Memastikan Status Tanah Adat dan Hutan Adat di Tanah Batak
Jun 22, 2016
Kacang Lupa Kulit; Sesat Juga Menyesatkan.
Jul 12, 2016

Daun-daun Di Atas Arus

Ilustrasi: Muhamad Rivai

Ilustrasi: Muhamad Rivai

Ilustrasi: Muhamad Rivai

Sukairi termenung. Untuk kali kesekian petugas pembina desa mendatanginya kembali malam ini. “Sudahlah Pak Sukairi, ambil saja uang itu. Nanti kalau tempat ini digusur anda malah tidak mendapat apa-apa,” kata petugas itu. Di seberang sana, di balik tanggul sungai yang kokoh, daun-daun hanyut terbawa arus. Hilang gairah menentang. Angin seolah tak bergerak di sana. “Melawan atau tidak, pada akhirnya menyerah juga ke muara,” bisik daun-daun di kegelapan malam.

Sudah diputuskan oleh Sukairi dan istrinya. Mereka akan mengambil uang yang ditawarkan. Tigapuluh juta bukan jumlah yang sedikit. Setahun banting tulang belum tentu bisa mendapat sekian banyak. Diam-diam dia bersama istrinya mencari tahu siapa saja di antara orang-orang kampung yang sudah mengambil uang itu. Dia ingin tahu lebih pasti apakah uang itu benar-benar ada atau hanya isapan jempol belaka. Jika benar bulatlah keputusannya untuk mengambil uang itu. Tapi jika tidak dia akan bertahan juga seperti yang lain.

Dia masih ingat janji-janji yang disampaikan. Pada kesempatan kali itu warga kampung diundang untuk hadir di kecamatan. Di sana hadir aparatur pemerintahan mulai tingkat kecamatan hingga kelurahan, dan orang-orang dengan pakaian necis dan mahal. Tempat yang basah selalu mengundang semut-semut untuk berkerumun.

“Jadi begini Bapak-Ibu sekalian. Tanah yang Bapak-Ibu sekalian tinggali sekarang ini tidak ada surat-suratnya. Pemilik tanah berbaik hati kepada Bapak-Ibu sekalian dengan memberikan kompensasi biaya bongkaran dan pindahan. Jadi silahkan diterima uangnya sebagai tali asih dari kami,” ucap salah seorang berpakaian necis dan mahal. Warga kemudian mengenalnya dengan nama Wicaksono.

Warga mendengar tawaran itu dengan was-was. Sejauh pemahaman mereka tanah yang mereka tempati adalah tanah pengairan. Sejauh limapuluh meter dari bibir sungai merupakan wilayah sempadan sungai. Meski desas-desus mengenai ketidakjelasan status tanah ini sudah lama beredar, mereka merasa heran karena kali ini yang mengaku sebagai pemilik tanah itu adalah pengembang.

“Jangan-jangan setelah kita pergi dari sini, tanah-tanah ini akan dijual dengan harga berlipat-lipat,” ucap Margono kepada beberapa orang yang berkumpul di rumahnya.

Dalam hati Margono mengutuk nasib yang harus diterimanya. Beberapa tahun lalu dia harus merelakan rumahnya karena akan dilalui pembangunan jalan lingkar timur. Dari situ dia membeli tanah di kampung ini. Sekarang dia melihat masa depan di kampung ini begitu suram. Bayangan penggusuran menghantuinya. “Ke mana lagi aku akan pindah,” pikir Margono.

“Kurang lebih seperti itu jadinya nanti. Tapi itu kalau aku tidak salah menduga. Kita sebagai wong cilik memang tidak pernah tahu permainan apa yang sedang berlangsung di atas. Bisa jadi kalau kita terima uang itu kemudian kita pindah dari sini lalu dibangunlah perumahan-perumahan mewah untuk orang-orang berduit seperti di daerah Semolo sana. Bayangkan berapa kali lipat keuntungan yang bisa didapat,” kata Jumingan. Ingatannya melayang pada tanah orang tuanya yang telah dijual di wilayah Semolo berpuluh-puluh tahun lalu.

“Bisa jadi seperti itu,” Keping menyela. “Tapi sebaiknya kita juga lihat diri kita sendiri. Saya pikir kita semua tahu bahwa tanah ini bukanlah tanah resmi. Tidak ada ruginya mengambil uang itu. Malah kita mendapat untung kalau dihitung-hitung. Itu pendapat saya, yang lain silahkan mengutarakan pendapatnya,” ungkap Keping.

