Marxisme: Pertanyaan untuk Islam
May 17, 2016
Tangga Kemenangan
Jun 4, 2016

Ada Apa dengan ULID: Orang-orang Lerok dan Dilema Modernitas

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Ilustrasi: Moh. Dzikri Hendika

Oleh Hery Santoso*

“Kambing adalah teman para nabi. Sedangkan hutan adalah tempat para orang sakti.”– Ulid, dalam ‘Ulid: Sebuah Novel’ —

Itu adalah salah-satu kalimat sakti yang berhasil menyihir saya untuk terus mengikuti jejak Ulid hingga halaman yang terakhir. Meskipun demikian, tentu saja kita tidak bisa menyamakan Ulid dengan Anne Frank ataupun Petr Ginz, dua sosok anak-anak yang dalam pandangan saya sama-sama memiliki kecakapan mengagumkan dalam mengungkapkan berbagai hal tentang dunia di sekitarnya. Ulid memang tidak menulis catatan harian sebagaimana dua bocah Yahudi di atas. Tapi Ulid rajin mendengarkan radio, gemar mengarang cerita untuk teman-temannya, dan senang berimajinasi tentang kehebatan-kehebatan: dari mulai kehebatan kambing, Brama Kumbara, pedang ajaib, hingga kenabian dirinya – meskipun yang terakhir ini hanya disinggung sangat singkat oleh Mahfud (mungkin karena dia adalah orang yang taat beragama, hingga perlu menghindari hal-hal sensitif ini).

Ada apa dengan Ulid yang nampak begitu dewasa dalam usia anak-anaknya? Pertanyaan seperti ini sebenarnya juga bisa kita ajukan pada Anne Frank dan Petr Ginz. Setidaknya apa yang terjadi pada ketiga bocah tersebut, terasa sangat kontras kalau kita sandingkan dengan Cinta, Rangga maupun Maura. Tokoh-tokoh dalam film Riri Reza itu rasanya tidak pernah tumbuh dewasa, meskipun telah 10 tahun lebih meninggalkan bangku SMA. Mereka masih saja encer. Adakah ini berarti bahwa kemiskinan dan keterbatasan-keterbatasan sebagaimana yang disandang Ulid, Anne Frank dan Petr Ginz, mendorong orang untuk menjadi lekas dewasa? Dan keberlimpahan sebagaimana yang disandang tokoh-tokoh film Riri Reza itu menjadikan orang tidak pernah dewasa? Entahlah.

Yang jelas, Ulid, dalam pandangan saya adalah sebuah dilema modernitas, di mana sentralitas peran pasar dengan kredo kompetisi dan akumulasi, adalah keniscayaan yang harus diterima oleh siapapun, orang-orang desa maupun kota, orang-orang miskin ataupun kaya. Adalah wajar kalau dilema yang diwarnai kekerasan-kekerasan hidup sebagaimana yang ditulis Mahfud, hampir selalu menghadirkan tokoh-tokoh handal seperti Ulid, Tarmidi dan Kaswati, orang-orang yang di samping memiliki kedewasaan dan ketangguhan, terkadang juga mempunyai keberanian lebih untuk menempuh jalan berisiko, sesuatu yang menyerupai perjudian. Bagaimanapun migrasi dengan prinsip push and play seperti yang dilakukan orang-orang Lerok, tidak terkecuali Tarmidi (ayah Ulid) dan Ulid sendiri, adalah bagian dari perjudian yang jamak dilakukan oleh kalangan petani di pedesaan dalam menyikapi tekanan-tekanan ekonomi. Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, migrasi seperti itu adalah kisah yang telah berumur tua; sebuah siasat kuno, yang kemudian didramatisir oleh James Scott sebagai salah satu senjata orang-orang kalah.

