Aksi Mencabut Paku

Aksi cabut paku. Foto : Dwi Cipta

Aksi cabut paku. Foto : Dwi Cipta

SEMBURAT matahari pada Sabtu, 02 April 2016 belum meninggi. Suasana Pondok Pesantren Al-Islah pun sepi. Memang, letak pondok itu jauh dari hiruk pikuk Kota Semarang. Berdiri di balik bukit yang membujur dari Ungaran, Banyumanik, hingga Tembalang. Tepat berada di ujung kampung Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Adalah Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), sejak Kamis, 31 Maret 2016 menyelenggarakan Sekolah Kader di Pondok Pesantren Al-Islah. Dan, Sabtu itu. Saya bersama peserta FNKSDA dan beberapa santri pondok berjajar rapi di depan aula pondok, mendengar arahan Kiai Budi Harjono, pengasuh pondok Al-Islah.

“Ini awal untuk menyelamatkan pohon,” pesan Kiai Budi Harjono dalam pengarahan. Persis pukul 08.15 peserta Sekolah Kader, para santri, dan sang kiai pondok menyusuri jalan Sigar Bencah Meteseh. Mereka membersihkan pohon-pohon sepanjang 1 km Sigar Bencah dari paku dan spanduk. Aksi simpati FNKSDA yang diinisiasi Kiai Budi. Caping memahkota kepala mereka. Linggis, sabit, sapu, dan pengungkit paku mereka tenteng di tangan. Mereka menyisir pohon demi pohon. Melepas spanduk dan tali-tali rapia yang melilit berserakan. Mencabut paku. Memangkas dahan-dahan, dan mengumpulkan sampah.

Dahsyat. Aksi nyata.” sahut Bung Dwi Cipta, fasilitator Sekolah Kader FNKSDA yang turut membersamai kami. Kami tak banyak cakap, tapi pohon-pohon itu bersih dari paku. Aksi pagi itu saya rasakan sebagai kampanye pelestarian dan cinta lingkungan pada masyarakat. Selain Bung Dwi Cipta, juga turut Gus Syatori, fasilitator Sekolah Kader FNKSDA. Gus Syatori yang juga koordinator umum Komite Nasional FNKSDA datang dari Cirebon.

Pukul 10.45, kami pulang ke pondok. Terik matahari telah menyengat. Keringat tampak berleleran. “Semoga jalinan pondok dengan Front Nahdliyin tak berhenti sampai hari ini saja. Kedaulatan agraria akan benar-benar tercipta.” sambung Kiai Budi sebelum bubar. Kami pungkasi acara dengan mendendangkan shalawat dan lagu syukur. Hmmm, Aksi nyata. Ya, aksi mencintai pohon hari itu selesai. Kami berhasil mengumpulkan tiga kantong plastik penuh berisi paku. Dan, materi “Politik Media” telah menunggu. Bung Shobirin dan Mas Tomi, dua narasumber telah bersiap.

Aksi mencabuti paku. Kami seakan digiring untuk menyadari: seperti itulah realitas yang melingkari agraria. Setidaknya buat saya, aksi saat itu membuka kesadaran: lahan hijau di sekitar kita itu terus berkurang. Kondisi pohon nyaris luput dari perhatian. Konflik agraria itu riil. Perusakan pohon tak hanya terjadi di hutan-hutan. Perusakan nyata-nyata terjadi. Di mana-mana, dan menimpa apa saja. Pelestarian tentu saja bukan teori-teori belaka, melainkan aksi nyata. Dan, itulah yang terlaksana pada Sabtu pagi.

Salam daulat!

Al-Islah, 02/04/2016: 15.29

 

Supardi Kafha
Supardi Kafha
Sempat menjajal kemampuan di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Undip tahun 1997. Namun tak selesai. Kini menetap di Ungaran. Rutin mengikuti Kelas Membaca Pramoedya di Kedai Kopi ABG Semarang.

Comments are closed.