“Itu tidak setia kawan namanya!” sergah Samiun tanpa mengeluarkan pendapatnya sendiri.

Samidi yang juga hadir hanya terdiam. Pikirannya sibuk menaksir kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi kelak. Dia sudah menghabiskan puluhan juta untuk membangun rumah yang sekarang ditinggalinya. Belum lagi uang yang harus dia keluarkan untuk mendapatkan tanah itu. Paling tidak dia ingin mendapatkan tujuhpuluh atau delapanpuluh. Dengan uang itu dia bisa mendapat sepetak tanah di luar kota untuk dibangun kembali. Tapi bagaimana jika yang didapat hanya tigapuluh saja? Pertanyaan ini yang kini tengah menjadi beban pikirannya.

“Tapi, bagaimana kalau ternyata benar tanah ini milik pengembang? Saya dengar pengadilan memutuskan demikian,” kata Keping.

“Kalau anda punya uang, kawan, apa saja bisa benar,” jawab Jumingan.

Sejak menghadiri undangan di kecamatan keresahan melanda kampung seng yang terletak pinggir sungai itu. Mereka menaruh curiga kepada setiap orang asing yang datang berkunjung. Setiap kali ada tamu yang datang ke kampung mereka berusaha mencari tahu siapa tamu-tamu itu, apa keperluan mereka.

Sukairi dan istrinya berusaha mendapatkan informasi yang mungkin dapat menyelamatkan mereka. Mereka sudah lelah dengan penggusuran. Tigabelas tahun lalu Sukairi dan istrinya telah digusur dari rumah yang mereka tempati di tangkis AS di sebelah utara sungai yang sama di barat sana. Tiga bulan lamanya mereka tinggal di tenda sambil menunggu janji pemerintah untuk mendapatkan tempat tinggal di rusun.

Tiga bulan lamanya mereka menunggu. Rumah susun yang dijanjikan belum juga rampung. Dengan uang yang ada mereka menyewa sebidang tanah dan membangun rumah di atasnya. Dua tahun kemudian ketika rumah susun selesai dan mereka mendapat kunci kamar, mereka menjualnya. Uang yang didapat mereka gunakan untuk membayar tanah di kampung seng yang sekarang akan digusur ini.

Alasan mereka menjual rusun sederhana. Sehari-hari mereka bekerja sebagai penjual makanan berbahan dasar ketela. Untuk merebus ketela itu dibutuhkan tempat yang longgar agar asap dari tungku berbahan bakar kayu tidak mengganggu orang lain. Pekerjaan ini lebih mungkin dilakukan jika mereka menempati rumah dengan halaman yang cukup. Ketika mendengar di kampung seng sana ada tanah yang bisa ditempati, mereka pun menjual rusun yang sudah mereka dapat.

Kini dengan adanya berita akan dilakukan penggusuran di kampung seng mereka kembali was-was. Mereka tidak ingin hidup mereka terlunta-lunta seperti dulu lagi.

“Kalau benar ada uang tali asih itu sebaiknya ambil saja,” kata istri Sukairi pada suatu siang kepada Rosmiati tetangganya.

Rosmiati termangu setuju. Dalam pikirannya berkelebat bayangan suaminya yang tengah terbaring di rumah. Penyakit paru-paru yang diderita suaminya cukup kritis. Baru beberapa hari yang lalu Rosmiati pulang dari rumah sakit. Suaminya baru saja menjalani perawatan di rumah sakit yang membutuhkan uang tidak sedikit.

“Iya De (kependekan Bude, demikian Rosmiati menyebut istri Sukairi). Aku juga mau mengambilnya. Lebih baik aku tidak ikut-ikutan orang lain, kasihan suamiku. Nanti kalau ada apa-apa malah aku sendiri yang susah,” kata Rosmiati.

Dalam hati dia membayangkan, uang yang nanti didapatnya akan digunakan untuk boyongan kembali ke desa. Suaminya akan dirawat di sana. Sedang dia sendiri akan bekerja di sawah atau ladang. Atau menjadi pembantu di sana. Yang penting jangan sampai keributan ini mencelakai suaminya.

