Relokasi Bukit Duri Melanggar Hukum
Mar 18, 2016
Manifesto Aidit dalam “Peranan Koperasi Dewasa Ini”
Mar 21, 2016

Akasa Memimpikan Perubahan

Rima Rima Tiga Jiwa. (Foto: dokumen pribadi).

 

Peluncuran perdana novel "Rima-Rima Tiga Jiwa" karya Akasa Dwipa di Balai Pamungkas dalam acara Pagelaran Buku Yogya pada tanggal 9 Maret 2016. (Foto: dokumen pribadi).

Peluncuran perdana novel “Rima-Rima Tiga Jiwa” karya Akasa Dwipa di Balai Pamungkas dalam acara Pagelaran Buku Yogya pada tanggal 9 Maret 2016. (Foto: dokumen pribadi).

 

Selama ribuan tahun umat manusia membangun peradaban dengan pertumpahan darah dan penistaan atas hak-hak hidup, baik hidup hewan maupun manusia….” (Rima-Rima Tiga Jiwa, halaman 128).

 

MEMANG dahsyat. Setidaknya buat saya. Maka, usai menamatkan saya langsung mengabadikannya. Mengabadikan apa yang menggelayut dalam pikiran. Yang menancap dalam perasaan. Tak menunggu lama. Meski tidak akan seheboh Merah Hati. Tak akan seindah jalinan cerita pengakuan Susanto dan dambaan Rima. Begitulah Rima-Rima Tiga Jiwa. Akasa Dwipa berhasil menyeret saya larut dalam keluhan-keluhan Silvy. Seharian terhanyut. Ya, saya hanyut. Tak sanggup menggeser badan ini selain menyimak catatan harian Sagino alias Silvy. Dan alhamdulillah, catatan itu tidak ia hanyutkan ke samudera, melainkan ia simpan menjadi penghuni Kuil Dunia Baru. Menyelip di antara sekian puluh atau ratusan buku yang ia bangun bersama Susanto.

 

Terus terang saya bukan pembaca yang sabar. Bukan pembaca tekun, terutama terhadap karya sastra. Terlebih lagi novel. Semula saya beranggapan, karya sastra hanya asyik dengan permainan kata-kata. Sibuk dengan simbol-simbol. Sekadar konstruksi imajiner pengarang tentang kenyataan. Sastra berjarak dengan realitas, karena hanya melulu menyajikan impian, harapan, dan imajinasi liar pengarang. Sastra tak bersentuhan dengan realitas. Sastra bukan reportase jurnalistik. Bukan karya ilmiah. Sehingga wajar saja kalau tidak menjadi bacaan wajib anak-anak sekolah.

 

Ternyata saya salah. Tak semua karya sastra lepas dari kerja ilmiah dan reportase jurnalistik serta penghayatan. Ketika membaca karya tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer, saya menangkap cita ilmiah. Saya mendapati data yang tak terungkap dalam karya sejarah. Begitu pula ketika menekuni Arus Balik dan Arok-Dedes. Berlimpah data yang luput dari pengamatan mata sejarawan. Juga ketika membaca karya Gunawan Budi Susanto, Penjagal Itu Telah Mati, saya menganggap sebagai sejarah yang hidup. Gunawan mengetahui peristiwa pongah pemerintah terhadap korban tragedi 1965. Ia merasakan kekerasan itu. Ia adalah saksi sejarah. Dan buku Penjagal Itu Telah Mati tak lain merupakan reportase yang ia tuang dalam bentuk novel. Saya sepakat dengan lontaran seorang sahabat, Dwi Cipta, yang menyebut karya Gunawan itu sebuah novel bukan kumpulan cerita pendek. Saya menemukan kesinambungan jalinan cerita dari awal sampai akhir.