Karena itulah, novel ini secara tidak langsung seperti menegaskan pandangan-pandangan kontemporer tentang kehidupan kalangan petani miskin di pedesaan, yang tidak lagi sepenuhnya mengacu pada formula Zola (Earth) dan Pedro Martinez (Five Family) dalam mensikapi kesulitan hidup, yakni terjebak dalam kepasrahan buta, atau terjerumus dalam kemarahan membabi-buta. Prinsip klasik dan romantis seperti “mangan ora mangan kumpul”, terkadang memang perlu dipertanyakan kembali: benarkah para petani di pedesaan pernah menganut prinsip ini? Melalui Ulid, Mahfud rasanya seperti sedang menegaskan: jangan-jangan pandangan itu hanyalah konstruksi sosial kalangan elit, termasuk kolonial, demi menghindari kompetisi pasar yang terbuka.

Yang jelas ia menunjukkan kepada kita, bahwa orang-orang Lerok tidak pernah tergoda dengan pandangan romantik seperti itu. Mereka tidak segan untuk meninggalkan desa dan lahan-lahan pertanian sempitnya, yang dari waktu ke waktu semakin tidak kompetitif di hadapan ekonomi pasar. Mereka rela menempuh resiko, memasuki kelas yang oleh Guy Standing disebut sebagai “precariat”, dengan menjadi tenaga kerja migran di Malaysia. Sebagaimana yang ia catat di bukunya yang terbit pada 2009, konon “precariat” adalah kelas baru yang tumbuh di era kontemporer, hal yang bahkan tidak pernah di bayangkan Marx, hingga si jenius itu hanya membelah masyarakat seperti kita membelah kelapa: proletar dan borjuis.

Precariat adalah kelas yang mewadahi kalangan masyarakat yang tidak menentu dalam hal karir pekerjaan dan identitas sosial. Buruh migran adalah salah satu golongan yang masuk dalam kelas ini; sebuah kelas yang sangat rentan dan tidak aman, karena mereka bekerja tanpa karir dan jaminan sosial, bahkan juga tanpa identitas sosial yang jelas; sebuah kelas yang diprediksi Standing akan menjadi pemicu perlawanan masyarakat di era kontemporer – hal yang saya kira belum tentu benar adanya. Kehadiran kelas ini memang dimungkinkan karena adanya booming teknologi komunikasi dan membaiknya infrastruktur, termasuk adanya revolusi moda transportasi (fenomena low cost carrier dalam penerbangan), disamping, tentu saja, semakin tidak kompetitifnya model pertanian plot-plot kecil sebagaimana yang terjadi di Lerok.

Suka ataupun tidak, booming teknologi komunikasi dan membaiknya infrastruktur di pedesaan, telah meningkatkan posisi tawar kalangan petani yang hendak menjual tenaganya, baik karena alasan keterdesakan maupun karena alasan lain. Pengalaman saya bergaul dengan kalangan buruh tani kentang di Dieng yang sebagian besar berasal dari desa-desa di sekitar pepegunungan Sindoro dan Sumbing, setidaknya menunjukkan bahwa mereka kini merasa memiliki pilihan-pilihan yang lebih banyak, tidak seperti yang terjadi pada dekade 1980-1990, ketika pilihan itu hanya terbatas menjadi buruh tani tembakau di Temanggung atau buruh tani kentang di Dieng. Kini mereka bisa memilih, apakah mau menjual tenaganya di Dieng, Temanggung, Kalimantan, Sumatera, atau bahkan di Malaysia, sebagaimana yang dilakukan Ulid dan orang-orang Lerok. Lagi-lagi prinsip “mangan-ora mangan kumpul” tidak pernah dijadikan mantra oleh kalangan petani pedesaan. Dan, bahkan teori Scott tentang perlawanan diam-diam, juga tidak pernah dijadikan moda kalangan miskin untuk menekan orang-orang kaya. Apalagi doktrin perlawanan terbuka seperti yang diterapkan oleh orang-orang Zapatista di Amerika Selatan.