“Senin saja kita ke sana. Aku sudah diberitahu kalau mau mengambil uang langsung saja ke rumah makan pondok petung. Aku dengar rumah makan itu milik Pak Wicaksono yang mengurusi pembayaran tali asih,” kata istri Sukairi.

“Kamu ajaklah juga Mbah Yem. Kasihan dia sudah tua. Nanti kalau digusur dan tidak mendapat apa-apa, siapa yang akan menolongnya.”

“Iya De, nanti biar aku ajak Mbah Yem,” jawab Rosmiati.

Meski rencana pengambilan uang itu dibicarakan diam-diam, ada saja warga yang mendengar rencana itu. Tetangga mereka, Muryadi, memaki-maki dengan terang-terangan.

“Dasar pengkhianat! Sudah terima uangnya tapi masih di sini juga. Sudah pergi sana! Untuk apa ikut-ikutan mengajak yang lain ambil uang juga! Kalau mau ambil uang ambil saja sendiri, tidak usah ajak-ajak orang lain” maki Muryadi yang tinggal di sebelah rumah Sukairi.

Istri Sukairi hanya diam menanggapi makian itu. Dia tidak ingin terjadi ribut-ribut dengan warga lain. Apalagi masih belum jelas apakah uang itu nyata atau fiktif. Memang sudah ada informasi, Roni sudah menerima uang itu kontan. Tapi Roni jarang ditemui di rumah untuk dimintai keterangan benar tidaknya. Karena itu dia ingin menunggu.

Hari senin pukul sembilan pagi Sukairi bersama istrinya berangkat ke rumah makan pondok petung. Rosmiati mengikuti di belakang dengan berkendara motor sendirian. Mbah Yem yang semula hendak ikut batal. Menantunya melarangnya ikut. “Belum terbit surat perintah pembongkaran,” kata menantunya. Sampai titik ini, warga masih percaya pembongkaran itu hanya isu belaka.

Sampai di rumah makan Sukairi disambut bak tamu istimewa. Padahal sebelumnya para pelayan sempat berpikir, “Apa orang-orang ini tidak tersesat!” Tingkah dan pakaian mereka menunjukkan kontras yang tajam di tengah-tengah pengunjung rumah makan. Mereka dipersilahkan duduk di tempat yang sudah disiapkan. Dari dalam Wicaksono keluar dengan wajah kecewa.

“Kok, cuma ini? Mana yang lain?” tanya Wicaksono.

“Ya, cuma ini, Pak. Tidak tahu yang lain,” jawab istri Sukairi.

“Ya sudahlah, tidak apa-apa. Ibu ini siapa namanya? Rumahnya yang di sebelah mana?” tanya Wicaksono pada Rosmiati. Nada suaranya angkuh dan tandas. Seolah tidak ada tempat bagi keragu-raguan.

Wicaksono lalu mengajak mereka ke meja yang lain sambil menunjukan foto-foto rumah warga. Meski merasa heran kapan foto-foto itu diambil, mereka bertiga melihat foto-foto itu sambil tertawa. Lalu memilih dua foto.

“Ini pak rumah saya, dan ini rumah Rosmiati,” kata istri Sukairi. “Suaminya sakit karena itu tidak bisa ikut kemari.”

“O, jadi ini rumahnya ya?” tanya Wicaksono sambil memandang rumah terbuat dari papan kayu yang ada dalam foto itu.

“Ini saya kasih duapuluh ya?” tanya Wicaksono kemudian menguji orang-orang di hadapannya.

Suasana riang berubah menjadi tegang. Dalam hati Sukairi membatin, “Aduh, celaka aku!” Sedang istrinya dan Rosmiati hanya diam. Mereka sudah mendengar bahwa Roni mendapat tigapuluh. Dan dulu mereka dijanjikan tigapuluh. Kenapa sekarang ditawar lagi menjadi duapuluh, pikir mereka.

“Kalau begitu biar saya rundingan sama suami saya dulu,” kata Rosmiati memecah hening.

“Rumah kami kan letaknya di depan, Pak, dan dulu janjinya kan tigapuluh,” tambah Sukairi.

“Hahaha..ya sudah begini! Masing-masing rumah saya kasih tigapuluh. Pak Sukairi tigapuluh, Bu Rosmiati tigapuluh. Tapi tolong segera pindah dari sana. Sebentar uangnya sedang disiapkan,” kata Wicaksono ringan. Dia berharap orang-orang yang sudah menerima uang menjadi magnet bagi warga lain untuk ikut mengambil uang tali asihnya.

