “terbitan ujicoba bukan produk akhir, melainkan upaya menemukan konsep bentuk yang berlawanan dengan terbitan umumnya”. Di situ ditambahkan bahwa, dengan mengikuti setiap terbitan, para pembaca akan bisa mengikuti perkembangan percobaan-percobaan taz. [Disadur oleh Edith Koesoemawiria dari buku Die taz karya Jörg Magenau]

Jörg Magenau
Jörg Magenau
Lahir pada 1961 di Ludwigsburg, Jerman. Semasa kuliah, ia mengambil jurusan filsafat Jerman di Freie Universität, Berlin. Selepas kuliah, ia bekerja sebagai jurnalis di mingguan Freitag, die Wochenpost, dan koran taz pada 1997 hingga 1999. Setelah itu, Magenau pindah ke harian Frankfurter Allgemeine Zeitung hingga 2002. Kini menjadi redaktur majalah Literaturen serta aktif sebagai juri dan moderator acara-acara sastra.

Comments are closed.