Warga Petangkuran Diminta Pindahkan Lokasi Surau atau Dibongkar.
Feb 19, 2016
Politik Teori Sastra di Indonesia
Feb 29, 2016

Daerah Tangkapan vs. Daerah Resapan Air (JJ Rizal vs. Ahok)

Pelanggaran terhadap Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Jakarta 1985-2005 (Sumber: Rukmana, 2015).

Pelanggaran terhadap Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Jakarta 1985-2005 (Sumber: Rukmana, 2015).

Pelanggaran terhadap Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Jakarta 1985-2005 (Sumber: Rukmana, 2015).

PADA 23 Februari 2016, laman kompas.com menerbitkan berita dengan tajuk Ahok: Sunter Bukan Daerah Resapan Air. Dalam berita itu disebutkan bahwa sejarawan JJ Rizal menyampaikan bahwa daerah Sunter, Jakarta Utara, merupakan daerah resapan air. Hal inilah yang tampaknya ditampik oleh Ahok. Tulisan ini akan menjelaskan konsepsi tangkapan dan resapan air, untuk melihat duduk persoalan penyataan-pernyataan tersebut.

Muasal persoalan kemungkinan besar adalah data pelanggaran terhadap Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Jakarta 1985-2005 yang memang diunggah JJ Rizal di akun twitter-nya. Tabel tersebut adalah satu halaman dari artikel bertajuk The Change and Transformation of Indonesian Spatial Planning after Suharto’s New Order Regime: The Case of Jakarta Metropolitan Area yang ditulis oleh Deden Rukmana dan dipublikasikan di jurnal International Planning Studies pada Februari 2015 yang lalu. Dalam tabel di artikel tersebut, memang disebutkan bahwa seluas 1458,9 hektar (3605 acre) lahan di Sunter yang dalam RUTR Jakarta 1985-2005 berfungsi sebagai water catchment area, telah dialihfungsikan menjadi pemukiman bernama Sunter Agung dan fabrik otomotif. Kedua proyek ini selesai pada 1990.

Sependek yang dapat penulis ikuti, melalui akun twitter-nya JJ Rizal tidak menyatakan bahwa daerah Sunter adalah daerah resapan air. Jadi, kemungkinan besar frase “daerah resapan air” adalah interpretasi Ahok terhadap tabel terkait, atau interpretasi kompas.com terhadap omongan Ahok. Mana yang benar, hanya Ahok dan kompas.com yang tahu. Namun dari munculnya kutipan dalam berita tersebut, tampaknya Ahok yang melakukan interpretasi terhadap tabel terkait, bukan kompas.com. Meski ini perlu diklarifikasi lebih jauh, sementara asumsi ini yang akan dipakai dalam tulisan ini.

Dalam berita bertajuk Ahok: Sunter Bukan Daerah Resapan Air, kalimat Ahok dikutip tiga kali. Dua diantaranya adalah Sunter tuh enggak pernah resapan air. Enggak ada resapan air di Jakarta Utara, makanya mesti bangun waduk,”. Kemudian, “[A]ku nih anak geologi. Kamu gali (tanah di Sunter) 30 cm, sudah masuk ke air laut kok,“.

Dari kedua kutipan terhadap pernyataan Ahok tersebut, dapat kita lihat bahwa apa yang tersaji di tabel yang berasal dari artikel Deden Rukmana yang menyatakan bahwa peruntukan daerah Sunter berdasarkan RUTR Jakarta 1985-2005 sudah berubah dari “water cacthment area” menjadi “daerah resapan air”. Ada perbedaan mendasar di antara keduanya.

Water catchment area, kalau kita terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kira-kira akan menjadi “daerah tangkapan air”. Maksudnya adalah suatu tempat yang bisa “menangkap” air. Ada banyak mekanisme yang bisa menangkap air. Kalau yang mau ditangkap adalah air hujan yang turun ke Bumi, maka beberapa mekanisme “menangkap” air hujan yang bisa dilakukan misalnya adalah dengan membangun waduk penampung air. Waduk penampung air bisa dibangun di permukaan dengan fungsi untuk “menangkap air” tanpa wajib “meresap” ke dalam tanah ataupun ke lapisan batuan sarang (aquifer). Mekanisme lain yang bisa “menangkap”air hujan adalah intersepsi (interception) yang bisa dilakukan oleh daun-daun pohon. Ketika hujan turun, ada fraksi air yang tertahan di dedaunan, sehingga tidak semuanya turun ke tanah. Atap-atap bangunan yang berbentuk cekungan juga bisa menjadi instrumen untuk “menangkap” air hujan. Dalam konteks cekungan sungai, catchment area Sungai X, misalnya, adalah daerah geografis yang apabila hujan turun di area tersebut, maka aliran air permukaannya akan mengalir ke Sungai X.

Sementara daerah resapan air adalah hal yang berbeda, yaitu suatu tempat dimana air bisa meresap. Dalam perspektif siklus air, kata “meresap” ini bisa kita asosiasikan bagaimana air masuk ke dalam lapisan tanah (infiltration), untuk selanjutnya meresap ke dalam lapisan batuan sarang (percolation). Dalam skala cekungan sungai, daerah resapan air ini (recharge area), biasanya memang berada di kawasan hulu. Kalau yang diambil sebagai contoh adalah kawasan Jakarta, maka daerah resapan air jauh berada di bagian selatan (Bogor dan sekitarnya).

Petikan pernyataan Ahok yang kedua dari berita yang disebut di atas [“[A]ku nih anak geologi. Kamu gali (tanah di Sunter) 30 cm, sudah masuk ke air laut kok,“] menunjukkan bahwa yang dia maksud dengan Sunter dalam konteks manajemen air sebenarnya adalah fungsinya sebagai “daerah resapan air”. Hal ini terlihat bagaimana Ahok menampilkan data bahwa kalau kita menggali tanah 30 cm di daerah Sunter, maka air laut sudah masuk. Logikanya, kalau di kedalaman 30 cm saja sudah ada air laut, maka daerah termaksud tidak akan mungkin meresapkan air lebih dalam lagi (misalnya sampai ke lapisan batuan sarang yang biasanya memiliki kedalaman yang jauh lebih besar). Sebagai contoh, berdasarkan sayatan geologi utara-selatan yang ada dalam buku Atlas Pengamanan Pantai Jakarta yang terbit pada 2011 sebagai bagian dari Jakarta Coastal Defence Strategy, terlihat bahwa batu pasir (yang sering menjadi batuan sarang air tanah) di daerah Jakarta Utara mulai ditemukan setelah kedalaman sekitar 7 m di bawah permukaan tanah.

Jadi, untuk menyimpulkan, permasalahannya adalah, tabel yang diunggah JJ Rizal tidak menyebutkan Sunter sebagai daerah resapan air (recharge area), namun sebagai area tangkapan air (water catchment area)! Dengan demikian, dapat terlihat, andai asumsi tulisan ini benar, meskipun Ahok mendaku diri sebagai anak geologi, berdasarkan penjelasan di atas dia tidak bisa membedakan dengan baik apa itu daerah tangkapan air dan apa itu daerah resapan air.[]

Comments are closed.