Die taz: Sebuah Catatan Harian (2) 21 Januari 2007: Berkunjung ke Gedung taz
Jan 6, 2016
Die taz: Sebuah Catatan Harian (4) 10 Desember 1978: Beranjak ke Berlin
Jan 8, 2016

Die taz: Sebuah Catatan Harian (3) 27 September 1978: Perempuan dengan Nama Panggilan taz

Salinan edisi perdana koran taz di dalam buku Die taz. FOTO: EDITH KOESOEMAWIRIA.


Salinan edisi perdana koran taz di dalam buku Die taz. FOTO: EDITH KOESOEMAWIRIA.

Salinan edisi perdana koran taz di dalam buku Die taz. FOTO: EDITH KOESOEMAWIRIA.


Apa artinya lima hari. Jadwal terbit yang terlambat bagi koran lain, tidak berlaku bagi taz. Pasalnya, bahwasanya taz bisa terbit sudah cukup mencengangkan. Pun mereka yang terlibat mungkin tidak peduli bahwa ujicoba pertama terbitan pada 27 September 1978, bertanggalkan 22 September.

Lambat merupakan ciri khas pertama dari taz. Kejujuran untuk tidak menutup-nutupinya merupakan ciri khas yang kedua. Sebab, mudah saja untuk mengubah tanggal itu. Tapi, itu tidak dilakukan. Olokan band Drei Tornados yang biasa tampil di perhelatan kaum alternatif: “Apakah akan terbit hari ini, atau besok, siapa yang tahu”, menjadi senandung yang dinyanyikan bersama.

Peristiwa besar bisa tertunda, tapi tidak mungkin dihentikan. Dua tahun lamanya semua kelompok mulai dari Hamburg hingga München, Berlin Barat sampai Freiburg, berdiskusi mengenai penerbitan koran kiri nasional. Kebutuhan membahasnya belum juga tuntas, ketika halaman-halaman pertama taz disusun di ruang pinjaman kantor berita kiri, ID di Frankfurt. Karenanya, tak salah bila mengatakan bahwa benih taz berkembang di Hamburger Allee 45, bekas pabrik tempat sejumlah majalah dan kelompok alternatif bermarkas. Redaksi regional taz di kemudian hari juga berkantor di sana.

Dari semua pendukung yang datang dari berbagai penjuru Jerman itu, hampir tak seorang pun yang berpengalaman memproduksi surat kabar. Mereka pun penuh takjub mengamati buah tangannya. Juga terkesan, karena tiga telepon di ruangan itu tak henti-hentinya berdering. Waktu itu, internet belum ada. Semua artikel yang ditulis dengan susah payah itu dikirim per faksimile atau diantar sendiri oleh penulisnya. Kemudian menggunung di atas sebuah meja besar.

Ternyata tugas terberat adalah memilah dan memilih artikel agar muat dalam enam belas halaman surat kabar yang dirancang. Mulailah diskusi mengenai tema-tema mendesak, seperti umumnya sebuah redaksi. Bedanya, di sini setiap orang boleh angkat suara, baik yang memahami temanya maupun yang tidak. Begitu pun penulis yang tidak hadir, tapi tersebar di seluruh Republik, bisa urun pendapat. Rapat redaksi pertama dijalani seiring masukan konstan per telepon. Karenanya, justru mengagumkan bahwa keputusan berhasil diambil dalam hanya lima hari.

Terbitan Ujicoba Pertama

Terbitan ujicoba yang pertama menunjukkan bahwa apa yang disebut demokrasi basis ini sangat sulit diterapkan dalam produksi harian. Apalagi, keyakinan bahwa segala hal harus dibicarakan hingga tuntas membuat proses semakin lama. Terlontarlah pemikiran agar untuk produksi harian dilakukan penyeleksian yang kemudian disesuaikan dari hari ke hari.

Terbitan ujicoba pertama taz perlu mengangkat semua tema penting. Terbitan ini juga harus menjadi kartu nama, mencerminkan pandangan semua kelompok pendukung di 14 kota dan semua gerakan di Jerman yang mengimpikan koran lintas regional. Begitulah yang diharapkan akar rumput pendukung taz, dengan pernyataan berikut:

Di Republik Federal ini tidak ada masukan baru dari atas, kecuali berbagai macam proses dan peperangan yang berkelanjutan. Dari akar rumput ada perlawanan kaum antinuklir dan gerakan perempuan. Perkembangan di Nikaragua dan Iran menuntut pemberitaan. Karenanya, tuntutan agar tidak hanya memberitakan yang spektakuler, tetapi juga keseharian negara-negara berkembang, jangan sampai ditelantarkan.”

Tak heran bahwa tajuk terbitan ujicoba pertama itu menyiratkan penyesalan yang seakan telah mengingkari visi awal, karena fokusnya terpaksa disesuaikan dengan politik aktual. Meskipun, terbitan itu berhasil menampilkan halaman muka yang relatif sejalan dengan harapan para pendukungnya.