“Oh iya, saya tolong dibantu juga mendata rumah-rumah yang ada di sana. Sama kalau bisa ajak juga saudara-saudara yang lain. Terus terang saya tidak tega jika nanti penggusuran terpaksa dilakukan. Keputusan dari pengadilan sudah ada. Kami benar-benar mengharapkan kesadaran warga. Karena itu sedapat mungkin Bapak-Ibu ajaklah tetangganya kemari,” imbuh Wicaksono.

“Iya-iya, Pak,” jawab mereka nyaris serentak.

Di sebelah sana dua orang perempuan muda sibuk masukkan uang pecahan seratus ribu ke dalam kantong yang sudah disiapkan. Uang sebanyak itu memang cocok dengan pakaian yang mereka kenakan. Seorang lagi sibuk siapkan dokumen bermaterai untuk ditandatangani penerima uang.

Setelah siap mereka memanggil Sukairi dan Rosmiati. Dua kantong berwarna coklat diserahkan masing-masing. Kemudian mereka menandatangani surat pernyataan dan kwitansi bermaterai. Seorang lelaki mengabadikan momen itu melalui lensa kameranya.

“Silahkan dihitung dulu uangnya, Pak,” ucap salah seorang perempuan yang menyerahkan uang itu sambil tersenyum. Dalam kepalanya terlintas pikiran, “alangkah beruntungnya orang-orang ini. Uang sebanyak itu mereka dapat dengan mudah. Padahal tanah itu bukan milik mereka.”

Sepanjang perjalanan pulang Sukairi dan istrinya hanya diam. Uang tigapuluh juta yang dibayangkannya cukup banyak itu ternyata hanya terdiri dari tiga bendel uang ratusan ribu. Di rumah mereka menghitung uang itu. Komplit. Padahal mereka tidak akan keberatan sekiranya dari sejumlah itu hilang dua atau tiga lembar. Tapi uang yang mereka terima komplit. Masing-masing bendel berjumlah seratus lembar.

Sukairi merenung di hadapan uang itu. Otaknya bekerja memikirkan langkah selanjutnya yang akan diambil. Uang sebanyak ini tidak akan pernah didapatnya lagi seumur hidupnya. Uang ini harus digunakan dengan bijak. Dia berpikir untuk segera mencari rumah baru dengan uang yang dimilikinya sekarang. Sebagaimana janjinya tadi, dia sudah harus pindah sebelum akhir tahun habis.

Malamnya Petugas Pembina Desa mendatangi rumah Sukairi. Petugas itu mendengar bahwa pagi tadi Sukairi sudah mengambil uangnya.

“Sudah ambil uangnya ya? Kok Saya tidak diberitahu?” tanya petugas itu.

“Mendadak Pak tadi itu,” jawab Sukairi.

“Seharusnya saya diberitahu karena nanti Saya yang akan mendampingi. Bagaimana nanti jika uang yang diterima kurang kalau tidak ada yang mendampingi?” kata si petugas.

“Alhamdulillah, uangnya tidak kurang, Pak,” kata Sukairi sambil membenahi tungku di halaman rumahnya. Dalam hati dia mengumpat, “Ah, paling-paling komisi juga yang diminta ujung-ujungnya.”

Petugas itu meninggalkan Sukairi dengan hati kecewa. Sementara itu Sukairi masih sibuk menata kayu bakar untuk adonannya. Di seberang sana, di balik tanggul yang berdiri kokoh, selalu saja ada daun-daun hanyut. Mengikuti kehendak alam yang membawanya ke laut.

Esoknya Tholib datang ke rumah Sukairi. Dia hendak menanyakan apakah dirinya juga bisa mendapat uang itu. Sebab rumah yang tinggalinya hanya sewa tanah saja. Itu pun tempatnya terpencil di tengah-tengah area tambak. Sukairi menganjurkan agar Tholib segera menemui Pak Wicaksono.

“Langsung datang saja, Pak Tholib. Saya tidak tahu apakah sampeyan dapat atau tidak karena sampeyan di sini cuma kontrak. Tapi kalau nanti sampeyan dapat uangnya ambil saja. Daripada nanti malah tidak jelas urusannya,” kata Sukairi.