Karena itulah, saya kira, Amri Marzali tidak berlebihan ketika pada suatu kesempatan mengatakan kepada mahasiswa bimbingannya yang menyusun disertasi tentang duka-lara para petani hutan di Jawa akibat eksploitasi yang dilakukan oleh Perhutani. Ia dengan enteng menanyakan, “Kalau memang demikian, mengapa para petani hutan itu tidak berhenti dan pergi meninggalkan pekerjaan saja; toh mereka tidak berada dalam kamp konsentrasi?” Konon pertanyaan itu tidak berhasil dijawab dengan memuaskan. Sang mahasiswa rupanya telah terjebak ke dalam pandangan romantik, hal yang kemudian oleh Marzali disebut sebagai “romantisme antropologika”, sebuah pembelaan membabi buta pada kalangan masyarakat miskin, yang bahkan pembelaan itu sendiri sebenarnya tidak pernah dipahami oleh masyarakat, karena memang tidak cukup realistis untuk melanjutkan kehidupan.

Maka, bagi saya, keputusan orang-orang Lerok untuk pergi meninggalkan jubung dan bengkuangnya adalah hal yang masuk akal. Saya yakin mereka melakukannya bukannya tanpa kalkulasi. Mahfud memang tidak menampilkan dialog-dialog bernas tentang petani rasional ala Popkin, akan tetapi secara tersirat saya bisa menangkapnya dari ocehan-ocehan emosional yang disampaikan Kaswati pada Ulid. Bahwa kepergian bapaknya ke Malaysia adalah sebuah pilihan rasional yang telah dipertimbangkan masak-masak, bukan sekedar kepergian membabi-buta sebagaimana yang dilakukan Cinta pada Rangga ketika ia dengan aneh tiba-tiba menyusul kekasihnya yang tinggal di Amerika. Bahwa kepergian ke Malaysia itu dilakukan, meskipun setengahnya juga diwarnai dengan untung-untungan, untuk tidak mengatakan perjudian, semata-mata untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Apa yang dilakukan orang-orang Lerok, saya kira berada dalam logika yang sama dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang desa di manapun: begitu liat dan fleksibel dalam menyikapi keadaan, sesuatu yang dekat dengan sikap pragmatis. Barangkali itulah mengapa Santasombat menyebut petani kontemporer sebagai “flexible peasant”.

Justru, menurut saya, Ulidlah yang terkesan terjebak ke dalam apa yang disebut Marzali sebagai “romantisme Antropologika”. Ia mudah sekali baper (bawa perasaan), dan galau, ketika menghadapi realitas perubahan yang, kalau meminjam istilah Geertz, seperti “awan terhimpun, awan membuyar”. Ia berusaha menghadirkan masa lalu dengan membangun kembali jubung bapaknya. Ia bahkan berusaha mencari dan menghadirkan kembali bengkuang. Ia menyusuri hutan dan bukit-bukit yang dulu menjadi tempat favorit bagi kambing-kambingnya. Bagi kebanyakan orang Lerok, dan saya kira juga orang-orang desa di manapun, sesungguhnya perubahan adalah keniscayaan belaka. Mereka seperti telah memaklumi terhadap apa yang datang dan apa yang pergi. Sikap yang justru tidak dimiliki oleh Ulid, padahal kedua orang tuanya adalah manusia-manusia yang luar biasa tangguh.

Untung saja Mahfud sebagai pengarang tidak terbawa oleh sikap Ulid yang sedikit kenes, meskipun sangat dewasa untuk usianya. Mahfud tidak membiarkan Ulid berlarut-larut baper dan galau. Anak itu tidak dibiarkan menjadi Sang Pemimpi ataupun Laskar Pelangi. Ia, pada akhirnya, oleh sang pengarang diringkus, bankan dengan sedikit kejam dan dramatis (setidaknya karena ia sesungguhnya bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan tanpa tes), dan dikirimkan begitu saja ke Malaysia, menyusul ibunya dan orang-orang Lerok lainnya.

Tetapi Ulid tetaplah Ulid yang romantik, galau dan baper, karena ternyata diam-diam ia masih bermimpi menjadi petani bengkuang – hal yang dalam pandangan saya agak mengejutkan untuk era kekinian, di mana dunia kepetanian dipandang tidak lagi kompetitif, atau kalangan antropolog sering menyebutnya sebagai “depeasantry”. Bahkan, kawan-kawan petani kentang di Dieng, sering mengungkapkannya secara lugas: “Dadi wong tani kuwe remek, Kang”.[]

*Phd Antropologi UGM

 

Comments are closed.