Die taz: Sebuah Catatan Harian (1) Koran Kooperasi die Tageszeitung
Jan 5, 2016
Die taz: Sebuah Catatan Harian (3) 27 September 1978: Perempuan dengan Nama Panggilan taz
Jan 7, 2016

Die taz: Sebuah Catatan Harian (2) 21 Januari 2007: Berkunjung ke Gedung taz

Suasana saat seremonial pengukuhan nama Rudi-Dutschke-Strasse pada 30 April 2008. SUMBER: WIKIPEDIA

Suasana saat seremonial pengukuhan nama Rudi-Dutschke-Strasse pada 30 April 2008. SUMBER: WIKIPEDIA

Suasana saat seremonial pengukuhan nama Rudi-Dutschke-Strasse pada 30 April 2008. SUMBER: WIKIPEDIA

HARI pengambilan angket di kecamatan Friedrichshain-Kreuzberg, Berlin. Partai Uni Demokrat Kristen menggelar angket komunal guna menghambat inisiatif taz mengubah nama jalan Kochstrasse menjadi Rudi-Dutschke-Strasse.

Rudi Dutschke (1940–1979), seorang sosiolog Marxis dan aktivis politik, dikenal sebagai pemimpin gerakan mahasiswa Jerman Barat dan Berlin Barat di tahun 1960-an. Alamat Rudi-Dutschke-Strasse 23 sudah lebih setahun terpampang pada gedung taz. Bahkan, gedung taz sejak 1993 bernama Rudi-Dutschke-Haus.

Gedung taz kini terdiri dari dua bangunan, gedung tua bergaya Barok yang bersebelahan dengan gedung baru fungsional terbuat dari kaca dan baja. Tradisi dan modernitas, masa pendirian yang normatif dan alternatif, awal dan akhir abad ke-20 tampil bersama di situ, terhubung secara demonstratif.

Berbeda dengan kebanyakan perusahaan media berlobi mewah, pintu masuk taz membawa pengunjung ke kafe: “Taz-presso”. Nama kafe ini sesuai dengan citarasa yang digemari para pekerjanya, pahit dan kental. Tapi, bisa juga dilihat sebagai ritme produksi harian taz: presso, presso! Bukankah, baik taz maupun espresso, hasil mesin pres, hasil penekanan?

Kafe ini merupakan ruang antara dunia luar dan dalam, tempat pembaca dan penulis bisa bertemu. Di sini anggota redaksi makan siang atau minum kopi. Mereka bisa dikenali saat membayar dengan kartu plastik merah yang mirip kartu kredit.

Ketika saya bekerja sebagai redaktur sastra (1997–1999), kafe ini belum ada. Untuk makan, kami turun ke lantai dasar gedung tua dan menduduki meja-meja samping restoran “Sale e Tabacchi”. Bayarnya dengan kupon, tunjangan untuk separuh harga penganan.

Bantuan ala kadar bagi upah yang amat sangat minim ini begitu penting, sehingga setiap upaya untuk mengurangi nilai atau meniadakannya, langsung memicu perang budaya.

Lenin pernah berkata, orang Jerman membeli dulu karcis peron, sebelum menyerbu stasiun kereta api. Yang berlaku di Rudi-Dutschke-Haus: pemberontakan mengancam, baru setelah kupon makan ditiadakan. Kini, dengan adanya kartu kredit makan, tampaknya masalah telah teratasi.

Lakon Ketiga
Bagaimana menulis sejarah sebuah surat kabar? Dan, untuk apa? Ada dua lakon besar, yang jarang sekali diceritakan secara lengkap, melainkan dalam kaitan yang berbaur.

Lakon pertama bercerita tentang pengkhianatan terhadap idealisme awal, tentang penyesuaian, oportunisme, dan penjinakan. Yang kedua fokus pada kemampuan untuk belajar, profesionalisasi, dan meluasnya wawasan secara mencengangkan.

Dalam ungkapan “menjadi normatif” (Verbürgerlichung)—yang bagi satu pihak berupa dakwaan dan oleh pihak lain dipahami sebagai perkembangan menggembirakan—kedua cara pandang ini bertarik ulur.

Namun, bagaimana seandainya taz sejak awal adalah koran yang normatif?

Pergesekan antara harian alternatif yang liar dengan perusahaan yang serius tidak akan terjadi. Yang terjadi, mungkin, perkembangan alternatif yang berlanjut dari peluang-peluang normatif yang sudah ada sejak awal.