 

Anggapan semula karya sastra merupakan karya picisan, gugur. Karya yang sibuk dengan permainan kata dan sekadar imajinasi, tak seluruhnya tepat. Setidaknya demikian setelah saya membaca Pramoedya Ananta Toer, Gunawan Budi Susanto, atau Y.B. Mangunwijaya. Dan kini menguat begitu menamatkan karya Akasa Dwipa. Makin gamblang setelah menyelesaikan Rima-Rima Tiga Jiwa.

 

Akasa Dwipa, bagi saya merupakan nama baru dalam dunia sastra. Namanya belum lama mengeram dalam benak saya. Apalagi ketika membaca halaman terakhir, tentang penulis, jelas usianya masih di bawah saya. Ia masih muda. Amat muda. Namun dalam pendalaman dan penghayatan hidup, jauh lebih berpengalaman dan dahsyat ketimbang saya. Saya tak punya nyali gila seperti dia. Tak punya keberanian menantang kemapanan. Melawan belati penguasa. Juga pengalaman sebagaimana Susanto lakoni. Ya, saya merasa tokoh Susanto tak lain adalah serpihan penghayatan Akasa Dwipa tentang realitas.

 

Susanto seorang penulis. Menjalani hidup vegan. Tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dan terbuat dari hewan. Kenapa vegan? Bukan karena melakoni ajaran agama atau ilmu tertentu, melainkan demi kepantasan, moralitas, dan kasih sayangnya terhadap makhluk yang lemah. Membela yang rendah. Tepatnya yang direndahkan, dilemahkan, dipinggirkan, dan tak dianggap dalam percaturan hidup kaum moralis, agama, dan cendekia. Itu pula yang kemudian ia wujudkan dengan menemani Rima. Menjadi ayah tiri ketiga anak Rima. Turut merasa bahkan menanggung penderitaan Rima.

 

Susanto bergelut dengan segala yang dianggap rendah dan direndahkan. Ia mencintai Rima bukan semata fisik Rima yang menggoda birahinya. Bukan. Melainkan keyakinan bahwa yang tidak sempurna itu membutuhkan lebih cinta. Ia mencintai Rima lebih dari cintanya kepada seorang perempuan muda sekaligus cantik. Padahal Rima pelacur yang tak lagi muda, juga tak cantik. Wajahnya sudah berlubang-lubang, bercak hitam. Bibirnya hitam. Perutnya besar, meski tak hamil. Seorang perempuan malam yang terpaksa menjual badan lantaran menanggung kehidupan empat orang. Rima bertanggung jawab atas kelangsungan dua anak laki-laki kembar, satu anak perempuan, dan ibunya yang menua. Sungguh, Susanto mencintai semua yang ada dalam kehidupan Rima. Anak-anaknya. Ibunya. Kemiskinan dan segenap penderitaan hidupnya.

 

Berkali-kali Rima mencoba hidup wajar sesuai kepantasan dan seruan moral agama. Namun pupus. Ujung-ujungnya kembali melacur. Kehidupan ramah, damai, dan sesuai moral serasa enggan menyapa Rima. Selalu menjauh dari hidupnya. Rima gentayangan di warung remang-remang, lantaran tak sudi melihat ketiga anaknya terbelit penderitaan dan kelaparan. Tak tega melihat ibunya dirundung kehinaan dan kemiskinan. Satu-satunya yang mungkin ia lakukan buat menambal lubang persoalan adalah menjual badan. Bukan keinginan, melainkan keadaan. Bukan cita-cita, melainkan keterpaksaan.

 

Rima jijik. Sadar bahwa ia hanyalah sampah masyarakat. Melayani setiap laki-laki hidung belang yang mengetuk pintu rumah kontrakannya. Terus-menerus mengumbar senyum kepada seorang anggota pasukan khusus negara yang menjadi pelanggannya. Jijik dan hanya sanggup mengumpat dalam hati. Memang Rima tak berpendidikan. Sehingga hanya bisa mencaci maki kenyataan. Terutama kepada polisi-polisi yang kerap merampas uangnya. Atas nama operasi malam, mereka menjaring para perempuan malam. Maka tak bisa tidak, menyogok dengan uang adalah cara ampuh terbebas dari ancaman kamar sempit bui.