Sebuah foto samar dari sekelompok perempuan dan lelaki bersenjata yang berjongkok di depan tembok bertuliskan “Sandinista” menghiasi halaman muka. Di bawah foto itu tertera keterangan: “Somoza: Semua Terkontrol, Perang Saudara Berakhir”. Foto yang sebenarnya lemah karena para subjeknya seakan berleha sehabis makan siang, daripada garang dan berjuang. Romantisasi para pejuang ini pun dipatahkan oleh foto ironis di bawahnya. Seorang pemburu bersenapan duduk bersama anjingnya di bawah sebuah pohon. Keterangannya: “Pemburu Hentikan NATO”.

Artikel terkait memberitakan seorang pemburu Jerman ingin menghentikan latihan manuver tentara North Atlantic Treaty Organization (NATO) di lahannya. Halaman satu itu juga berisikan laporan mengenai Astrid Proll, anggota Rote Armee Fraktion (RAF), yang ditangkap di London dan tengah menunggu penyerahan ke Jerman.

Lalu ada seorang aktivis antinuklir Freiburg yang ditahan atas tuduhan pembunuhan. Kemudian laporan mengenai ancaman PHK di sebuah galangan kapal Hamburg, wawancara dengan kandidat dewan perwakilan daerah Hessen dari Partai Hijau, Alexander Schubart, dan keterangan isi halaman lain. Sebuah laporan panjang dari Gabriel García Márquez di Managua, “Serangan atas Istana Nasional”, melengkapi halaman utama itu.

Internasionalisme dan perlawanan bersenjata, antimiliterisme dan gerakan perdamaian, antinuklir, gerakan perempuan dan pengukuhan Partai Hijau inilah tema-tema pilihan koran taz. Semua ini disampaikan dari sudut pandang masyarakat yang berkutat dengan sejarah Nazi.

Dosa orangtua dan kakek-nenek kita,” tulis Gisela Wülffing, salah seorang pendiri taz, “adalah bahwa tiadanya rasa duka dan penyesalan mereka telah merasuk ke dalam kehidupan kita. Bagai tato, coreng ini perlu dihapus dengan protes, demonstrasi, pendudukan, dan selebaran yang melawan segala bentuk ketidakadilan dan keputusan otoriter. Meski kita tahu, bagaimanapun semua ini tidak memampas riwayat sejarah kita.”

Terbesar dan Spektakuler

Tahun 1978 merupakan tahun pencarian, tahun orientasi dan ketidakpastian. Masa-masa oposisi luar parlemen (Außerparlamentarische Opposition, APO) sudah sepuluh tahun berselang. Aksi teror yang dipraktikkan RAF telah meruntuhkan keunggulan moral kaum kiri, bersamaan dengan itu menambah kegerahan terhadap pemerintahan otoriter. Koran taz, seperti Partai Hijau, diharapkan bisa menampung cabang-cabang gerakan yang tersisih dan merajutnya dalam bentuk baru. Seperti Partai Hijau yang tampil sebagai partai yang antipartai, maka taz dibayangkan akan menjadi koran yang antikoran, yang memberikan sudut pandang alternatif.

Dalam terbitan ujicoba kedua pada Oktober 1978, para pekerja taz berusaha menetapkan posisi baru. Pada awalnya, kesepakatan mengenai visi dan misi dianggap lebih penting daripada kerja harian kewartawanan.

Identitas” dan “pengalaman pribadi” merupakan konsep populer abad itu yang tidak hanya berlaku bagi orang, tapi juga bagi proyek politik. Konsep proyek seyogyanya menggantikan bayangan tangga karier yang dimiliki masyarakat umum dan dinilai bisa mengurangi kontradiksi antara pekerjaan dan kehidupan. Pada hakikatnya, tindakan, perasaan, dan pemikiran seseorang seharusnya bisa diserasikan dalam sebuah proyek. Kerja menjadi bukan sekadar pencarian nafkah, melainkan upaya menguji diri dalam ruang sosial yang eksperimental.

Tujuan itu sebenarnya tidak sangat “antinormatif” seperti yang diyakini para pendiri taz saat itu. Bila ditilik kembali, karakter proyek itu mirip dengan model perusahaan kapitalistis abad ke-21, yang menemukan bahwa tanggung jawab individu dan hak menentukan sendiri merupakan faktor produktivitas. Penjajahan terhadap kehidupan melalui “kerja” memang sudah sangat mumpuni.

taz berada di ujung tombak perkembangan itu. Sebelum menjadi koran, taz adalah sebuah proyek, dan hanya dengan begitu taz berpeluang meraih dukungan solidaritas saat itu.