Yang pasti, taz menjadi koran yang berbeda jauh dari bayangan para pencetusnya. Dan, andaikata dulu taz tidak berubah, maka harian ini sudah lama tiada. Sebab, nyatanya, apa yang dianggap sebagai “alternatif” terhadap kehidupan masyarakat normatif sebenarnya justru inti dari kehidupan masyarakat modern. Inilah lakon ketiga, cerita faktual yang akan dikemukakan di sini.

Parade Alternatif
Surat kabar pada akhirnya bukanlah makhluk bermoral yang bisa dituding melakukan pengkhianatan. Koran adalah koran.

Dalam ketidaksempurnaannya, koran tetap mencerminkan kembali masyarakat sekitarnya, dengan semua ketakutan, harapan, dan pandangan mereka. Dan, segala sesuatu yang tidak berubah akan hancur.

taz merupakan ruang main yang menggambarkan banyak perkembangan penting sejarah. Tahun 1980-an adalah masa berakhirnya sejumlah bayangan utopis. Getaran yang bermuara pada gejolak 1989—seiring runtuhnya tembok Berlin—sudah terasa, meskipun belum dikenali.

Pada awal taz, berbagai impian perbaikan dunia yang dimiliki kaum kiri dan gerakan alternatif berparade segala gaya.

Bahwasanya semua bisa muncul tanpa diblokade pertempuran ideologi, mengisyaratkan bahwa pemikiran ideologis setiap kubu sudah melemah. Namun, bagai bersemi kembali, dari dalam taz hadir: pemberontakan feminisme, internasionalisme, perlawanan militan, dan berbagai bentuk sosialisme.

Gerakan ekologi hijau berhasil mengubah karakternya, sehingga bisa diterima masyarakat umum. Mengubah produksi dan konsumsi agar ramah lingkungan merupakan masalah kelangsungan hidup. Di baliknya bukan sebuah impian utopis, melainkan kondisi yang memaksa dan penemuan bentuk politik yang lebih pragmatis.

Kehidupan masyarakat yang alternatif merupakan juga pencarian budaya sebuah masyarakat, yang di Jerman terbebas dari beban peruntuhan kemanusiaan seputar 1933 di bawah kekuasaan kaum Nazi. Pemberontakan generasi 68 terhadap bungkamnya generasi orangtua mereka, serta antifasisme kaum kiri di tahun 1970-an, bukan lain dari pembaruan moral suatu masyarakat.

Joachim Fest, dalam otobiografinya, Ich nicht (Aku tidak), menggambarkan bagaimana ayahnya menjaga agar dia dan saudara-saudaranya tidak menjadi Nazi dan kehilangan rasa kemanusiaan, di masa kehidupan bermasyarakat di Jerman mulai hancur di tangan Nazi.

Setelah itu, Jerman memang bangkit kembali secara ekonomi. Tapi gerakan mahasiswa kemudian mempertanyakan kehidupan masyarakat yang hanya berlandaskan materi. Kalangan alternatif gerakan lingkungan hidup merupakan awal dari orientasi moral yang baru, yang menyadari bahwa berpaham kiri juga berarti mempertahankan elemen-elemen konservatif. Ini pun berlaku bagi gerakan ekologi hijau, maupun gerakan Hausbesetzer atau “penghuni liar”, yang menduduki bangunan kosong guna memperjuangkan ruang publik di perkotaan.

Kemenangan
Sejarah yang terkait dengan sebuah surat kabar harus disimak dari dua sisi: sebagai sejarah sebuah lembaga dan cara kerjanya. Nyatanya ini juga merupakan materi dasar yang dalam keseharian produksi koran taz diolah menjadi fakta.

Menulis tentang sejarah koran ini juga berarti menempatkan taz dalam sejarah. Artinya, kita akan mengikuti sejarah pemikiran alternatif di Jerman dari tahun 1970-an hingga kini. Ini bukan buku sejarah, melainkan buku yang penuh cerita mengenai rangkaian titik bersejarah.

Dan, pada 21 Januari 2007, hasil angket komunal berakhir dengan kemenangan bagi taz dan perayaan nama jalan: Rudi-Dutschke-Strasse. [Disadur oleh Edith Koesoemawiria dari buku Die taz karya Jörg Magenau]

Jörg Magenau
Jörg Magenau
Lahir pada 1961 di Ludwigsburg, Jerman. Semasa kuliah, ia mengambil jurusan filsafat Jerman di Freie Universität, Berlin. Selepas kuliah, ia bekerja sebagai jurnalis di mingguan Freitag, die Wochenpost, dan koran taz pada 1997 hingga 1999. Setelah itu, Magenau pindah ke harian Frankfurter Allgemeine Zeitung hingga 2002. Kini menjadi redaktur majalah Literaturen serta aktif sebagai juri dan moderator acara-acara sastra.

Comments are closed.