Esok paginya Tholib dengan menaiki sepeda pancal mendatangi rumah makan pondok petung untuk mencoba peruntungannya. Meski ragu-ragu karena tidak ada kawan yang menemani, sekali ini dia kuatkan tekadnya. Roni sudah dapat. Sukairi dan Rosmiati juga sudah. Darsa dan yang lain-lain juga sudah. Malah kalau tidak salah Darsa selain mendapat uang juga mendapat ganti tanah di perbatasan kota sana. Jadi kenapa tidak dicoba, pikirnya.

Dan peruntungannya memang bagus. Meski hanya mendapat separuh dari yang didapat Sukairi, Tholib pulang dengan perasaan gembira. Sepetak tanah yang baru saja ditebari biji sawi tak dihiraukannya lagi. Padahal beberapa waktu lalu, biji-biji sawi itu menjadi tumpuan kelangsungan hidup keluarganya nanti.

Esoknya dia menyewa sebuah truk. Mengemasi barang-barang, mengabari saudaranya di desa bahwa dia akan pindah ke kampung, dan berpamitan kepada warga. Limabelas juta cukup baginya untuk memulai hidup baru. Jauh dari kegelisahan tanah-tanah resah di pinggiran kota.

Beberapa minggu kemudian di koran bermunculan berita penggusuran kampung itu. Televisi juga memberitakan proses terjadinya penggusuran. Dalam berita itu tampak Jumingan dan Samiun berusaha mencegah masuknya excavator ke kampung. Mereka melakukan pemblokiran untuk menutup akses masuk kampung. Naas, excavator lain masuk melalui tanah pekuburan kota. Dari situ excavator bisa langsung tiba di belakang kampung.

Meski banyak pihak menghujat tindakan itu, penggusuran telah terjadi. Di dalam berita disebutkan bahwa badan pertanahan belum pernah menerbitkan sertifikat atas lahan yang dieksekusi. Para wakil rakyat juga menjanjikan dukungannya kepada warga. Tapi itu tak lagi penting.

Air sudah tumpah ke tanah. Warga yang semula tinggal di rumah-rumah yang telah dirobohkan harus rela tinggal di tenda-tenda yang mereka dirikan di dekat tanggul sungai. Mereka telah kehilangan rumah yang telah mereka tempati. Lagipula siapa yang sudi membela orang-orang yang tidak dapat menghadiahkan sesuatu untuk untuk sang pembela. Semut-semut yang berkerumun semakin banyak. Lalu pergi ketika kantong masing-masing sudah penuh.

Sukairi dan istrinya melihat berita di televisi sambil mengelus dada. “Syukurlah,” guman mereka. Uang tigapuluh juta yang didapatnya telah dibelikan sebuah rumah berdinding tembok di kawasan timur. Tak perlu dipertanyakan status tanah atas rumah seharga itu. ‘Omah nemu’, kata orang-orang yang melihat peruntungan mereka.

Meski dia selamat dari gusuran, tetap ada rasa nelangsa dalam hatinya. Seandainya dulu dia bisa mengajak lebih banyak orang tentu akan lebih banyak lagi yang tertolong. Kini apa yang dikhawatirkannya terbukti.

Sementara itu di seberang perkampungan yang telah digusur daun-daun masih saja hanyut. Terbawa arus. Daun-daun itu tidak mengeluh dan tidak melawan. Betapa pun kuatnya angin menghempas tubuh mereka, arus sungai lebih kuasa atas diri mereka. Lambat namun pasti sampai juga di muara lalu lenyap dalam keluasan samudra. Tinggalkan tenda-tenda pengungsian yang dibangun dengan bersandar pada tanggul sungai yang kokoh.

Surabaya, 02 januari 2016

Chandra Krisnawan
Chandra Krisnawan

Tulisan yang pernah terpublikasikan :
1. Cerpen “Guru Muda Karsono” di www.kolomkita.com, dan diadopsi lagi di www.cerpen-awanangin.blogspot.com
2. Cerpen “Sesisir Pisang Lelaki Tua” di Horison Online,
3. Sebuah Sajak dalam Antologi Syair Nusantara Universitas Negeri Yogyakarta dalam Rangka Dies Natalis UNY,
4. Menulis sketsa “Celoteh Cak Oerip” di media online www.cahayabaru.co (edisi perdana April 2016).

Comments are closed.