 

Rima Rima Tiga Jiwa. (Foto: dokumen pribadi).

Rima Rima Tiga Jiwa. (Foto: dokumen pribadi).

 

Nah, dari keadaan Rima yang demikian, beruntung ia memiliki Susanto. Sekali lagi Susanto. Saya terkesima dengan Susanto yang mempunyai kepedulian terhadap kehidupan. Memiliki mimpi merubah dunia. Mengakhiri semua kekerasan dan ketidakadilan. Laki-laki jalanan yang tak sekadar melihat, tapi juga merasakan penderitaan-penderitaan kaum pinggiran. Bahkan dalam suatu kesempatan, ia berkeliaran dalam keadaan memprihatinkan. Tak ada uang dalam sakunya. Makan dari sisa sampah pasar: nanas-nanas yang dibuang, semangka-semangka busuk, atau pisang-pisang berkulit hitam. Ia minum dari air sungai yang berwarna cokelat. Sungguh, saya tak sanggup membayangkannya. Kemudian, nah ini yang sangat menakjubkan, meski dalam kondisi kurus akut, ia tetap bertahan tak menjamah sisa paha ayam maupun daging rendang. Menurutnya, akar dari semua kekerasan, ketidakadilan, dan penderitaan, tak lain adalah perilaku kejam manusia terhadap hewan. Dan mustahil peradaban adiluhung terbangun di atas kekejaman.

 

Ketokohan Susanto yang mendamba perubahan itu seakan representasi Akasa Dwipa. Susanto tahan melakoni keprihatinan, begitu pula Akasa. Hidup sebagai laki-laki jalanan. Menghayati penderitaan. Makan dan minum dari sisa yang terbuang. Ya, semoga kelak saya dipertemukan dengannya. Semoga.

 

Tokoh selanjutnya adalah Silvy. Seorang waria. Menjalani hidup setengah laki-laki setengah perempuan. Ia buka usaha salon kecantikan. Pemilik Merah Hati, sebuah catatan harian yang merekam pengakuan-pengakuan Susanto dan sekilas Rima. Catatan yang melukis kebohongan dan ketidakadilan menimpa kaumnya. Dari penuturan Silvy, saya tersentak. Saya kaget. Ternyata tak hanya laki-laki murahan yang kerap menggunakan jasa Silvy. Namun tak jarang laki-laki bermartabat. Punya kedudukan tinggi. Juga laki-laki jenggot panjang berjidat hitam yang mendaku wakil Tuhan, acap tak melewatkan kepiawaian Silvy. Jenggotnya seperti dayung, mengayuh di atas tubuh Silvy. Namun Silvy alias Sagino tetaplah waria. Kaum yang tak memiliki hak hidup di tengah masyarakat. Tidak diinginkan oleh kehidupan. Tak punya harga diri. Bahkan Tuhan pun seolah-olah turut menuding hina melalui telunjuk para wakil-Nya.

 

Demikian, sekilas para “nista” yang tersaji dalam Rima-Rima Tiga Jiwa. Dan itulah Akasa Dwipa. Luar biasa. Serasa tak mengada-ada. Saya membaca novel itu tak lebih dari dua hari. Tersusun runtut, padat, dan tidak mbulet. Hanya 254 halaman. Layaknya kidung, tembang, atau bahkan syair sebuah kitab suci, tetapi gampang dipahami. Akasa Dwipa cermat memilih kata dan menjahitnya, seakan memperhatikan daya tahan mata dalam menatap teks. Tidak bikin capek. Selamat Akasa! Sungguh saya salut.[]

Supardi Kafha
Supardi Kafha
Sempat menjajal kemampuan di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Undip tahun 1997. Namun tak selesai. Kini menetap di Ungaran. Rutin mengikuti Kelas Membaca Pramoedya di Kedai Kopi ABG Semarang.

Comments are closed.