Jurnalisme riil yang ada saat itu bagi kami kelewat normatif dan terdengar bagai makian bagi telinga kami,” ungkap Michael Sontheimer, yang kemudian menjadi redaktur majalah politik Der Spiegel. Ia menjelaskan, “Yang lebih kami tentang itu hierarki perusahaan. Kami ingin agar pandangan kami yang secara fundamental berbeda ini, termasuk sikap antiotoriter dan kritis beroposisi, itu terwujud juga dalam pengorganisasian kerja. Untuk mengonsepnya, kami gunakan proyek.”

Koran taz merupakan proyek alternatif terbesar dan paling spektakuler di Jerman.

Masa-masa Pembentukan

Bagi taz, musim gugur 1977 merupakan masa-masa pembentukan. Saat itu eskalasi pertarungan antara RAF di satu pihak dengan negara dan masyarakat di pihak lain sedang panas-panasnya. Sebagai reaksi terhadap penculikan dan pembunuhan Ketua Asosiasi Pengusaha, Hanns Martin Schleyer, pemerintah Jerman menetapkan larangan pemberitaan dan membentuk tim khusus, yang beroperasi tanpa pengawasan parlemen. Media massa secara sukarela melakukan sensor diri dan hanya mengutip keterangan resmi. Ruang untuk jurnalisme bebas menciut.

Vera Gasegow, salah seorang bebuyut taz yang sudah bekerja sebagai jurnalis, ketika itu mengeluhkan nasibnya yang tidak mendapat penugasan lagi karena dicap sebagai simpatisan RAF. Apartemennya berulang kali digeledah, diserbu militer bersenjata. Kejadian yang bukan satu-satunya itu bisa saja tersulut oleh aduan iseng atau dugaan sembarangan. Andaikata ketika itu proyek taz tidak digulirkan, maka ia akan terpaksa berhenti menulis. Begitu tuturnya. Di samping alasan-alasan jurnalistik dan politik, penerbitan taz memiliki dimensi eksistensial.

Perkembangan dengan RAF bagai mimpi buruk bagi kaum kiri Jerman. Kegeraman atas brutalitas teror RAF dihadapkan dengan loyalitas terhadap ideologi antikapitalisme dan kekhawatiran bahwa Jerman akan kembali menjadi negara fasis. Namun, musim gugur 1977 itu juga merupakan masa di mana banyak tokoh kiri menanggalkan paham-paham radikal dan mencari bentuk perjuangan lain di dalam masyarakat. Misalnya, dengan membentuk partai. Proyek taz bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk upaya itu. Membangun sebuah media untuk melawan pandangan umum merupakan pertanda keinginan untuk berpartisipasi dalam masyarakat itu. Sepanjang musim gugur 1977 hingga awal 1978, diskusi mengenai penerbitan koran alternatif nasional berlangsung dalam berbagai pertemuan dan kongres, dan dihadiri mulai dari 30 hingga 10 ribu orang.

Sosok Perempuan

Yayasan taz akhirnya berdiri pada 23 Februari 1978 dengan perayaan kecil di sebuah kedai bir. Sebuah apartemen tua di Suarezstraße, Charlottenburg disewa sebagai kantor dan persiapan mulai bergulir. Ditetapkan enam prinsip yang dianggap bertolak belakang dengan jurnalisme umum: (1) objektivitas, bukan terima kasih; (2) bukan media jalur tengah, tapi secara terbuka menghadapi isu-isu kontroversial; (3) menyebut sumber dan pandangan; (4) membongkar isolasi/memengaruhi pendapat publik; (5) bereksperimen; (6) memberi interpretasi lain terhadap fakta yang terkumpul.

Lebih penting dari programnya adalah masalah dana. Ditargetkan pengumpulan 10 ribu abonemen awal dan sumbangan sebesar 1,5 juta mark. Penuh kreativitas, ide pun bercuatan. Kampanye “Prospek” yang didukung banyak tokoh kenamaan diluncurkan pertengahan 1978. Selain itu, penggalangan dana dilakukan lewat berbagai aksi, mulai dari menyumbang darah hingga konser. Sebagian calon redaksi mendaftarkan diri sebagai tunakarya agar tunjangan sosial negara bisa mengurangi upah yang harus dibayar oleh proyek.

Dalam proses itu ditetapkan pula bahwa janin proyek ini berupa femina dan perlu nama khas yang tidak kelewat bombastis. Lahirlah: “die Tageszeitung”, sosok perempuan dengan nama panggilan “taz”. [Disadur oleh Edith Koesoemawiria dari buku Die taz karya Jörg Magenau]

Jörg Magenau
Jörg Magenau
Lahir pada 1961 di Ludwigsburg, Jerman. Semasa kuliah, ia mengambil jurusan filsafat Jerman di Freie Universität, Berlin. Selepas kuliah, ia bekerja sebagai jurnalis di mingguan Freitag, die Wochenpost, dan koran taz pada 1997 hingga 1999. Setelah itu, Magenau pindah ke harian Frankfurter Allgemeine Zeitung hingga 2002. Kini menjadi redaktur majalah Literaturen serta aktif sebagai juri dan moderator acara-acara sastra.

Comments are closed.